- Dari 188 guru yang mengeluh, hanya 66 orang yang pernah berkonsultasi.
- Sebanyak 122 orang, atau 64,9 persen, tidak pernah memeriksakannya.
- Skor tengah kelelahan emosional guru yang mengeluh adalah 28.
- Guru sekolah menengah pertama mencatat skor tengah kelelahan emosional 28.
- Naskah tidak bisa mengatakan apakah suara yang terganggu membuat guru lelah, atau sebaliknya. Para penulis meminta penelitian lanjutan yang mengikuti guru dari waktu ke waktu.
Daftar Isi
Guru yang suaranya terganggu lebih lelah secara emosional. Itu terbaca dari jawaban 456 guru di distrik Fatih, Istanbul, Turki. Empat dari sepuluh guru itu mengaku punya keluhan suara, dan kelompok inilah yang mencatat skor kelelahan lebih tinggi.
Temuan itu ditulis Nejdiye Güngördü, Seher Kurtul, dan Beril Kara Esen. Judulnya Association between perceived voice handicap and burnout among teachers in Istanbul, Turkey: a cross-sectional study. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan masih berstatus Article in Press, sehingga naskahnya belum mencantumkan nomor volume.
Güngördü bekerja di Department of Occupational Disease, Cerrahpasa Medical Faculty, Istanbul University-Cerrahpasa. Kurtul berasal dari Izmir City Hospital di Izmir. Kara Esen bertugas di Istanbul Provincial Health Directorate.
Suara adalah alat kerja utama guru, dan naskah menggolongkan mereka sebagai pekerja profesional suara. Naskah menyebut mengajar sebagai salah satu profesi yang paling berisiko mengalami gangguan suara. Angka kejadiannya pada guru diperkirakan dua sampai tiga kali lebih tinggi daripada penduduk umum.
Guru juga rentan mengalami burnout, yakni kelelahan kerja. Naskah menggambarkannya sebagai buah tekanan pekerjaan yang menahun, yang berujung pada frustrasi, sakit, dan terkurasnya tenaga. Ketiga penulis ingin tahu apakah dua masalah itu saling berkaitan.
Empat dari sepuluh
Para guru itu mengajar di sekolah negeri dan swasta. Sebanyak 340 orang, atau 74,6 persen, adalah perempuan. Usia tengah mereka 41 tahun, dengan pengalaman mengajar 16,5 tahun dan jam kerja 30 jam sepekan, atau enam jam sehari.
Sebagian besar mengajar di sekolah menengah atas, yakni 262 orang. Sebanyak 84 orang mengajar di sekolah dasar dan 75 orang di sekolah menengah pertama. Sisanya mengajar di prasekolah dan universitas, dan hampir delapan dari sepuluh peserta bekerja di sekolah negeri.
Hampir separuhnya banyak bicara saat bekerja. Jawaban itu dipilih 221 guru, atau 48,5 persen. Sebanyak 224 guru merasa bicara dalam takaran normal, dan hanya 11 orang yang merasa sangat sedikit bicara selama bekerja.
Keluhan suara diakui 188 guru. Itu 41,4 persen dari seluruh peserta, kira-kira empat dari setiap sepuluh guru. Sebanyak 268 guru lainnya menyatakan tidak punya keluhan apa pun pada suaranya.
Keluhan itu jarang dibawa ke dokter. Dari 188 guru yang mengeluh, hanya 66 orang yang pernah berkonsultasi. Sebanyak 122 orang, atau 64,9 persen, tidak pernah memeriksakannya.
Sifat keluhannya pun tidak seragam. Sebanyak 112 guru menyebut keluhannya naik turun. Sebanyak 47 guru, atau seperempat dari yang mengeluh, merasa keluhannya makin buruk, sedangkan 16 guru merasa keluhannya menetap dan 13 guru merasa membaik.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Selisih lima poin
Hambatan suara diukur dengan Voice Handicap Index, daftar 30 pertanyaan dengan skor tertinggi 120. Makin tinggi skornya, makin besar hambatan yang dirasakan. Skor tengah seluruh guru hanya 8, dengan separuh guru berada di antara 3 dan 18,75.
Guru yang mengeluh mencatat skor tengah 17, sedangkan guru tanpa keluhan hanya 5. Jarak serupa muncul pada ketiga bagian indeks itu, yakni fungsional, fisik, dan emosional. Pada bagian fisik, misalnya, skornya 9 berbanding 2.
