Penyakit Hati akibat Alkohol Naik pada Perempuan Lansia Korea

A A

Ilustrasi tumpukan botol soju hijau kosong dalam karung daur ulang kaca di Korea Selatan [Foto: Piotrus/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Angka pada laki-laki menurun, angka pada perempuan menanjak, dan pandemi Covid-19 mempertajam selisih arah itu, terutama pada perempuan berusia 60 tahun ke atas.
  • Pada 2010 perempuan mengisi 16,1 persen kasus steatohepatitis, dan pada 2022 porsinya sudah 26,6 persen.
  • Pada perempuan, lonjakan steatohepatitis terutama terlihat pada usia 60 tahun ke atas, sedangkan perempuan yang lebih muda hampir tidak berubah.
  • Data klaim juga bisa meremehkan jumlah kasus, terutama yang ringan atau tanpa gejala.
Daftar Isi
  1. Sebelum Jeong dan Choi, Angka Nasionalnya Belum Tersedia
  2. Tiga Belas Tahun Catatan, 2010 sampai 2022
  3. Puncak di Usia 60-an, Jarak Menyempit pada Generasi Muda
  4. Dua Arah yang Berlawanan Sepanjang 2010–2022
  5. Sesudah 2020, Pandemi Mempertajam Selisih Itu
  6. Campbell di Amerika Serikat Mencatat Pola Usia yang Lain
  7. Batas Data Klaim dan Angka Naskah 2026 yang Perlu Dibaca Ulang

Selama puluhan tahun, penyakit hati menahun di Korea Selatan punya dua biang utama, yakni virus hepatitis B dan alkohol. Yang pertama terus surut, dengan beban penyakit yang turun 2,5 persen per tahun, sedangkan yang kedua justru merambat naik 1,3 persen per tahun. Di negeri tempat minum bersama sudah lama melekat pada pergaulan itu, asupan alkohol harian nyaris berlipat dua antara 1998 dan 2018, dari 8,37 gram menjadi 14,98 gram.

Dari latar itulah Seok-Ju Jeong, Yu-Jin Choi, Seung-Ju Hwang, Hyeon-Muk Oh, Jin-Yong Joung, Dong-Soo Lee, dan Chang-Gue Son menulis Gender- and age-specific trends in alcohol-associated liver disease in South Korea: a nationwide study before and after COVID-19, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel yang masih dalam proses terbit sehingga belum bernomor volume. Jeong bekerja di Health Insurance Review and Assessment Service, sedangkan sebagian besar rekannya di Liver-Immunology Research Center, Daejeon University.

Mereka menelusuri catatan klaim asuransi kesehatan seluruh penduduk Korea Selatan dari 2010 sampai 2022, lalu menghitung berapa orang yang didiagnosis dokter mengidap dua bentuk awal penyakit hati akibat alkohol. Hasilnya tidak bergerak ke satu arah. Angka pada laki-laki menurun, angka pada perempuan menanjak, dan pandemi Covid-19 mempertajam selisih arah itu, terutama pada perempuan berusia 60 tahun ke atas.

Sebelum Jeong dan Choi, Angka Nasionalnya Belum Tersedia

Dua penyakit yang dihitung itu berada di anak tangga awal. Minum alkohol menahun, tulis para peneliti, memicu serangkaian keadaan yang bermula dari perlemakan hati akibat alkohol, berlanjut ke steatohepatitis akibat alkohol, lalu fibrosis dan sirosis. Peradangan hati mereka sebut sebagai peralihan genting menuju kerusakan lanjut. Karena itu steatohepatitis dalam tulisan ini boleh dibaca sebagai tahap ketika hati yang berlemak sudah meradang.

