- Dua puluh lima dari 407 murid usia tujuh sampai sembilan tahun di pusat Bangkok gagal tes audiometri.
- Dari 25 anak yang gagal audiometri, hanya tiga yang juga dicurigai guru lewat formulir pengamatan.
- Sebanyak 33 anak mendengar dengan normal tetapi telinga tengahnya sudah tidak berfungsi wajar.
- Pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, dan jenis kelamin tidak berkaitan secara bermakna dengan hasil audiometri.
- Thailand saat ini punya kurang dari 300 audiolog berlisensi, kebanyakan di rumah sakit besar perkotaan.
Daftar Isi
- Sembilan pernyataan yang dicentang guru sambil mengamati murid
- Alat menemukan 25 anak, formulir hanya mengenali tiga di antaranya
- Mengapa mata guru mudah meleset pada gangguan yang ringan
- Telinga tengah sudah bermasalah sebelum pendengaran menurun
- Pendapatan, pendidikan orang tua, dan jenis kelamin tidak membedakan
- Kurang dari 300 audiolog berlisensi untuk seluruh Thailand
- Beberapa angka yang tidak seragam di dalam naskah
Guru sekolah dasar di Thailand dilatih mengenali murid yang pendengarannya terganggu. Mereka memperhatikan apakah seorang anak menoleh ketika namanya dipanggil dari belakang, apakah ia menatap wajah lawan bicara sepanjang percakapan, apakah ia lebih sering memakai isyarat daripada kata-kata. Anehnya, ketika catatan para guru itu disandingkan dengan hasil pemeriksaan alat di sembilan sekolah di pusat Bangkok, keduanya hampir tidak pernah menunjuk anak yang sama.
Kejanggalan itu dilaporkan Rada Dara, Angkana Lertpoompunya, Maliwan Tammasaeng, Pitchulee Uayporn, dan Jitpakorn Pichaitanaporn dalam artikel Prevalence of hearing loss among school-age children in Metropolitan Bangkok. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2002 tahun 2026. Empat penulis berasal dari Fakultas Kedokteran Rumah Sakit Ramathibodi, Mahidol University, dan satu dari Fakultas Pendidikan Suan Dusit University, keduanya di Bangkok.
Mereka memeriksa 407 murid kelas satu sampai tiga, berusia tujuh sampai sembilan tahun, yang diambil dari satu sekolah di tiap distrik pusat kota. Tak satu pun dari anak-anak itu pernah diperiksa pendengarannya, dan tak ada yang punya riwayat gangguan dengar di keluarga. Yang dicari sederhana saja: berapa banyak anak yang kurang dengar, dan apakah cara yang selama ini dipakai sekolah mampu menemukan mereka.
Sembilan pernyataan yang dicentang guru sambil mengamati murid
Cara sekolah itu berupa selembar formulir. Menurut naskah, formulir tersebut disusun pada 2009 oleh Office of Basic Education Commission di Kementerian Pendidikan Thailand dan kini dipakai sekolah dasar di seluruh negeri. Isinya sembilan pernyataan tentang perilaku anak terhadap bunyi. Guru yang sudah dilatih tinggal mencentang ya atau tidak pada tiap pernyataan, dan seorang murid dicurigai terganggu pendengarannya bila tiga pernyataan atau lebih dijawab ya.
Pernyataannya dekat dengan keseharian kelas. Ada anak yang tidak menoleh ke arah bunyi yang muncul di ruangan, dan guru mencentangnya untuk 45 murid. Ada anak yang tidak menjawab pertanyaan atau menjawab keliru, tercatat pada 36 murid. Ada pula perilaku yang terlalu berisik, seperti berjalan menghentak atau membuat sendok dan garpu beradu dengan piring saat makan, yang dicentang untuk 41 murid.
Dari seluruh centang itu, 57 murid melewati ambang tiga jawaban ya. Artinya kira-kira satu dari tujuh anak, atau 14,0 persen, masuk daftar yang dicurigai guru. Formulir tidak menyebut telinga mana yang bermasalah, tidak pula jenis dan derajat gangguannya. Para penulis mencatat kekosongan itu sejak awal, sebab keterangan semacam itulah yang dibutuhkan untuk merencanakan pemulihan seorang anak.
Baca juga Skrining Sekolah Timor-Leste Ungkap Karies 30 Persen
Alat menemukan 25 anak, formulir hanya mengenali tiga di antaranya
Sesudah guru selesai, giliran audiolog. Mereka memakai audiometri, yang oleh naskah disebut baku emas pengukuran kepekaan dengar: anak diperdengarkan nada murni yang pelan lewat penyuara telinga dan diminta memberi tanda bila mendengarnya. Sebanyak 382 murid lolos. Dua puluh lima lainnya, atau 6,1 persen, gagal di sedikitnya satu telinga. Itu berarti kira-kira satu dari enam belas anak.
