- Sebanyak 18 dari 116 personel komando federal India di Gujarat punya lemak tubuh 25 persen atau lebih.
- Kriteria BMI versi WHO tidak menandai seorang pun sebagai obesitas, sedangkan kriteria BMI Asia menandai 28 persen.
- Dari 32 personel yang ditandai obesitas oleh BMI Asia, hanya 14 yang benar-benar obesitas menurut lemak tubuhnya.
- Setiap tambahan 1.000 MET-menit aktivitas fisik per minggu berkaitan dengan peluang obesitas 31 persen lebih rendah.
Daftar Isi
Persen lemak tubuh, atau percent body fat, diukur tim peneliti India pada 116 anggota pasukan komando federal di Gujarat, India bagian barat. Hasilnya, kira-kira satu dari enam anggota komando itu tergolong obesitas menurut ukuran lemak tubuh.
Sementara itu, ukuran yang paling banyak dipakai dalam riset militer India, yaitu indeks massa tubuh atau BMI versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tidak menandai satu pun dari mereka sebagai obesitas. Ukuran BMI versi Asia justru menandai lebih banyak orang daripada ukuran lemak tubuh.
Penelitian itu ditulis Devika Bhat dari Gujarat Adani Institute of Medical Sciences di Bhuj, yang saat penelitian bertugas sebagai dokter spesialis di Rumah Sakit Militer Ahmedabad, bersama enam rekan dari ICMR–National Institute of Occupational Health di Ahmedabad. Laporan berjudul Prevalence and predictors of percent body fat–defined obesity among federal contingency force commandos in India: Implications for military obesity standards itu terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026.
Persen Lemak Tubuh, Porsi Lemak dalam Berat Badan
Pasukan yang diteliti adalah Indian federal contingency force, unit komando elite yang dilatih untuk perang nonkonvensional seperti operasi kontraterorisme. Anggotanya relawan dari Angkatan Darat India dan dari pasukan polisi bersenjata pusat, yang di India disebut CAPF. Hanya sebagian kecil calon dengan kebugaran luar biasa yang lolos seleksi ke unit ini.
Unit yang dipilih punya kekuatan 184 personel. Pengukuran berlangsung pada Maret dan April 2024, dan 116 orang ikut serta. Sisanya, 68 orang, sedang ditugaskan dalam operasi di tempat lain. Tidak ada personel yang hadir yang menolak ikut.
Lemak tubuh diukur dengan alat InBody 770, sebuah penganalisis impedansi bioelektrik. Alat itu mengalirkan arus listrik yang tidak terasa melalui lima bagian tubuh, yaitu kedua lengan, batang tubuh, dan kedua tungkai, pada enam frekuensi berbeda.
Batas obesitas yang dipakai adalah persen lemak tubuh 25 persen atau lebih, sesuai pedoman Endocrine Society of India untuk laki-laki. Semua peserta memang laki-laki, karena unit itu tidak memiliki personel perempuan. Usia rata-rata mereka 34,7 tahun, dengan yang termuda 25 tahun dan yang tertua 53 tahun.
Sebagian besar peserta, 77,6 persen, berpangkat bintara, 21,6 persen junior commissioned officer, jenjang di antara bintara dan perwira, serta satu orang perwira. Sebanyak 53 persen berasal dari Angkatan Darat, sisanya 47 persen dari CAPF. Rata-rata persen lemak tubuh peserta 20,4 persen, dengan rentang dari 10,0 sampai 30,7 persen. Rata-rata massa lemak mereka 15,0 kilogram dan massa bebas lemak 57,9 kilogram. Berat badan rata-rata 72,9 kilogram dengan tinggi rata-rata 174,3 sentimeter.
Obesitas Lemak Tubuh, Satu dari Enam Komando
Dengan acuan persen lemak tubuh, angka obesitas di unit itu 16 persen. Dalam hitungan orang, ada 18 dari 116 personel yang lemak tubuhnya mencapai 25 persen atau lebih. Para penulis menyebutnya sebagai beban kelebihan lemak yang berarti pada populasi yang terlatih secara fisik.
Angka itu, menurut Bhat dan rekan, sebanding dengan 18 persen yang dilaporkan dalam penelitian terdahulu pada personel angkatan laut India. Bedanya, penelitian di angkatan laut itu menaksir lemak tubuh dari pengukuran lipatan kulit, bukan dengan impedansi bioelektrik seperti di Gujarat.
