Nafkah Keluarga Pesisir Bangladesh Rapuh, Berat Anak Ikut Kurang

A A

Ilustrasi nelayan di perahu kayu di sungai berhutan bakau, Harbaria, Sundarbans, Bangladesh [Foto: Hiroki Ogawa/Wikimedia Commons, CC BY 3.0]

  • Sebanyak 204 rumah tangga, atau 58,6 persen, tergolong rentan nafkahnya.
  • Di Kalabogi, 53 dari 58 rumah tangga tergolong rentan, dan hanya lima yang tidak.
  • Odds kerentanan peminjam tercatat 7,376 kali lebih besar daripada yang tidak meminjam.
  • Di rumah tangga rentan, 32,8 persen anak berat badannya sangat kurang.
Daftar Isi
  1. Sebelum Juli 2024: wilayah yang sudah lama terpapar
  2. Juli–Oktober 2024: 204 dari 348 rumah tangga tercatat rentan
  3. Tahap berikutnya: pekerjaan, sekolah, dan desa yang menonjol
  4. Dalam sebulan terakhir: tabungan, utang, dan bantuan
  5. Tahap terakhir: tubuh anak di bawah lima tahun
  6. Tahun 2026: batas yang diakui dan angka yang tidak sejalan

Pada Juli 2024, pendataan dimulai di enam desa di Dacope. Kecamatan itu terletak di Distrik Khulna, pesisir barat daya Bangladesh, bersebelahan dengan hutan bakau Sundarbans. Sampai Oktober 2024, sebanyak 348 pengasuh anak balita selesai diwawancarai. Dari jawaban mereka, lebih dari separuh rumah tangga ternyata rapuh nafkahnya.

Hasilnya ditulis Shahinur Akter, Aranya Siriphon, Arratee Ayuttacorn, dan Waraporn Boonchieng dari Chiang Mai University, Thailand. Akter juga tercatat di Khulna University, Bangladesh. Artikel mereka berjudul Household livelihood vulnerability and child health in southwestern coastal Bangladesh: determinants and implications. Naskah berbahasa Inggris itu terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2014, tahun 2026.

Ada tiga hal yang mereka cari. Seberapa banyak rumah tangga yang nafkahnya rentan, apa saja yang menyertai kerentanan itu, dan apa hubungannya dengan kesehatan anak di bawah lima tahun. Naskah ini merupakan bagian dari disertasi doktoral Akter di Chiang Mai University.

Sebelum Juli 2024: wilayah yang sudah lama terpapar

Dacope sudah rawan jauh sebelum pendataan dimulai. Wilayahnya rendah dan terbuka terhadap siklon, gelombang pasang, banjir, rembesan air asin, dan erosi sungai. Luasnya sekitar 991,6 kilometer persegi. Penduduknya 159.369 jiwa dalam 42.186 rumah tangga, dan 71,45 persen wilayahnya perdesaan.

Catatan dasar yang dikutip para penulis menunjukkan keadaan rumah-rumah di sana. Sebanyak 77 persen penduduk tinggal di rumah katcha. Air minum terutama berasal dari air hujan (34,11 persen), air permukaan (31,55 persen), dan sumur tabung (25,95 persen). Hanya 35,4 persen rumah tangga memakai sanitasi yang layak.

Dari wilayah itu, dua union dipilih, yaitu Pankhali dan Sutarkhali. Sutarkhali berbatasan dengan Teluk Benggala, sedangkan Pankhali lebih ke pedalaman. Masing-masing diwakili tiga desa: Pankhali, Hoglabunia, dan Katabunia di satu sisi, lalu Sutarkhali, Nolian, dan Kalabogi di sisi lain. Tiap desa diwakili 58 rumah tangga.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Juli–Oktober 2024: 204 dari 348 rumah tangga tercatat rentan

Hitungan pertama keluar setelah pendataan rampung. Sebanyak 204 rumah tangga, atau 58,6 persen, tergolong rentan nafkahnya. Sisanya, 144 rumah tangga atau 41,4 persen, tidak rentan. Artinya, kira-kira enam dari sepuluh keluarga yang didata berada di sisi yang rapuh.

