Berhenti Naik Angkutan Umum, Langkah dan Ingatan Lansia Surut

A A

Ilustrasi seorang perempuan duduk menunggu di halte bus tepi perbukitan, Yorkshire, Inggris [Foto: Cameron Butler/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Di antara 18.292 warga Inggris berusia 50 tahun ke atas yang diikuti sejak 2006 sampai 2023, hampir seperlima berhenti naik angkutan umum.
  • Tepat saat berhenti, tidak ada penurunan mendadak yang bermakna, baik pada langkah maupun ingatan.
  • Namun tambahan itu tidak menggantikan penurunan alami karena usia, melainkan menumpang di atasnya.
  • Kecepatan berjalan diukur di lintasan 2,4 meter, yang cenderung melebihkan hasil.
Daftar Isi
  1. Sebelum Dilian, Perhatian Tertuju pada Setir Mobil
  2. Ayam dan Telur dalam Kajian Rouxel dan Tinjauan 2024
  3. Jalan Keluar Dilian: Memilah Alasan Orang Berhenti
  4. Temuan 2026: Tidak Anjlok, tetapi Melandai Lebih Curam
  5. Pola Lain pada Mereka yang Berhenti karena Sakit
  6. Yang Diakui Dilian Belum Terjawab
  7. Catatan Pembaca atas Naskah Dilian

Selama bertahun-tahun, ketika para peneliti bertanya apa yang terjadi pada orang tua yang kehilangan alat geraknya, yang mereka maksud hampir selalu mobil. Berhenti mengemudi sudah lama dikaitkan dengan ingatan yang lebih cepat mundur, pergaulan yang menyempit, dan angka kesakitan serta kematian yang naik. Bus dan kereta nyaris tidak ikut ditanyakan, padahal bagi banyak orang lanjut usia angkutan umumlah yang tersisa sesudah kunci mobil diletakkan.

Celah itulah yang dimasuki Omer Dilian, Paul D. Feigin, Nadav Davidovitch, dan Karel Martens lewat Public transport use cessation and age-related functional decline: a quasi-causal analysis using the English longitudinal study of ageing, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1845 tahun 2026. Dilian dan Martens bekerja di Technion — Israel Institute of Technology di Haifa bersama Feigin, sedangkan Davidovitch di Bar Ilan University, Safed.

Jawaban mereka ringkas tetapi berhati-hati. Di antara 18.292 warga Inggris berusia 50 tahun ke atas yang diikuti sejak 2006 sampai 2023, hampir seperlima berhenti naik angkutan umum. Pada mereka yang berhenti bukan karena sakit, melainkan karena layanannya tidak ada, mahal, atau jarang lewat, kecepatan berjalan dan daya ingat sesudah itu menurun sedikit lebih cepat daripada sebelumnya.

Sebelum Dilian, Perhatian Tertuju pada Setir Mobil

Tulisan itu berangkat dari keyakinan yang sudah mapan, yakni bahwa kemampuan bepergian termasuk kapasitas terpenting bagi masa tua yang sehat. Dilian dan rekan-rekannya mencatat, mundurnya kemampuan itu telah dihubungkan dengan kematian, penyakit, disabilitas, dan mutu hidup yang merosot. Bepergian yang bermakna, tulis mereka, berarti sanggup sampai ke tempat yang ingin dituju, dan itu bergantung pada alat angkut: menyetir, naik angkutan umum, atau bersepeda.

Hanya saja, riset tentang kehilangan alat angkut itu selama ini berat sebelah. Keempat penulis merujuk kajian Chihuri dan kawan-kawan pada 2016, Choi pada 2014, Edwards pada 2009, serta Qin pada 2020, yang semuanya menelaah berhenti mengemudi. Tentang alat angkut lain pengetahuan masih tipis. Mereka hanya menyebut segelintir kajian kualitatif, di antaranya penelitian Ryan dan rekan-rekannya tentang orang tua yang berhenti bersepeda di kota Malmö.