Kelelahan kerja diukur dengan Maslach Burnout Inventory. Alat itu memisahkan tiga hal, yaitu kelelahan emosional, depersonalisasi, dan pencapaian pribadi. Pada bagian terakhir, skor tinggi justru berarti kelelahan kerja lebih rendah.
Di sinilah dua kelompok itu berpisah. Skor tengah kelelahan emosional guru yang mengeluh adalah 28. Pada guru tanpa keluhan, angkanya 23, lebih rendah lima poin, sedangkan skor tengah seluruh peserta berada di antaranya, 24,5.
Depersonalisasi mengikuti arah yang sama, 9 berbanding 7. Pencapaian pribadi bergerak ke arah sebaliknya. Skornya 30 pada guru yang mengeluh dan 31 pada guru tanpa keluhan, selisih tipis yang tetap bermakna secara statistik.
Fisik dan fungsional
Kaitan itu tidak berhenti pada ada atau tidaknya keluhan. Makin tinggi skor hambatan suara, makin tinggi pula kelelahan emosional dan depersonalisasi. Pencapaian pribadi justru makin rendah, dan pola itu muncul pada semua bagian indeks hambatan suara.
Kekuatan kaitan itu tergolong lemah. Angka korelasi skor total hambatan suara dengan kelelahan emosional adalah 0,387, dan dengan depersonalisasi 0,349. Dengan pencapaian pribadi, angkanya negatif 0,250, dan para penulis sendiri menyebut semua kaitan itu lemah.
Setelah usia, mata pelajaran, jenjang sekolah, dan faktor lain diperhitungkan, dua bagian indeks tetap bertahan. Hambatan fisik berkaitan dengan kelelahan emosional. Hambatan fungsional berkaitan dengan depersonalisasi yang lebih tinggi dan pencapaian pribadi yang lebih rendah.
Para penulis menawarkan penjelasan. Kesulitan fisik pada suara bisa menambah tenaga yang dibutuhkan untuk terus berbicara di kelas. Hambatan fungsional bisa mengurangi rasa mampu guru dalam berkomunikasi dengan murid dan menjalankan perannya.
Keluhan suara sendiri tidak bertahan dalam hitungan itu. Kaitannya dengan kelelahan emosional dan depersonalisasi tidak lagi bermakna setelah faktor lain masuk. Yang tersisa adalah skor hambatan fisik dan fungsional, dua ukuran tentang seberapa jauh suara terasa mengganggu.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Suara pelan, lelah tinggi
Volume bicara sehari-hari ikut membedakan. Sebanyak 30 guru kerap disebut bersuara pelan oleh orang di sekitarnya, 257 bersuara normal, dan 169 bersuara keras. Skor tengah hambatan suara kelompok pertama 18,5, jauh di atas 7 pada guru bersuara normal dan 10 pada guru bersuara keras.
Kelompok kecil itu juga paling lelah. Skor tengah kelelahan emosionalnya 31, sedangkan dua kelompok lain sama-sama 24. Pencapaian pribadinya 28,5, lebih rendah daripada 30 pada dua kelompok lain.
Guru yang banyak bicara saat bekerja mencatat hambatan fisik lebih tinggi daripada yang bicara dalam takaran normal, 5 berbanding 4. Kelelahan emosionalnya juga lebih tinggi, 26 berbanding 24. Namun, kaitan dengan kelelahan itu hilang setelah faktor lain diperhitungkan.
Bernyanyi membawa arah berbeda. Sebanyak 62 guru mengaku sangat sering bernyanyi, dan skor tengah hambatan suara mereka 4,5. Pada 124 guru yang tidak pernah bernyanyi, skornya 10, sedangkan 270 guru yang sesekali bernyanyi mencatat 8.
Guru yang sangat sering bernyanyi juga mencatat pencapaian pribadi lebih tinggi, 31 berbanding 30. Kaitan ini bertahan setelah faktor lain diperhitungkan. Naskah merujuk tinjauan lain yang mengaitkan bernyanyi dengan kesejahteraan psikologis dan rasa percaya diri.
Usia dan jenjang
Usia tidak berkaitan dengan hambatan suara, begitu pula lama mengajar. Para penulis menduga guru pelan-pelan menyesuaikan cara memakai suara sepanjang kariernya, sehingga tuntutan bicara dalam pekerjaan tidak lagi terasa seberat semula.
