Pengukir Papua Buktikan Seni Bukan Adaptasi Evolusi

A A

Pengukir kayu Asmat sedang memahat patung kayu tradisional [Foto: Keenan63/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • 101 pengukir Papua (Asmat-Kamoro) punya keberhasilan reproduksi lebih tinggi dari 130 bukan pengukir
  • Selisih itu sepenuhnya dijelaskan conscientiousness dan kreativitas, bukan koordinasi visuo-motorik
  • Penulis menyimpulkan seni kemungkinan produk sampingan (spandrel), bukan adaptasi tersendiri
  • Studi ini diklaim sebagai uji empiris pertama atas hipotesis seni-sebagai-adaptasi
Daftar Isi
  1. Seni yang Terlalu Lama Dibiarkan Tak Teruji
  2. Seratus Satu Pengukir, Seratus Tiga Puluh Pembanding
  3. Bukan Tangan Terampil, Melainkan Watak
  4. Spandrel, Bukan Adaptasi
  5. Yang Belum Terjawab dari Satu Kelompok
  6. Pengukir yang Menjadi Bukti Hidup

Seni sering dianggap sebagai hiasan peradaban, sesuatu yang muncul setelah manusia beres dengan urusan bertahan hidup dan berkembang biak. Anggapan itu goyah begitu seorang pengukir kayu Asmat di Papua diminta menjelaskan mengapa ia terus memahat, sebab jawabannya bukan sekadar soal keindahan, melainkan soal apa yang sebenarnya membuat seniman bertahan dan berkembang biak lebih baik daripada tetangganya yang tidak mengukir.

Pertanyaan itu digarap Piotr Sorokowski bersama enam rekannya, Marta Kowal, Jerzy Luty, Wiktoria Jędryczka, Craig Roberts, Anjan Chatterjee, dan Stephen Davies, dalam Empirical Verification of Art as an Adaptation Hypothesis: A Case Study of Woodcarvers in Asmat (Papua), dimuat di Human Ethology volume 39 suplemen 1, tahun 2024. Tim ini datang dari lima kampus berbeda di empat negara, tetapi bahan mentah penelitiannya sama sekali bukan teori dari ruang kuliah, melainkan kehidupan pengukir kayu di tanah Papua sendiri.

Judul penelitian ini sengaja memakai kata “verifikasi empiris”, sebuah pilihan yang terasa berani untuk topik yang selama ini lebih banyak diperdebatkan lewat argumen filsafat ketimbang angka. Tim penulis seperti ingin menegaskan bahwa pertanyaan tentang untuk apa seni ada bagi manusia bukan lagi wilayah yang harus berhenti pada spekulasi, melainkan sesuatu yang bisa diuji langsung pada orang-orang yang benar-benar berkarya setiap hari.

Seni yang Terlalu Lama Dibiarkan Tak Teruji

Bukti arkeologis menunjukkan seni sudah dikenal manusia sejak 400.000 hingga 500.000 tahun lalu, dan sifatnya tidak berubah sampai sekarang: manusia menciptakan karya seni secara spontan sejak usia dini, sebagian bahkan menguasai keterampilan itu sampai layak disebut seniman. Karena seni tampak begitu universal, banyak sarjana yang berpijak pada teori evolusi bertanya-tanya soal fungsinya, sampai lahir dua dugaan besar: seni sebagai adaptasi yang langsung menguntungkan kelangsungan hidup, atau seni sebagai produk sampingan dari sifat adaptif lain, yang dalam istilah evolusi disebut spandrel.

Kedua dugaan itu sudah lama beredar, tetapi menurut tim Sorokowski, nyaris tidak ada yang benar-benar mengujinya dengan data lapangan, sebab kebanyakan perdebatan sebelumnya berhenti pada argumen konseptual saja. Justru di situ letak keberanian penelitian ini: alih-alih berhenti pada perdebatan filosofis tentang untuk apa seni ada, mereka pergi ke Papua dan mengumpulkan data dari orang-orang yang kesehariannya memang mengukir kayu.

Tim penulis menyebut diri mereka sebagai yang pertama menguji salah satu teka-teki paling mendesak dalam estetika evolusioner ini secara empiris. Klaim itu sekaligus menandai betapa lamanya jarak antara pertanyaan diajukan dan pertanyaan itu benar-benar dijawab dengan data, sebuah jarak yang menurut mereka baru bisa dipersempit lewat penelitian pada masyarakat Asmat dan Kamoro ini.

