- Serat menyumbang 97 persen dari seluruh partikel yang ditemukan, sisanya berupa pecahan dan lembaran.
- Mereka mencatat bahwa jaringan distribusi air minum Khorramabad terbuat dari polietilena.
- Partikel halus di bawah 250 mikrometer disebut belum tertangkap penuh oleh sistem di Khorramabad.
- Air minum Khorramabad berada di bawah semua angka pembanding itu.
Daftar Isi
- Bagaimana hujan menyeret plastik ke dalam sumur dan mata air
- Mengapa serat putih yang paling sering tertangkap
- Pipa polietilena dan jejak plastik yang sama di dalam air
- Cara instalasi pengolahan menyaring, dan partikel yang tetap lolos
- Membaca umur partikel dari permukaannya
- Menghitung dosis harian dan indeks bahaya
- Di mana angka dalam naskah tidak saling cocok
Hujan biasanya dianggap kabar baik bagi sumur dan mata air, sebab air yang turun dari langit mengisi kembali sumber yang dipakai warga untuk minum. Di Khorramabad, ibu kota Provinsi Lorestan di Iran barat, hujan justru datang bersama muatan lain. Air minum kota itu memuat lebih banyak serpihan plastik pada musim basah daripada musim kering, dan partikelnya lolos sampai ke keran rumah.
Temuan itu dilaporkan Sara Namdarian, Bahram Kamarehei, Mohammad Amin Karami, Reza Fouladi-Fard, Abbas Norouzian Baghani, Faramarz Azimi, Fatemeh Piroozfar, dan Mostafa Rezaali dalam artikel Microplastic contamination in drinking water sources and distribution networks of a Western City in Iran. Naskah itu terbit di jurnal BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit, tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bernaung di Lorestan University of Medical Sciences dan Qom University of Medical Sciences, satu lagi di University of Florida.
Pokok temuannya ringkas. Dari 110 sampel air yang diambil pada 2023 di 55 titik, mulai dari sumur, mata air, instalasi pengolahan, sampai pipa rumah tangga, mikroplastik muncul di 88 sampel atau 80 persen. Rata-rata kandungannya 2,06 partikel per liter. Mikroplastik di sini berarti serpihan plastik berukuran 1 sampai 5.000 mikrometer, jauh lebih kecil dari yang bisa dipungut dengan tangan.
Para penulis menyebut kajian mereka sebagai yang pertama menelusuri mikroplastik dalam air minum di wilayah barat Iran. Sumber air kota itu terdiri atas 23 sumur aluvial sedalam 35 sampai 120 meter dan tiga mata air karst yang mengalir sepanjang tahun, yakni Gerdab Sangi, Golestan, dan Motahari. Bersama-sama, sumber itu menghasilkan sekitar 12.000 meter kubik air sehari.
Bagaimana hujan menyeret plastik ke dalam sumur dan mata air
Perbedaan musim adalah sinyal paling kuat dalam naskah ini. Pada musim basah, April dan Mei, rata-rata kandungan mikroplastik mencapai 2,81 partikel per liter. Pada musim kering, Agustus dan September, angkanya turun ke 1,31. Selisih itu dinyatakan bermakna secara statistik, bukan sekadar kebetulan dari sampel yang kebetulan kotor. Pada peta sebaran kota, rata-rata kandungan tercatat berlipat dari sekitar 1 partikel per liter ke 2 partikel per liter.
Mekanismenya dijelaskan para penulis lewat perjalanan air. Khorramabad berdiri di atas medan karst dengan akuifer batu kapur, dan curah hujan tahunannya sekitar 480 milimeter. Saat hujan, air permukaan merembes ke mata air, menaikkan kekeruhan, lalu membawa mikroplastik masuk ke air tanah. Pada kondisi kering, pola semacam itu tidak terlihat, sehingga para penulis menempatkan curah hujan sebagai penggerak utama perubahan kandungan.
Karena itu, ukuran partikel ikut berubah mengikuti musim. Pada musim basah, kandungan sekitar 5 partikel per liter tercatat untuk partikel berukuran kira-kira 1.500 mikrometer. Pada musim kering, kandungannya turun menjadi 2,5 partikel per liter dan bergeser ke ukuran yang lebih kecil, sekitar 100 mikrometer. Hujan, menurut para penulis, menentukan bukan hanya jumlah, tetapi juga besar partikel yang terbawa.
