Hampir Separuh Pasien Hepatitis B Jakarta Berbagi Barang Pribadi

A A

Ilustrasi tiga sikat gigi berdiri bersama dalam satu gelas plastik bening [Foto: Pexels]

  • Sebanyak 59 dari 128 pasien hepatitis B, atau 46,1 persen, pernah berbagi barang pribadi seperti pisau cukur dan sikat gigi.
  • Hanya 10,2 persen pasien menjawab benar penuh soal cara penularan hepatitis B, dan 10,9 persen soal gejala umumnya.
  • Sebanyak 30,5 persen pasien setuju vaksin hepatitis B perlu dihindari karena dianggap tidak halal.
  • Pasien yang sudah divaksin lebih banyak mencapai skor keseluruhan baik, 51,0 persen, dibanding 26,0 persen pada yang belum divaksin.
Daftar Isi
  1. Formulir di Jakarta Selatan
  2. Sepuluh Soal tentang Virus
  3. Keluarga dan Vaksin
  4. Pisau Cukur dan Sikat Gigi
  5. Ijazah, Penghasilan, dan Vaksin
  6. Satu Rumah Sakit Rujukan

Pisau cukur, sikat gigi, dan gunting kuku muncul dalam satu pertanyaan pendek untuk pasien hepatitis B di sebuah rumah sakit rujukan nasional di Jakarta Selatan. Pertanyaannya sederhana: apakah barang pribadi semacam itu pernah dipakai bergantian dengan orang lain? Dari 128 pasien yang menjawab, 59 orang atau 46,1 persen mengaku pernah. Hampir separuh, di antara orang yang sedang berobat atau kontrol karena hepatitis B.

Jawaban itu terkumpul dari Januari sampai Mei 2025. Pasien dewasa yang tinggal di Jakarta didekati satu per satu dari daftar rawat jalan dan rawat inap harian, lalu mengisi kuesioner daring berbahasa Indonesia. Rumah sakitnya rumah sakit kelas A yang melayani banyak pasien hepatitis B dari latar belakang yang beragam.

Temuan itu dilaporkan Hashem S. Arkok dan rekan dari Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat serta Departemen Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia dalam artikel Knowledge, Attitudes, and Practices Among Hepatitis B Patients in Jakarta, Indonesia: A Cross-Sectional Study. Artikel itu terbit di Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal) volume 21 nomor 2 tahun 2026.

Para penulis mencatat Indonesia tergolong negara dengan tingkat hepatitis B sedang. Prevalensi infeksi kroniknya tercatat 7,1 persen pada 2013 dan 3,89 persen pada 2019. Pada 2023 prevalensinya turun menjadi 2,4 persen, angka yang menurut mereka masih mengkhawatirkan. Kajian tentang pengetahuan, sikap, dan praktik pasiennya sendiri, tulis mereka, masih terbatas.

Formulir di Jakarta Selatan

Isi formulir itu terbagi empat: data diri, pengetahuan, sikap, dan praktik. Sebagian besar pengisinya perempuan, 75 orang atau 58,6 persen. Kelompok usia terbanyak 24 sampai 34 tahun, dan hampir separuh, 49,2 persen, bergelar sarjana. Ibu rumah tangga menjadi kelompok pekerjaan paling besar dengan 23,4 persen, disusul pelajar dan mahasiswa 15,6 persen.

Ada satu angka di tabel data diri yang kelak terasa penting. Sebanyak 77 pasien, atau 60,2 persen, belum divaksin hepatitis B. Hanya 29 orang, 22,7 persen, yang pernah ikut kampanye penyadaran hepatitis B, dan 19 di antaranya mengikuti kampanye yang digelar lembaga swadaya masyarakat.

Penghasilan rumah tangga mereka kebanyakan berada di kisaran rendah sampai menengah. Kelompok terbesar, 34,4 persen, berpenghasilan 280 sampai 400 dolar AS sebulan, disusul 32,8 persen di kisaran 114 sampai 280 dolar AS. Hampir separuh pasien, 48,4 persen, tinggal di Jakarta Selatan, sisanya tersebar di wilayah lain Jakarta.