Pengukir Papua dibanding yang bukan pengukirDari 130 bukan pengukir dan 101 pengukir, pengukir unggul pada reproduksi, conscientiousness, dan kreativitas, tapi setara pada koordinasi visuo-motorik.Pengukir Papua dibanding yang bukan pengukirMasyarakat Asmat dan Kamoro, PapuaBukan PengukirPengukir (Seniman)130101Jumlah orangAcuanLebih tinggiKeberhasilanreproduksiAcuanLebih tinggiConscientiousnessAcuanLebih tinggiKreativitasAcuanSetaraKoordinasivisuo-motorikStatus pengukir/seniman berdasar pengakuan diri sendiri responden.
Sumber: Piotr Sorokowski, Marta Kowal, Jerzy Luty, Wiktoria Jędryczka, Craig Roberts, Anjan Chatterjee, dan Stephen Davies, Empirical Verification of Art as an Adaptation Hypothesis: A Case Study of Woodcarvers in Asmat (Papua), Human Ethology, 39(Suppl 1), 2024. Grafik: Cekricek.id

Seratus Satu Pengukir, Seratus Tiga Puluh Pembanding

Penelitian ini melibatkan penduduk asli Papua dari masyarakat Asmat dan Kamoro, terbagi menjadi 101 orang yang mendeskripsikan diri sendiri sebagai pengukir atau seniman, dan 130 orang yang bukan pengukir sebagai pembanding. Status seniman di sini murni pengakuan dari orang yang bersangkutan, bukan penilaian juri atau kurator dari luar, sehingga yang diukur benar-benar identitas yang mereka sandang sendiri dalam masyarakatnya.

Dari perbandingan itu, hasil pertama sudah cukup untuk mengusik anggapan lama bahwa seni tidak ada urusannya dengan kelangsungan garis keturunan. Para pengukir memang memiliki keberhasilan reproduksi yang lebih tinggi daripada yang bukan pengukir, dan ukuran keberhasilan itu sesederhana jumlah anak yang mereka miliki.

Sekilas, hasil ini seperti langsung membenarkan hipotesis seni sebagai adaptasi: seniman punya anak lebih banyak, jadi seni tampak menguntungkan secara evolusioner. Namun tim Sorokowski tidak berhenti di situ. Bagi mereka, angka mentah semacam ini baru separuh cerita, sebab pertanyaan yang lebih penting adalah apa sebenarnya yang membuat status sebagai pengukir berkaitan dengan jumlah anak yang lebih banyak itu.

Baca juga Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya

Bukan Tangan Terampil, Melainkan Watak

Bagian paling menarik dari penelitian ini justru muncul ketika tim mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya berada di balik selisih jumlah anak itu, sesuatu yang selama ini jarang ditelusuri lebih jauh. Dugaan yang paling wajar adalah keterampilan tangan, sebab mengukir jelas membutuhkan koordinasi visuo-motorik yang baik, gerakan tangan dan mata yang selaras saat memahat kayu keras menjadi bentuk.

Dugaan itu justru tidak terbukti, dan hasil inilah yang membuat penelitian ini terasa berbeda dari perkiraan awal siapa pun yang membacanya. Yang benar-benar menjelaskan keberhasilan reproduksi para pengukir bukan koordinasi visuo-motorik mereka, melainkan dua sifat kepribadian: conscientiousness, semacam kehati-hatian dan keteguhan dalam bekerja, serta kreativitas. Menurut penulisnya, hubungan antara status pengukir dan keberhasilan reproduksi itu sepenuhnya bisa dijelaskan oleh dua sifat tersebut, bukan oleh kepiawaian tangan semata.

Kata “sepenuhnya” di sini bukan pilihan kata yang dilontarkan sembarangan, melainkan cara penulis menegaskan betapa kuatnya peran dua sifat kepribadian itu dalam data mereka. Artinya, begitu conscientiousness dan kreativitas diperhitungkan, status sebagai pengukir tidak lagi menyumbang apa pun tambahan terhadap keberhasilan reproduksi. Dua sifat kepribadian itu seolah menyerap seluruh selisih yang tadinya tampak seperti keuntungan langsung dari kegiatan mengukir itu sendiri.

Mengapa pengukir punya anak lebih banyakSelisih reproduksi pengukir sepenuhnya dijelaskan oleh conscientiousness dan kreativitas, membuat penulis menyimpulkan seni kemungkinan produk sampingan, bukan adaptasi.Mengapa pengukir punya anak lebih banyakUji hipotesis seni sebagai adaptasi vs produk sampingan101 vs 130Pengukir danbukan pengukirReproduksiPengukir punyaanak lebihPenjelasConscientiousness& kreativitasBukanDiduga produksampinganSimpulan penulis bersifat awal (preliminary), dari satu studi padamasyarakat Asmat dan Kamoro.
Sumber: Piotr Sorokowski, Marta Kowal, Jerzy Luty, Wiktoria Jędryczka, Craig Roberts, Anjan Chatterjee, dan Stephen Davies, Empirical Verification of Art as an Adaptation Hypothesis: A Case Study of Woodcarvers in Asmat (Papua), Human Ethology, 39(Suppl 1), 2024. Grafik: Cekricek.id

Spandrel, Bukan Adaptasi

Temuan itu membawa tim Sorokowski pada kesimpulan yang berlawanan dengan salah satu dugaan populer tentang asal-usul seni, dugaan yang selama ini banyak diterima begitu saja tanpa pengujian ketat. Alih-alih menobatkan seni sebagai adaptasi yang berdiri sendiri, mereka justru condong pada dugaan bahwa seni adalah produk sampingan dari sifat-sifat lain yang lebih dulu berguna secara evolusioner.

