Biola Solo Satukan La Primavera Vivaldi dan Dangdut Melayu Ijuk

A A

Perempuan berhijab bergaun putih memainkan biola di teras dekat pagar kayu [Foto: Khoironisyifa/Pexels]

  • Para penulis mencatat bahwa sebagian besar teknik dalam Ijuk sama dengan repertoar pertama.
  • Dalam resital Zikri, iringan itu diganti piano, sehingga seluruh bangunan orkestra Barok dipadatkan ke satu instrumen pengiring di samping biola.
  • Titik terberat lain berada di bagian L, birama 36 sampai 47, tempat double stop dipadukan dengan legato.
  • Birama 53 sampai akhir menjadi penutup, dan pada birama 57 terjadi modulasi dari C mayor ke D mayor lewat teknik arpeggio.
Daftar Isi
  1. Musim semi Vivaldi dengan iringan piano
  2. Ijuk dengan iringan combo band
  3. Kicau burung dan guntur di tangan kanan
  4. Aksen dan staccato di ketukan kuat Ijuk
  5. Yang disimpulkan penyaji tentang tiga karya
  6. Yang tidak saling cocok di dalam naskah

Sebuah concerto musim semi yang terbit di Amsterdam pada 1725 dan sebuah lagu dangdut Melayu yang dipopulerkan Iyeth Bustami pada 2003 dimainkan oleh biola yang sama dalam satu resital di Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Penyajinya, M. Maulidiz Zikri, membawakan keduanya bersama A Town With An Ocean View karya Joe Hisaishi sebagai pertunjukan tugas akhir di Program Studi Seni Musik. Dua karya pertama itu berjarak hampir tiga abad, tetapi naskahnya menunjukkan bahwa keduanya menuntut banyak teknik yang sama.

Laporan pertunjukan itu ditulis M. Maulidiz Zikri bersama Yasril Adha, Yade Surayya, Nora Anggraini, dan Bambang Wijaksana dengan judul Pertunjukan Biola Solo Dengan Repertoar Concerto In E Major Op. 8, Rv 269 La Primavera (The Four Season), Ijuk Dan A Town With An Ocean View. Naskah itu terbit di Musica: Journal of Music volume 6 nomor 1 tahun 2026. Kelima penulis bernaung di Program Studi Seni Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang.

Menurut para penulis, tiga repertoar itu sengaja dipilih dari tiga genre berbeda, yaitu musik klasik era Barok, musik Melayu, dan musik populer. Tujuannya memberi tantangan yang beragam sekaligus menunjukkan bahwa seorang solis biola tidak hanya menguasai satu gaya musik. Di sisi Vivaldi, tantangannya adalah artikulasi, intonasi, dan kepekaan musikal. Di sisi Ijuk, tantangannya adalah menyatukan teknik biola dengan idiom khas musik Melayu.

Musim semi Vivaldi dengan iringan piano

Repertoar pertama adalah Violin Concerto No. 1 in E Major, Op. 8, RV 269 La Primavera karya Antonio Vivaldi. Karya ini merupakan concerto pertama dari empat concerto dalam rangkaian The Four Seasons dan diterbitkan dalam set Opus 8 berjudul Il Cimento dell’Armonia e dell’Inventione. Tiga concerto lainnya menggambarkan musim panas, musim gugur, dan musim dingin.

Secara struktur, menurut naskah, La Primavera memakai bentuk ritornello, yaitu pengulangan tema utama secara bergantian antara bagian tutti dan solo biola. Karya itu awalnya ditulis untuk biola solo dengan iringan string dan basso continuo. Dalam resital Zikri, iringan itu diganti piano, sehingga seluruh bangunan orkestra Barok dipadatkan ke satu instrumen pengiring di samping biola.

Concerto ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama, Allegro, membawa tema utama yang cerah, bebas, dan penuh semangat. Bagian kedua, Largo, diawali dalam nada dasar C♯ minor dan menggambarkan ketenangan setelah badai musim semi mereda. Bagian ketiga, Allegro Pastorale, melukiskan suasana gembira di pedesaan ketika para gembala dan peri menari dalam tarian rakyat.