Menurut Jeong dan rekan-rekannya, justru kedua tahap awal itulah yang datanya paling tipis pada tingkat penduduk, padahal di situlah peluang campur tangan terbuka sebelum penyakit memberat. Kekosongan itu terasa janggal di Korea, tempat 74,8 persen orang dewasa berusia 19 tahun ke atas tercatat sebagai peminum pada 2023, atau 1,7 kali rata-rata dunia. Kajian Yoo dan kawan-kawan pada 2024 sudah melaporkan kasus baru lewat kohort penduduk, tetapi belum memberi angka nasional untuk kedua diagnosis itu.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Tiga Belas Tahun Catatan, 2010 sampai 2022

Sepanjang tiga belas tahun itu, rata-rata 2,50 dari tiap 1.000 penduduk Korea tercatat mengidap perlemakan hati akibat alkohol dan 1,80 dari tiap 1.000 mengidap steatohepatitis akibat alkohol. Dalam jumlah orang, itu berarti rata-rata sekitar 150 ribu kasus perlemakan dan hampir 108 ribu kasus peradangan setiap tahun. Angka peradangan setara 72 persen angka perlemakan, perbandingan yang kelak menjadi pokok pembahasan para penulis.

Laki-laki mendominasi kedua daftar. Pada perlemakan hati, angkanya 3,96 per 1.000 laki-laki berbanding 1,09 per 1.000 perempuan, atau 3,6 kali lipat. Pada steatohepatitis, 2,87 berbanding 0,69, atau 4,2 kali lipat. Namun porsi perempuan di antara seluruh kasus bergeser dari tahun ke tahun. Pada 2010 perempuan mengisi 16,1 persen kasus steatohepatitis, dan pada 2022 porsinya sudah 26,6 persen.

Laki-laki turun, perempuan naikLaki-laki turun, perempuan naikLaki-laki turun, perempuan naikPenyakit hati akibat alkohol per 1.000 penduduk, 2010 sampai 2022Laki-lakiPerempuan3,961,09Perlemakan hati2,870,69Radang hati-0,08+0,01Tren perlemakan-0,06+0,03Tren radangDua baris atas: rata-rata tahunan. Dua baris bawah: perubahan pertahun.
Sumber: Seok-Ju Jeong, Yu-Jin Choi, Seung-Ju Hwang, Hyeon-Muk Oh, Jin-Yong Joung, Dong-Soo Lee, dan Chang-Gue Son, Gender- and age-specific trends in alcohol-associated liver disease in South Korea: a nationwide study before and after COVID-19, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka itu lalu disandingkan dengan kajian Lee dan rekan-rekannya pada 2023, yang ditulis kelompok peneliti yang sama tentang perlemakan hati terkait gangguan metabolik. Di sana perlemakan hati metabolik tercatat 23,0 per 1.000 penduduk dan bentuk meradangnya 3,7 per 1.000, kira-kira sembilan kali dan dua kali angka penyakit hati akibat alkohol. Bedanya terletak pada perbandingan di dalamnya: bentuk meradang hanya 16 persen pada jalur metabolik, tetapi 72 persen pada jalur alkohol.

Dari selisih itu Jeong dan Choi menarik tafsir yang hati-hati. Tahap peradangan, tulis mereka, tampaknya lebih sering tercapai pada penyakit hati akibat alkohol, sejalan dengan kajian terdahulu bahwa steatohepatitis muncul pada sekitar sepertiga peminum menahun. Perbedaan itu, menurut mereka, membantu menjelaskan mengapa penyakit yang lebih jarang ini tetap menyumbang besar pada kesakitan dan kematian akibat penyakit hati di Korea.

Puncak di Usia 60-an, Jarak Menyempit pada Generasi Muda

Usia membentuk pola yang jelas. Kedua penyakit makin sering dijumpai seiring bertambahnya umur dan mencapai puncak pada kelompok 60 sampai 69 tahun, baik pada laki-laki maupun perempuan. Di kelompok itu perlemakan hati tercatat 9,56 per 1.000 laki-laki dan 2,78 per 1.000 perempuan, sedangkan steatohepatitis 7,60 dan 1,78. Dibanding kelompok 30 sampai 39 tahun, angka perlemakan kira-kira tiga kali lebih tinggi.