Para penulis lalu menunjuk jalur masuknya secara lebih rinci. Limpasan dari lahan pertanian, pengendapan dari udara, dan pertukaran air sungai dengan air tanah disebut sebagai rute utama. Semakin deras aliran dan limpasan, semakin besar peluang mikroplastik terbawa ke badan air dan tanah. “Meski hujan umumnya dipandang bermanfaat bagi pasokan air minum dan produktivitas pertanian, studi-studi ini menunjukkan bahwa pada periode hujan, polutan dari tanah dan udara lebih mudah masuk ke sumber air,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris.
Mengapa serat putih yang paling sering tertangkap
Kalau diibaratkan saringan dapur, air Khorramabad meninggalkan endapan yang hampir seragam. Serat menyumbang 97 persen dari seluruh partikel yang ditemukan, sisanya berupa pecahan dan lembaran. Di sumur dan mata air, serat rata-rata berjumlah 2,45 partikel per liter pada musim basah dan 1,44 pada musim kering. Di pipa rumah, angkanya 3,77 dan 1,86.
Asal serat itu, menurut para penulis, kemungkinan besar kegiatan sehari-hari manusia. Mereka menyebut buangan limbah cair perkotaan, cucian pakaian, pembersihan karpet, dan partikel yang mengendap dari udara. Plastik sekali pakai seperti botol air, kantong belanja, sedotan, lembaran plastik, dan kemasan juga terurai perlahan karena cuaca dan perubahan suhu, lalu menambah pasokan serpihan.
Warnanya pun condong ke satu arah. Partikel putih mendominasi, dengan rata-rata 3,18 partikel per liter di sumber pada musim basah dan 1,71 pada musim kering, serta 2,79 dan 2,28 di jaringan pipa. Warna lain yang tercatat adalah hitam, biru, merah, kuning, dan hijau. Para penulis mengingatkan bahwa sebagian besar mikroplastik buatan manusia memang berwarna hitam atau putih.
Yang membuatnya rumit, warna asli partikel tidak selalu bertahan. Menurut naskah, partikel berwarna dapat memudar atau memutih setelah masuk ke perairan karena degradasi dan pemutihan. Interaksi kimia dan fisik dengan lingkungan air membuat sebagian partikel yang semula berwarna ikut terbaca sebagai putih. Dominasi warna putih, dengan kata lain, sebagian bisa merupakan hasil perjalanan partikel itu sendiri.
Baca juga Indeks Bahaya Balita Melonjak Saat Panel VOC Diperluas
Pipa polietilena dan jejak plastik yang sama di dalam air
Jenis plastiknya ditentukan dengan spektroskopi pada sebagian partikel. Hasilnya, polietilena menyumbang 50 persen, polipropilena 30 persen, dan polistirena 20 persen. Dalam tabel naskah, polietilena dikaitkan dengan mainan, botol, dan pipa air rumah. Polipropilena dikaitkan dengan kemasan makanan dan wadah tahan microwave, sedangkan polistirena dengan bingkai kacamata, gelas plastik, dan kemasan. Ketiganya, menurut naskah, termasuk polimer yang paling banyak dipakai sehari-hari.
Di sinilah penjelasan para penulis menjadi paling dekat dengan kota itu sendiri. Mereka mencatat bahwa jaringan distribusi air minum Khorramabad terbuat dari polietilena. Karena itu, tingginya porsi polietilena mungkin berasal dari pipa yang mengalirkan air ke rumah warga. Kemungkinan ini diajukan sebagai dugaan, bukan hasil pengukuran langsung terhadap keausan pipa. Naskah tidak memuat data umur atau kondisi pipa yang dimaksud.
Sifat fisik ikut berperan. Polietilena dan polipropilena berdensitas di bawah 1 gram per sentimeter kubik, sehingga cenderung mengapung di air ketimbang tenggelam. Naskah juga mengutip kajian di Riobamba, Ekuador, yang jarang menemukan mikroplastik di jaringan pipa dan mengaitkannya dengan air sadah yang melapisi pipa PVC. Air Khorramabad bertipe bikarbonat kalsium dan magnesium, sehingga penjelasan serupa dinilai masuk akal.