Angka itu tidak merata. Di Kalabogi, 53 dari 58 rumah tangga tergolong rentan, dan hanya lima yang tidak. Di Sutarkhali jumlahnya 40. Katabunia mencatat 30 dan Hoglabunia 29. Pankhali dan Nolian sama-sama mencatat 26 rumah tangga rentan, yang terendah di antara enam desa.

Rumah tangga rentan di enam desa DacopeKalabogi: Rumah tangga rentan +53; Sutarkhali: Rumah tangga rentan +40; Katabunia: Rumah tangga rentan +30; Hoglabunia: Rumah tangga rentan +29; Pankhali: Rumah tangga rentan +26; Nolian: Rumah tangga rentan +26.Rumah tangga rentan di enam desa DacopeJumlah rumah tangga rentan dari 58 yang didata di tiap desa1020304050580Kalabogi53Sutarkhali40Katabunia30Hoglabunia29Pankhali26Nolian26Total 204 dari 348 rumah tangga (58,6%) tergolong rentan.
Sumber: Shahinur Akter, Aranya Siriphon, Arratee Ayuttacorn, Waraporn Boonchieng, Household livelihood vulnerability and child health in southwestern coastal Bangladesh: determinants and implications, BMC Public Health, 26(2014), 2026. Grafik: Cekricek.id

Keadaan ekonomi rumah-rumah itu tercatat tipis. Lebih dari separuh kepala rumah tangga, 54 persen, berpenghasilan 10.001 sampai 20.000 taka sebulan. Hampir tiga dari empat rumah tangga, 74,4 persen, tidak punya tabungan bulanan. Sebanyak 63,5 persen bergantung pada satu pencari nafkah saja.

Urusan makan juga tercatat berat. Sebanyak 71,8 persen rumah tangga tergolong rawan pangan, dan hanya 28,2 persen yang aman. Di kelompok tidak rentan, 49,3 persen rumah tangga aman pangan. Di kelompok rentan, angkanya tinggal 13,2 persen, sementara 20,1 persen mengalami rawan pangan berat.

Tahap berikutnya: pekerjaan, sekolah, dan desa yang menonjol

Setelah hitungan dasar, para penulis menimbang semua faktor sekaligus. Pada tahap ini Sutarkhali yang menonjol. Odds kerentanan rumah tangga di desa itu 5,465 kali lebih besar daripada di Pankhali. Para penulis mengaitkannya dengan letak Sutarkhali yang lebih dekat ke Sundarbans, sehingga lebih terpapar siklon, banjir pasang, dan air asin.

Pekerjaan kepala rumah tangga memberi angka paling besar. Ada 45 rumah tangga yang hidup dari mengumpulkan hasil alam Sundarbans. Sebanyak 42 di antaranya rentan, dan hanya tiga yang tidak. Odds kerentanan kelompok ini tercatat 37 kali lebih besar daripada rumah tangga petani, dengan rentang ketidakpastian yang sangat lebar.

Naskah menjelaskan mengapa nafkah dari hutan itu goyah. Kegiatannya berupa mencari ikan, kepiting, madu, dan kayu. Penghasilan hanya datang sekitar enam sampai sembilan bulan dalam setahun. Pemerintah juga kadang membatasi atau menutup sementara akses ke Sundarbans. Para pengumpul menghadapi siklon, gelombang pasang, dan satwa liar yang berbahaya.

Sekolah bekerja ke arah sebaliknya. Dari 32 kepala rumah tangga yang tidak bersekolah, 29 tergolong rentan. Dibandingkan mereka, odds kerentanan kepala rumah tangga berpendidikan dasar hanya 0,054 kali. Untuk pendidikan menengah angkanya 0,061, dan untuk pendidikan tinggi 0,036. Para penulis menyebut pendidikan sebagai pelindung yang kuat.