Sepuluh Soal tentang Virus

Bagian pengetahuan memuat sepuluh soal, dari penyebab penyakit sampai siapa yang boleh menerima vaksin. Jawaban soal yang punya lebih dari satu pilihan benar dibedakan menjadi benar penuh, benar sebagian, atau salah. Hasilnya menunjukkan celah yang lebar: hanya 65 pasien, atau 50,8 persen, yang benar menjawab apa penyebab hepatitis B.

Soal pengetahuan yang dijawab benar penuhPenyebab 50,8; Gejala paling umum 10,9; Cara penularan 10,2; Cara pencegahan 23,4; Yang dihindari pengidap 43,8; Pengobatan 64,8; Komplikasi 18,8; Usia penerima vaksin 44,5.Soal pengetahuan yang dijawab benar penuhPersen dari 128 pasien hepatitis B di Jakarta020406080Penyebab50,8Gejala paling umum10,9Cara penularan10,2Cara pencegahan23,4Yang dihindari pengidap43,8Pengobatan64,8Komplikasi18,8Usia penerima vaksin44,5Tabel 2, delapan dari sepuluh soal pengetahuan
Sumber: Hashem S. Arkok dan rekan, Knowledge, Attitudes, and Practices Among Hepatitis B Patients in Jakarta, Indonesia: A Cross-Sectional Study, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2026. Grafik: Cekricek.id

Celah paling dalam ada pada gejala dan penularan. Hanya 14 pasien, 10,9 persen, yang bisa menyebut gejala umum hepatitis B secara benar penuh, sementara 70 orang atau 54,7 persen salah atau tidak tahu. Pada soal cara penularan, yang benar penuh hanya 13 orang, atau 10,2 persen, sementara 62 orang atau 48,4 persen salah atau tidak tahu.

Soal komplikasi tidak jauh berbeda. Hanya 24 pasien, 18,8 persen, menjawab benar penuh tentang komplikasi yang paling umum. Pada soal pencegahan angkanya 23,4 persen, dan kurang dari separuh, 44,5 persen, tahu kelompok usia mana yang bisa menerima vaksin hepatitis B.

Ada pula soal yang dijawab lebih baik. Sebanyak 71,9 persen tahu bahwa semua kelompok usia bisa terkena, dan 64,8 persen menjawab benar pernyataan tentang pengobatan. Untuk hal yang mesti dihindari pengidap agar virus tak berpindah ke orang lain, 43,8 persen menjawab benar penuh dan 34,4 persen benar sebagian.

Baca juga Hepatitis C Hinggapi 17 Persen Pengungsi Rohingya di Teknaf

Para penulis menyebut hasil di Jakarta lebih rendah daripada sebagian laporan dari Pakistan dan Australia. Dari situ mereka menarik satu catatan tentang cara pasien diberi pengetahuan. “Konsultasi klinis saja mungkin tidak cukup untuk edukasi pasien, dan konseling terstruktur serta materi edukasi yang sesuai budaya diperlukan untuk meningkatkan literasi penyakit,” tulis Arkok dan rekan dalam kalimat berbahasa Inggris yang diterjemahkan di sini.

Keluarga dan Vaksin

Di bagian sikap, warna jawaban berubah. Hampir semua pasien, 97,7 persen, setuju bahwa siapa pun bisa tertular hepatitis B bila terpapar virusnya. Sebanyak 94,6 persen menganggapnya masalah kesehatan besar, 91,4 persen menyebutnya penyakit yang sangat serius, dan 95,3 persen setuju diagnosis serta pengobatan dini sangat penting.

Sebanyak 89,0 persen juga setuju bahwa setiap warga ikut bertanggung jawab mencegah penularan. Dalam tabel sebaran menurut latar belakang pasien, kolom sikap negatif berisi angka nol di setiap kelompok. Para penulis menilai sikap pasien terhadap perawatan secara umum positif.

Namun di dalam rumah ada anggapan yang keliru. Sebanyak 55 pasien, 42,9 persen, setuju bahwa bila satu anggota keluarga mengidap hepatitis B, mustahil anggota keluarga lain tidak tertular. Para penulis menggolongkannya sebagai salah paham dan menulis bahwa anggapan itu dapat memicu ketakutan atau stigma yang tidak perlu di dalam keluarga.

Vaksin memunculkan jawaban yang lebih terbelah. Sebanyak 69,5 persen setuju vaksin hepatitis B aman dan efektif, tetapi 28,1 persen memilih netral. Angka yang mirip muncul pada kesediaan menganjurkan vaksin kepada orang tersayang: 69,6 persen setuju dan 25,0 persen netral.

