Pensiunan Sarawak Hidup Lebih Baik bila Masih Merasa Berdaya

A A

Ilustrasi empat laki-laki lanjut usia bercakap di meja tepi jalan, Kuala Lumpur, Malaysia [Foto: Mursal/Pexels]

  • Dari semua yang ditimbang, penentuan diri menunjukkan kaitan positif paling kuat dengan kualitas hidup, dengan koefisien 0,546.
  • Secara keseluruhan, rangkaian faktor itu menjelaskan 56 persen variasi kualitas hidup para pensiunan.
  • Kaitan totalnya dengan kualitas hidup hanya minus 0,021.
  • Usia, pendidikan, pendapatan, dan ciri sosial ekonomi lain hanya menjelaskan 2 persen variasi kualitas hidup.
Daftar Isi
  1. Tiga kebutuhan yang membuat pensiunan merasa berdaya
  2. Tekanan batin bekerja lewat dua jalur
  3. Ikatan sosial menopang, tetapi tidak selalu melindungi
  4. Biaya berobat yang besar ternyata tidak banyak bicara
  5. Seberapa jauh faktor batin menambah penjelasan
  6. Di mana penjelasan ini berhenti
  7. Hal yang bisa diperiksa pembaca di naskah

Dua pensiunan bisa menanggung penyakit yang serupa dan hidup dari penghasilan yang tidak jauh berbeda, tetapi yang satu menilai hari tuanya baik sedangkan yang lain tidak. Beban penyakit, usia, pendapatan, dan kemampuan tubuh memang paling sering diperiksa ketika orang membicarakan kualitas hidup lansia. Persoalannya, deretan ukuran itu belum tentu sanggup menerangkan mengapa sebagian pensiunan melaporkan hidup yang lebih baik daripada yang lain dalam keadaan kesehatan dan ekonomi yang mirip.

Kejanggalan itulah yang ditelusuri Sivanandhan Selleyitoreea dan Md Mizanur Rahman dari Universiti Malaysia Sarawak dalam artikel Psychological distress, self-determination, and social capital associated with quality of life among retirees in Sarawak: a cross-sectional structural equation modelling analysis, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keduanya mewawancarai 1.410 pensiunan berusia 60 tahun ke atas di sembilan distrik Sarawak, dari Kuching dan Bau di selatan, Selangau dan Song di tengah, sampai Miri dan Sibuti di utara.

Menurut kedua penulis, meninggalkan pekerjaan formal menggeser banyak hal sekaligus: peran sosial, jaminan penghasilan, rutinitas harian, kemandirian, dan keikutsertaan dalam masyarakat. Karena itu, mereka menduga jawaban atas kejanggalan tadi berada pada faktor psikososial. Di Sarawak dugaan itu terasa relevan, sebab penuaan penduduk berlangsung bersamaan dengan permukiman yang terpencar, hambatan layanan di perdesaan, keragaman etnis, dan ketimpangan sosial ekonomi.

Orang-orang yang mereka temui rata-rata berusia 68,58 tahun, dan hampir enam dari sepuluh adalah perempuan. Lebih dari separuhnya, 55,0 persen, berasal dari kelompok Bumiputera bukan Melayu. Penyakit jantung disebut oleh 25,9 persen dan diabetes melitus oleh 22,6 persen responden, dengan rata-rata 1,12 penyakit kronis per orang. Skor kualitas hidup mereka berkumpul di tengah, antara 59,86 untuk kesehatan fisik dan 61,67 untuk hubungan sosial pada skala nol sampai seratus.

Tiga hal ditimbang bersama. Pertama, tekanan psikologis, yakni gejala depresi, kecemasan, dan stres. Kedua, penentuan diri, yang dalam naskah ini berarti terpenuhinya tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Ketiga, modal sosial, yaitu sumber daya yang tertanam dalam hubungan dan jejaring masyarakat. Satu ukuran keuangan ikut dimasukkan, yaitu belanja kesehatan katastropik, ketika biaya berobat dari kantong sendiri melampaui 10 persen pengeluaran atau pendapatan rumah tangga.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Tiga kebutuhan yang membuat pensiunan merasa berdaya

Dari semua yang ditimbang, penentuan diri menunjukkan kaitan positif paling kuat dengan kualitas hidup, dengan koefisien 0,546. Modal sosial menyusul dengan 0,352. Secara keseluruhan, rangkaian faktor itu menjelaskan 56 persen variasi kualitas hidup para pensiunan. Kedua penulis menyebut kaitan penentuan diri dengan kualitas hidup sebagai temuan terkuat penelitian mereka, dan mereka membacanya sebagai tanda pentingnya rasa mampu bertindak serta keikutsertaan yang bermakna di usia lanjut.