Baca juga Contrabass Beralih Peran lewat Tiga Repertoar Lintas Genre

Ijuk dengan iringan combo band

Di sisi lain berdiri Ijuk, lagu dangdut Melayu ciptaan Armadi raga yang dipopulerkan Iyeth Bustami pada 2003. Untuk resital ini, Ijuk diaransemen ulang oleh A. Eriyandi ke dalam format combo band, dengan biola sebagai instrumen solo. Instrumen pengiringnya memadukan unsur tradisional dan modern, dari piano dan akordion sampai drum set, gendang Melayu, dan bass elektrik.

Lagu itu, menurut naskah, mengisahkan dua insan yang saling mencintai tetapi harus berpisah karena perbedaan kasta. Ijuk memakai sukat 4/4 dengan tempo moderato, 90 ketukan per menit, dan bentuk A–B–A’–Coda. Para penulis menyebut struktur itu mencerminkan format umum lagu populer yang bertumpu pada pengulangan dan pengembangan tema.

Kalau La Primavera dipadatkan menjadi biola dan piano, Ijuk justru ditempatkan di tengah band dengan lima jenis instrumen pengiring. Pada kasus kedua ini, persoalannya bukan memadatkan iringan, melainkan menjaga agar biola tetap terdengar sebagai solis di tengah band. Zikri dan rekan-rekannya menuliskan tuntutan itu secara tegas dalam naskah mereka.

“Integrasi tersebut menuntut kepekaan dalam menyesuaikan teknik permainan biola agar tetap sesuai dengan karakteristik musik tradisi Melayu tanpa kehilangan identitas instrumen biola sebagai solis,” tulis Zikri, Adha, Surayya, Anggraini, dan Wijaksana. Idiom yang mereka maksud antara lain cengkok Melayu, mordent, staccato, slur, dan accent.

La Primavera dan Ijuk di satu biolaPerbandingan Concerto La Primavera karya Vivaldi dan lagu Ijuk dalam resital biola solo: tahun, genre, pengiring, bentuk, teknik, dan titik sulit.La Primavera dan Ijuk di satu biolaDua repertoar resital biola solo M. Maulidiz Zikri, ISI PadangpanjangLa PrimaveraIjuk17252003TahunBarokDangdut MelayuGenrePianoCombo bandPengiring resitalRitornelloA-B-A'-CodaBentukSpiccato, trillAccent, staccatoTeknik khasDouble stopModulasi C ke DTitik sulitDouble stop La Primavera ada di birama 36-47 bagian L; modulasi Ijukdi birama 57.
Sumber: M. Maulidiz Zikri, Yasril Adha, Yade Surayya, Nora Anggraini, dan Bambang Wijaksana, Pertunjukan Biola Solo Dengan Repertoar Concerto In E Major Op. 8, Rv 269 La Primavera (The Four Season), Ijuk Dan A Town With An Ocean View, Musica: Journal of Music, 6(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Kicau burung dan guntur di tangan kanan

Pada La Primavera, setiap bagian partitur memuat tanda ekspresi yang menyebut adegan musim semi, dan naskah Zikri memasangkan tiap adegan dengan tekniknya. Pada bagian A, tanda “kicauan burung” dijawab dengan trill legato, mordent, dan staccato legato. Menurut para penulis, kontrol bowing yang ringan namun luas dengan teknik spiccato menjadi kunci agar bunyinya menyerupai kicauan burung.

Bagian B, yang menggambarkan aliran air dan gumaman lembut angin sepoi-sepoi, dimainkan dengan legato agar antarnada tersambung halus. Bagian D berkebalikan arah. Langit tertutup awan hitam, kilat dan guntur datang, dan penyaji memakai spiccato dengan not sepertigadua dalam tempo allegro untuk memberi kesan dramatik atas perubahan cuaca yang tiba-tiba.

Pada bagian E, burung-burung kembali bersahut-sahutan, dan penyaji memadukan staccato legato, legato trill, dan trill. Bagian kedua concerto, tentang penggembala yang tidur ditemani anjing setianya, dimainkan dengan détaché, legato, dan trill. Tarian pastoral di bagian ketiga mengandalkan legato dan trill dalam tempo Allegro pastorale agar irama tariannya mengalir.