“art might not be an adaptation but a by-product or spandrel of other adaptive traits”, tulis Piotr Sorokowski dan kawan-kawan dalam naskah berbahasa Inggris mereka, yang bila diterjemahkan berbunyi kira-kira: seni mungkin bukan sebuah adaptasi, melainkan produk sampingan atau spandrel dari sifat-sifat adaptif lainnya. Kalimat itu ditulis sebagai penutup abstrak, seolah menjadi jawaban paling ringkas atas pertanyaan yang mereka ajukan sejak judul penelitiannya.

Dengan kata lain, bukan seninya yang langsung menguntungkan garis keturunan seorang pengukir, melainkan conscientiousness dan kreativitas yang kebetulan juga mendorongnya menjadi pengukir yang baik sekaligus orang yang tekun dalam banyak hal lain. Seni, dalam bacaan ini, seperti penumpang yang ikut mendapat untung dari kendaraan yang sebenarnya dirancang untuk tujuan lain.

Istilah spandrel sendiri dipinjam dari arsitektur, merujuk pada ruang segitiga yang muncul begitu saja di sudut lengkungan bangunan, bukan bagian yang sengaja dirancang. Ketika dipakai untuk menjelaskan seni, gagasannya kurang lebih sama: seni bukan hasil rancangan evolusi yang berdiri sendiri, melainkan ruang kosong yang terisi karena kebetulan berdampingan dengan sifat lain yang memang sengaja diseleksi, dalam kasus ini conscientiousness dan kreativitas.

Baca juga Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80

Yang Belum Terjawab dari Satu Kelompok

Tim peneliti sendiri menempatkan temuan ini sebagai bukti awal, bukan kata putus. Data hanya diambil dari satu konteks budaya, masyarakat Asmat dan Kamoro di Papua, dengan status pengukir yang ditentukan oleh pengakuan diri sendiri, sehingga pola yang sama belum tentu berlaku pada seniman di masyarakat lain, dan desain penelitiannya juga tidak bisa memastikan apakah conscientiousness dan kreativitas benar-benar menjadi sebab, atau sekadar berjalan beriringan dengan keberhasilan reproduksi.

Ada satu hal yang layak diperiksa siapa pun yang membaca abstrak ini sendiri. Klaim bahwa conscientiousness dan kreativitas “sepenuhnya menjelaskan” selisih reproduksi antara pengukir dan bukan pengukir adalah pernyataan yang kuat, tetapi abstrak ini sama sekali tidak mencantumkan satu pun angka pendukungnya, tidak ada rata-rata jumlah anak, tidak ada nilai statistik, padahal jumlah 101 pengukir dan 130 pembanding disebut dengan tepat. Ini wajar mengingat naskah yang tersedia memang abstrak presentasi konferensi, bukan makalah penuh, tetapi celah itu tetap layak diingat sebelum menganggap kesimpulannya final.

Kejanggalan itu juga berarti pembaca belum bisa menakar seberapa besar selisih keberhasilan reproduksi antara pengukir dan bukan pengukir, apakah bedanya mencolok atau tipis, sebab abstrak hanya menyebut arah hubungannya, bukan besarannya. Tanpa angka pembanding itu, klaim bahwa dua sifat kepribadian “sepenuhnya” menjelaskan selisihnya sulit ditakar sendiri oleh pembaca di luar tim peneliti, sekalipun arah temuannya sendiri disampaikan dengan cukup tegas.

Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah

Pengukir yang Menjadi Bukti Hidup

Di luar perdebatan tentang adaptasi dan spandrel, penelitian ini pada dasarnya bercerita tentang orang-orang yang duduk memahat kayu di Papua, yang tanpa mereka sadari sedang menjadi data bagi salah satu pertanyaan tertua dalam ilmu evolusi tentang seni. Watak yang membuat mereka telaten menuntaskan sebuah ukiran, ternyata jugalah yang tampaknya membuat hidup mereka, dalam arti yang paling harfiah lewat jumlah anak yang mereka miliki, berjalan sedikit berbeda dari tetangga yang tidak memegang pahat.

Bagikan

Baca Juga

Jenazah di Bawah Taru Menyan Menjaga Identitas Trunyan
Dendang Suayan Balenggek Diubah Jadi Fantasia Orkestra
Menongkah Suku Duano, dari Livelihood Jadi Festival
Di Baduy, Bersekolah Haram tapi Toleransi ke Luar Wajib
Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili
Yusuf Gayos Ubah Vokal Barzah Jadi Lagu Kaylana Batang Hari