- Turkiye, Pakistan, dan Arab Saudi sepakat mengaktifkan langkah penangkalan dan mengerahkan pasukan ke Arab Saudi.
- Ini pertama kalinya Aliansi Makkah untuk Pertahanan digunakan sejak ditandatangani pada 7 Agustus.
- Pasukan pemerintah Yaman menyatakan telah merebut kembali kota pelabuhan Mocha di Laut Merah.
- Houthi mengklaim menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan kilang Aramco di Rabigh.
Cekricek.id — Turkiye dan Pakistan bersama Arab Saudi sepakat mengaktifkan langkah penangkalan dalam pakta pertahanan bersama dan segera mengerahkan pasukan ke kerajaan Teluk itu untuk menghadapi serangan Houthi dari Yaman.
Keputusan itu diumumkan pada Senin setelah menteri pertahanan dan menteri luar negeri ketiga negara menggelar pertemuan darurat di Riyadh, menurut laporan Al Jazeera, Senin (05/10/2026). Ini pertama kalinya Aliansi Makkah untuk Pertahanan digunakan sejak ditandatangani pada 7 Agustus.
Perjanjian itu menyatakan serangan terhadap salah satu dari tiga negara akan diperlakukan sebagai serangan terhadap semuanya.
“Komite sepakat mengaktifkan langkah-langkah penangkalan kolektif, dalam kerangka Aliansi, sebagai tanggapan atas serangan-serangan itu dan semua pihak yang bertanggung jawab atasnya,” kata Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman dalam unggahan di media sosial.
Pernyataan bersama terpisah yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebut ketiga negara akan menyediakan kekuatan dan kemampuan militer yang disepakati serta memastikan pengerahannya secara cepat ke Arab Saudi. Komitmen itu dijalankan sesuai hukum masing-masing negara.
Pasukan Yaman Lancarkan Serangan Balasan terhadap Houthi
Pengumuman itu muncul beberapa jam setelah pasukan yang berpihak pada pemerintah Yaman yang diakui internasional melancarkan serangan balasan untuk merebut wilayah yang dikuasai Houthi bulan lalu. Pasukan Yaman, yang didukung Arab Saudi, menyatakan telah merebut kembali kota pelabuhan Mocha di Laut Merah dan kini menguasai Selat Bab al-Mandeb.
Koalisi pimpinan Saudi mengonfirmasi keikutsertaannya dalam serangan itu dan menyebut 100 jet tempurnya memberi dukungan udara.
Houthi sementara itu mengklaim serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan kilang Aramco di Rabigh. Riyadh belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Pakta pertahanan itu ditandatangani pada Agustus, tidak lama sebelum Houthi melancarkan ofensif di Yaman yang mencakup serangan terhadap sasaran Saudi. Ketiga anggota aliansi bila digabung memiliki hampir 1,4 juta tentara aktif, sekitar 3.400 pesawat militer, 6.000 tank, dan lebih dari 340 aset laut, menurut Global Firepower Index 2026.
Hingga Senin, aliansi itu belum mengambil tindakan apa pun. Para analis menyebut Pakistan dan Turkiye enggan meninggalkan peran mereka sebagai penengah dalam perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.
Abdulaziz Alghashian, peneliti senior nonresiden di Gulf International Forum, mengatakan keputusan mengaktifkan pakta itu akan berdampak besar pada keamanan kawasan.
“Serangan dan provokasi Houthi dalam beberapa pekan dan bulan terakhir benar-benar mempercepat aliansi Makkah, bahkan mengilhaminya,” kata Alghashian kepada Al Jazeera.















