- Sebanyak 54,8 persen ibu di Rumah Sakit Pendidikan Peradeniya tergolong ber-BMI tinggi sebelum hamil, hanya 13,8 persen yang kurus.
- Di antara bayi dari ibu kurus, 23,4 persen lahir berat rendah, proporsi tertinggi di antara tiga kelompok BMI.
- Setiap kenaikan satu satuan BMI sebelum hamil diikuti tambahan 17,4 gram berat lahir bayi.
- Dari 627 ibu ber-BMI tinggi, hanya 50 yang melahirkan bayi berat tinggi, sedangkan 78 melahirkan bayi berat rendah.
Daftar Isi
Berat badan seorang perempuan sebelum hamil mudah dianggap urusannya sendiri, perkara timbangan di kamar mandi yang tidak menyangkut siapa pun selain dirinya. Namun, sebuah penelitian di Provinsi Tengah Sri Lanka menunjukkan bahwa angka di timbangan itu tidak berhenti pada si ibu, melainkan ikut berjalan bersama kehamilannya, lalu tampak lagi beberapa bulan kemudian, ketika bayinya ditimbang untuk pertama kali di ruang bersalin.
Temuan itu tidak sederhana. Ibu yang kurus sebelum hamil lebih sering melahirkan bayi berat rendah, sedangkan ibu dengan indeks massa tubuh (BMI) tinggi lebih sering melahirkan bayi berat tinggi. Akan tetapi, di antara ibu ber-BMI tinggi itu, bayi yang lahir kecil justru lebih banyak daripada bayi yang lahir besar: 78 berbanding 50 bayi.
Penelitian ini ditulis oleh Maduwila Gamarachchige Dilini Vasana Kumari Kiridana dari Departemen Pediatri, Fakultas Kedokteran, Universitas Peradeniya, dan rekan dari Universitas Peradeniya, Universitas Colombo, serta Universitas Uni Emirat Arab. Laporan berjudul Pre-pregnancy BMI and gestational weight gain: determinants of birthweight of term neonates in central Sri Lanka, a low-middle-income country itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Mereka merekrut 1.537 ibu hamil di Rumah Sakit Pendidikan Peradeniya pada Agustus 2021 sampai September 2023 dan mengikutinya hingga bersalin; 1.143 pasangan ibu dan bayi cukup bulan dianalisis.
Timbangan yang Condong ke Atas
Gambaran pertama yang muncul dari data itu bukan kekurusan, melainkan sebaliknya. Dengan batas BMI WHO untuk populasi Asia, 54,8 persen ibu, atau 627 orang, tergolong ber-BMI tinggi sebelum hamil: 35,9 persen kelebihan berat badan dan 19,0 persen obesitas. Hanya 13,8 persen, atau 158 ibu, yang kurus. Median BMI seluruh ibu 23,2.
Berat yang dipakai bukan hasil ingatan si ibu. Para peneliti mengambil berat pada kunjungan pertama ke klinik Medical Officer of Health, yang tercatat di buku catatan kehamilan sebagai pengganti berat sebelum hamil, sedangkan tinggi badan diukur langsung saat wawancara. Kelompoknya dibagi empat: kurus di bawah 18,5, normal 18,5 sampai 22,9, kelebihan berat 23,0 sampai 27,5, dan obesitas di atas 27,5.
Menurut para penulis, angka itu jauh lebih tinggi daripada perkiraan Kent dan rekan, yang mencatat 28,5 persen kelebihan berat atau obesitas pada ibu di Asia. Di dalam negeri, studi Sri Lanka Child Growth Cohort, yang menurut para penulis punya kemiripan sosiodemografis dengan kohort mereka, mencatat 30,0 persen BMI tinggi sebelum hamil, sedangkan studi S-MaNGro mencatat 24,4 persen kelebihan berat dan 7,9 persen obesitas. Lebih tingginya angka obesitas ibu dalam populasi mereka, menurut para penulis, kemungkinan dijelaskan oleh dipakainya batas BMI Asia dalam analisis.
Untuk ibu kurus, angkanya berdekatan. Sri Lanka Child Growth Cohort melaporkan 15,0 persen ibu kurus, sedangkan S-MaNGro mencatat 14,4 persen dan disebut menunjukkan kecenderungan serupa. Para penulis juga menyebut buku pegangan lapangan Sri Lanka tahun 2016, yang mencatat perempuan kurus turun dari 23,8 persen pada 2012 menjadi 18,8 persen pada 2016, sementara perempuan berlebih berat, dengan BMI 25 ke atas, naik dari 16,2 persen menjadi 23,7 persen. Kecenderungan transisi demografis ini, tulis mereka, mungkin ikut menjelaskan tingginya kelebihan berat dan obesitas ibu dalam penelitian mereka.