Dua ukuran lain memberi angka yang sangat berbeda. Kriteria BMI Asia menandai 28 persen personel sebagai obesitas, lebih tinggi dari angka lemak tubuh. Kriteria BMI WHO tidak menandai seorang pun. Para penulis menulis bahwa kriteria Asia melebih-lebihkan, sedangkan kriteria WHO jauh meremehkan jumlah personel yang obesitas.
Baca juga Atlet Muda Estonia Tetap Bisa Kegemukan meski Rajin Berlatih
Mengapa ukuran WHO luput seluruhnya? Bhat dan rekan mengaitkannya dengan kecenderungan ambang BMI WHO meremehkan lemak tubuh pada penduduk Asia Selatan, yang kelebihan lemak dan risiko metaboliknya bisa menumpuk pada nilai BMI lebih rendah. Karena itu, angka hampir nol menurut ukuran WHO dinilai kecil kemungkinannya mencerminkan beban lemak berlebih yang sebenarnya.
BMI Asia, Ambang 25 untuk Tubuh Orang India
BMI dihitung dari berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter. Kriteria Asia menetapkan obesitas pada BMI 25 atau lebih, sesuai anjuran untuk penduduk India, sementara kriteria WHO baru pada BMI 30.
Rata-rata BMI peserta 24,0, dengan nilai tertinggi 28,7, sehingga tak satu pun mencapai 30. Kriteria Asia menandai 32 personel sebagai obesitas. Dari 32 orang itu, hanya 14 yang benar-benar obesitas menurut lemak tubuhnya, sedangkan 18 lainnya tergolong salah tanda. Dari 84 personel yang dinyatakan tidak obesitas oleh kriteria Asia, 80 memang tidak obesitas. Empat orang sisanya ternyata punya lemak tubuh 25 persen atau lebih, tetapi lolos dari saringan BMI.
Pola ini berlawanan dengan yang biasa ditemukan di masyarakat umum India. Menurut para penulis, penelitian komunitas di India umumnya mendapati angka obesitas lemak tubuh lebih tinggi daripada angka BMI Asia. Di unit komando itu yang terjadi justru sebaliknya, yang menurut mereka menunjukkan peserta membawa massa bebas lemak yang secara proporsional lebih besar.
“Kesesuaian yang terbatas antara klasifikasi berbasis BMI dan berbasis persen lemak tubuh menunjukkan bahwa nilai BMI yang tinggi pada personel militer yang terlatih secara fisik mungkin tidak selalu mencerminkan kelebihan lemak tubuh,” tulis Bhat dan rekan (terjemahan Cekricek.id).
Sensitivitas dan Spesifisitas, Kejelian Sebuah Saringan
Dibandingkan dengan acuan persen lemak tubuh, kriteria BMI Asia mencatat sensitivitas 78 persen dan spesifisitas 82 persen. Nilai prediktif positifnya 44 persen, yang oleh para penulis disebut sedang. Menurut mereka, angka itu menunjukkan banyak orang yang ditandai obesitas oleh BMI Asia ternyata tidak obesitas menurut ukuran lemak tubuh. Sebaliknya, nilai prediktif negatif 95 persen menunjukkan orang yang dinyatakan tidak obesitas oleh BMI kecil kemungkinannya punya lemak berlebih.
Para penulis membaca kedua angka itu sebagai dukungan bagi BMI sebagai alat penyaring tahap pertama, terutama untuk menyingkirkan kemungkinan obesitas. Rendahnya nilai prediktif positif, menurut mereka, sebagian mungkin terkait dengan angka obesitas lemak tubuh yang relatif rendah di kelompok ini, yaitu 16 persen.
Secara keseluruhan, kemampuan BMI membedakan personel yang obesitas dan yang tidak dinilai baik, dengan nilai area di bawah kurva 0,85. Tim juga mencari titik potong BMI terbaik dan mendapatkan angka 25,4, hanya sedikit di atas ambang Asia 25.
Dengan titik potong 25,4, spesifisitas naik sedikit menjadi 89 persen dan nilai prediktif positif menjadi 54 persen, tetapi sensitivitas turun menjadi 72 persen. Kesesuaian antara BMI Asia dan lemak tubuh, diukur dengan statistik kappa, sebesar 0,45, yang oleh para penulis disebut sedang.
Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Rasio Odds, Usia, Asal Dinas, dan Aktivitas Fisik
Tim juga mencatat aktivitas fisik dalam satuan MET-menit per minggu. MET adalah perbandingan energi yang dipakai saat bergerak dengan energi saat istirahat. Lari latihan, angkat beban, dan latihan di gimnasium dihitung delapan MET, sedangkan membersihkan senjata, baris-berbaris, yoga, berjalan, dan bersepeda empat MET. Personel yang tidak obesitas mencatat aktivitas fisik rata-rata 4.670 MET-menit per minggu. Personel yang obesitas mencatat 3.640 MET-menit per minggu. Perbedaan itu bermakna secara statistik, dengan nilai p 0,010.
Dalam analisis yang menimbang beberapa faktor sekaligus, tim melaporkan rasio odds yang disesuaikan. Setiap tambahan 1.000 MET-menit aktivitas fisik per minggu berkaitan dengan peluang obesitas 31 persen lebih rendah, dengan rasio odds yang disesuaikan 0,69.
Usia bergerak ke arah sebaliknya. Setiap tambahan satu tahun usia berkaitan dengan peluang obesitas 15 persen lebih tinggi, dengan rasio odds 1,15. Para penulis menduga hal ini terutama terkait peralihan dari tugas operasi aktif ke jabatan administratif yang lebih banyak duduk seiring naiknya senioritas.
Asal dinas juga berkaitan. Personel yang berasal dari CAPF punya peluang obesitas 75 persen lebih rendah dibanding yang berasal dari Angkatan Darat, dengan rasio odds 0,25. Bhat dan rekan mengakui tidak mengumpulkan data tentang perbedaan tugas kedua kelompok, sehingga penjelasan pasti belum bisa diberikan.
Kemungkinan yang mereka ajukan adalah sebaran peran tempur dan nontempur yang berbeda antara rekrutan Angkatan Darat dan CAPF di lokasi itu. Ketiga faktor, yaitu usia, asal dinas, dan aktivitas fisik, tetap bermakna setelah tim mengendalikan risiko temuan kebetulan akibat banyaknya pengujian.
Baca juga Calon Dokter India Rajin Cek Kedaluwarsa, Jarang Baca Label Gizi
Kebiasaan makan justru tidak memberi beda. Tim memakai Adult Eating Behavior Questionnaire, kuesioner 35 butir tentang delapan sifat makan, seperti menikmati makanan, makan karena emosi, dan cepat merasa kenyang. Skor kelompok obesitas dan tidak obesitas tidak berbeda bermakna pada sifat mana pun. Para penulis menduga kuesioner itu mungkin kurang cocok bagi pasukan yang latihannya menekankan ketahanan mental, selain kemungkinan daya statistik yang terbatas.
Studi Potong Lintang, Batas Kesimpulan Penelitian
Penelitian ini berjenis potong lintang, dengan seluruh pengukuran dilakukan selama dua bulan, Maret dan April 2024. Para penulis menegaskan desainnya membatasi kesimpulan sebab-akibat antara faktor yang ditemukan dan status obesitas. Jumlah peserta yang kecil membuat rentang kepercayaan lebar dan membatasi penerapan temuan pada seluruh pasukan komando federal. Asupan makanan tiap orang tidak dinilai karena peserta makan di dapur umum yang sama, padahal pilihan makanan di sana dan jajanan di luar bisa berbeda.
Alat impedansi bioelektrik juga diketahui sedikit meremehkan persen lemak tubuh dibanding pemindaian sinar-X energi ganda, sehingga sebagian status obesitas mungkin salah tergolong. Waktu duduk tidak diukur tersendiri, karena kuesioner aktivitas yang dipakai tidak memasukkannya ke dalam hitungan MET-menit. Persen lemak tubuh juga tidak membedakan sebaran lemak, misalnya lemak viseral di sekitar organ dalam dan lemak di bawah kulit, yang menurut para penulis bisa lebih erat kaitannya dengan risiko jantung dan metabolik daripada lemak tubuh total.
Untuk pasukan komando federal India, para penulis menyarankan kriteria BMI Asia, bukan ambang WHO, sebagai alat penyaring obesitas. Bila memungkinkan dalam operasi, pengukuran lemak tubuh dengan alat portabel bisa melengkapi, agar personel tidak perlu ditempatkan dalam kategori medis lebih rendah tanpa alasan. Upaya pencegahan, menurut mereka, sebaiknya mendahulukan personel yang lebih tua dan mereka yang berada dalam peran dengan aktivitas fisik lebih rendah. Penelitian multipusat yang lebih besar dibutuhkan untuk menguji temuan ini di berbagai satuan militer India.














