Cekricek.id — Kehadiran puma di suatu kawasan ternyata membuat jalan raya di sekitarnya lebih aman bagi pengendara, menurut studi baru yang menganalisis data kamera jebak dan lokasi tabrakan kendaraan di Semenanjung Olympic, negara bagian Washington, Amerika Serikat. Di kawasan dengan tingkat hunian puma yang tinggi, para peneliti mencatat kemungkinan tabrakan rusa-kendaraan turun hingga 67 persen.
Temuan itu dipaparkan Justin Suraci, peneliti utama dari Conservation Science Partners di Truckee, California, bersama Mark Elbroch dari Panthera, lewat artikel Large carnivores shape road safety through effects on prey space use dalam jurnal Current Biology pada 5 Agustus 2026.
Rusa Menghindari Jalan di Wilayah Kekuasaan Puma
“Karnivora besar dapat membuat jalan raya lebih aman lewat pengaruhnya terhadap perilaku dan pemakaian ruang oleh mangsanya,” kata Suraci. Ia menjelaskan bahwa rusa, sebagai mangsa utama puma di kawasan itu, cenderung mengubah pola pergerakannya begitu merasakan kehadiran predator tersebut.
“Rusa mengubah pemakaian ruang dan waktunya di tempat-tempat yang ada pumanya, sehingga tumpang tindihnya dengan jalan raya berkurang,” ujar Suraci, masih menjelaskan mekanisme di balik temuan itu. Rusa yang waspada terhadap risiko predasi lebih memilih menjauh dari area terbuka seperti bahu jalan dan cenderung mengurangi aktivitasnya pada waktu-waktu ketika volume kendaraan sedang tinggi.
Setara Ribuan Dolar Kerugian yang Dicegah per Tahun
Berdasarkan proyeksi tim peneliti, efek tersebut setara dengan penurunan 76 persen jumlah tabrakan yang diperkirakan terjadi dalam rentang lima tahun di kawasan berpopulasi puma tinggi, dibanding kawasan tanpa kehadiran predator itu. Tabrakan rusa-kendaraan selama ini menjadi salah satu sumber kerugian material dan korban jiwa di jalan-jalan pedesaan Amerika Serikat, dengan biaya perbaikan kendaraan, penanganan medis, dan gangguan lalu lintas yang bisa mencapai ribuan dolar per kejadian.
Argumen Baru untuk Konservasi Karnivora Besar
Studi ini menambah daftar bukti tentang apa yang disebut ekolog sebagai “efek riak ekologis” dari keberadaan predator puncak, yakni pengaruh yang menjalar ke bawah rantai makanan hingga memengaruhi hal-hal di luar dugaan awal, termasuk keselamatan manusia. Tim peneliti menyebut temuan ini bisa menjadi argumen tambahan bagi pengelola satwa liar dan perencana transportasi untuk mempertimbangkan konservasi karnivora besar sebagai bagian dari strategi keselamatan jalan raya, bukan semata-mata sebagai isu konservasi satwa liar yang terpisah.
Metode serupa, menurut tim, berpotensi diterapkan untuk mengukur dampak predator besar lain seperti serigala atau beruang terhadap perilaku mangsanya di kawasan bertumpang tindih dengan jaringan jalan di berbagai negara.
Baca juga: Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Aceh Tamiang, Nekropsi Awal Mengarah ke Keracunan

