Tangan kiri pun bekerja keras. Menurut naskah, penyaji harus berpindah dari posisi pertama sampai posisi ketujuh, termasuk menuju nada g♯ di posisi tujuh yang menuntut ketepatan intonasi. Bagian paling menantang di gerakan pertama adalah triol not seperenambelas dalam tempo allegro, dengan perpindahan cepat melalui nada B–C♯–D♯–E lalu turun kembali ke G♯.

Titik terberat lain berada di bagian L, birama 36 sampai 47, tempat double stop dipadukan dengan legato. “Bagian ini menjadi salah satu tantangan teknis terbesar bagi penyaji dalam proses penggarapan karya ini, karena menuntut koordinasi yang tinggi antara tangan kiri dan kanan serta kestabilan intonasi saat memainkan dua nada secara bersamaan,” tulis para penulis.

Baca juga Rekonstruksi Kreatif Trumpet Padukan Klasik, Melayu, Latin

Aksen dan staccato di ketukan kuat Ijuk

Di Ijuk, kerja tangan kanan bergeser dari melukis alam ke menegaskan irama. Bagian A, birama 1 sampai 12, memperkenalkan tema utama dengan accent dan staccato yang dominan. Accent menegaskan nada pada ketukan kuat melalui tekanan bow yang singkat dan terkontrol, sedangkan staccato menghasilkan nada yang jelas dan terpisah, sehingga bagian pembuka terasa enerjik.

Bagian B, birama 13 sampai 26, mengembangkan motif dengan dinamika yang naik bertahap dari mezzoforte menuju forte sebagai klimaks. Biola dituntut menekan bow lebih kuat. Pada saat yang sama, piano dan akordion mempertebal harmoni, drum set dan gendang Melayu memperkaya ritme, dan bass elektrik memperkuat fondasinya, sehingga tekstur musik menjadi lebih padat.

Bagian A’, birama 27 sampai 52, mengulang tema utama dengan tambahan ornamentasi dan perubahan artikulasi. Staccato dan accent kembali ditonjolkan, kali ini dengan kontrol dan variasi yang lebih tinggi dibanding bagian A. Birama 53 sampai akhir menjadi penutup, dan pada birama 57 terjadi modulasi dari C mayor ke D mayor lewat teknik arpeggio.

Perjalanan Ijuk dalam empat bagianBagan struktur lagu Ijuk: bagian A, B, A aksen, dan Coda dengan nomor birama dan teknik biolanya.Perjalanan Ijuk dalam empat bagianStruktur aransemen A. Eriyandi, sukat 4/4, tempo 90Abirama 1-12,staccatoBbirama 13-26,klimaksA'birama 27-52,ornamenCodabirama53-akhirModulasi C mayor ke D mayor terjadi di birama 57. Pada bagian B,piano, akordion, drum set, gendang Melayu, dan bass elektrikmempertebal tekstur.
Sumber: M. Maulidiz Zikri, Yasril Adha, Yade Surayya, Nora Anggraini, dan Bambang Wijaksana, Pertunjukan Biola Solo Dengan Repertoar Concerto In E Major Op. 8, Rv 269 La Primavera (The Four Season), Ijuk Dan A Town With An Ocean View, Musica: Journal of Music, 6(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di titik inilah dua repertoar itu paling berdekatan. Para penulis mencatat bahwa sebagian besar teknik dalam Ijuk sama dengan repertoar pertama. “Kesamaan ini bertujuan untuk mempermudah proses penggarapan sehingga penyaji dapat tetap fokus melatih teknik yang telah dikuasai sebelumnya serta menghemat waktu latihan,” tulis mereka. Barok dan dangdut Melayu, dengan kata lain, berbagi jari yang sama.

Namun kesamaan itu tidak menghapus perbedaan tujuan. Pada La Primavera, staccato dan trill dipakai untuk meniru burung dan air yang disebut di partitur. Pada Ijuk, staccato dan accent dipakai untuk memperkuat karakter ritmis dan struktur motif. Tekniknya serupa, tetapi yang dilayani berbeda, yakni adegan alam di satu sisi dan denyut lagu populer di sisi lain.

