- Skor kualitas hidup 2.330 lansia jantung di Vietnam rata-rata 0,72, di bawah skor populasi umum 0,91
- Skor turun tajam dari 0,89 pada yang baru sakit jadi 0,42 pada yang sakit lebih dari 10 tahun
- Rumah tangga miskin dan empat penyakit penyerta atau lebih berkaitan dengan skor lebih rendah
- Perokok aktif dan lansia yang rajin olahraga justru mencatat skor tersesuaikan yang mengejutkan
Daftar Isi
Ta Quang Thanh mengetuk pintu rumah demi rumah di delapan provinsi dan kota Vietnam, dari Ha Giang di utara sampai Can Tho di selatan, menemui 2.330 lansia yang tercatat mengidap penyakit jantung atau pembuluh darah. Dokter dari Hanoi Geriatric Hospital ini adalah satu dari delapan peneliti yang menyusun kuesioner tatap muka untuk mengukur satu hal: seberapa baik kualitas hidup para lansia itu sehari-hari.
Hasil kerja lapangan itu ditulis Cuong Le Manh, Thanh Le Dinh, Suong Nguyen Thi Thao, Trung Nguyen Hoang, Trang Nguyen Thi Thu, Chuyen Nguyen Van, Thanh Ta Quang, dan Minh Tong Duc dalam Health-related quality of life and associated factors among community-dwelling older adults with cardiovascular diseases in Vietnam: a multicenter cross-sectional study, terbit di BMC Public Health, tahun 2026. Delapan nama itu berasal dari lima lembaga berbeda di Hanoi dan Ho Chi Minh City, mulai dari rumah sakit geriatri sampai universitas kedokteran militer.
Skor yang Lebih Rendah dari Rata-rata
Cuong Le Manh, associate professor dan dokter dari Vietnam University of Traditional Medicine, memimpin tim yang memakai kuesioner EQ-5D-5L, alat ukur kualitas hidup berskala 0 sampai 1, dengan nilai konversi khas masyarakat Vietnam. Skor rata-rata yang mereka temukan pada 2.330 lansia berpenyakit jantung itu adalah 0,7175, jauh di bawah skor sekitar 0,91 yang pernah dilaporkan untuk populasi umum Vietnam.
Angka itu bukan angka tunggal yang rata untuk semua orang. Skornya berbeda menurut jenis diagnosis kardiovaskular yang diidap tiap lansia, karena satu orang bisa punya lebih dari satu diagnosis sekaligus. Lansia dengan penyakit katup jantung mencatat skor tertinggi, 0,7482, sedangkan lansia dengan penyakit vaskular perifer atau vena mencatat skor terendah, 0,6552.
Makin Lama Sakit, Makin Berat Hidupnya
Nguyen Hoang Trung, kandidat doktor dari Department of Military Hygiene di Vietnam Military Medical University, menghitung skor kualitas hidup berdasarkan sudah berapa lama tiap lansia terdiagnosis penyakit jantung. Pada mereka yang baru terdiagnosis kurang dari dua tahun, skornya 0,8896, hampir menyamai orang sehat. Angka itu turun ke 0,8086 pada kelompok 2 sampai 5 tahun.
Penurunan berlanjut lebih tajam pada kelompok yang sakit lebih lama. Lansia dengan riwayat 6 sampai 10 tahun mencatat skor 0,6563, dan yang sudah lebih dari 10 tahun tinggal 0,4201, kurang dari separuh skor kelompok yang baru terdiagnosis. Setelah dihitung ulang dengan memperhitungkan faktor lain, selisih antarkelompok tetap bermakna secara statistik.
Trang Nguyen Thi Thu, peneliti dari lembaga yang sama, menyebut jumlah penyakit penyerta di luar jantung juga berperan besar. Lansia dengan satu kondisi penyerta punya skor 0,8103, yang punya dua sampai tiga kondisi turun ke 0,7342, dan yang punya empat kondisi penyerta atau lebih hanya 0,5797 — beban penyakit yang menumpuk tampak jelas di angka ini.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Ekonomi Rumah Tangga Ikut Menentukan
Nguyen Van Chuyen, associate professor yang ikut mengawasi analisis statistik, menemukan bahwa status ekonomi rumah tangga tetap berkaitan bermakna dengan skor kualitas hidup, sekalipun sudah diperhitungkan bersama faktor lain lewat model statistik gabungan. Rumah tangga miskin cenderung punya skor lebih rendah dibanding rumah tangga yang berkecukupan.
Pendidikan juga meninggalkan jejak. Lansia lulusan SMP atau SMA punya skor yang disesuaikan lebih rendah dibanding lulusan universitas atau pascasarjana, sedangkan lulusan tidak sekolah atau SD dan lulusan vokasi atau diploma tidak berbeda bermakna dari kelompok berpendidikan tertinggi itu — pola yang menurut tim peneliti butuh penjelasan lebih lanjut.
Satu temuan justru berlawanan arah dari dugaan umum. Lansia yang tergolong tidak berpenghasilan atau tidak bekerja punya skor yang disesuaikan sedikit lebih tinggi dibanding lansia yang berpenghasilan, meski sebelum disesuaikan kelompok tanpa penghasilan itu justru tercatat lebih rendah. Tim peneliti menduga variabel penghasilan pribadi tidak sepenuhnya mewakili kondisi finansial rumah tangga secara utuh.
