Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

A A

Kegiatan timbang balita di Posyandu Porendeang [Foto: Yansen Ricco/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Dari 260 anak etnis minoritas di Chiang Rai, 22,3 persen stunting, 20,8 persen wasting, 11,9 persen kelebihan berat
  • Stunting terkait pati berlebih dengan peluang 9,03 kali; wasting terkait pengasuh nonorang tua peluang 2,51 kali
  • Kelebihan berat terkait sayur sedikit peluang 2,35 kali dan ibu pencari nafkah utama peluang 3,14 kali
  • Stunting turun dari 38,8 persen di usia 2 tahun jadi 8,1 persen di usia 4-5 tahun, kelebihan berat justru naik
Daftar Isi
  1. Sisi Kurus: Stunting dan Wasting
  2. Sisi Gemuk: Kelebihan Berat dan Obesitas
  3. Chiang Rai Dibanding Angka Nasional
  4. Chiang Rai Dibanding Chiang Mai
  5. Yang Sama di Kedua Sisi
  6. Yang Sama Sekali Berbeda

Anak yang badannya terlalu pendek untuk umurnya dan anak yang badannya terlalu gemuk untuk umurnya sama-sama ditimbang di sembilan pusat penitipan anak yang sama, di kecamatan yang sama, oleh tim peneliti yang sama. Satu sisi kurus, satu sisi gemuk, tetapi keduanya lahir dari kondisi rumah tangga yang mirip: keluarga petani, pendapatan kecil, dan pengasuh yang tidak selalu orang tua kandung.

Sandingan itu tertuang dalam naskah Siwarak Kitchanapaibul, Chomnard Singhan, dan Thapakorn Ruanjai berjudul Factors associated with a double burden of malnutrition among preschool-aged ethnic minority children in northern Thailand: a community-based cross-sectional study, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 1082 pada 2026. Naskahnya berbahasa Inggris, ditulis peneliti dari Mae Fah Luang University dan University of Phayao, Thailand. Di satu sisi ada anak yang kekurangan gizi. Di sisi lain ada anak yang kelebihan gizi.

Kedua sisi diukur pada 260 anak usia 2 sampai 5 tahun dari kelompok etnis minoritas atau suku bukit di Kecamatan Thoet Thai, Distrik Mae Fah Luang, Provinsi Chiang Rai, Thailand utara. Sebagian besar anak beretnis Lahu, disusul Tai Yai, Akha, dan keturunan Yunnan. Status gizi diukur dengan standar pertumbuhan Organisasi Kesehatan Dunia, membandingkan tinggi dan berat badan tiap anak dengan anak seusianya.

Sisi Kurus: Stunting dan Wasting

Pada sisi kekurangan gizi, dua kondisi tercatat terpisah. Sebanyak 58 anak, atau 22,3 persen, mengalami stunting alias tubuh terlalu pendek untuk umurnya. Sebanyak 54 anak lain, atau 20,8 persen, mengalami wasting alias tubuh terlalu kurus untuk tingginya. Dua angka itu jauh di atas data nasional Thailand, yang mencatat stunting di kisaran 11,8 sampai 12,3 persen dan wasting 7,7 persen pada tahun-tahun sebelumnya.

Stunting berkaitan erat dengan pola makan yang bertumpu pada nasi ketan, mi instan, dan bubur nasi. Anak yang mengonsumsi makanan berpati itu dalam frekuensi sedang sampai tinggi berpeluang sembilan kali lebih besar mengalami stunting dibanding anak yang jarang mengonsumsinya, dengan rasio odds 9,03. Para peneliti menduga porsi nasi yang besar justru menyisakan sedikit ruang untuk lauk dan sayur, sehingga gizi lain tidak tercukupi meski perut terasa kenyang.

Dua sisi beban ganda gizi pada 260 anak Chiang RaiPerbandingan prevalensi dan pemicu kekurangan gizi versus kelebihan gizi.Dua sisi beban ganda gizi pada 260 anak ChiangRai260 anak usia 2-5 tahun, 9 pusat penitipan anak, 2023Kurang giziLebih gizi22,3% + 20,8%11,9%PrevalensiStunting, wastingKelebihan beratKondisiPati berlebihSayur sedikitPemicu utama9,03 kali2,35 kaliPeluang (aOR)Diasuh nenekIbu cari nafkahFaktor pengasuhanStunting dan wasting dihitung terpisah tetapi sama-sama kekurangangizi; keduanya berdampingan dengan kelebihan berat pada populasi yangsama.
Sumber: Siwarak Kitchanapaibul, Chomnard Singhan, dan Thapakorn Ruanjai, Factors associated with a double burden of malnutrition among preschool-aged ethnic minority children in northern Thailand: a community-based cross-sectional study, BMC Public Health, 26(1082), 2026. Grafik: Cekricek.id

