Jurang Belanja Pangan Iran Menyempit karena Si Kaya Ikut Berhemat

A A

Ilustrasi pembeli mengambil lembaran roti sangak yang baru matang di toko roti Tehran, Iran [Foto: Ninara/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Produk susu merosot paling dalam, antara 48 sampai 60 persen.
  • Pada 2005 taksiran energi belanjaan desa melampaui kota 715 kilokalori per orang per hari.
  • Pada desil terkaya, belanja buah antara 2005 dan 2022 turun 45,4 persen di desa dan 41,6 persen di kota.
  • Semua desil mengalami penurunan, tetapi penurunan terbesar terjadi di desil berpendapatan tinggi.
Daftar Isi
  1. Kota: Buah dan Sayur yang Lebih Cepat Berkurang
  2. Desa: Serealia dan Energi yang Turun Paling Curam
  3. Rumah Tangga Terkaya: Belanja yang Turun Paling Dalam
  4. Rumah Tangga Termiskin: Bertumpu pada Roti Bersubsidi
  5. Yang Dibaca Para Peneliti dari Dua Arah Itu
  6. Yang Belum Terjawab dan Perlu Diperiksa

Jurang yang menyempit dan keranjang belanja yang menyusut biasanya dibaca sebagai dua kabar yang berbeda, satu baik dan satu buruk. Di Iran keduanya datang bersamaan. Selama delapan belas tahun, dari 2005 sampai 2022, selisih belanja pangan antara rumah tangga kota dan desa serta antara yang terkaya dan termiskin mengecil, sementara jumlah pangan yang dibeli tiap orang per hari turun di semua kelompok.

Dua gerak itu dicatat Elnaz Jafarvand, Ali kianiRad, dan Hamed Pouraram dalam artikel Changes in household food purchases in Iran: income and urban–rural inequality, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 2625 tahun 2026. Jafarvand dan Pouraram bekerja di Department of Community Nutrition, Tehran University of Medical Sciences, sedangkan kianiRad di Agricultural Planning, Economic and Rural Development Research Institute di Tehran.

Bahan mereka adalah survei pendapatan dan pengeluaran rumah tangga yang digelar Statistical Center of Iran setiap tahun, yang mencatat jumlah dan harga 225 jenis bahan pangan yang dibeli tiap rumah tangga selama sebulan terakhir. Dari sana dihitung belanja harian per orang untuk enam kelompok: buah, sayur, serealia, kacang-kacangan, daging dan telur, serta produk susu. Yang diukur adalah belanja, bukan apa yang benar-benar dimakan.

Rumah tangga yang disurvei pun berubah sepanjang kurun itu. Rata-rata anggota rumah tangga kota turun dari 4,2 menjadi 3,3 orang, dan di desa dari 4,8 menjadi 3,4 orang. Usia rata-rata kepala rumah tangga naik dari 45 ke 52 tahun di kota dan dari 49 ke 52 tahun di desa. Menurut para peneliti, rumah tangga yang mengecil dan kepala keluarga yang menua itu dapat memengaruhi pola belanja dan kebutuhan gizi.

Kota: Buah dan Sayur yang Lebih Cepat Berkurang

Rumah tangga kota sejak awal membeli lebih banyak buah dan sayur. Para peneliti menduga sebabnya akses pasar yang lebih baik dan pendapatan yang lebih tinggi. Keunggulan itu tidak melindungi mereka dari penurunan. Belanja buah per orang di kota berkurang rata-rata 3,97 gram per hari setiap tahun, dan sayur 3,57 gram per hari setiap tahun.

Produk susu turun lebih cepat lagi di kota, 6,38 gram per hari setiap tahun, sedangkan daging dan telur 2,29 gram. Pada empat kelompok itu, yakni buah, sayur, susu, serta daging dan telur, penurunan di kota lebih curam daripada di desa. Naskah mencatat perbedaan kecuraman tersebut bermakna secara statistik untuk keempatnya.