Cara kerjanya diuraikan lewat tiga kebutuhan tadi. Otonomi, menurut naskah, mencerminkan kemampuan mengambil pilihan yang bermakna soal rutinitas harian, keputusan berobat, keuangan, dan peran dalam keluarga. Kompetensi mencerminkan keyakinan mampu mengelola kesehatan, tanggung jawab rumah tangga, dan pergaulan. Keterhubungan mencerminkan rasa dihargai, terhubung, dan ditopang oleh keluarga, teman sebaya, serta masyarakat yang lebih luas.

Pensiun, tulis kedua peneliti, dapat mengubah identitas kerja, jaminan penghasilan, rutinitas sosial, dan peran pengambil keputusan di dalam rumah tangga. Pensiunan yang tetap merasa mampu, terhubung, dan sanggup membuat pilihan bermakna mungkin melaporkan kualitas hidup yang lebih baik pada sisi fisik, psikologis, sosial, maupun lingkungan. Dalam hitungan akhir untuk kualitas hidup keseluruhan, keterhubungan mencatat koefisien 0,24, otonomi 0,23, dan kompetensi 0,17.

Tekanan batin bekerja lewat dua jalur

Yang membuatnya rumit, tekanan psikologis tidak berdiri sendirian di seberang kualitas hidup. Ia berkaitan negatif dengan penentuan diri, dengan koefisien minus 0,379, dan dengan modal sosial, minus 0,327. Artinya, pensiunan dengan gejala depresi, kecemasan, dan stres yang lebih tinggi cenderung melaporkan otonomi, kompetensi, keterhubungan, dan ikatan sosial yang lebih rendah. Dari situ kaitannya diteruskan ke kualitas hidup.

Dua jalur dari tekanan batin ke kualitas hidupDua jalur dari tekanan batin ke kualitas hidupDua jalur dari tekanan batin ke kualitas hidupKoefisien asosiasi pada 1.410 pensiunan SarawakLewat rasa berdayaLewat modal sosial-0,379-0,327Tekanan batin keperantara+0,546+0,352Perantara kekualitas hidup-0,207-0,115Kaitan tak langsungMinus: makin tertekan, makin rendah. Asosiasi statistik, bukansebab-akibat.
Sumber: Sivanandhan Selleyitoreea dan Md Mizanur Rahman, Psychological distress, self-determination, and social capital associated with quality of life among retirees in Sarawak: a cross-sectional structural equation modelling analysis, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Jalur lewat penentuan diri tercatat lebih tebal, minus 0,207, dibandingkan jalur lewat modal sosial, minus 0,115. Naskah menerangkan mengapa jalur itu masuk akal. Depresi bisa berkaitan dengan surutnya dorongan, rasa putus asa, dan mundurnya orang dari kegiatan yang bermakna. Kecemasan bisa mengurangi rasa kendali dan keyakinan dalam mengelola kesehatan, keuangan, atau pergaulan. Stres bisa melemahkan pengaturan emosi dan menambah beban yang dirasakan sehari-hari.

Bersama-sama, gejala itu dapat berkaitan dengan otonomi yang dirasa menyusut, kompetensi yang berkurang, dan keterhubungan yang melemah, lalu tercermin pada kualitas hidup yang lebih buruk. Namun, kedua penulis sendiri memasang rem di sini. Jalur tersebut mereka sebut jalur statistik yang dituntun teori, bukan bukti mekanisme sebab-akibat. Mungkin pula kualitas hidup yang buruk justru menyumbang tekanan batin, atau keduanya saling memperkuat.

Ikatan sosial menopang, tetapi tidak selalu melindungi

Modal sosial dalam penelitian ini punya dua wajah. Modal sosial pengikat adalah ikatan dekat dengan keluarga, teman, dan jejaring yang sudah akrab, yang dapat memberi dukungan emosional, bantuan praktis, dan rasa memiliki. Modal sosial penjembatan adalah hubungan yang lebih lebar dengan kelompok masyarakat, organisasi, dan lembaga, yang dapat membuka keikutsertaan, akses informasi, dan keterlibatan di luar rumah tangga.

Di Sarawak, menurut naskah, modal sosial bisa menjadi sangat penting karena lansia tinggal di lingkungan geografis dan budaya yang beragam. Di komunitas perdesaan atau semi-perkotaan, jejaring informal dapat membantu pensiunan memperoleh dukungan ketika layanan formal jauh atau terbatas. Hubungan penjembatan lewat organisasi masyarakat atau pusat kegiatan lansia juga dapat membuka kesempatan bergaul dan mengurangi keterasingan.