Rokok yang Tidak Bisa Dibaca Apa Adanya
Minh Tong Duc, juga kandidat doktor di Department of Military Hygiene, mencatat hal yang mengejutkan tim: perokok aktif dalam sampel ini justru punya skor kualitas hidup yang disesuaikan sedikit lebih tinggi dibanding bukan perokok. Temuan itu berkebalikan dari kebanyakan studi lain yang mengaitkan rokok dengan kualitas hidup yang lebih buruk pada lansia.
“This counterintuitive association should not be interpreted as a beneficial effect of smoking,” tulis Cuong Le Manh dan tujuh rekan penulisnya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kalimat itu berarti hubungan yang berlawanan arah ini tidak boleh ditafsirkan sebagai efek bermanfaat dari merokok. Mereka menegaskan pembaca tidak boleh menyimpulkan bahwa merokok justru baik untuk lansia berpenyakit jantung.
Tim menjelaskan status merokok hanya dicatat sebagai perokok saat ini atau bukan, tanpa membedakan mantan perokok dari yang tidak pernah merokok sama sekali, dan tanpa mengukur berapa lama atau seberapa berat kebiasaan merokoknya. Perancu yang tersisa dari cara pencatatan sesederhana itu, kata mereka, kemungkinan besar menjelaskan hasil yang tampak aneh ini.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Olahraga yang Arahnya Berbalik
Suong Nguyen Thi Thao, dokter dari Department of Senior Officials Healthcare di Thong Nhat Hospital, ikut menyoroti pola aktivitas fisik dalam sampel ini. Sebelum dihitung ulang dengan faktor lain, lansia yang mencapai target olahraga 150 menit per minggu punya skor rata-rata tertinggi di antara tiga kelompok aktivitas fisik, sedangkan lansia yang sama sekali tidak aktif punya skor terendah.
Arah itu berbalik setelah dimasukkan ke model statistik gabungan. Kelompok yang mencapai 150 menit olahraga per minggu justru menunjukkan skor yang disesuaikan sedikit lebih rendah dibanding kelompok yang tidak aktif, walau secara keseluruhan variabel aktivitas fisik ini tidak lagi bermakna secara statistik dalam model tersebut. Tim tidak menjelaskan lebih jauh alasan pembalikan arah ini.
Partisipasi dalam kegiatan sosial di sampel ini juga tergolong rendah, hanya 20,3 persen lansia yang mengikutinya. Thanh Le Dinh, dokter dari Thong Nhat Hospital di Ho Chi Minh City, mencatat lansia yang aktif secara sosial punya skor rata-rata sedikit lebih tinggi sebelum disesuaikan, tetapi hubungan itu ikut memudar setelah faktor lain diperhitungkan bersama.
Batas yang Diakui Sendiri
Cuong Le Manh dan timnya mengakui rancangan potong lintang ini tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat, hanya memotret kondisi pada satu rentang waktu. Kabupaten dan desa yang disurvei juga dipilih secara sengaja karena beban penyakit jantungnya relatif tinggi, sehingga sampel ini mewakili komunitas multisenter, bukan seluruh Vietnam secara acak dan proporsional.
Sejumlah perilaku, termasuk merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, dan partisipasi sosial, hanya diukur lewat jawaban responden sendiri tanpa verifikasi independen. Hipertensi, yang di banyak studi lain dikategorikan sebagai faktor risiko dan bukan penyakit jantung yang sudah manifes, tetap dimasukkan tim ini sebagai kondisi kardiovaskular yang memenuhi syarat penelitian.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Dua Hal yang Patut Dicermati
Naskah ini menyimpan dua kejanggalan kecil yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Pertama, perokok aktif mencatat skor kualitas hidup yang disesuaikan lebih tinggi dibanding bukan perokok, sebuah arah yang oleh tim penelitinya sendiri ditegaskan bukan berarti merokok bermanfaat bagi kesehatan.
Kedua, lansia yang berolahraga sesuai anjuran, 150 menit per minggu atau lebih, justru mencatat skor yang disesuaikan sedikit lebih rendah dibanding lansia yang sama sekali tidak aktif, padahal sebelum disesuaikan kelompok paling aktif itu tercatat punya skor rata-rata tertinggi. Naskah tidak menjelaskan tuntas mengapa arah dua hubungan itu berbalik setelah faktor lain dihitung bersama.
Ta Quang Thanh dan tujuh rekan penulisnya menutup studi ini dengan menyarankan agar puskesmas setempat memprioritaskan lansia yang sakit jantung sudah lama, punya banyak penyakit penyerta, dan berasal dari rumah tangga miskin untuk pemantauan lebih rutin. Di balik ribuan wawancara tatap muka yang mereka kumpulkan selama dua tahun itu, tergambar satu pola yang konsisten: makin berat beban penyakit dan makin sempit sumber daya rumah tangga, makin jauh jarak lansia itu dari kualitas hidup yang baik.