Usia justru berkaitan dengan kelelahan kerja. Makin tua guru, makin rendah kelelahan emosional dan depersonalisasinya, dan makin tinggi pencapaian pribadinya. Naskah menduga guru yang lebih tua lebih terlatih menghadapi tekanan dan lebih percaya diri mengelola kelas.
Jenjang sekolah juga berbicara. Guru sekolah menengah pertama mencatat skor tengah kelelahan emosional 28. Guru prasekolah dan sekolah dasar mencatat 26, guru sekolah menengah atas 24, dan pengajar universitas 21,5.
Padahal, hambatan suara tidak berbeda menurut jenjang. Karena itu para penulis menduga ada faktor di luar suara, seperti beban kerja atau perilaku murid. Faktor itu tidak diukur, sehingga dugaan tersebut mereka sebut masih bersifat penjajakan.
Guru perempuan mencatat hambatan fisik pada suara lebih tinggi daripada guru laki-laki, 4 berbanding 3. Kelelahan emosional mereka juga lebih tinggi, 25 berbanding 22,5. Mekanismenya, tulis para penulis, belum jelas, dan mereka hanya menyebut kemungkinan beda cara mengalami tekanan kerja.
Guru sekolah negeri mencatat pencapaian pribadi lebih rendah daripada guru sekolah swasta setelah faktor lain diperhitungkan. Para penulis menyebut kemungkinan perbedaan beban administrasi dan otonomi. Hal itu tidak diukur, sehingga penjelasannya mereka sebut spekulatif.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Belum masuk daftar
Di Turki, gangguan suara tidak tercantum secara tegas dalam daftar penyakit akibat kerja. Kasusnya bisa dinilai satu per satu bila hubungan dengan pemakaian suara dalam pekerjaan terbukti. Naskah menyebut gangguan ini masih kurang dikenali dalam praktik kesehatan kerja.
Karena itu para penulis menekankan pencegahan. Mereka menyebut pendidikan higiene suara, perbaikan akustik kelas, pengaturan beban kerja, dan pemantauan kesehatan kerja sejak dini. Langkah itu, tulis mereka, dapat membantu menjaga suara dan mengurangi beban kelelahan kerja.
Mereka tidak membesar-besarkan temuannya, sebab kaitan yang terukur memang lemah. “Hambatan suara yang dirasakan merupakan salah satu dari beberapa faktor yang berkaitan dengan kelelahan kerja, bukan satu-satunya penentu,” tulis Nejdiye Güngördü dan dua rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Batas yang diakui
Semua guru hanya ditanya pada satu waktu. Akibatnya, arah kaitan itu tidak bisa ditetapkan. Naskah tidak bisa mengatakan apakah suara yang terganggu membuat guru lelah, atau sebaliknya. Para penulis meminta penelitian lanjutan yang mengikuti guru dari waktu ke waktu.
Pesertanya juga sedikit dibandingkan yang diundang. Dari 3.420 guru di distrik Fatih, hanya 456 yang mengisi kuesioner daring secara sukarela, atau 13,3 persen. Para penulis menegaskan hasilnya tidak boleh digeneralisasi ke semua guru di Turki.
Yang diukur pun adalah hambatan yang dirasakan, bukan gangguan suara hasil diagnosis dokter. Infeksi saluran napas, penyakit laring, ukuran kelas, kebisingan kelas, dan pemakaian mikrofon tidak dicatat. Kuesioner juga diisi sepanjang Agustus 2024 sampai April 2025, sehingga musim dan beban kerja bisa ikut berpengaruh.
Catatan pada naskah
Ada tiga hal yang bisa diperiksa pembaca. Pertama, bagian keterbatasan menyebut hitungan akhir hanya menjelaskan 12,6 sampai 21,4 persen ragam kelelahan kerja. Catatan tabelnya memuat angka berbeda, yakni 12,7, 12,9, dan 22,0 persen untuk tiga bagian kelelahan kerja.
Kedua, hubungan usia dengan lama mengajar ditulis 0,913 di teks, tetapi 0,909 di tabel. Ketiga, teks pembahasan menyebut nada bicara yang rendah, sedangkan tabel dan pertanyaan kuesionernya menanyakan volume bicara.
Dari 456 guru di Fatih itu, gambarannya sederhana. Suara yang terasa menghambat berjalan seiring dengan batin yang lebih lelah, walau kaitannya lemah, arahnya belum diketahui, dan sebagian besar keluhan itu tidak pernah sampai ke ruang dokter.