Kekhawatiran soal efek samping terlihat jelas. Sebanyak 39,1 persen setuju bahwa orang tua sebaiknya tidak memberikan vaksin hepatitis B kepada bayinya karena kemungkinan efek samping, dan 38,3 persen setuju seseorang sebaiknya menghindari vaksin itu dengan alasan yang sama. Pernyataan bahwa vaksin perlu dihindari karena dianggap tidak halal disetujui 30,5 persen pasien, sementara 38,3 persen memilih netral.

Baca juga Pelancong yang Pernah Divaksin Rabies Justru Lambat Berobat

Bagi para penulis, memperbaiki sikap saja belum tentu cukup. Mereka menulis bahwa upaya perbaikan perlu menjawab ketakutan, keyakinan, dan kepekaan budaya yang spesifik agar vaksin lebih diterima, Mereka juga menyarankan strategi komunikasi risiko yang memadukan pesan peka budaya dan keterlibatan komunitas.

Pisau Cukur dan Sikat Gigi

Bagian praktik hanya berisi lima pertanyaan, dan di sinilah pisau cukur, sikat gigi, serta gunting kuku tadi muncul. Pilihan jawabannya sering, kadang-kadang, jarang, dan tidak pernah; tiga pilihan pertama digabung menjadi kategori pernah. Sebanyak 59 pasien, 46,1 persen, masuk kategori pernah berbagi barang pribadi semacam itu dengan orang lain.

Di ruang periksa, gambarannya jauh lebih rapi. Sebanyak 116 pasien, 90,6 persen, memberi tahu tenaga kesehatan tentang status hepatitis B mereka sebelum menjalani tindakan medis untuk penyakit lain. Sebanyak 115 orang, 89,8 persen, melanjutkan dan menuntaskan pengobatan, dan 113 orang, 88,2 persen, menjalani pemeriksaan rutin.

Pada pertanyaan tentang penggunaan kondom untuk mencegah penularan, 75,0 persen masuk kategori pernah dan 25,0 persen tidak pernah. Para penulis merangkum bagian ini dengan satu pengamatan: kepatuhan pada perawatan medis tinggi, tetapi praktik pencegahan yang menyangkut risiko sehari-hari belum optimal.

“Hasil ini menyiratkan bahwa bahkan ketika pasien memahami penyakitnya dan memiliki sikap positif, perubahan perilaku tidak otomatis mengikuti,” tulis Hashem S. Arkok dan rekan, dalam kalimat yang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Karena itu, menurut mereka, edukasi perlu digabung dengan strategi yang membentuk kebiasaan dan mengurangi perilaku berisiko, disesuaikan dengan budaya setempat.

Mereka juga menyebut perlunya dukungan praktis, pengingat, dan panduan pencegahan di rumah tangga. Tujuannya, menurut paper itu, membantu pasien mengubah kesadaran menjadi kebiasaan sehari-hari yang lebih aman.

Ijazah, Penghasilan, dan Vaksin

Tabel kelima memecah jawaban menurut latar belakang pasien. Pengetahuan, sikap, dan praktik masing-masing dibagi ke dalam tiga tingkat, dan tabel itu juga memuat tingkat KAP keseluruhan: kurang, sedang, dan baik. Sebagian besar pasien berada pada pengetahuan sedang dan praktik cukup.

Perbedaan juga terlihat pada status vaksinasi. Di antara 51 pasien yang sudah divaksin, 52,9 persen bersikap positif dan 51,0 persen mencapai tingkat baik untuk skor keseluruhan. Di antara 77 pasien yang belum divaksin, angkanya 23,4 persen dan 26,0 persen.