Padahal angkutan umum punya tempat khusus di masa tua. Menurut Dilian, ia melayani mereka yang tidak punya mobil sekaligus memungkinkan orang yang sudah berhenti menyetir tetap bepergian dengan kendaraan bermotor lebih lama. Berbeda dari bersepeda, angkutan umum kadang masih bisa dipakai orang tua yang lebih rapuh untuk bergerak cukup mandiri dan menempuh jarak jauh, bahkan sesudah kemampuan tubuhnya banyak berkurang.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Ayam dan Telur dalam Kajian Rouxel dan Tinjauan 2024

Kesulitan terbesar bidang ini adalah arah hubungan yang bolak-balik. Naik angkutan umum mungkin menyehatkan karena orang lebih banyak bergerak, lebih sering keluar rumah, dan lebih terlibat dalam pergaulan. Namun sama mungkinnya orang yang sehatlah yang lebih mudah berjalan ke halte, naik ke kendaraan, dan bepergian. Dua arah itu, tulis para peneliti, sulit dipisahkan satu dari yang lain.

Tinjauan sistematis yang disusun Dilian bersama Beckers, Witlox, Davidovitch, dan Martens pada 2024 memang menemukan banyak kajian yang mengaitkan angkutan umum dengan berkurangnya obesitas dan depresi serta langkah yang lebih cepat dan fungsi kognitif yang lebih baik. Akan tetapi banyak di antaranya hanya memotret satu waktu, sehingga tidak sanggup membedakan sebab dari akibat. Kajian yang mengikuti orang bertahun-tahun pun, menurut mereka, kerap tersandung soal yang sama.

Setahun kemudian Dilian, Davidovitch, dan Martens menerbitkan kajian kualitatif tentang orang tua yang berhenti naik angkutan umum. Hasilnya menggarisbawahi kemungkinan dampak buruk bagi kemampuan bepergian dan kesejahteraan mereka. Karena sifatnya kualitatif, besarnya dampak pada kesehatan tidak bisa ditakar. Tulisan 2026 ini dimaksudkan mengisi takaran itu untuk dua penanda penuaan, yaitu kecepatan berjalan dan fungsi kognitif.

Jalan Keluar Dilian: Memilah Alasan Orang Berhenti

Cara mereka keluar dari lingkaran ayam dan telur itu adalah memilah alasan. Peserta survei penuaan Inggris yang jarang atau tidak pernah naik angkutan umum selalu ditanya mengapa. Mengikuti penggolongan Rouxel, Webb, dan Chandola pada 2017, tujuh jawaban dianggap struktural: angkutan tidak tersedia, tidak menuju tempat yang dibutuhkan, terlalu mahal, tidak bisa diandalkan, terlalu jarang, terlalu kotor, atau menimbulkan takut akan kejahatan.

Dua jawaban lain digolongkan sebagai alasan kesehatan, yakni kesehatan yang menghalangi dan masalah mobilitas. Dari 3.400 orang yang berhenti, setara 18,6 persen peserta, sebanyak 794 berhenti karena alasan struktural dan 648 karena kesehatan. Kelompok struktural itulah yang dijadikan semacam percobaan alami, dengan anggapan bahwa pada mereka kesehatan bukan penyebab berhenti, sehingga perubahan sesudahnya bisa dibaca, setidaknya sebagian, sebagai akibat.