Wasting punya pemicu yang berbeda: bukan jenis makanan, melainkan siapa yang menyiapkannya. Anak yang makanannya disiapkan oleh pengasuh selain orang tua, kebanyakan nenek, berpeluang dua setengah kali lebih besar mengalami wasting, dengan rasio odds 2,51. Di wilayah studi, nenek yang mengasuh umumnya berpendidikan terbatas dan kadang harus membagi waktu dengan pekerjaan pertanian musiman, sehingga menu harian anak tidak selalu terjaga.

Sisi Gemuk: Kelebihan Berat dan Obesitas

Pada sisi kelebihan gizi, angkanya lebih kecil tetapi tetap bermakna: 31 anak, atau 11,9 persen, tergolong kelebihan berat atau obesitas. Berbeda dari dua kondisi kekurangan gizi, sisi ini tidak berkaitan dengan jenis makanan pokok, melainkan dengan makanan yang justru jarang muncul di piring anak, yaitu sayur.

Anak yang jarang mengonsumsi sayur berpeluang dua kali lebih besar mengalami kelebihan berat atau obesitas, dengan rasio odds 2,35. Faktor kedua datang dari luar dapur: anak dari rumah tangga yang ibunya menjadi pencari nafkah utama berpeluang tiga kali lebih besar mengalami kelebihan berat, dengan rasio odds 3,14. Dua faktor itu berdiri sendiri-sendiri dalam model statistik, tetapi sama-sama menunjuk ke arah yang sama: waktu dan perhatian untuk menyiapkan makanan bergizi yang menipis.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Dalam naskahnya, Siwarak Kitchanapaibul, Chomnard Singhan, dan Thapakorn Ruanjai menulis tentang sisi kelebihan gizi ini, “ketika ibu menjadi pencari nafkah utama, tuntutan pekerjaan yang bersaing dapat membatasi waktu untuk merencanakan dan menyiapkan makanan, meningkatkan ketergantungan pada makanan siap saji atau padat energi, dan pada akhirnya menurunkan kualitas pola makan secara keseluruhan,” terjemahan dari kalimat aslinya yang berbahasa Inggris. Kalimat itu ditulis untuk menjelaskan mengapa peran ganda ibu di rumah dan di luar rumah ikut menggeser timbangan anak ke arah yang berlebih.

Chiang Rai Dibanding Angka Nasional

Ditempatkan di samping data yang lebih luas, dua sisi ini sama-sama tampak berat. Prevalensi nasional Thailand untuk anak balita berkisar 11,8 sampai 12,3 persen untuk stunting, 7,7 persen untuk wasting, dan 8,6 sampai 9,2 persen untuk kelebihan berat/obesitas. Angka Thoet Thai jauh melampaui semuanya: 22,3 persen, 20,8 persen, dan 11,9 persen. Baik sisi kurus maupun sisi gemuk di kampung etnis minoritas ini berada di atas rata-rata negara.

Chiang Rai Dibanding Chiang Mai

Namun dibanding sesama kampung etnis minoritas, dua sisi ini malah bertukar posisi. Studi pada anak etnis minoritas di Provinsi Chiang Mai mencatat stunting 16,3 persen dan wasting 10,9 persen, lebih rendah dari Thoet Thai. Kelebihan berat di sana justru 19,7 persen, jauh lebih tinggi dari 11,9 persen di Thoet Thai. Artinya, dua kampung dengan latar etnis yang mirip bisa memikul beban ganda yang bobotnya berlawanan.

Yang Sama di Kedua Sisi

Meski arah bobotnya berlawanan, dua sisi ini punya benang merah yang sama. Keduanya sama-sama tumbuh dari rumah tangga dengan orang tua bekerja di pertanian, dagang, atau buruh harian, hampir seluruh peserta studi. Keduanya juga sama-sama muncul pada populasi dengan hampir separuh rumah tangga berpenghasilan di bawah 9.000 baht sebulan dan hampir separuh orang tua tanpa pendidikan formal.

