Pengapuran Lutut Diidap Lebih dari Separuh Lansia Thailand

A A

Ilustrasi perempuan lansia bertongkat kayu berjalan di jalan desa, tampak dari belakang [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Osteoartritis lutut bergejala ditemukan pada 53,8 persen dari 2.947 lansia yang tinggal di tengah masyarakat di enam wilayah Thailand.
  • Dalam analisis multivariabel, rasio odds perempuan dibanding laki-laki tercatat 2,112 dan riwayat glukokortikoid 2,147.
  • Risiko jatuh tinggi ditemukan pada 52,0 persen pengidap pengapuran lutut dan 22,9 persen yang tanpa pengapuran lutut.
  • Osteoporosis lebih banyak pada pengidap, 31,7 persen berbanding 27,4 persen, sedangkan sarkopenia 15,1 persen berbanding 20,6 persen.
Daftar Isi
  1. Osteoartritis Lutut Bergejala, Nyeri yang Diperiksa Dokter
  2. Faktor Risiko, Ciri yang Lebih Sering Menyertai
  3. Glukokortikoid, Obat Golongan Steroid yang Ikut Tercatat
  4. Kualitas Hidup, Rapor Kesehatan dari Pengakuan Sendiri
  5. Risiko Jatuh, Skor Empat ke Atas pada Kuesioner
  6. Osteoporosis dan Sarkopenia, Gangguan Tulang dan Otot

Lutut yang nyeri, ditambah ciri lain seperti kaku sebentar di pagi hari atau berderak saat digerakkan, menjadi dasar diagnosis osteoartritis lutut bergejala, yang dalam bahasa sehari-hari kerap disebut pengapuran lutut. Di Thailand, kondisi itu ditemukan pada lebih dari separuh orang berusia 60 tahun ke atas yang diperiksa dalam sebuah survei nasional.

Angkanya 53,8 persen dari 2.947 lansia. Mereka adalah warga yang tinggal di tengah masyarakat, di enam wilayah Thailand, dari utara sampai selatan. Survei itu juga mengukur tulang, otot, dan risiko jatuh mereka.

Hasilnya ditulis Ekasame Vanitcharoenkul dan rekan dari Departemen Bedah Ortopedi, Fakultas Kedokteran Rumah Sakit Siriraj, Universitas Mahidol, Bangkok. Laporan berjudul Symptomatic knee osteoarthritis in older Thai adults: prevalence, risk factors, and associations with osteoporosis, sarcopenia, and fall risk—a nationwide cross-sectional study itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Latarnya disebut di bagian awal laporan. Thailand resmi menjadi masyarakat menua penuh pada 2023, dengan 14 juta orang berusia 60 tahun ke atas atau 20 persen penduduk. Dalam 15 tahun, jumlahnya diproyeksikan menjadi 21 juta orang, sekitar 30 persen penduduk.

Osteoartritis Lutut Bergejala, Nyeri yang Diperiksa Dokter

Istilah itu bukan sekadar keluhan pegal. Para penulis menyebut osteoartritis lutut sebagai penyakit sendi degeneratif yang terkait penuaan dan menjadi salah satu penyebab utama disabilitas pada lansia. Pada kasus berat, sendi lutut bahkan bisa perlu diganti lewat operasi. Dalam penelitian ini diagnosis ditegakkan dari riwayat dan pemeriksaan fisik dengan kriteria klinis, tanpa konfirmasi foto rontgen. Seseorang digolongkan mengidapnya bila lututnya nyeri dan memenuhi sedikitnya tiga dari enam ciri dalam kriteria klinis American College of Rheumatology.

Enam ciri itu adalah usia di atas 50 tahun, kaku pagi kurang dari 30 menit, bunyi berderak saat lutut digerakkan, nyeri saat tulang ditekan, tulang yang membesar, dan sendi yang tidak teraba hangat. Pemeriksaannya dilakukan dokter ortopedi terlatih di semua lokasi penelitian.

Survei induknya berlangsung Maret 2021 sampai Agustus 2022. Dari tiap wilayah dipilih dua provinsi, dari tiap provinsi sepuluh distrik pencacahan, dan dari tiap distrik 25 warga. Dari 3.000 peserta, 2.947 orang menyelesaikan wawancara sekaligus pemeriksaan. Rata-rata usia mereka 69,2 tahun, dan 63,3 persen perempuan. Rata-rata indeks massa tubuh atau IMT tercatat 24,0 kg/m2. Menurut para penulis, angka itu masih dalam rentang berat badan normal.

Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular

Faktor Risiko, Ciri yang Lebih Sering Menyertai

Siapa yang lebih mungkin mengidap pengapuran lututRiwayat glukokortikoid 2,147; Perempuan 2,112; Usia 80 tahun ke atas 2,055; IMT 25,0 kg/m2 ke atas 1,683; Usia 70-79 tahun 1,251; IMT 23,0-24,9 kg/m2 1,236; IMT di bawah 18,5 kg/m2 0,883.Siapa yang lebih mungkin mengidappengapuran lututRasio odds multivariabel osteoartritis lutut bergejala, 2.947lansia Thailand0,00,51,01,52,02,5Riwayat glukokortikoid2,147Perempuan2,112Usia 80 tahun ke atas2,055IMT 25,0 kg/m2 ke atas1,683Usia 70-79 tahun1,251IMT 23,0-24,9 kg/m21,236IMT di bawah 18,5 kg/m20,883Pembanding: usia 60-69 tahun, laki-laki, IMT 18,5-22,9. Dua baris IMTterbawah tidak bermakna (Tabel 2)
Sumber: Ekasame Vanitcharoenkul dan rekan, Symptomatic knee osteoarthritis in older Thai adults: prevalence, risk factors, and associations with osteoporosis, sarcopenia, and fall risk—a nationwide cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis menyebut ciri-ciri berikut sebagai faktor risiko independen. Di bagian keterbatasan, mereka mengakui desain potong lintang penelitian ini tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat. Ukuran yang dilaporkan adalah rasio odds dari regresi logistik, dengan semua variabel dalam model multivariabel dimasukkan bersamaan.

Pertama, jenis kelamin. Di antara pengidap, 71,5 persen perempuan, sedangkan di kelompok tanpa pengapuran lutut 53,7 persen. Dalam analisis multivariabel di Tabel 2, rasio odds perempuan dibanding laki-laki tercatat 2,112.

Lalu usia. Dibanding kelompok 60 sampai 69 tahun, rasio odds kelompok 70 sampai 79 tahun 1,251 dan kelompok 80 tahun ke atas 2,055. Pada lansia di atas 80 tahun, prevalensinya mencapai 63,6 persen. Menurut para penulis, prevalensi naik seiring usia dan IMT.

IMT juga ikut. Dibanding IMT 18,5 sampai 22,9, kelompok dengan IMT 25 ke atas, yang oleh para penulis digolongkan obesitas menurut batas Asia-Pasifik, memiliki rasio odds 1,683. Prevalensi pada kelompok itu 61,9 persen. Rata-rata IMT pengidap 24,6, sedangkan yang tanpa pengapuran lutut 23,2. Untuk IMT 23,0 sampai 24,9, rasio odds 1,236 tidak bermakna secara statistik, begitu pula kelompok dengan IMT di bawah 18,5.

Glukokortikoid, Obat Golongan Steroid yang Ikut Tercatat

Dalam laporan ini, paparan glukokortikoid disebut juga pemakaian steroid, terutama lewat suntikan ke dalam sendi. Riwayat memakainya tercatat pada 3,6 persen pengidap dan 1,8 persen yang tanpa pengapuran lutut. Rasio odds multivariabelnya 2,147, dengan nilai P 0,002.

Para penulis meminta angka itu dibaca hati-hati. “Namun, mengingat sifat potong lintang penelitian ini, kesimpulan sebab-akibat tidak dapat ditarik, dan hasil ini harus ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis Vanitcharoenkul dan rekan (terjemahan Cekricek.id). Mereka menyebut dua kemungkinan. Pemakaian steroid bisa menjadi penanda penyakit radang sendi yang mendasarinya, yang dengan sendirinya bisa memicu osteoartritis sekunder. Bisa juga arahnya terbalik, karena suntikan glukokortikoid ke sendi kerap diberikan sebagai pengobatan untuk penyakit yang sudah lanjut, bukan sebagai penyebab awal.

Penyakit penyerta lain tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok. Diabetes tercatat pada 17,9 persen pengidap dan 17,1 persen yang tanpa pengapuran lutut, sedangkan penyakit jantung koroner, paru obstruktif kronis, dan ginjal kronis juga tidak berbeda bermakna. Merokok dan minum alkohol justru lebih jarang di kalangan pengidap.

Baca juga Pinggang Relawan Kesehatan Desa Thailand Susut dalam Tiga Bulan

Kualitas Hidup, Rapor Kesehatan dari Pengakuan Sendiri

Kualitas hidup terkait kesehatan diukur dengan dua alat EuroQol. Yang pertama berupa indeks utilitas, yang kedua berupa skala analog visual, keduanya dari kondisi terburuk sampai terbaik. Pada keduanya, skor lebih tinggi berarti kesehatan lebih baik. Pengidap pengapuran lutut mendapat skor indeks rata-rata 0,848, sedangkan yang tanpa pengapuran lutut 0,925. Pada skala penilaian diri, angkanya 72,3 berbanding 79,0. Selisih keduanya bermakna secara statistik.

Performa fisik mereka juga lebih rendah. Tes timed up-and-go selesai dalam rata-rata 12,7 detik pada pengidap dan 10,9 detik pada yang lain. Lima kali berdiri dari kursi memakan 17,3 detik berbanding 15,3 detik. Kekuatan tungkai pengidap rata-rata 53,0 kg, sedangkan yang tanpa pengapuran lutut 62,3 kg. Massa otot rangka apendikular 17,0 berbanding 17,7 kg, dan kekuatan genggaman tangan 20,5 berbanding 23,2 kg. Menurut para penulis, perbedaan ini tidak bergantung pada IMT.