Radang hati akibat alkohol memuncak di usia 60-an30-39 tahun: Laki-laki +1,90, Perempuan +0,73; 40-49 tahun: Laki-laki +4,10, Perempuan +1,03; 50-59 tahun: Laki-laki +6,79, Perempuan +1,61; 60-69 tahun: Laki-laki +7,60, Perempuan +1,78; 70-79 tahun: Laki-laki +5,49, Perempuan +1,52.Radang hati akibat alkohol memuncak di usia60-anSteatohepatitis akibat alkohol per 1.000 penduduk KoreaLaki-lakiPerempuan369030-39 tahun1,900,7340-49 tahun4,101,0350-59 tahun6,791,6160-69 tahun7,601,7870-79 tahun5,491,52Rata-rata tahunan 2010 sampai 2022 menurut kelompok usia.
Sumber: Seok-Ju Jeong, Yu-Jin Choi, Seung-Ju Hwang, Hyeon-Muk Oh, Jin-Yong Joung, Dong-Soo Lee, dan Chang-Gue Son, Gender- and age-specific trends in alcohol-associated liver disease in South Korea: a nationwide study before and after COVID-19, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang menarik perhatian para penulis ialah jarak antara kedua jenis kelamin. Secara keseluruhan perbandingan laki-laki dan perempuan sekitar empat banding satu. Pada kelompok usia 19 tahun ke bawah perbandingannya tinggal 1,4 banding satu, dan pada usia 20 sampai 29 tahun 1,6 banding satu. Di ujung lain, pada usia 80 tahun ke atas, perempuan mengisi 46,4 persen kasus perlemakan hati.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Dua Arah yang Berlawanan Sepanjang 2010–2022

Ketika tahun-tahun itu dirangkai, kedua garis berpisah. Pada laki-laki, perlemakan hati turun 0,08 per 1.000 orang setiap tahun dan steatohepatitis turun 0,06. Pada perempuan, keduanya naik perlahan, masing-masing 0,01 dan 0,03 per 1.000 orang setiap tahun. Angka steatohepatitis laki-laki yang 3,81 per 1.000 pada 2010 tinggal 2,15 pada 2022, sementara pada perempuan angka itu bergerak dari 0,72 ke 0,84 sesudah sempat menyentuh 1,19 pada 2021.

Pemilahan menurut usia memperlihatkan lapisan berikutnya. Pada laki-laki, arah kecenderungan berbalik di sekitar usia 60 tahun: menurun pada kelompok yang lebih muda, menanjak pada kelompok yang lebih tua. Pada perempuan, kenaikan mulai tampak sejak usia paruh baya dan bermakna sejak usia 50-an. Jeong dan Choi menautkannya dengan kajian Choe dan kawan-kawan pada 2018, yang mencatat kebiasaan minum di Korea menurun pada laki-laki tetapi meningkat pada perempuan.

Sesudah 2020, Pandemi Mempertajam Selisih Itu

Pandemi Covid-19 tidak mengubah arah, melainkan menambah kecuramannya. Pada laki-laki, penurunan tahunan perlemakan hati yang semula 0,04 per 1.000 orang menjadi 0,21 sesudah 2020, sedangkan steatohepatitis tidak berubah bermakna. Perempuan menunjukkan pola sebaliknya. Kenaikan tahunan steatohepatitis yang semula 0,10 per 1.000 orang menjadi 0,27 sesudah 2020, sementara perlemakan hati nyaris tidak bergeser.

Kenaikan itu pun tidak merata. Pada laki-laki, tidak ada kelompok usia yang berbeda bermakna antara masa sebelum dan selama pandemi. Pada perempuan, lonjakan steatohepatitis terutama terlihat pada usia 60 tahun ke atas, sedangkan perempuan yang lebih muda hampir tidak berubah. Kelompok yang paling terdampak pandemi, dengan kata lain, adalah kelompok yang sebelum 2020 pun sudah berada di jalur menanjak.

Para penulis menduga perubahan itu mencerminkan bergesernya tempat dan suasana minum. Di Korea, tulis mereka, minum alkohol secara tradisional melekat pada pertemuan kerja dan pergaulan yang didominasi laki-laki, dan pertemuan semacam itu sebagian besar lenyap selama pandemi. Perempuan, sebaliknya, menanggung tambahan beban rumah tangga dan emosional, termasuk tugas merawat, benturan antara kerja dan keluarga, serta keterasingan, yang oleh kajian lain dikaitkan dengan minum di rumah.

