- Subsidi pelayanan koas dokter gigi UGM bernilai sekitar Rp5 miliar per tahun
- Semua koas menerima subsidi yang sama, bukan hanya penerima beasiswa
- Yang ditanggung kebutuhan minimal persyaratan klinis pada pelayanan pertama
Cekricek.id — Untuk lulus menjadi dokter gigi, mahasiswa harus menangani pasien sungguhan, dan selama ini biaya perawatan pasien itu keluar dari kantong mahasiswanya sendiri. Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai mengambil alih beban tersebut lewat subsidi senilai sekitar Rp5 miliar per tahun.
Program Subsidi Pelayanan Koas diluncurkan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM bersama Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UGM Prof. Soedomo pada Kamis (1/10/2026). Koas adalah sebutan bagi mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan profesi di rumah sakit.
“Sebenarnya (program ini) cita-cita saya sejak awal menjadi Dekan. Bagaimana anak-anak koas ini tidak terbebani untuk membayar pasien. Kemudian saya sampaikan ke Direktur RSGM dan alhamdulillah direspons dengan baik sampai akhirnya program ini bisa terwujud,” kata Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D., dikutip dari keterangan tertulis UGM.
Celah Setelah Beasiswa Sarjana Habis
Suryono menunjuk satu celah yang melatari program ini. Mahasiswa penerima KIP atau Bidikmisi dibiayai selama jenjang sarjana, tetapi dukungan itu berhenti ketika mereka masuk pendidikan profesi. Justru pada tahap itulah biaya pasien muncul.
Meski begitu, subsidi tidak hanya untuk penerima beasiswa. Semua koas memperolehnya dengan besaran yang sama. Saat ini jumlah koas yang diterima sekitar 49 orang.
“Sekarang sekitar 49 yang diterima. Nanti jumlahnya akan bertambah sesuai dengan jumlah mahasiswa S1 yang masuk ke profesi,” ujar Suryono.
Kepala Pendidikan dan Penelitian RSGM UGM Prof. Soedomo, Dr. Rini Widyaningrum, menjelaskan batasnya. Yang ditanggung adalah kebutuhan minimal untuk memenuhi persyaratan klinis, dan hampir seluruhnya dibebaskan pada pelayanan pertama. Biaya pendaftaran pasien tidak termasuk.
Persyaratan itu tercatat di buku kendali milik tiap koas, yang memuat tahapan perawatan di berbagai bagian, antara lain konservasi gigi, prostodonsia, periodonsia, kedokteran gigi anak, ortodonsia, bedah mulut, dan penyakit mulut.
“Jadi setiap mahasiswa itu punya satu buku kendali. Di situ ada persyaratan-persyaratan klinisnya, apa yang harus diselesaikan, termasuk bahan dan alat yang digunakan,” kata Rini.
Baca juga: Uang Kuliah 48 Mahasiswa NTT di UGM Ditanggung Setelah Gempa
Baca juga: Gigi Bantu Kenali Korban KM Virgo Transport 8, Tim UI Diturunkan
Baca juga: Kuliah Gratis PTN Ditaksir Butuh Anggaran Rp93,74 Triliun