Siapa yang berhenti naik angkutan umumSiapa yang berhenti naik angkutan umumSiapa yang berhenti naik angkutan umumPeserta English Longitudinal Study of Ageing, 2006 sampai 202318.292pesertausia 50 tahun keatas di Inggris3.400berhenti18,6 persen dariseluruh peserta794strukturallayanan tak ada,mahal, jarang648kesehatansakit atau sulitbergerakJalan risetnyaCatat siapa berhentiPilah alasannyaUkur laju surutnyaStruktural dan kesehatan: alasan berhenti yang disebut peserta.
Sumber: Omer Dilian, Paul D. Feigin, Nadav Davidovitch, dan Karel Martens, Public transport use cessation and age-related functional decline: a quasi-causal analysis using the English longitudinal study of ageing, BMC Public Health, 26(1845), 2026. Grafik: Cekricek.id

Sebagai pembanding dipakai 3.545 orang yang selalu naik angkutan umum sepanjang mereka diikuti. Kedua kelompok ternyata mirip. Usia rata-rata mereka 65,6 dan 66,4 tahun, dan perempuan mengisi 54,7 serta 59,5 persen. Mereka yang berhenti karena alasan struktural malah sedikit lebih gesit, dengan kecepatan berjalan 0,923 meter per detik berbanding 0,84 meter per detik pada pemakai setia.

Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia

Temuan 2026: Tidak Anjlok, tetapi Melandai Lebih Curam

Hasil utamanya muncul pada kelompok struktural. Tepat saat berhenti, tidak ada penurunan mendadak yang bermakna, baik pada langkah maupun ingatan. Yang berubah adalah kemiringannya sesudah itu. Setiap tahun sejak berhenti, kecepatan berjalan berkurang 0,001 meter per detik lebih banyak daripada sebelumnya, dan skor kognitif turun 0,012 poin lebih banyak. Perubahan pada fungsi kognitif, kata para penulis, lebih kentara.

Angka sekecil itu diakui sendiri oleh penulisnya. Untuk langkah kaki, 0,001 meter per detik jauh di bawah batas yang dianggap bermakna secara klinis, bahkan bila ditumpuk bertahun-tahun. Namun tambahan itu tidak menggantikan penurunan alami karena usia, melainkan menumpang di atasnya. “Artinya, dalam praktik, berhenti tampaknya memperpendek waktu yang diperlukan seseorang untuk mengalami penurunan kecepatan berjalan yang bermakna,” tulis Dilian, Feigin, Davidovitch, dan Martens dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Untuk fungsi kognitif, mereka tidak menemukan patokan baku di literatur. Dengan anggapan hati-hati bahwa sepersepuluh simpangan baku adalah batas terkecil yang bermakna, tambahan penurunan itu baru mencapainya sesudah kira-kira delapan tahun. Angka itu rata-rata. Para penulis menduga dampaknya lebih besar pada kelompok tertentu, terutama orang tua yang lebih rapuh dan mereka yang tidak punya pilihan angkutan lain sesudah berhenti.

Pola Lain pada Mereka yang Berhenti karena Sakit

Pembeda yang paling terang justru datang dari 648 orang yang berhenti karena kesehatan. Kelompok ini rata-rata lebih tua, 69,7 tahun, tujuh dari sepuluh di antaranya perempuan, dan delapan dari sepuluh mengaku punya penyakit menahun. Kecepatan berjalan mereka hanya 0,622 meter per detik. Lebih dari sepertiganya berada di lapisan kekayaan terbawah, dan sekitar separuhnya kesulitan menjalani kegiatan harian.

Pada kelompok ini, langkah dan ingatan anjlok tajam bersamaan dengan saat mereka berhenti, lalu laju penurunannya tidak banyak berubah. Dilian membaca pola itu sebagai jejak kejadian yang lebih dulu datang, seperti jatuh, stroke, atau rawat inap, yang sekaligus melemahkan tubuh dan menghentikan kebiasaan naik angkutan umum. Di sini sakitlah yang menyebabkan berhenti, bukan sebaliknya, dan beda pola itulah yang menopang pembacaan mereka atas kelompok struktural.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Yang Diakui Dilian Belum Terjawab

Kemiripan dua kelompok tadi punya satu pengecualian besar. Sebanyak 93,7 persen orang yang berhenti karena alasan struktural punya mobil yang bisa dipakai, sedangkan pada pemakai setia hanya 65,9 persen. Hampir sepertiga dari mereka berada di lapisan terkaya, berbanding 17,2 persen. Bagi para penulis, itu isyarat bahwa berhenti pada kelompok ini sebagian adalah pilihan orang yang punya alternatif.