Serealia di desa turun paling cepatSerealia: Desa +12,64, Kota +6,35; Produk susu: Desa +5,92, Kota +6,38; Buah: Desa +2,82, Kota +3,97; Sayur: Desa +3,08, Kota +3,57; Daging dan telur: Desa +1,69, Kota +2,29; Kacang-kacangan: Desa +0,75, Kota +0,52.Serealia di desa turun paling cepatPenurunan belanja per orang, gram per hari tiap tahun, 2005-2022DesaKota510150Serealia12,646,35Produk susu5,926,38Buah2,823,97Sayur3,083,57Daging dan telur1,692,29Kacang-kacangan0,750,52Batang menunjukkan besarnya penurunan.
Sumber: Elnaz Jafarvand, Ali kianiRad, dan Hamed Pouraram, Changes in household food purchases in Iran: income and urban–rural inequality, BMC Public Health, 26(2625), 2026. Grafik: Cekricek.id

Energi yang terkandung dalam belanjaan kota ikut menyusut. Taksiran kalori dari pangan yang dibeli berkurang 39,68 kilokalori per orang per hari setiap tahun. Protein turun 1,25 gram, karbohidrat 5,36 gram, dan lemak 1,53 gram per hari setiap tahun. Tidak ada satu pun indikator di kota yang bergerak naik.

Baca juga Kekayaan Luruh, Desa dan Kota Tetap Beda soal Pencernaan

Desa: Serealia dan Energi yang Turun Paling Curam

Di sisi lain, rumah tangga desa membeli lebih banyak serealia dan kacang-kacangan, yang oleh naskah dikaitkan dengan pola makan tradisional. Justru di kelompok itulah penurunan paling tajam terjadi. Belanja serealia di desa berkurang 12,64 gram per orang per hari setiap tahun, angka terbesar di seluruh daftar dan kira-kira dua kali penurunan di kota yang 6,35 gram.

Energi mengikuti arah yang sama. Taksiran kalori dari belanjaan desa turun 65,50 kilokalori per orang per hari setiap tahun, jauh lebih cepat daripada kota. Protein berkurang 2,15 gram, karbohidrat 10,29 gram, dan lemak 1,82 gram per hari setiap tahun. Kacang-kacangan turun 0,75 gram di desa dan 0,52 gram di kota.

Karena desa turun lebih cepat dari titik yang lebih tinggi, jarak keduanya merapat. Pada 2005 taksiran energi belanjaan desa melampaui kota 715 kilokalori per orang per hari. Pada 2022 selisihnya tinggal 140 kilokalori. Selisih protein menyusut dari 25,0 menjadi 5,5 gram, karbohidrat dari 135,6 menjadi 25,1 gram, dan lemak dari 7,8 menjadi 1,5 gram.

Susunan energinya nyaris tidak bergeser. Sepanjang 2005 sampai 2022, protein menyumbang 12,6 sampai 13,3 persen kalori, karbohidrat 60,3 sampai 64,3 persen, dan lemak 23,5 sampai 28,3 persen. Para peneliti membaca perbedaan isi keranjang kota dan desa sebagai perbedaan risiko gizi, dengan rumah tangga desa berpotensi lebih rentan kekurangan zat gizi mikro.

Rumah Tangga Terkaya: Belanja yang Turun Paling Dalam

Perbandingan kedua memakai tangga pendapatan. Rumah tangga dibagi menjadi sepuluh kelompok yang disebut desil, lalu kelompok teratas disandingkan dengan kelompok terbawah. Di kota maupun desa, desil atas konsisten membeli lebih banyak buah, sayur, susu, daging, dan telur. Semua desil mengalami penurunan, tetapi penurunan terbesar terjadi di desil berpendapatan tinggi.

Buah menjadi contoh yang dipilih naskah. Pada desil terkaya, belanja buah antara 2005 dan 2022 turun 45,4 persen di desa dan 41,6 persen di kota. Pada desil termiskin penurunannya 34,1 persen dan 33,5 persen. Produk susu merosot paling dalam, antara 48 sampai 60 persen.