Dua Ujung Timbangan Bayi
Di sisi bayi, sebagian besar lahir dengan berat normal, yakni 79,1 persen atau 904 bayi, dengan median berat lahir 2,9 kilogram. Namun, 14,8 persen, atau 169 bayi, lahir dengan berat rendah, di bawah 2,5 kilogram, dan 6,1 persen, atau 70 bayi, lahir dengan berat tinggi, 3,5 kilogram atau lebih. Semua bayi itu lahir cukup bulan, sebab bayi prematur memang tidak diikutsertakan.
Ketika bayi-bayi itu dipilah menurut BMI ibunya, polanya condong ke dua arah. Di antara 158 bayi dari ibu kurus, 23,4 persen lahir berat rendah, proporsi tertinggi di antara tiga kelompok, dibanding 15,1 persen pada ibu ber-BMI normal dan 12,4 persen pada ibu ber-BMI tinggi. Bayi berat tinggi sebaliknya paling banyak pada ibu ber-BMI tinggi, yakni 8,0 persen, dibanding 3,8 persen pada ibu kurus dan 3,9 persen pada ibu ber-BMI normal.
Baca juga Berat Badan Ibu Sebelum Hamil Terbawa ke Tubuh Anak di Taiwan
Namun, angka yang sama menyimpan kejutan kecil. Dari 627 ibu ber-BMI tinggi, hanya 50 yang melahirkan bayi berat tinggi, sedangkan 78 justru melahirkan bayi berat rendah. Para penulis menyebut obesitas ibu sebelum hamil dianggap faktor risiko bagi bayi yang kecil untuk usia kehamilannya, di samping bayi besar, walau menurut mereka baru sedikit studi yang menelaah hubungan obesitas ibu dengan bayi kecil.
Ketika Kenaikan Berat Tak Sampai Anjuran
Babak berikutnya terjadi selama kehamilan itu sendiri. Kenaikan berat ibu dinilai dengan anjuran Institute of Medicine (IOM), yang berbeda menurut BMI awal: 12,7 sampai 18,1 kilogram untuk ibu kurus, 11,3 sampai 15,9 kilogram untuk ibu normal, 6,8 sampai 11,3 kilogram untuk ibu berlebih berat, dan 5 sampai 9,1 kilogram untuk ibu obesitas. Kenaikan berat tercatat pada 1.060 ibu.
Hasilnya, kekurangan lebih sering daripada kelebihan. Sebanyak 56,4 persen ibu, atau 598 orang, naik berat di bawah anjuran, 31,8 persen sesuai anjuran, dan 124 ibu melampaui anjuran. Median kenaikannya 9,5 kilogram. Di antara ibu yang kenaikannya kurang, 17,1 persen bayinya lahir berat rendah, dibanding 11,8 persen pada ibu yang kenaikannya cukup dan 7,3 persen pada ibu yang kenaikannya berlebih.
Median berat lahir pun bergerak searah. Bayi dari ibu yang kenaikan beratnya kurang lahir dengan median 2,80 kilogram, lebih rendah secara bermakna dibanding 2,95 kilogram pada ibu dengan kenaikan cukup dan 3,05 kilogram pada ibu dengan kenaikan berlebih. Para penulis juga mencatat, 67,5 persen ibu yang melahirkan bayi berat rendah mengalami kenaikan berat di bawah anjuran.
Pola lain muncul dari hubungan BMI dengan kenaikan berat itu sendiri. Kenaikan berat selama hamil berkorelasi negatif sedang dengan BMI sebelum hamil, dan ibu yang kurus justru punya median kenaikan berat tertinggi, berbeda bermakna dari kelompok lain. Bahkan di antara ibu yang bayinya lahir normal, hanya 32,5 persen yang kenaikan beratnya sesuai anjuran, sedangkan 55,3 persen di bawahnya.
Gram demi Gram yang Ikut Bertambah
Ketika semua faktor itu dihitung bersama, dua angka menonjol. Setiap kenaikan satu satuan BMI sebelum hamil diikuti tambahan 17,4 gram berat lahir bayi, dan setiap kenaikan satu kilogram berat selama hamil diikuti tambahan 14,4 gram, setelah memperhitungkan tinggi ibu, jumlah kelahiran sebelumnya, usia ibu, etnis, penghasilan keluarga, dan jenis kelamin bayi. Tinggi ibu, jumlah kelahiran, etnis, dan jenis kelamin bayi juga ikut memprediksi berat lahir.