Cara instalasi pengolahan menyaring, dan partikel yang tetap lolos
Persoalannya, air yang sudah diolah belum tentu bebas plastik. Rata-rata kandungan di instalasi pengolahan tercatat 2,46 partikel per liter, lebih tinggi daripada jaringan distribusi yang 1,46. Pada saluran masuk instalasi, kandungannya 7 partikel per liter, sedangkan di saluran keluar tinggal 2. Para penulis menaksir efisiensi penyisihannya 67 sampai 78 persen, dengan angka lebih rendah pada musim kering.
Menurut naskah, pengendapan dan penyaringan adalah proses yang menurunkan beban mikroplastik itu. Tingginya kandungan di saluran masuk dikaitkan dengan partikel dari udara yang turun terutama saat hujan, serta limpasan pada musim basah. Namun, penyaringan yang ada tidak menangkap semua ukuran. Partikel halus di bawah 250 mikrometer disebut belum tertangkap penuh oleh sistem di Khorramabad.
Kesimpulan para penulis tentang instalasi itu pun lugas. “Bertahannya partikel di air olahan menunjukkan perlunya pengolahan tersier lanjutan untuk menangani partikel yang lebih halus (di bawah 250 mikrometer), yang tidak tertangkap penuh dalam sistem ini,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris. Dengan kata lain, instalasi bekerja, tetapi celah saringannya masih terlalu lebar.
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Membaca umur partikel dari permukaannya
Enam partikel yang mewakili bentuk dan warna paling umum diperiksa dengan mikroskop elektron. Gambarnya memperlihatkan permukaan serat yang halus, nyaris tanpa retakan, goresan, atau lapisan biofilm. Bagi para penulis, permukaan mulus semacam itu menandakan partikel yang baru masuk ke lingkungan dan belum lama terpapar proses pelapukan. Partikel yang diperiksa itu terdiri atas serat putih atau bening, hitam, merah, dan kuning.
Umur yang muda itu membawa dua konsekuensi. Pertama, partikel yang belum lapuk dinilai lebih kecil kemampuannya menyerap dan membawa polutan lain, seperti logam berat dan senyawa organik, dibandingkan partikel tua yang permukaannya kasar. Kedua, sumber pencemarannya kemungkinan dekat dan terus berlangsung, bukan timbunan lama yang terkumpul bertahun-tahun di alam.
Rantai penjelasan itu mereka tutup dengan satu dugaan tentang asal-usul. “Morfologi yang masih mulus semakin mendukung hipotesis bahwa mikroplastik di air tanah Khorramabad berasal dari sumber antropogenik yang baru, seperti limpasan perkotaan atau limbah cair yang tidak diolah dengan memadai, bukan dari akumulasi lingkungan jangka panjang,” tulis para penulis dalam naskah berbahasa Inggris.
Peta sebaran di kota itu memberi gambaran yang tidak sepenuhnya searah. Titik panas di atas 5 partikel per liter muncul terutama di kawasan padat dan rawan limpasan. Namun, uji antarzona tidak menemukan perbedaan bermakna, dan para penulis mengakui tidak sampai pada kesimpulan yang sama dengan kajian lain yang mengaitkan aktivitas kota dengan kelimpahan mikroplastik.
Menghitung dosis harian dan indeks bahaya
Dari rata-rata 2,06 partikel per liter, para penulis menaksir asupan harian warga. Dengan asumsi orang dewasa minum 2 liter sehari dan berbobot 70 kilogram, asupannya 0,06 partikel per kilogram berat badan per hari. Untuk anak yang minum 1 liter dan berbobot 30 kilogram, angkanya 0,07. Anak menerima porsi sedikit lebih besar karena tubuhnya lebih ringan.
Sebagai pembanding, naskah mencantumkan angka dari jalur makanan lain. Asupan lewat telur di China, Jepang, dan Bangladesh berkisar 0,3 sampai 0,8, lewat daging sapi dan domba di Iran 0,16 sampai 0,48 untuk dewasa, dan lewat ikan kaleng di Iran 0,64. Asupan lewat garam di Lebanon mencapai 6,5. Air minum Khorramabad berada di bawah semua angka pembanding itu.