Gangguan itu tidak berat, dan justru di situ kerumitannya. Tujuh belas anak tergolong kurang dengar ringan dan delapan anak sedang. Pembagian menurut telinga pun hampir seimbang: dua belas anak terganggu di kedua telinga, tiga belas anak hanya di satu telinga. Tak satu pun dari mereka tercatat pernah diperiksa sebelumnya, sehingga bagi sebagian besar keluarga kabar ini datang untuk pertama kali.
Persoalannya muncul ketika dua daftar itu ditumpuk. Dari 25 anak yang gagal audiometri, hanya tiga yang juga dicurigai guru. Dua puluh dua lainnya lolos dari formulir dan dianggap baik-baik saja. Sebaliknya, 54 dari 57 anak yang dicurigai guru ternyata mendengar dengan normal. Dalam hitungan penulis, formulir itu hanya menangkap 12,0 persen murid yang benar-benar kurang dengar.
Karena itu, formulir tersebut keliru ke dua arah sekaligus. Bila semua anak yang dicurigai guru dirujuk, tenaga kesehatan akan menerima 54 anak yang sebenarnya tidak perlu diperiksa, beban yang menurut penulis memberatkan sumber daya layanan tanpa guna. Pada saat yang sama, 22 anak yang membutuhkan diagnosis dan pemulihan tidak akan pernah sampai ke ruang periksa. Secara statistik, kecocokan formulir dengan audiometri dinyatakan tidak bermakna.
Mengapa mata guru mudah meleset pada gangguan yang ringan
Penjelasan penulis berangkat dari sifat formulir itu sendiri. Ia hanya menilai perilaku, dan perilaku bisa berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan pendengaran. Anak yang telinganya sehat tetap bisa tidak menoleh, tidak menjawab, atau makan dengan berisik. Dari sanalah lahir kecurigaan yang salah alamat. Formulir itu juga disebut alat yang subjektif, yang menuntut pengamat berpengalaman agar penilaiannya tepat.
Yang membuatnya rumit, jenis gangguan yang paling banyak ditemukan justru yang paling sulit terlihat. Kurang dengar ringan dan kurang dengar di satu telinga, tulis para penulis dengan merujuk sejumlah studi terdahulu, bisa sukar diamati lewat perilaku. Anak masih menoleh, masih menjawab, masih ikut bercakap. Pengamat yang kurang terbiasa dapat melewatkan tanggapan yang tidak wajar, dan anak itu pun tercatat normal.
Padahal akibatnya tidak ringan bila dibiarkan. Naskah menyebut gangguan yang tidak ditangani dapat berujung pada gangguan komunikasi yang serius, belajar dan prestasi yang terhambat, serta perkembangan psikososial yang terganggu. Atas dasar itu para penulis sampai pada satu saran yang lugas: formulir yang dipakai guru di Thailand perlu diperbaiki supaya lebih peka menangkap anak yang kurang dengar.
Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Telinga tengah sudah bermasalah sebelum pendengaran menurun
Dua pemeriksaan lain bekerja lebih baik karena melihat telinganya, bukan perilakunya. Otoskopi, yaitu melihat liang telinga dan gendang telinga, menemukan kelainan pada 92 murid. Yang terbanyak adalah kotoran telinga yang menyumbat, pada 74 anak atau hampir satu dari lima. Sisanya gendang telinga yang kusam, memerah, dan pada satu anak berlubang. Pemeriksaan ini menangkap 14 dari 25 anak yang kurang dengar.
Timpanometri, uji fungsi telinga tengah, hasilnya paling dekat dengan audiometri. Ia menangkap 16 dari 25 anak, atau 64,0 persen, dan jarang keliru menandai anak yang sehat. Kedekatan itu punya penjelasan. Masalah telinga tengah, tulis para penulis, adalah penyebab umum gangguan dengar pada anak, sehingga keduanya biasanya terganggu bersamaan. Kurang dengar yang berasal dari telinga tengah tercatat pada 3,9 persen murid.
