Di Malaysia, Sebagian yang Paham pun Minum Antibiotik untuk Pilek

A A

Ilustrasi kapsul merah-putih dan hijau tua dalam dua lembar kemasan blister [Foto: Thilini ukwaththage/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 25,0 persen penduduk Malaysia berusia 15 tahun ke atas memakai antibiotik untuk pilek atau sakit tenggorokan dalam 12 bulan terakhir.
  • Di antara penduduk dengan skor pengetahuan lebih tinggi, kebiasaan itu masih dilaporkan oleh 13,2 persen.
  • Remaja 15 sampai 17 tahun mencatat rasio odds terkoreksi 3,727 dibanding kelompok 60 tahun ke atas.
  • Orang asing punya peluang lebih rendah memakai antibiotik untuk pilek walau 96,8 persen di antara mereka berskor pengetahuan lebih rendah.
Daftar Isi
  1. Pertanyaan tentang kebiasaan datang lebih dulu, enam soal pengetahuan menyusul kemudian
  2. Satu dari empat penduduk mengiyakan, dan yang muda lebih cenderung melakukannya
  3. Orang asing berskor lebih rendah, tetapi peluangnya memakai antibiotik untuk pilek lebih kecil
  4. Di antara yang berskor lebih tinggi, kelompok kewargaan dan wilayah tinggal ikut berkaitan
  5. Batas survei dan saran para penulis untuk rencana aksi resistansi

Telepon berdering, dan pertanyaan pertama langsung menembak. Dalam setahun terakhir, apakah Anda pernah minum antibiotik untuk pilek atau sakit tenggorokan? Jawabannya hanya ya, tidak, atau tidak tahu. Sekali dijawab, pertanyaan itu tidak akan diulang lagi. Jawaban ya kemudian dihitung sebagai satu hal: penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

Baru sesudahnya enam soal lain menyusul, kali ini menguji pengetahuan. Urutan itu disengaja, untuk menekan bias keinginan sosial dalam jawaban peserta. Pada survei kesehatan nasional Malaysia tahun 2020, kira-kira satu dari empat penduduk berusia 15 tahun ke atas menjawab pertanyaan pertama itu dengan ya.

Di kelompok yang menjawab benar lima atau enam soal pun, kebiasaan itu tidak hilang. Zhuo-Lin Chong dan rekan dari Institute for Public Health, National Institutes of Health, Kementerian Kesehatan Malaysia, mencatatnya dalam artikel When good knowledge falls short: identity and geography drive inappropriate antibiotic use in Malaysia di jurnal BMC Public Health volume 26, terbit tahun 2026.

Pertanyaan tentang kebiasaan datang lebih dulu, enam soal pengetahuan menyusul kemudian

Tim itu menumpang pada National Health and Morbidity Survey 2020, survei tahunan Kementerian Kesehatan Malaysia yang tahun itu berfokus pada penyakit menular. Sebanyak 3.051 orang menjawab modul antibiotik, dan dengan pembobotan mereka mewakili perkiraan 24,6 juta penduduk berusia 15 tahun ke atas. Wawancara tatap muka berlangsung Agustus sampai Oktober 2020, sedangkan soal antibiotik ditanyakan lewat telepon.

Soal pengetahuannya diadaptasi dari survei kesadaran publik Organisasi Kesehatan Dunia. Peserta ditanya apakah pilek dan sakit tenggorokan lebih sering disebabkan virus, bukan bakteri. Mereka juga ditanya apakah antibiotik membunuh virus, apakah antibiotik ampuh untuk pilek dan sakit tenggorokan, dan apakah mereka tahu apa itu resistansi antibiotik.

Dua soal terakhir menyangkut penyalahgunaan. Satu menanyakan apakah pemakaian antibiotik yang berlebihan pada manusia membuat obat itu kurang ampuh melawan infeksi bakteri. Satu lagi menanyakan hal serupa untuk pemakaian di peternakan. Setiap jawaban benar bernilai satu, sehingga skor tertinggi enam. Penjawab lima atau enam soal benar masuk kelompok skor lebih tinggi.