Bahaya kimianya dihitung lewat indeks yang mengalikan porsi tiap polimer dengan skor bahayanya. Polistirena menyumbang indeks 6, polietilena 5,5, dan polipropilena 0,3. Totalnya 11,8, yang menempatkan air minum Khorramabad di Kelas III, kategori risiko rendah. Polistirena menyumbang paling besar karena bahan tambahan kimianya berpotensi luruh. Secara terpisah, polipropilena masuk kelas tanpa risiko, sedangkan polietilena dan polistirena masuk kelas risiko sangat rendah.
Kategori rendah itu tidak dibaca sebagai jaminan aman. “Namun, meski risiko yang ditimbulkan polimer-polimer ini minimal, potensi dampaknya terhadap kesehatan tidak boleh diabaikan,” tulis para penulis dalam abstrak berbahasa Inggris. Mereka menambahkan bahwa paparan jangka panjang, bahkan dari polimer berbahaya rendah, bisa bersinergi dengan polutan lain seperti logam berat.
Batas kajian ini juga diakui terang. Penilaian dengan satu indikator dinilai tidak memadai untuk kota seluas Khorramabad, dan belum ada ambang baku kadar mikroplastik dalam air minum. Pengambilan sampel hanya berlangsung satu tahun di satu kota, sedangkan asupan air warga masih berupa asumsi. Para penulis sendiri menyarankan kuesioner untuk mengukur pola minum yang sebenarnya.
Baca juga Desa Tabek Bebas BABS, Tangki Septiknya Belum Pernah Dikuras
Di mana angka dalam naskah tidak saling cocok
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa angka yang tidak sejalan. Kesimpulan naskah menyebut rata-rata musim basah sekitar 1,30 partikel per liter lebih tinggi daripada musim kering. Padahal, selisih antara 2,81 dan 1,31 adalah 1,50. Di bagian yang sama, jenis plastik 20 persen disebut polistirena, tetapi satu kalimat di pembahasan polimer menyebutnya poliester.
Ukuran serat juga berpindah-pindah. Satu bagian menyebut serat umumnya sekitar 1.000 mikrometer, bagian lain menyebut dominan di rentang 250 sampai 500 mikrometer, sementara kesimpulan menulis 1.000 sampai 1.500 mikrometer. Nilai uji sebaran antarzona tercatat 0,72 dan 0,82 di badan naskah, tetapi 0,25 di abstrak dan kesimpulan. Kedua versi sama-sama tidak bermakna, tetapi pembaca tidak bisa memastikan uji mana yang menghasilkan angka mana.
Angka instalasi pengolahan pun menyimpan tanda tanya. Pasangan 7 dan 2 partikel per liter dipakai untuk saluran masuk versus keluar, dan sekali lagi untuk saluran masuk musim basah versus kering. Penurunan dari 7 ke 2 setara sekitar 71 persen, sementara naskah menyebut 67 sampai 78 persen. Rata-rata serat di pipa rumah, 3,77 dan 1,86, juga melampaui rata-rata keseluruhan jaringan yang 1,46, padahal serat hanya bagian dari seluruh partikel.
Kejanggalan ini tidak membatalkan pola utamanya, yakni mikroplastik ada di sebagian besar sampel dan lebih banyak saat musim hujan. Namun, angka yang berbeda di bagian berbeda membuat pembaca sulit memastikan nilai mana yang dipakai untuk menarik kesimpulan. Naskah ini masih berstatus dalam proses terbit, sehingga versi finalnya bisa saja membawa koreksi.
Kembali ke hujan yang semula dikira hanya membawa kabar baik. Di Khorramabad, air yang turun merembes lewat batu kapur, membawa serat plastik dari tanah dan udara, lalu sebagian lolos dari saringan instalasi dan tiba di pipa polietilena rumah warga. Hujan tetap mengisi sumur, tetapi di kota itu ia juga menjadi jalan masuk bagi serpihan yang belum lama terlepas dari kehidupan sehari-hari.