Persamaan lain terletak pada siapa yang mengendalikan dapur. Baik pengasuhan oleh nenek pada sisi wasting maupun kesibukan ibu bekerja pada sisi kelebihan berat, keduanya menunjuk pada satu titik yang sama: siapa pun yang benar-benar menyiapkan makanan anak sehari-hari, dan seberapa banyak waktu yang tersisa baginya, ikut menentukan ke arah mana timbangan anak bergerak.

Yang Sama Sekali Berbeda

Namun di titik lain, dua sisi ini berjalan berlawanan arah. Data menurut usia memperlihatkannya jelas. Pada anak usia dua tahun, stunting mencapai 38,8 persen dan wasting 18,4 persen, sedangkan kelebihan berat hanya 10,2 persen. Begitu anak memasuki usia empat sampai lima tahun, stunting turun tajam menjadi 8,1 persen, sementara kelebihan berat justru naik menjadi 13,5 persen.

Prevalensi bergeser dari kurus ke gemuk seiring usia2 tahun (49 anak): Stunting +38,8%, Wasting +18,4%; 3 tahun (137 anak): Stunting +24,1%, Wasting +24,1%; 4-5 tahun (74 anak): Stunting +8,1%, Wasting +16,2%.Prevalensi bergeser dari kurus ke gemuk seiringusiaPersen anak per kelompok usia, tanpa kelebihan berat (lihat catatan)StuntingWasting10%20%30%40%02 tahun (49 anak)38,8%18,4%3 tahun (137 anak)24,1%24,1%4-5 tahun (74 anak)8,1%16,2%Kelebihan berat naik dari 10,2% (2 tahun) ke 11,7% (3 tahun) lalu 13,5%(4-5 tahun), berbanding terbalik dengan stunting.
Sumber: Siwarak Kitchanapaibul, Chomnard Singhan, dan Thapakorn Ruanjai, Factors associated with a double burden of malnutrition among preschool-aged ethnic minority children in northern Thailand: a community-based cross-sectional study, BMC Public Health, 26(1082), 2026. Grafik: Cekricek.id

Pergeseran itu tidak dibahas para peneliti sebagai satu proses yang menyambung, melainkan sebagai dua fenomena berbeda yang kebetulan terjadi pada rentang usia yang sama. Sisi kurus paling parah di awal masa kanak-kanak, ketika pemberian makanan pendamping ASI biasanya dimulai. Sisi gemuk justru menguat setelah anak mulai punya kendali sendiri atas pilihan makanannya, mendekati usia sekolah.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Ada batas yang diakui penulisnya sendiri. Rancangan penelitian ini potong lintang, sehingga tidak bisa memastikan hubungan sebab akibat antara pola makan atau pengasuhan dengan status gizi anak. Data konsumsi pangan pun diambil dari kuesioner frekuensi yang dijawab pengasuh, bukan pencatatan langsung, sehingga rawan meleset dari ingatan. Metode pengambilan sampel yang tidak sepenuhnya acak turut membatasi seberapa jauh temuan ini bisa digeneralisasi.

Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta

Ada pula hal yang bisa diperiksa pembaca sendiri di naskahnya. Pada bagian Pendahuluan, prevalensi nasional Thailand tahun 2022 disebut stunting 11,8 persen dan kelebihan berat 8,6 persen. Namun pada bagian Pembahasan, angka yang disebut sebagai data nasional tahun 2020 berubah menjadi stunting 12,3 persen dan kelebihan berat 9,2 persen. Angka wasting kebetulan sama di kedua kutipan, 7,7 persen, tetapi dua tahun rujukan dan dua angka pembanding lain itu tidak pernah dijelaskan mengapa berbeda.

Pada akhirnya, dua sisi timbangan itu tetap berdiri berdampingan tanpa saling meniadakan. Anak yang terlalu kurus dan anak yang terlalu gemuk berbagi kecamatan yang sama, kemiskinan rumah tangga yang sama, dan keterbatasan akses layanan gizi yang sama, tetapi menempuh jalan yang berbeda menuju dua ujung yang sama-sama jauh dari sehat. Naskah ini berhenti pada potret satu titik waktu, tanpa menjawab apakah anak yang hari ini kurus akan menjadi anak yang gemuk di tahun-tahun berikutnya.

Bagikan

Baca Juga

Inkontinensia Urine di Bangkok: Paling Terganggu, Paling Tak Tahu
Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Desa Tabek Bebas BABS, Tangki Septiknya Belum Pernah Dikuras