Hubungan itu searah, tetapi tidak kuat. Para penulis menyebut korelasi BMI ibu dengan berat lahir positif dan lemah, dengan nilai 0,137, begitu pula korelasi tinggi badan ibu dengan berat lahir, 0,217. Korelasi kenaikan berat dengan berat lahir juga positif dan bermakna, dengan nilai 0,135. Para penulis juga mendapati bayi dari ibu yang baru pertama kali melahirkan cenderung lebih ringan daripada bayi dari ibu yang sudah pernah melahirkan, terlepas dari BMI dan kenaikan beratnya.
Para penulis lalu menarik temuan itu ke konteks negara mereka. “Di negara seperti negara kami, yang terdampak beban ganda malanutrisi, obesitas ibu menimbulkan risiko tambahan berupa berat lahir rendah sebagai luaran kelahiran, di samping kelahiran berat tinggi,” tulis Dilini Vasana Kumari Kiridana dan rekan dalam pembahasan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Karena itu, menurut mereka, upaya mencegah kekurusan maupun obesitas pada perempuan usia subur dan mengoptimalkan kenaikan berat selama hamil perlu segera dijalankan.
Rasio odds yang telah disesuaikan menegaskan tiga hubungan yang bermakna. Dibanding ibu ber-BMI normal, ibu kurus lebih berpeluang melahirkan bayi berat rendah dengan rasio odds 1,99, dan ibu ber-BMI tinggi lebih berpeluang melahirkan bayi berat tinggi dengan rasio odds 2,18. Dibanding ibu dengan kenaikan berat cukup, ibu dengan kenaikan kurang lebih berpeluang melahirkan bayi berat rendah, dengan rasio odds 1,62. Hubungan lainnya dalam tabel itu tidak bermakna secara statistik.
Baca juga Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi
Batas yang Diakui Para Peneliti
Para penulis juga mencatat sejumlah keterbatasan. Mereka tidak dapat memperhitungkan semua faktor pengganggu, seperti jenis pekerjaan, penyakit penyerta ibu, tingkat aktivitas fisik, pola makan, dan intervensi di tingkat lapangan yang mungkin memengaruhi kenaikan berat. Pengaruh usia kehamilan terhadap berat lahir juga tidak dianalisis, padahal menurut mereka pengaruhnya bisa berarti.
Komplikasi kehamilan seperti hipertensi, diabetes kehamilan, dan anemia jarang ditemukan dalam kelompok ibu ini, sehingga bukti tentang pengaruhnya tidak bisa diperoleh. Penelitian juga hanya berlangsung di Provinsi Tengah, sehingga hasilnya mungkin tidak mewakili seluruh penduduk Sri Lanka. Para penulis menyebut studi prevalensi di berbagai wilayah diperlukan untuk memastikan apakah temuan ini bisa digeneralisasi.
Sebaliknya, mereka menyebut beberapa kekuatan. Ibu dalam kohort ini beragam, dari yang kurus sampai yang ber-BMI tinggi, dengan kenaikan berat yang berbeda-beda, dan bayinya pun tersebar di ketiga kategori berat lahir. Temuan mereka juga sejalan dengan laporan dari wilayah lain di negeri itu, meski memperlihatkan kecenderungan BMI ibu yang meningkat pada populasi yang diteliti.
Baca juga Usia Kehamilan Terkait Anemia Ibu Hamil di Puskesmas Prambanan
Sebelum Kehamilan Dimulai
Dari temuan itu, para penulis menarik saran yang menjangkau masa sebelum kehamilan. Program kesehatan ibu nasional, menurut mereka, perlu menyasar masa sebelum hamil dan masa di antara dua kehamilan untuk mencapai BMI yang sehat, serta masa kehamilan itu sendiri untuk mencapai kenaikan berat yang sehat. “Baik BMI ibu sebelum hamil maupun kenaikan berat selama hamil secara bermakna dan positif memprediksi berat lahir bayi cukup bulan,” tulis mereka.
Pengetahuan menjadi bagian lain dari saran itu. Para penulis mengutip studi yang menunjukkan bahwa ibu hamil yang tahu anjuran kenaikan berat cenderung menaikkan beratnya secara lebih tepat, serta studi lokal yang mendapati ibu hamil berlebih berat paling mungkin meremehkan status beratnya sendiri. Kurangnya kesadaran itu, menurut studi tersebut, mungkin ikut menjelaskan meningkatnya BMI tinggi pada perempuan usia subur.
Yang belum terjawab tinggal pada bayi-bayi kecil dari ibu ber-BMI tinggi, yakni 78 bayi yang lahir berat rendah meski ibunya ber-BMI tinggi. Para penulis sendiri menyatakan perlunya studi lanjutan tentang faktor yang memengaruhi pertumbuhan janin pada ibu ber-BMI tinggi. Jika timbangan ibu memang terbawa sampai ke ruang bersalin, apa yang membuat pada sebagian ibu itu ia justru tiba dalam wujud bayi yang lebih kecil?