Yang disimpulkan penyaji tentang tiga karya

Repertoar ketiga, A Town With An Ocean View karya Joe Hisaishi, dikenal sebagai bagian musik latar film animasi Kiki’s Delivery Service dan awalnya diciptakan untuk orkestra. Dalam resital, karya itu dimainkan biola dengan iringan cello dan piano. Para penulis menyebut format itu menghasilkan warna bunyi yang lebih sederhana dan minimalis dibanding versi aslinya.

Karya itu memakai sukat 4/4, tempo Moderato 100 ketukan per menit, dan pola A–B–A’–Coda. Pada bagian B, birama 21 sampai 40, biola dan cello bergantian memainkan melodi di atas progresi akor I–vi–IV–V. Coda mulai birama 81 menutup karya dengan ritardando dan dinamika pianissimo, memakai accent dan pizzicato.

Dalam kesimpulannya, para penulis menilai penyaji berhasil menampilkan dinamika dan karakter musim semi pada La Primavera melalui teknik posisi dan kontrol bowing. Pada Ijuk, nuansa kesedihan khas musik Melayu disebut diwujudkan dengan teknik grenek, cengkok, staccato, dan trill. Pada karya Hisaishi, penyaji dinilai mampu mengolah perubahan tempo, ritme, dan warna bunyi.

Klaim itu perlu dibaca dengan batasnya. Naskah ini adalah laporan penyaji tentang pertunjukannya sendiri, dan tidak memuat penilaian penguji, tanggapan penonton, atau ukuran lain yang bisa dipakai untuk memeriksa kata berhasil di kesimpulan. Pembaca hanya mendapat uraian teknik per bagian dan notasi, bukan bukti bagaimana resital itu benar-benar terdengar.

Baca juga Dendang Suayan Balenggek Diubah Jadi Fantasia Orkestra

Yang tidak saling cocok di dalam naskah

Beberapa hal di naskah bisa diperiksa pembaca sendiri. Kepala halaman berganti-ganti antara Musica Vol 5 No. 1 tahun 2025 dan Vol 6 No. 1 tahun 2026. Tahun 1725 untuk La Primavera disebut sebagai tahun terbit di Amsterdam pada pendahuluan, tetapi abstrak berbahasa Inggris menyebutnya sebagai tahun karya itu dikomposisikan.

Iringan asli La Primavera ditulis sebagai kuartet gesek di pendahuluan, tetapi sebagai kuintet gesek di pembahasan. Naskah juga mengutip definisi musik programa sebagai musik instrumental abad ke-19, lalu menerapkannya pada karya yang bertahun 1725. Daftar nilai ritmis La Primavera hanya sampai not seperenambelas, padahal bagian D disebut memakai not sepertigadua.

Pada sisi Ijuk, bagian pembahasan menggambarkan kesan enerjik lewat accent dan staccato, sementara kesimpulan menyebut nuansa kesedihan yang diwujudkan dengan grenek dan trill, dua teknik yang tidak tercantum dalam daftar teknik Ijuk. Nama penciptanya pun ditulis Armadi raga di bagian berbahasa Indonesia dan Armadiraga di abstrak berbahasa Inggris.

Di satu sisi berdiri concerto musim semi dari Amsterdam dengan kicau burung dan guntur yang tertulis di partiturnya, di sisi lain lagu tentang dua kekasih yang dipisahkan kasta. Naskah Zikri menempatkan keduanya pada biola yang sama dan jari yang sama, sambil tetap mencatat bahwa satu melayani adegan alam dan yang lain melayani denyut irama lagu.

Bagikan

Baca Juga

Mikroplastik di Air Minum Khorramabad Melonjak Saat Musim Hujan
Perkawinan Tungku Manggarai Timur: Sah Adat, Tertahan Surat Uskup
Tari Adolesensi Membaca Gejolak Pubertas Anak Perempuan
Solis Gitar Ikbal Nabawi Bawa Vivaldi ke Rentak Joget Melayu
Kecanduan Ponsel Mahasiswa Bangladesh, 54 Persen Berisiko Tinggi
Kekerasan Seksual Elektronik di Mata Remaja Putri Bengkulu