Menurut perkiraan populasi tertimbang, 90,8 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas berada di kelompok skor lebih rendah. Hanya 9,2 persen yang masuk kelompok skor lebih tinggi. Penulis sengaja memakai kata lebih tinggi dan lebih rendah, bukan tinggi dan rendah, karena pengelompokan itu hanya ukuran pengetahuan yang arbitrer, bukan ukuran mutlak.

Baca juga Warga China yang Beli Obat Sendiri Lebih Sering Sakit Lambung

Satu dari empat penduduk mengiyakan, dan yang muda lebih cenderung melakukannya

Siapa yang lebih cenderung memakai antibiotik untuk pilekUsia 15-17 tahun 3,727; Skor lebih rendah 2,381; Usia 18-59 tahun 2,256; Orang asing/bukan warga 0,468.Siapa yang lebih cenderung memakaiantibiotik untuk pilekRasio odds terkoreksi, seluruh penduduk 15 tahun ke atas(Tabel 3)01234Usia 15-17 tahun3,727Skor lebih rendah2,381Usia 18-59 tahun2,256Orang asing/bukan warga0,468Pembanding = 1: usia 60+, skor lebih tinggi, warga Malaysiabumiputera
Sumber: Zhuo-Lin Chong dan rekan, When good knowledge falls short: identity and geography drive inappropriate antibiotic use in Malaysia, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka persisnya 25,0 persen. Itu prevalensi tertimbang penduduk berusia 15 tahun ke atas yang memakai antibiotik untuk pilek atau sakit tenggorokan dalam 12 bulan terakhir, dengan rentang kepercayaan 21,9 sampai 28,5 persen. Dalam perkiraan populasi, jumlahnya 6.175.156 orang dari 24.674.910 penduduk, berasal dari 759 dari 3.051 sampel.

Usia menjadi garis pemisah pertama. Dibanding kelompok 60 tahun ke atas, remaja 15 sampai 17 tahun punya rasio odds terkoreksi 3,727 untuk memakai antibiotik dengan cara itu. Kelompok dewasa 18 sampai 59 tahun mencatat 2,256. Rentang kepercayaannya masing-masing 2,040 sampai 6,807 dan 1,466 sampai 3,471. Keduanya bermakna secara statistik dengan nilai p di bawah 0,001.

Pengetahuan menjadi garis pemisah kedua. Penduduk dengan skor lebih rendah punya rasio odds terkoreksi 2,381 dibanding penduduk berskor lebih tinggi, dengan nilai p 0,003. Analisis tambahan per kelompok umur, yang datanya tidak ditampilkan dalam makalah, memperlihatkan skor lebih rendah tetap menjadi prediktor bermakna hanya pada kelompok 18 sampai 59 tahun, tidak pada kelompok usia lain.

Kelompok remaja mendapat sorotan tersendiri. Kelompok termuda tetap lebih cenderung memakai antibiotik untuk pilek, terlepas dari tingkat pengetahuannya. Para penulis mengingatkan bahwa “karena kelompok di bawah umur ini secara hukum masih berada dalam asuhan orang tua atau wali, kecil kemungkinan mereka bisa meresepkan sendiri antibiotik yang hanya boleh dibeli dengan resep” (terjemahan dari naskah berbahasa Inggris).

Penulis menyebut perlunya penelitian lanjutan tentang peran faktor lain terhadap pemakaian antibiotik yang tidak tepat di kalangan remaja, terutama permintaan orang tua akan antibiotik, atau cara pemberi layanan kesehatan menangkap permintaan itu. Peran faktor-faktor tersebut, menurut mereka, masih perlu ditentukan lewat studi berikutnya.

Orang asing berskor lebih rendah, tetapi peluangnya memakai antibiotik untuk pilek lebih kecil

Tabel yang sama memuat hasil lain. Orang asing, yakni penduduk tanpa kewarganegaraan Malaysia, mencatat rasio odds terkoreksi 0,468 dibanding warga Malaysia bumiputera, dengan rentang kepercayaan 0,266 sampai 0,822 dan nilai p 0,009. Artinya peluang mereka melaporkan pemakaian antibiotik untuk pilek atau sakit tenggorokan lebih rendah.