Agama juga tercatat sebagai pembeda. Sebanyak 81 persen rumah tangga yang didata beragama Islam, dan odds kerentanan mereka 4,890 kali lebih besar daripada rumah tangga non-Muslim. Para penulis menafsirkannya lewat jenis pekerjaan. Menurut mereka, banyak rumah tangga Muslim di Dacope bergantung pada tani kecil, ikan, hasil hutan, dan kerja harian. Banyak rumah tangga non-Muslim, khususnya Hindu, sejak lama berdagang atau bekerja di jasa.

Tafsir itu diberi batas oleh penulisnya sendiri. Mereka menulis bahwa pengaruh agama sebagai penentu yang berdiri sendiri masih kurang diteliti. Karena itu, mereka meminta penelitian lanjutan di berbagai konteks.

Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut

Dalam sebulan terakhir: tabungan, utang, dan bantuan

Pertanyaan berikutnya menyangkut uang dalam sebulan terakhir. Rumah tangga yang menabung paling banyak 1.000 taka sebulan punya odds kerentanan 0,298 kali dibandingkan yang tidak menabung sama sekali. Menurut para penulis, tabungan sekecil apa pun menjadi penyangga saat gagal panen, sakit, atau gangguan iklim datang.

Jumlah pencari nafkah menunjukkan arah serupa. Rumah tangga dengan dua pencari nafkah atau lebih punya odds kerentanan 0,247 kali dibandingkan yang hanya punya satu. Sebaliknya, rumah tangga dengan dua tanggungan punya odds 2,458 kali lebih besar daripada yang menanggung satu orang. Pendapatan bulanan dan kepemilikan aset tidak lagi bermakna pada tahap ini.

Utang muncul sebagai penanda yang tajam. Sebanyak 66,4 persen rumah tangga meminjam uang dari teman atau kerabat pada bulan sebelumnya. Di kelompok rentan angkanya 82,4 persen, di kelompok tidak rentan 43,8 persen. Odds kerentanan peminjam tercatat 7,376 kali lebih besar daripada yang tidak meminjam.

Rumah tangga tidak rentan dan rentanRumah tangga tidak rentan dan rentanRumah tangga tidak rentan dan rentanPersentase di dalam tiap kelompok: 144 tidak rentan, 204 rentanTidak rentanRentan59,0%85,3%Tanpa tabunganbulanan47,9%74,5%Satu pencarinafkah43,8%82,4%Meminjam uangbulan lalu20,8%53,4%Minta bantuanpemerintah22,9%32,8%Anak berat sangatkurangPendataan Juli-Oktober 2024 di enam desa Dacope, Khulna.
Sumber: Shahinur Akter, Aranya Siriphon, Arratee Ayuttacorn, Waraporn Boonchieng, Household livelihood vulnerability and child health in southwestern coastal Bangladesh: determinants and implications, BMC Public Health, 26(2014), 2026. Grafik: Cekricek.id

Bantuan pemerintah lokal bergerak ke arah yang sama. Dalam setahun terakhir, 39,9 persen rumah tangga pernah memintanya. Di kelompok rentan angkanya 53,4 persen, di kelompok tidak rentan 20,8 persen. Odds kerentanan pencari bantuan tercatat 4,642 kali lebih besar.

Para penulis tidak membaca pinjaman dan bantuan sebagai penyebab. Keduanya dibaca sebagai tanda keluarga yang sudah terdesak. “Dalam konteks ini, dukungan dari luar berfungsi bukan sebagai bantalan pelindung, melainkan lebih sebagai penanda keterpaparan pada risiko yang sudah mengakar,” tulis Akter, Siriphon, Ayuttacorn, dan Boonchieng dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Rawan pangan melengkapi daftar itu. Rumah tangga dengan rawan pangan sedang punya odds kerentanan 3,466 kali lebih besar daripada yang aman pangan. Untuk rawan pangan berat, angkanya 7,595 kali. Para penulis menyebut rawan pangan sebagai pendorong sekaligus akibat dari nafkah yang rapuh.

Tahap terakhir: tubuh anak di bawah lima tahun

Sesudah rumah tangga, giliran anak-anaknya yang dicatat. Bebannya tinggi di semua rumah. Sebanyak 64,7 persen anak mengalami infeksi saluran pernapasan akut. Demam dialami 42,2 persen anak dan diare 13,5 persen. Keterangan sakit itu berasal dari ingatan para pengasuh.