Pasien yang sudah divaksin lebih banyak di tingkat baikPengetahuan baik: Divaksin (51 orang) 23,5, Tidak divaksin (77 orang) 13,0; Sikap positif: Divaksin (51 orang) 52,9, Tidak divaksin (77 orang) 23,4; Praktik baik: Divaksin (51 orang) 45,1, Tidak divaksin (77 orang) 22,1; KAP keseluruhan baik: Divaksin (51 orang) 51,0, Tidak divaksin (77 orang) 26,0.Pasien yang sudah divaksin lebih banyak ditingkat baikPersen dalam tiap kelompok status vaksinasiDivaksin (51 orang)Tidak divaksin (77 orang)2040600Pengetahuan baik23,513,0Sikap positif52,923,4Praktik baik45,122,1KAP keseluruhan baik51,026,0Tabel 5. KAP: pengetahuan, sikap, dan praktik
Sumber: Hashem S. Arkok dan rekan, Knowledge, Attitudes, and Practices Among Hepatitis B Patients in Jakarta, Indonesia: A Cross-Sectional Study, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2026. Grafik: Cekricek.id

Penghasilan rumah tangga bergerak searah. Pada kelompok berpenghasilan di atas 400 dolar AS sebulan, 58,6 persen mencapai skor keseluruhan baik, sedangkan pada kelompok di bawah 114 dolar AS angkanya 15,4 persen. Pasien yang pernah ikut kampanye penyadaran juga lebih banyak di tingkat baik, 55,2 persen, dibanding 30,3 persen pada yang tidak pernah ikut.

Menurut para penulis, tingkat pendidikan menunjukkan pola paling jelas: makin tinggi pendidikan, makin baik pengetahuan, sikap, dan praktik. Pasien usia 18 sampai 23 tahun relatif lebih baik pengetahuannya, dengan 28,0 persen di tingkat baik, sedangkan pada usia di atas 44 tahun 44,0 persen berada di tingkat kurang.

Lima dari tujuh pasien berstatus janda atau duda, 71,4 persen, berpengetahuan kurang. Perbedaan menurut jenis kelamin dan tempat tinggal tergolong kecil; laki-laki maupun perempuan, juga pasien dari Jakarta Selatan maupun wilayah lain Jakarta, sama-sama didominasi pengetahuan sedang dan praktik cukup.

Baca juga Penyakit Hati akibat Alkohol Naik pada Perempuan Lansia Korea

Ketiga skor itu juga saling berkaitan. Pengetahuan berkorelasi positif dengan sikap (r = 0,357) dan dengan praktik (r = 0,332), sedangkan sikap berkorelasi positif dengan praktik (r = 0,303), semuanya dengan nilai p di bawah 0,001. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa pengetahuan yang lebih tinggi berkaitan dengan sikap dan praktik yang lebih baik.

Satu Rumah Sakit Rujukan

Semua jawaban itu datang dari satu rumah sakit, dan para penulis mencatatnya sebagai keterbatasan. Lingkup satu rumah sakit dapat membatasi generalisasi temuan, meski rumah sakit itu melayani penduduk kota yang beragam dan menjadi pusat rujukan. Data juga dilaporkan sendiri oleh pasien, sehingga anonimitas ditekankan dan yang ditanyakan adalah praktik terkini dan rutin.

Untuk penelitian berikutnya, mereka menyarankan desain multisenter dan metode kualitatif untuk menggali hambatan lebih dalam. Hasilnya diharapkan bisa menjadi dasar strategi tingkat nasional.

Dalam simpulannya, para penulis meminta otoritas kesehatan dan pemangku kepentingan kesehatan masyarakat menjalankan program edukasi yang peka budaya, memperluas penjangkauan komunitas, dan memperbaiki akses vaksinasi. Sasarannya bukan hanya pasien, tetapi juga kelompok yang berisiko tertular.

Pertanyaan tentang pisau cukur, sikat gigi, dan gunting kuku itu kembali ke tempat ia diajukan, rumah sakit rujukan di Jakarta Selatan. Di sana, 69 pasien menjawab tidak pernah berbagi barang semacam itu. Sebanyak 59 lainnya menjawab pernah.

Bagikan

Baca Juga

Di Malaysia, Sebagian yang Paham pun Minum Antibiotik untuk Pilek
Pekerja Konstruksi Jepang Jarang Periksa Henti Napas saat Tidur
Pengapuran Lutut Diidap Lebih dari Separuh Lansia Thailand
Lebih dari Sepertiga Pekerja Pabrik Tepung Goma Kena Darah Tinggi
Ahli Gizi Indonesia: Konsultasi Gizi Online Sulit Mengukur Tubuh
Berat Lahir Bayi Sri Lanka Naik Seiring Indeks Massa Tubuh Ibu