Hasil itu muncul meski skor pengetahuan mereka umumnya lebih rendah. Analisis lanjutan penulis, yang datanya tidak ditampilkan, menunjukkan 96,8 persen orang asing dalam survei berada di kelompok skor pengetahuan lebih rendah. Penulis sendiri menulis bahwa “menarik untuk menemukan bahwa orang asing bersifat protektif terhadap penggunaan antibiotik yang tidak tepat di Malaysia” (terjemahan).

Penjelasan yang paling mungkin, menurut penulis, adalah akses. Malaysia punya banyak pekerja asing berketerampilan rendah dari negara berpendapatan lebih rendah, dan akses mereka ke layanan kesehatan lebih kecil. Mereka umumnya bekerja tanpa asuransi kesehatan, atau dengan asuransi yang membatasi biaya tahunan dan biaya setiap kunjungan.

Hambatan biaya itu bertemu aturan yang ketat. Antibiotik di Malaysia hanya boleh diperoleh dengan resep, dan penegakannya disebut kuat. Penulis menyebut kedua hal ini mungkin menjadi alasan orang asing lebih jarang memakai antibiotik untuk pilek, sambil menegaskan bahwa sumbangan masing-masing masih perlu dibuktikan lewat penelitian lanjutan.

Baca juga Antibiotik Mengiringi Satu dari Tujuh Anak Italia sejak Bayi

Di antara yang berskor lebih tinggi, kelompok kewargaan dan wilayah tinggal ikut berkaitan

Yang memakai antibiotik untuk pilek atau sakit tenggorokanSeluruh penduduk 15 tahun ke atas: Prevalensi tertimbang 12 bulan terakhir 25,0; Penduduk dengan skor pengetahuan lebih tinggi: Prevalensi tertimbang 12 bulan terakhir 13,2.Yang memakai antibiotik untuk pilek atau sakittenggorokanPersen, perkiraan populasi tertimbang (Tabel 3 dan 4)010203025,0Seluruh penduduk 15 tahunke atas13,2Penduduk dengan skorpengetahuan lebih tinggiRentang kepercayaan 95%: 21,9-28,5 dan 7,5-22,0
Sumber: Zhuo-Lin Chong dan rekan, When good knowledge falls short: identity and geography drive inappropriate antibiotic use in Malaysia, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lalu kelompok kecil yang berskor pengetahuan lebih tinggi. Di antara penduduk dengan skor pengetahuan lebih tinggi, pemakaian antibiotik untuk pilek atau sakit tenggorokan dalam 12 bulan terakhir masih dilaporkan oleh 13,2 persen, dengan rentang kepercayaan 7,5 sampai 22,0 persen. Dalam perkiraan populasi, itu 299.689 orang dari 2.273.855, berasal dari 39 dari 206 sampel.

Di kelompok ini, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pendapatan rumah tangga tidak berhubungan bermakna secara statistik. Yang tetap bermakna dalam analisis multivariabel hanya kategori etnis atau kewarganegaraan dan lokasi tempat tinggal. Peluangnya lebih rendah pada penduduk negeri semenanjung di luar wilayah tengah dibanding wilayah tengah, dengan rasio odds terkoreksi 0,140 dan nilai p 0,001, serta pada warga Malaysia non-bumiputera dibanding warga Malaysia bumiputera, dengan rasio odds terkoreksi 0,147 dan nilai p 0,012.

Wilayah tengah yang dimaksud adalah Selangor, Negeri Sembilan, serta Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur dan Putrajaya. Negeri semenanjung lainnya meliputi Perlis, Kedah, Penang, Perak, Melaka, Johor, Pahang, Terengganu, dan Kelantan. Dalam survei, etnis dan kewarganegaraan dicatat sesuai dokumen resmi. Kelompok bumiputera terutama terdiri atas orang Melayu, orang asli di semenanjung, serta orang asal Sarawak dan Sabah. Kelompok non-bumiputera terutama keturunan migran berlatar Tionghoa atau India. Hasil ini adalah hubungan statistik dari survei potong lintang, yang menurut penulis tidak dapat menetapkan sebab-akibat.