Catatan gizi lebih berat lagi. Menurut tabel naskah, 56,3 persen anak mengalami stunting berat dan 33,3 persen stunting sedang. Sebanyak 16,4 persen anak sangat kurus menurut ukuran wasting, dan 40,5 persen kurus sedang. Hanya 9,8 persen anak yang berat badannya normal menurut umur.

Lalu kedua catatan itu dipertemukan. Hasilnya tidak seragam. Kerentanan nafkah tidak berkaitan secara bermakna dengan infeksi pernapasan, demam, diare, stunting, maupun wasting. Diare memang lebih sering di rumah tangga rentan, 16,2 persen berbanding 9,7 persen, tetapi selisih itu tidak lolos batas kemaknaan.

Satu ukuran saja yang berkaitan, yaitu berat badan menurut umur. Di rumah tangga rentan, 32,8 persen anak berat badannya sangat kurang. Di rumah tangga tidak rentan, angkanya 22,9 persen. Odds anak dari rumah tangga tidak rentan untuk masuk golongan sangat kurang tercatat 0,389 kali dibandingkan anak dari rumah tangga rentan.

Para penulis menafsirkan kaitan itu lewat kemiskinan yang mendasarinya. Rumah tangga yang rapuh, menurut mereka, sering tidak punya penghasilan tetap, akses pangan yang cukup, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan. Uang yang terbatas mempersempit belanja untuk makanan bergizi dan berobat.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Tahun 2026: batas yang diakui dan angka yang tidak sejalan

Ketika terbit pada 2026, naskah itu memuat batasnya sendiri. Penelitian hanya dilakukan di perdesaan pesisir barat daya Bangladesh, sehingga belum tentu berlaku di kota atau wilayah lain. Pengukuran dilakukan pada satu waktu saja. Karena itu, para penulis mengakui hubungan sebab-akibat antara kerentanan nafkah dan kesehatan anak tidak dapat ditarik.

Beberapa angka di dalam naskah juga tidak sejalan dan bisa diperiksa pembaca. Abstrak menyebut kerentanan tertinggi ada di Sutarkhali. Bagian hasil dan tabelnya menunjukkan Kalabogi yang tertinggi, 53 dari 58 rumah tangga. Teks menyebut 56,9 persen anak mengalami stunting berat, sedangkan tabel mencatat 56,3 persen untuk seluruh anak.

Ada dua hal lain di tabel. Baris tabungan sampai 1.000 taka dan baris 1.001 sampai 5.000 taka memuat angka yang persis sama, yakni 38 rumah tangga, 24 tidak rentan dan 14 rentan. Padahal arah odds keduanya berlawanan. Pada baris berat badan kurang sedang, nilai odds dan nilai p sama-sama tertulis 0,625.

Usulan para penulis berhenti pada kebijakan. Mereka meminta nafkah yang lebih beragam dan tahan iklim, seperti pertanian adaptif, budi daya perairan, dan usaha kecil. Mereka juga meminta program gizi anak memakai penilaian kerentanan rumah tangga untuk menentukan penerima bantuan tunai, makanan tambahan, dan pemantauan tumbuh kembang.

Catatan terakhir yang tersedia tetap berasal dari pendataan Juli sampai Oktober 2024. Pada waktu itu, 204 dari 348 rumah tangga di enam desa Dacope tergolong rentan. Di rumah-rumah itu pula, hampir sepertiga anak balita berat badannya sangat kurang.

Bagikan

Baca Juga

Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Pensiunan Sarawak Hidup Lebih Baik bila Masih Merasa Berdaya
Rektor Cornell Janji Transparan soal Kasus Pemerkosaan di Kampus
Trump Kampanye di Ohio, Yakin Republik Menang Besar Pemilu Sela
Vucic Mulai Kampanye Rebut Kursi Perdana Menteri Serbia
Houthi Klaim Serang Fasilitas Aramco di Riyadh, Koalisi Membantah