Meski begitu, kedua penulis menolak membaca modal sosial sebagai pelindung yang seragam. Hubungan sosial dapat memberi dukungan, tetapi juga dapat membawa harapan, kewajiban, atau pembandingan sosial. “Program sosial sebaiknya tidak berasumsi bahwa jejaring sosial yang lebih rapat selalu bermanfaat,” tulis Selleyitoreea dan Rahman dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Penelitian mereka tidak membedakan hubungan yang menopang dari hubungan yang membebani.

Baca juga Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata

Biaya berobat yang besar ternyata tidak banyak bicara

Pada batas 10 persen, 18,2 persen rumah tangga responden mengalami belanja kesehatan katastropik dalam sebulan sebelum wawancara, kira-kira satu dari lima atau enam rumah tangga. Namun, kaitannya dengan penentuan diri, modal sosial, dan kualitas hidup kecil dan tidak bermakna secara statistik. Kaitan totalnya dengan kualitas hidup hanya minus 0,021. Setelah tekanan batin, penentuan diri, dan modal sosial ikut dihitung, beban biaya itu tidak menunjukkan kaitan mandiri yang sebanding.

Kedua penulis buru-buru menambahkan bahwa hasil itu tidak berarti beban biaya kesehatan tidak penting. Mereka menawarkan beberapa penjelasan. Ukuran yang hanya membedakan terkena atau tidak terkena mungkin gagal menangkap seberapa berat, seberapa lama, dan seperti apa tekanan keuangan itu dirasakan. Sebagian pensiunan bisa tertekan meski belum melewati batas, sedangkan yang lain melewatinya tetapi punya dukungan keluarga, tabungan, pensiun, atau bantuan pemerintah.

Sistem layanan kesehatan publik Malaysia, menurut naskah, mungkin juga meredam akibat langsung biaya dari kantong sendiri bagi sebagian pensiunan. Selain itu, beban keuangan bisa bekerja lewat jalur yang tidak diukur, seperti rasa tidak aman secara finansial, berobat yang ditunda, utang, atau beban mengasuh. Karena itu, kebijakan yang menekan biaya dari kantong sendiri dan memperluas akses layanan terjangkau tetap mereka anggap relevan.

Satu temuan kecil justru berlawanan dengan dugaan umum. Kaitan negatif antara belanja katastropik dan penentuan diri tampak lebih nyata pada pensiunan dengan modal sosial tinggi, dengan koefisien interaksi minus 0,06. Kedua penulis menduga, di komunitas yang erat, kesulitan uang menjadi lebih terlihat atau disertai rasa wajib membalas bantuan. Tafsir itu mereka sebut spekulatif, sebab rasa malu, kewajiban, dan pembandingan sosial tidak diukur langsung.

Seberapa jauh faktor batin menambah penjelasan

Susunan penjelasannya bisa dibayangkan seperti menumpuk tiga lapis. Usia, pendidikan, pendapatan, dan ciri sosial ekonomi lain hanya menjelaskan 2 persen variasi kualitas hidup. Ketika kondisi kesehatan dan belanja katastropik dimasukkan, penjelasan bertambah 34 persen. Lapis ketiga, yakni tekanan psikologis, penentuan diri, dan modal sosial, menambah lagi 20 sampai 30 persen, sehingga keseluruhan mencapai 56 persen untuk kesehatan fisik dan 66 persen untuk kualitas hidup keseluruhan.

Tambahan penjelasan dari faktor psikososialFisik: Tambahan variasi kualitas hidup yang terjelaskan +20%; Psikologis: Tambahan variasi kualitas hidup yang terjelaskan +24%; Sosial: Tambahan variasi kualitas hidup yang terjelaskan +24%; Lingkungan: Tambahan variasi kualitas hidup yang terjelaskan +23%; Keseluruhan: Tambahan variasi kualitas hidup yang terjelaskan +30%.Tambahan penjelasan dari faktor psikososialTambahan persen variasi per domain kualitas hidup10%20%30%0Fisik20%Psikologis24%Sosial24%Lingkungan23%Keseluruhan30%Sosiodemografi dan ekonomi menjelaskan 2 persen; kesehatan danbelanja katastropik menambah 34 persen.
Sumber: Sivanandhan Selleyitoreea dan Md Mizanur Rahman, Psychological distress, self-determination, and social capital associated with quality of life among retirees in Sarawak: a cross-sectional structural equation modelling analysis, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di lapis terakhir itu, gejala batin menarik ke arah sebaliknya dari tiga kebutuhan dasar. Depresi mencatat koefisien minus 0,16, stres minus 0,12, dan kecemasan minus 0,08. Kedua penulis menegaskan bahwa hasil ini tidak boleh dibaca seolah usia, pendidikan, pendapatan, dan penyakit tidak penting. Yang mereka tunjukkan adalah bahwa faktor psikososial membantu menerangkan variasi kualitas hidup yang tidak tertangkap oleh ciri kependudukan dan penyakit saja.