Risiko Jatuh, Skor Empat ke Atas pada Kuesioner

Jatuh dalam penelitian ini berarti kejadian tak terduga ketika tubuh berakhir di tanah atau permukaan yang lebih rendah dalam 12 bulan terakhir. Risikonya diukur dengan kuesioner 12 butir berbahasa Thai, dan skor empat ke atas digolongkan risiko tinggi.

Jatuh, tulang, dan otot menurut kondisi lututRisiko jatuh tinggi: Dengan OA lutut 52,0%, Tanpa OA lutut 22,9%; Jatuh dalam setahun: Dengan OA lutut 28,3%, Tanpa OA lutut 15,7%; Osteoporosis: Dengan OA lutut 31,7%, Tanpa OA lutut 27,4%; Sarkopenia: Dengan OA lutut 15,1%, Tanpa OA lutut 20,6%.Jatuh, tulang, dan otot menurut kondisi lututPersen peserta; OA lutut n=1.586, tanpa OA lutut n=1.361Dengan OA lututTanpa OA lutut0%20%40%60%52,0%22,9%Risiko jatuhtinggi28,3%15,7%Jatuh dalamsetahun31,7%27,4%Osteoporosis15,1%20,6%SarkopeniaDua kelompok kiri dari Tabel 3, dua kelompok kanan dari abstrak
Sumber: Ekasame Vanitcharoenkul dan rekan, Symptomatic knee osteoarthritis in older Thai adults: prevalence, risk factors, and associations with osteoporosis, sarcopenia, and fall risk—a nationwide cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di Tabel 3, risiko jatuh tinggi ditemukan pada 52,0 persen pengidap pengapuran lutut, kira-kira separuhnya, dan pada 22,9 persen yang tanpa pengapuran lutut. Riwayat jatuh dalam setahun terakhir tercatat 28,3 persen berbanding 15,7 persen.

Para penulis mengaitkan pola itu dengan kepustakaan tentang lemahnya otot paha depan, berkurangnya rasa posisi sendi, dan lutut yang goyah. Menurut mereka, pencegahan jatuh sebaiknya mengutamakan latihan kekuatan dan keseimbangan, penyesuaian lingkungan, serta alat bantu yang sesuai.

Osteoporosis dan Sarkopenia, Gangguan Tulang dan Otot

Kedua istilah ini disebut para penulis sebagai gangguan tulang dan otot yang terkait usia. Osteoporosis diperiksa dengan pemindaian dual-energy X-ray absorptiometry memakai kriteria WHO, sedangkan sarkopenia diukur dari massa otot, kekuatan, dan performa fisik menurut kriteria kelompok kerja Asia 2019.

Pada osteoporosis, pengidap pengapuran lutut lebih banyak terkena, yakni 31,7 persen berbanding 27,4 persen. Polanya paling menonjol pada kelompok usia 70 sampai 79 tahun. Sarkopenia sebaliknya lebih jarang pada pengidap, 15,1 persen berbanding 20,6 persen. Setelah IMT diperhitungkan, hubungan terbalik itu melemah, dan dalam kategori IMT yang sama perbedaan sarkopenia antara kedua kelompok tidak lagi bermakna. Para penulis menilai IMT yang lebih tinggi pada kelompok pengidap ikut menjelaskan angka itu.

Untuk tingginya angka di Thailand, para penulis menduga kebiasaan beraktivitas di lantai seperti jongkok dalam dan duduk bersila, ditambah kerja pertanian, ikut membebani lutut. Mereka menegaskan dugaan itu belum bisa dibuktikan sebagai sebab. Angka Thailand berada di ujung atas rentang Asia Tenggara, 11,0 sampai 62,9 persen.

Baca juga Petani Padi Roi-Et Paham Ergonomi, Nyaris Semua Tetap Nyeri Otot

Keterbatasannya diakui terbuka. Diagnosis tidak dikonfirmasi dengan rontgen, sehingga prevalensi bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi. Jatuh dilaporkan sendiri untuk 12 bulan ke belakang, dan pesertanya kebanyakan lansia sehat, sehingga kasus berat mungkin kurang terwakili.

Para penulis meringkas temuannya dalam satu kalimat. “Osteoartritis lutut bergejala dialami lebih dari separuh lansia Thailand dan berdampingan dengan beban kesehatan tulang dan otot yang besar,” tulis mereka. Mereka menganjurkan penilaian osteoporosis rutin dalam perawatan osteoartritis, program pencegahan jatuh, pengelolaan berat badan, dan pemakaian steroid yang cermat.

Bagikan

Baca Juga

Lebih dari Sepertiga Pekerja Pabrik Tepung Goma Kena Darah Tinggi
Ahli Gizi Indonesia: Konsultasi Gizi Online Sulit Mengukur Tubuh
Berat Lahir Bayi Sri Lanka Naik Seiring Indeks Massa Tubuh Ibu
Fasilitas Kesehatan Desa Kenya Wajib Tunggu Izin untuk Beli Obat
Diabetes di Rwanda Lebih Sering Ditemukan di Kota daripada Desa
Malaria Balita di Kota Tambang Ghana Banyak tapi Jarang Mematikan