Stetoskop AI Terbukti Sering Lewatkan Murmur Jantung pada Kucing dan Anjing

Ilustrasi stetoskop yang dipakai memeriksa detak jantung pasien.

Ilustrasi stetoskop yang dipakai memeriksa detak jantung pasien. Foto ini bukan foto alat/subjek penelitian. [Foto: Hush Naidoo Jade Photography/Unsplash]

Cekricek.id — Stetoskop digital berbasis kecerdasan buatan yang dilatih memakai data manusia ternyata tampil buruk saat dipakai mendiagnosis kondisi jantung pada kucing dan anjing. Temuan itu berasal dari pengujian tim dokter hewan di College of Veterinary Medicine, North Carolina State University (NC State), Amerika Serikat.

Hasil riset dipaparkan Jake Johnson, residen kardiologi NC State sekaligus penulis utama, bersama Joshua Stern, Teresa DeFrancesco, dan Kursten Pierce, lewat artikel An artificial intelligence–enabled digital stethoscope demonstrates moderate murmur detection in dogs but not cats and unreliable arrhythmia classification in both species dalam Journal of the American Veterinary Medical Association, 5 Agustus 2026.

Dikutip dari rilis NC State News, Rabu (12/8/2026), pengujian melibatkan 54 ekor anjing dan 51 ekor kucing. Pada anjing, alat itu mendeteksi murmur pada 87 persen kasus yang benar-benar mengalami murmur, setara dengan performa mahasiswa kedokteran hewan tingkat akhir. Namun deteksi aritmia jauh lebih bermasalah: perangkat itu tidak pernah mengklasifikasikan satu pun anjing berirama jantung normal, dan salah mengenali fibrilasi atrium pada 75 persen kasus positif palsu.

Pada kucing, hasilnya lebih buruk. Stetoskop AI hanya mendeteksi 2 dari 22 murmur yang benar-benar ada, atau sensitivitas 9,1 persen. Mahasiswa kedokteran hewan jauh mengungguli performa alat tersebut.

Data Latih dari Manusia, Bukan dari Hewan

Kursten Pierce, dosen klinis sekaligus dokter spesialis jantung bersertifikat di NC State College of Veterinary Medicine, menjelaskan akar masalahnya terletak pada data pelatihan algoritme.

“Kecerdasan buatan diagnostik pada stetoskop-stetoskop ini dilatih memakai data manusia, bukan data anjing atau kucing,” kata Pierce.

Johnson menegaskan risiko yang ditimbulkan alat ini bagi praktik dokter hewan sehari-hari.

“Alat ini pada dasarnya gagal menemukan murmur, sehingga perangkat yang biasa diandalkan dokter hewan untuk kepastian justru bisa membuat penyakit sungguhan luput terdeteksi,” ujar Johnson.

Berbeda dengan Diagnosis AI pada Manusia

Temuan ini melengkapi rangkaian riset soal kecerdasan buatan di bidang kesehatan yang belakangan diberitakan Cekricek.id. Pada Model AI Deteksi Gangguan Jantung yang Sulit Terbaca Hanya dari Satu Sadapan EKG, algoritme serupa justru menunjukkan hasil menjanjikan ketika dilatih dan diuji pada data manusia, kontras dengan hasil stetoskop AI pada kucing dan anjing yang justru dilatih di luar spesies sasarannya.

Riset ini turut menambah daftar kajian ilmiah soal interaksi teknologi dan dunia hewan yang diberitakan Cekricek.id, termasuk Kehadiran Puma Turunkan Risiko Tabrakan Rusa-Kendaraan hingga 67 Persen di Semenanjung Olympic yang menyoroti bagaimana kehadiran predator alami turut memengaruhi keselamatan lalu lintas satwa liar.

Tim peneliti merekomendasikan dokter hewan tidak sepenuhnya mengandalkan stetoskop AI yang beredar saat ini untuk skrining jantung pada kucing dan anjing, mengingat tingkat kegagalannya yang tinggi terutama pada kucing dan dalam mendeteksi aritmia pada kedua spesies.

Baca Juga

Wali Kota Pariaman Yota Balad menerima penghargaan Terbaik I Kategori Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Pariaman Raih Terbaik I Kesehatan, Dapat Bantuan Rp2 Miliar dari Kemendagri
Gajah sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo
Populasi Gajah Sumatra Tinggal 900-an Ekor, Pakar IPB: Konservasi Tanggung Jawab Multipihak
Panel Tujuh Protein Darah Diklaim Lebih Akurat Deteksi Tahap Lanjut Alzheimer
Panel Tujuh Protein Darah Diklaim Lebih Akurat Deteksi Tahap Lanjut Alzheimer
Pemantauan Digital Mingguan Kurangi Kelelahan Pasien Kanker Payudara Metastatik, Uji Klinis 909 Pasien
Pemantauan Digital Mingguan Kurangi Kelelahan Pasien Kanker Payudara Metastatik, Uji Klinis 909 Pasien
Ilustrasi kapsul Orion dengan boneka uji radiasi Zohar dan Helga di misi Artemis I
Rompi Antiradiasi AstroRad Diuji di Misi Artemis I, Pangkas Paparan hingga 60 Persen
Ilustrasi close-up mata manusia terkait penelitian pergerakan mata saat membaca
Model AI dari Aalto University Pelajari Cara Mata Manusia Membaca, Bukan Sekadar Menirunya