Dari situ lahir usulan mereka untuk strategi menua sehat di Sarawak. Penapisan depresi, kecemasan, dan stres di layanan primer serta program lansia berbasis masyarakat dapat membantu menemukan pensiunan yang berisiko. Program bagi pensiunan sebaiknya tidak berhenti pada pengelolaan penyakit, tetapi juga menopang otonomi, kompetensi, dan keterhubungan, misalnya lewat pengambilan keputusan bersama dalam pengobatan, kelompok dukungan sebaya, kegiatan berbasis keterampilan, dan peran yang bermakna di keluarga.

Di mana penjelasan ini berhenti

Semua data dikumpulkan pada satu waktu, sehingga penelitian ini tidak dapat menyimpulkan sebab-akibat atau urutan kejadian. Itulah keterbatasan pertama yang diakui kedua penulis. Keterangan tentang penyakit, pendapatan, pengeluaran, tekanan batin, dan modal sosial juga berasal dari laporan responden sendiri, yang bisa dipengaruhi ingatan atau keinginan tampil baik. Temuannya pun belum tentu berlaku bagi semua pensiunan Sarawak atau Malaysia, terutama di distrik yang tidak ikut diteliti.

Sejumlah hal yang mungkin ikut berperan tidak diukur, antara lain fungsi kognitif, disabilitas fungsional, literasi kesehatan, kepribadian, beban mengasuh, kecukupan uang pensiun, dan mutu hubungan keluarga. Kecocokan model dengan data pun disebut kedua penulis sendiri berada di batas. Karena itu, mereka meminta penelitian yang mengikuti pensiunan dari waktu ke waktu untuk memastikan mana yang datang lebih dulu, tekanan batin, surutnya rasa berdaya, atau turunnya kualitas hidup.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Hal yang bisa diperiksa pembaca di naskah

Beberapa bagian naskah layak dicocokkan sendiri. Gejala depresi, kecemasan, dan stres disebut dominan rendah hingga sedang, tetapi kalimat yang sama mencatat 35,5 persen responden sangat sering dan 15,1 persen selalu mengalami perasaan negatif, lebih dari separuh sampel. Naskah juga menyatakan memakai uji dua arah, sementara tabel interaksi memasangkan nilai t 2,22 dengan nilai p 0,013, pasangan yang lazimnya muncul pada uji satu arah.

Angka hubungan antarfaktor pun tampil dalam dua versi. Tabel korelasi mencatat tekanan psikologis dan penentuan diri berhubungan minus 0,480, serta tekanan psikologis dan modal sosial minus 0,440. Tabel jalur mencatat minus 0,379 dan minus 0,327 untuk pasangan yang sama, tanpa keterangan yang menjembatani selisihnya. Pada tabel ciri responden, 64,1 persen tercatat pensiun penuh, sedangkan 31,7 persen masih bekerja setelah pensiun.

Kembali ke dua pensiunan dengan penyakit dan penghasilan yang serupa itu. Jawaban yang ditawarkan data Sarawak bukan terletak pada tagihan berobat, melainkan pada apakah seseorang masih merasa bisa memilih, masih merasa mampu, dan masih merasa terhubung dengan orang di sekitarnya. “Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas hidup pensiunan tidak dapat dipahami lewat indikator keuangan atau biomedis saja,” tulis Selleyitoreea dan Rahman, juga dari naskah berbahasa Inggris itu.

Bagikan

Baca Juga

Rektor Cornell Janji Transparan soal Kasus Pemerkosaan di Kampus
Trump Kampanye di Ohio, Yakin Republik Menang Besar Pemilu Sela
Vucic Mulai Kampanye Rebut Kursi Perdana Menteri Serbia
Houthi Klaim Serang Fasilitas Aramco di Riyadh, Koalisi Membantah
Lula dan Flavio Bolsonaro Tutup Kampanye Jelang Pemilu Brasil
Berhenti Naik Angkutan Umum, Langkah dan Ingatan Lansia Surut