Penulis menyebut studi ini sebagai yang pertama melaporkan pemakaian antibiotik yang tidak tepat di kalangan penduduk berpengetahuan lebih baik, dan literatur yang ada belum memuat analisis subkelompok serupa. Dari hasil itu mereka menarik implikasi untuk program intervensi: “Ini berarti intervensi pengetahuan saja tidak memadai untuk mengatasi persoalan ini di kalangan warga Malaysia bumiputera dan mereka yang tinggal di wilayah tengah yang lebih dekat ke ibu kota negara” (terjemahan).

Penulis menyebut beberapa dugaan penjelasan yang masih harus diuji lewat studi lanjutan, misalnya kurangnya dukungan sosial, anggapan bahwa pilek atau sakit tenggorokan lebih mengancam, atau keyakinan diri yang lebih tinggi dalam memakai antibiotik. Menurut mereka, hambatan perilaku dan hambatan struktural juga bisa menghalangi praktik yang baik meski pengetahuan tidak kurang.

Baca juga Anemia Dewasa Malaysia Turun ke 15 Persen, Perempuan Paling Rawan

Batas survei dan saran para penulis untuk rencana aksi resistansi

Para penulis menyebut beberapa batas studinya. Desain potong lintang tidak dapat membuktikan sebab-akibat, sehingga celah antara pengetahuan dan kebiasaan hanya terlihat sebagai hubungan. Pengakuan peserta bersandar pada ingatan, dan satu pertanyaan tunggal tentang kebiasaan bisa membuat beban sebenarnya tampak lebih kecil. Kelompok berskor lebih tinggi juga kecil, sehingga daya analisisnya mungkin terbatas.

Mereka juga membandingkan angka 25,0 persen itu dengan satu-satunya studi nasional lain di Malaysia pada 2019, yang mencatat prevalensi seumur hidup 47,3 persen memakai kuesioner gabungan tanpa batas waktu. Dengan memperhitungkan indikator lain yang tidak diukur, penulis menilai prevalensi pemakaian antibiotik yang tidak tepat di Malaysia bisa lebih tinggi dari perkiraan mereka.

Penulis berharap temuan ini dipakai untuk Rencana Aksi Malaysia tentang Resistansi Antimikroba 2022–2026 dan penyusunan rencana berikutnya, khususnya strategi peningkatan kesadaran serta pemakaian antimikroba yang tepat. Langkah yang menurut mereka dapat dipertimbangkan antara lain edukasi resistansi antimikroba yang lebih gencar untuk kelompok muda dan modul resistansi antimikroba di program kesehatan komunitas serta tempat kerja.

Dalam simpulannya, penulis menyarankan intervensi yang menaikkan pengetahuan penduduk secara umum, dengan penekanan pada usia di bawah 60 tahun. Bagi yang sudah berpengetahuan baik, intervensi juga perlu membantu orang mengatasi hambatan menuju perilaku yang diharapkan. Langkah di luar penyuluhan juga disebut layak dipertimbangkan, seperti dorongan perilaku, strategi komunikasi pemberi layanan dan pasien saat meresepkan, menyerahkan, dan memakai obat, serta pelatihan berkala wajib tentang tata kelola antimikroba bagi tenaga kesehatan.

Pertanyaan pertama di telepon itu tetap sesederhana semula. Namun, menurut survei ini, sebagian orang yang menjawab ya ternyata mampu menjawab benar lima atau enam soal yang datang sesudahnya, yakni 13,2 persen dari kelompok berskor pengetahuan lebih tinggi.

Bagikan

Baca Juga

Pekerja Konstruksi Jepang Jarang Periksa Henti Napas saat Tidur
Pengapuran Lutut Diidap Lebih dari Separuh Lansia Thailand
Lebih dari Sepertiga Pekerja Pabrik Tepung Goma Kena Darah Tinggi
Ahli Gizi Indonesia: Konsultasi Gizi Online Sulit Mengukur Tubuh
Berat Lahir Bayi Sri Lanka Naik Seiring Indeks Massa Tubuh Ibu
Fasilitas Kesehatan Desa Kenya Wajib Tunggu Izin untuk Beli Obat