Akibatnya jarak antara dua ujung tangga itu memendek. Selisih belanja buah antara desil terkaya dan termiskin menyusut dari sekitar 100 gram menjadi 30 gram per orang per hari. Perbandingannya turun dari 2,4 kali menjadi 1,9 kali. Si kaya masih membeli hampir dua kali lipat buah si miskin, hanya dari keranjang yang jauh lebih ringan.

Jurang belanja pangan Iran, 2005 dan 2022Selisih belanja pangan per orang per hari di Iran pada 2005 dan 2022 antara desa dan kota serta antara desil terkaya dan termiskin.Jurang belanja pangan Iran, 2005 dan 2022Selisih per orang per hari20052022715 kkal140 kkalEnergi, desa diatas kota100 g30 gBuah, terkaya diatas termiskin2,4 kali1,9 kaliBuah, terkayabanding termiskin42,4 g2,3 gProtein desa,terkaya di atasAngka buah adalah nilai kira-kira yang disebut naskah.
Sumber: Elnaz Jafarvand, Ali kianiRad, dan Hamed Pouraram, Changes in household food purchases in Iran: income and urban–rural inequality, BMC Public Health, 26(2625), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di titik inilah para peneliti menahan pembaca agar tidak buru-buru lega. “Namun, penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya pembelian pangan di kelompok berpendapatan lebih tinggi, bukan oleh perbaikan pola makan rumah tangga berpendapatan rendah,” tulis Elnaz Jafarvand, Ali kianiRad, dan Hamed Pouraram dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu muncul lagi sebagai simpulan pertama mereka.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Rumah Tangga Termiskin: Bertumpu pada Roti Bersubsidi

Pada kasus kedua, di ujung bawah tangga, gambarnya berbeda. Rumah tangga berpendapatan rendah, tulis para peneliti, sangat bergantung pada serealia, terutama roti berbahan gandum yang disubsidi, sebagai makanan pokok yang terjangkau dan mengenyangkan. Serealia menjadi satu-satunya kelompok pangan yang pada tahun-tahun akhir lebih banyak dibeli desil termiskin, dengan selisih sekitar minus 5 gram per hari dan perbandingan 0,9.

Jejaknya terbaca pada karbohidrat. Pada 2022 taksiran karbohidrat dari belanjaan desil termiskin melampaui desil terkaya 37,6 gram per orang per hari di desa dan 16,6 gram di kota. Di desa, selisih energi bahkan berbalik: dari 1.066,3 kilokalori lebih tinggi pada desil terkaya di 2005 menjadi 28,1 kilokalori lebih rendah pada 2022. Di kota selisih itu turun dari 427,7 menjadi 149,2 kilokalori.

Protein dan lemak tetap lebih banyak di keranjang desil terkaya sepanjang kurun itu, walau jaraknya menyempit. Selisih protein di desa turun dari 42,4 menjadi 2,3 gram per orang per hari, dan di kota dari 26,9 menjadi 9,6 gram. Satu angka menyimpang dari arus: belanja daging dan telur desil termiskin di desa nyaris tidak berubah, naik tipis 0,2 persen.

Ada satu patahan tajam di tengah jalan. Selisih energi antara desil terkaya dan termiskin di desa jatuh dari 809,6 kilokalori pada 2010 menjadi 76,7 kilokalori pada 2011. Para peneliti menautkannya dengan Targeted Subsidy Reform yang berlaku Desember 2010, ketika subsidi energi dan pangan pokok dihapus dan diganti bantuan tunai langsung untuk semua rumah tangga.

Bantuan tunai itu, sebagai bagian dari pengeluaran rumah tangga, jauh lebih besar artinya bagi desil bawah, sehingga menutup kenaikan harga dan untuk sementara mengurangi ketimpangan. Naskah menambahkan bahwa sanksi internasional pada 2011 sampai 2012 mungkin ikut mengguncang ekonomi. Sesudah itu selisihnya melebar kembali, mencapai 622,8 kilokalori di desa pada 2014, sebelum menyusut lagi.