Dua kelompok yang mirip, kecuali soal mobilDua kelompok yang mirip, kecuali soal mobilDua kelompok yang mirip, kecuali soal mobilBerhenti karena alasan struktural dibanding yang selalu memakaiBerhentiTetap naik65,6 tahun66,4 tahunUsia rata-rata54,7%59,5%Perempuan93,7%65,9%Ada mobil31,3%17,2%Paling kaya0,923 m/dtk0,84 m/dtkLaju jalanPaling kaya: berada di kuintil kekayaan teratas. Laju jalan diukur padausia 60 tahun ke atas.
Sumber: Omer Dilian, Paul D. Feigin, Nadav Davidovitch, dan Karel Martens, Public transport use cessation and age-related functional decline: a quasi-causal analysis using the English longitudinal study of ageing, BMC Public Health, 26(1845), 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari situ mengalir serangkaian keterbatasan yang mereka tulis sendiri. Kecepatan berjalan diukur di lintasan 2,4 meter, yang cenderung melebihkan hasil. Skor kognitif hanya mewakili ingatan dan fungsi eksekutif. Alasan berhenti berasal dari pengakuan peserta, yang bisa saja menyebut alasan layanan karena alasan kesehatan terasa memalukan. Pindah rumah atau wafatnya pasangan pun dapat mengubah akses angkutan sekaligus memengaruhi kesehatan.

Kelompok struktural juga kecil, relatif muda, sehat, dan berada, sehingga dampak sebenarnya bisa jadi lebih besar daripada yang terukur. Dilian dan rekan-rekannya menduga akibatnya lebih berat pada orang tua yang tidak punya kendaraan lain, tetapi jumlah peserta seperti itu tidak cukup untuk diuji. “Penelitian ini dilakukan dengan data dari Inggris, dan kesimpulannya tidak semestinya diperluas ke konteks lain tanpa kehati-hatian,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris.

Catatan Pembaca atas Naskah Dilian

Beberapa hal kecil dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Batas bermakna untuk kecepatan berjalan ditulis terbalik, dari 0,03 ke 0,01 meter per detik. Simpangan baku usia kelompok kesehatan tercatat 20,4 tahun, kira-kira dua kali kelompok lain. Skor kognitif disebut disusun dari dua tes, lalu beberapa kalimat kemudian menjadi tiga tes. Ucapan terima kasih menyebut dukungan sebuah lembaga, sementara bagian pendanaan menyatakan tidak ada dana khusus.

Dalam rantai riset yang bermula dari setir mobil, tulisan ini menyebut dirinya bukti kuantitatif pertama yang memberi arah, bahwa berhenti naik angkutan umum dapat berujung pada kesehatan yang lebih buruk di usia lanjut. Para penulisnya menamai temuan itu bukti awal dan menyerahkan kepada kajian berikutnya untuk memastikan besarnya, menguji ukuran kesehatan lain, dan mengulanginya di tempat berbeda. Mata rantai sesudahnya, kata mereka, adalah orang tua yang tidak punya mobil sama sekali.

Bagikan

Baca Juga

Biaya Artritis Reumatoid Naik Mengikuti Parahnya Sakit dan Usia
Anak Muda Muna Membawa Nyanyian Kantola ke Layar Ponsel
Makin Lama Menonton Video Pendek, Anak Thailand Makin Sulit Fokus
Lirik Lagu Lugat al-Alam dan Jejak Pengorbanan Seorang Ibu
Hari Lansia India: Perempuan di Rumah, Laki-laki Mencari Upah
Novel Darman Moenir: Rumah Tangga Retak dari Dalam dan Luar