Ada satu kelompok yang tidak tertangkap audiometri sama sekali. Sebanyak 33 anak, atau 8,1 persen, mendengar dengan normal tetapi telinga tengahnya sudah tidak berfungsi wajar. Penulis menduga mereka berada pada tahap awal, ketika kepekaan dengar belum terpengaruh. “Namun, bahkan pada tahap awal ini, temuan abnormal tidak boleh diabaikan karena kondisi telinga tengah yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi penyakit telinga tengah kronis dan gangguan pendengaran,” tulis Rada Dara dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Dari situ lahir saran kedua. Program pemeriksaan pendengaran di sekolah pada masa depan, menurut para penulis, patut mempertimbangkan audiometri dan timpanometri sekaligus agar hasilnya lebih dapat diandalkan. Otoskopi punya gunanya sendiri: anak yang liang telinganya tersumbat kotoran bisa dirujuk untuk dibersihkan meskipun pendengarannya masih normal, sebab sumbatan itu disebut menaikkan risiko gangguan pada telinga tengah.
Pendapatan, pendidikan orang tua, dan jenis kelamin tidak membedakan
Para peneliti juga mencari tahu anak mana yang lebih rentan. Mereka menimbang status perkawinan orang tua, pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, dan jenis kelamin murid. Tidak ada satu pun yang berkaitan secara bermakna dengan hasil audiometri. Sembilan dari 218 murid laki-laki dan 16 dari 189 murid perempuan gagal tes, tetapi selisih itu pun tidak cukup kuat untuk disebut perbedaan.
Hasil serupa, catat mereka, pernah dilaporkan dari Hat Yai di Thailand selatan, dari Afrika Selatan, dan dari Polandia. “Temuan ini menunjukkan bahwa, apa pun profil demografi dan status sosial ekonomi anak, mereka tetap dapat mengalami masalah pendengaran,” tulis para penulis, juga dalam bahasa Inggris. Karena tidak ada kelompok yang bisa disisihkan lebih dulu, mereka menyimpulkan pemeriksaan dan pencegahan perlu diberikan kepada setiap anak.
Baca juga Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur
Kurang dari 300 audiolog berlisensi untuk seluruh Thailand
Angka 6,1 persen itu lebih tinggi daripada yang pernah dicatat di kota yang sama. Studi Prasansuk pada 2000, yang dirujuk naskah, melaporkan 3,9 persen anak seusia itu di Bangkok kurang dengar dan 0,4 persen akibat masalah telinga tengah. Kini angka kedua menjadi 3,9 persen. Penulis mengaitkan kenaikan itu dengan bertambahnya masalah telinga tengah, yang mungkin menandakan anak-anak lebih terpapar faktor risiko infeksi telinga.
Kemungkinan lain yang mereka ajukan adalah terbatasnya layanan. Thailand saat ini punya kurang dari 300 audiolog berlisensi, dan kebanyakan bekerja di rumah sakit besar di perkotaan. Bangkok memang ibu kota, tetapi jumlah itu bisa tetap kecil dibandingkan penduduknya. Di sinilah guru kembali penting: dengan cara dan pelatihan yang tepat, pemeriksaan oleh guru disebut bisa menjadi jalan alternatif sekaligus meringankan kerja tenaga kesehatan.
Penelitian ini punya batas yang diakui penulisnya. Sebagian besar murid berasal dari keluarga berpendapatan rendah, yang mungkin lebih berisiko mengalami masalah telinga luar dan tengah, sehingga ragam latar anak yang diperiksa sempit. Tes juga dilakukan di ruangan sekolah yang relatif tenang, bukan di ruang kedap suara, sehingga bising sekitar bisa lebih tinggi. Semua anak yang hasilnya tidak normal dirujuk, dan orang tuanya diberi tahu.
Beberapa angka yang tidak seragam di dalam naskah
Pembaca yang membuka naskahnya akan menemukan selisih kecil di beberapa tempat. Ukuran kecocokan formulir guru dengan audiometri ditulis 0,013 di abstrak dan tabel, tetapi bertanda negatif di uraian hasil. Kurang dengar di dua telinga ditulis 2,9 persen di abstrak, sedangkan tabel mencatat dua belas murid atau 3,0 persen. Cara memilih murid pun disebut dengan dua istilah yang berlainan. Tak satu pun mengubah arah temuan.
Maka kejanggalan di awal tadi punya jawabannya. Guru dan alat tidak menunjuk anak yang sama karena keduanya memang melihat hal yang berbeda: guru melihat perilaku, sedangkan gangguan yang paling banyak ditemukan, yang ringan dan yang hanya di satu telinga, nyaris tidak mengubah perilaku. Anak itu tetap menoleh ketika namanya dipanggil dari belakang. Hanya nada pelan di penyuara telinga yang tidak sampai kepadanya.