Yang Dibaca Para Peneliti dari Dua Arah Itu

Penurunan di semua kelompok pangan, menurut naskah, kemungkinan mencerminkan gabungan ketidakstabilan ekonomi makro, inflasi, perombakan subsidi, dan sanksi internasional selama 2005 sampai 2022. Para peneliti menyebut angka-angka itu sebagai tanda terkikisnya daya beli pangan rumah tangga di semua lapisan sosial ekonomi, dengan kemungkinan akibat bagi ketahanan pangan dan kecukupan gizi di Iran.

Bagi mereka, temuan terpenting ada pada sumber penyempitan itu. “Hal ini menggugat tafsir optimistis bahwa menyempitnya jurang ketimpangan niscaya mencerminkan hasil gizi yang lebih baik bagi kelompok yang kurang beruntung,” tulis ketiganya, juga dalam bahasa Inggris. Dalam ringkasan sumbangan naskah, mereka menyebut kemungkinan adanya krisis tersembunyi berupa menurunnya belanja pangan rumah tangga di tingkat nasional.

Naskah juga menyandingkan Iran dengan Pakistan. Di sana, menurut data yang dikutip para peneliti, hampir 46 persen rumah tangga termiskin mengalami rawan pangan, berbanding 9 persen pada yang terkaya. Di Iran ketimpangan menurut pendapatan justru menyempit, dan para peneliti menduga bantuan tunai pengganti subsidi mungkin berperan melindungi. Kata yang mereka pakai adalah mungkin, bukan terbukti.

Tiga simpulan mereka memuat dua anjuran. Kebijakan perlu memperhatikan mutu pangan sekaligus kecukupan belanja di semua kelompok sosial ekonomi, dan pemantauan jangka panjang diperlukan untuk menilai kebijakan serta merancang program gizi. Alasannya praktis: program bantuan di Iran direncanakan menurut desil pendapatan dan dihitung per orang.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Yang Belum Terjawab dan Perlu Diperiksa

Keterbatasannya diakui para peneliti sendiri. Taksiran kalori dan zat gizi dihitung dari pangan yang dibeli, bukan yang dimakan, sehingga makanan terbuang, makan di luar rumah, dan pembagian makanan di dalam rumah tidak tertangkap. Bobot sampel tidak diterapkan dan analisis kepekaan tidak dilakukan. Mereka menilai kekurangan itu kecil pengaruhnya karena yang dibaca adalah arah perubahan dan selisih antarkelompok.

Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Abstrak menyebut kajian ini sebagai analisis delapan belas tahun yang pertama, sedangkan bagian kekuatan penelitian menyebutnya salah satu dari sedikit kajian serupa di Iran. Data rawan pangan Pakistan disebut menurut desil di bagian tinjauan, tetapi menurut kuintil di bagian pembahasan, dengan angka yang sama.

Lalu soal rujukan tabel. Gejolak ketimpangan 2010 sampai 2011 dirujukkan ke Supplementary Table S2, padahal tabel itu sebelumnya diperkenalkan sebagai data tahunan sumbangan zat gizi terhadap kalori. Temuan konsumsi daging di Brasil juga diberi dua nomor rujukan berbeda di dua bagian naskah. Tak satu pun mengubah angka utama, tetapi patut dicocokkan.

Maka dua kabar itu tetap berdiri berdampingan. Jurang antara kota dan desa, antara desil teratas dan terbawah, memang lebih sempit pada 2022 daripada 2005. Keranjang belanja di kedua sisi jurang itu juga lebih ringan. Naskah ini tidak memilih salah satunya sebagai cerita utama; ia mencatat keduanya terjadi pada rumah tangga yang sama, dalam kurun yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Menteri Perdagangan G20 Tolak Pangan Jadi Alat Tekanan Geopolitik
Kemendag Dampingi Sertifikasi Halal 56 UMK Depok dan Tangsel
OJK Luncurkan RP3I 2026-2030 untuk Perkuat Perbankan Nasional
Neraca Perdagangan Agustus 2026 Surplus USD 3,55 Miliar
Lansia China yang Tetap Bekerja Lebih Jarang Merasa Tak Berguna
Toko Serba Murah Berjejer, Obesitas Kota Amerika Ikut Tinggi