Satu penjelasan tandingan mereka periksa lebih dulu, yaitu kemungkinan bahwa angka berubah hanya karena orang lebih jarang atau lebih sering berobat. Kunjungan berobat per orang memang turun pada 2020 lalu pulih. “Yang penting, analisis kami menunjukkan bahwa kenaikan prevalensi ASH pada perempuan selama pandemi tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh perubahan pemanfaatan layanan kesehatan,” tulis Jeong dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. ASH adalah singkatan mereka untuk steatohepatitis akibat alkohol.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Campbell di Amerika Serikat Mencatat Pola Usia yang Lain

Kenaikan pada perempuan bukan hanya cerita Korea. Para penulis merujuk survei penduduk di Amerika Serikat dan Spanyol yang juga mencatat kenaikan minum alkohol yang berbeda menurut jenis kelamin selama pandemi. Hanya saja, pola usianya tidak sama. Kajian Campbell dan kawan-kawan pada 2023 melaporkan bahwa kenaikan rawat inap akibat penyakit hati alkohol di Amerika Serikat paling menonjol pada perempuan di bawah 50 tahun, bukan pada perempuan lanjut usia seperti di Korea.

Jeong dan Choi tidak memaksakan satu jawaban atas beda itu. “Kontras ini mungkin mencerminkan perbedaan pola minum dan konteks sosial antarnegara dan antargenerasi,” tulis mereka, masih dalam bahasa Inggris. Kalimat itu sekaligus menandai batas datanya, sebab catatan klaim asuransi tidak memuat keterangan tentang berapa banyak dan dalam suasana apa seseorang minum.

Kemungkinan lain mereka cari pada tubuh. Perempuan, tulis para peneliti, diketahui lebih rentan terhadap kerusakan hati akibat alkohol pada takaran minum yang lebih rendah daripada laki-laki, dan kohort Yoo pada 2024 mendapati risiko lebih tinggi pada perempuan dalam keadaan minum berisiko tinggi. Mereka juga menyinggung hilangnya perlindungan estrogen sesudah menopause. Semua itu disampaikan sebagai kemungkinan bahwa peralihan hormon dan metabolisme di usia lanjut ikut memperbesar kerentanan.

Batas Data Klaim dan Angka Naskah 2026 yang Perlu Dibaca Ulang

Tiga keterbatasan diakui terang-terangan. Karena masa kajian mendahului tata nama penyakit hati yang berlaku sekarang, sebagian orang yang kini akan digolongkan ke kategori tumpang-tindih antara sebab metabolik dan alkohol mungkin ikut terhitung. Keterangan perorangan tentang kebiasaan minum, tekanan batin, dan keadaan sosial ekonomi tidak tersedia. Data klaim juga bisa meremehkan jumlah kasus, terutama yang ringan atau tanpa gejala.

Ada pula beberapa angka dalam naskah yang patut diperiksa pembaca. Kepala Tabel 1 mencantumkan jumlah penduduk 48.504.561 jiwa, tetapi angka laki-laki 25.608.502 dan perempuan 25.460.873 di sebelahnya berjumlah 51.069.375. Tabel 4 mencatat perubahan seketika pada 2020 sebesar minus 12,15 per 1.000 untuk perempuan usia 60 sampai 69 tahun, padahal angka kelompok itu hanya 1,78 per 1.000. Pembahasan juga menyebut angka keseluruhan nyaris tidak berubah, sementara Tabel 1 menunjukkan perlemakan hati turun dari 2,64 ke 2,10.

Dengan segala batas itu, tulisan Jeong dan rekan-rekannya menambah satu mata rantai pada cerita panjang tentang hati dan alkohol di Korea. Mata rantai sebelumnya mencatat hepatitis B yang surut dan alkohol yang mengambil tempatnya. Mata rantai ini memperlihatkan bahwa di dalam angka alkohol sendiri ada dua arus yang berlawanan: laki-laki yang perlahan menjauh dan perempuan lanjut usia yang, sesudah 2020, kian sering tercatat di ruang periksa.

Bagikan

Baca Juga

Lapar di Masa Kecil Membuntuti Warga Desa Tiongkok hingga Tua
Ozon Udara Terkait Rabun Usia Tua di Kota Korea, Bukan di Desa
Warga Korea Mau Mengembalikan Obat Sisa, tetapi Jalannya Sulit
Jam Pintar dan Pengingat Rehat Kurangi Duduk Pegawai di Bangkok
Pekerja Sif Malam Tak Teratur Lebih Sering Terkena Alergi Hidung
Pemakai Obat Pelangsing GLP-1 di Inggris Puas tetapi Sering Lemas