Tensi Tinggi Lebih Kerap pada Pelajar Mesir yang Jarang Bergerak

A A

Ilustrasi tangan petugas berjas putih mengukur tekanan darah dengan manset tensimeter di lengan pasien [Foto: Pexels]

  • Dari 856 pelajar berusia 11 sampai 14 tahun di Damanhur, 9,1 persen bertekanan darah meningkat dan 6,9 persen mengalami hipertensi.
  • Angka hipertensi turun dari 17,2 persen pada pembacaan pertama menjadi 6,9 persen pada diagnosis akhir.
  • Anak yang bergerak sekali seminggu atau kurang mencatat rasio odds yang disesuaikan sebesar 15,679 untuk tekanan darah tinggi.
  • Pada anak yang menambahkan garam, 18,5 persen bertekanan darah meningkat dan 15,6 persen mengalami hipertensi.
Daftar Isi
  1. Angka Hipertensi Menyusut dari Pembacaan Pertama ke Ketiga
  2. Lebih Banyak pada Siswi, Rata-rata Usianya Sedikit Lebih Tinggi
  3. Anak yang Bergerak Setiap Hari Hampir Semuanya Normal
  4. Garam Meja, Piring Berisiko, dan Riwayat Keluarga
  5. Lingkar Pinggang Paling Besar pada Kelompok Hipertensi
  6. Lima Faktor yang Bertahan dalam Analisis Bersama
  7. Satu Kegubernuran dan Batas Sebuah Potret

Seorang pelajar duduk dengan punggung bersandar, lengan kanannya terbuka, dan manset tensimeter air raksa melingkari lengan atasnya setelah ia beristirahat sedikitnya sepuluh menit. Angka yang terbaca hari itu bisa menggolongkannya sebagai anak dengan hipertensi. Pada hari berikutnya, dengan alat dan cara yang sama, golongannya bisa bergeser. Di empat sekolah persiapan negeri di Damanhur, Mesir, angka hipertensi pada pembacaan pertama menyusut tajam sebelum diagnosis ditetapkan.

Yang tersisa sesudah tiga kali pemeriksaan tetap tidak kecil. Dari 856 pelajar berusia 11 sampai 14 tahun, 9,1 persen tergolong bertekanan darah meningkat dan 6,9 persen mengalami hipertensi. Survei itu juga menemukan bahwa anak yang jarang bergerak, yang biasa menambahkan garam meja ke makanannya, serta yang kelebihan berat badan atau obesitas lebih mungkin masuk golongan tekanan darah tinggi.

Temuan tersebut dilaporkan Ehab Elrewany dari Departemen Kesehatan Tropis, Institut Tinggi Kesehatan Masyarakat, Universitas Alexandria, dan rekan-rekannya dari universitas yang sama. Laporan mereka berjudul Prevalence and predictors of pediatric high blood pressure: an Egyptian school-based survey dan dimuat di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para pelajar dipilih secara acak bertahap dari dua sekolah putra dan dua sekolah putri di Distrik Damanhur, Kegubernuran El-Beheira, dengan tingkat partisipasi 93,9 persen.

Angka Hipertensi Menyusut dari Pembacaan Pertama ke Ketiga

Persoalannya terletak pada cara tekanan darah anak dibaca. Berbeda dari orang dewasa, golongan tekanan darah anak dalam penelitian ini ditentukan menurut patokan Amerika terbaru untuk anak dan remaja sehat. Bagi pelajar di atas 13 tahun, misalnya, tekanan di bawah 120/80 mmHg dianggap normal, 120 sampai 129 dengan diastolik di bawah 80 tergolong meningkat, dan 130/80 sampai 139/89 sudah masuk hipertensi derajat satu.

Setiap anak diukur tiga kali dengan jeda dua menit, lalu rata-ratanya dicatat. Anak yang angkanya tinggi diperiksa ulang pada tiga hari berturut-turut, dan hanya yang tetap tinggi sepanjang tiga kunjungan itu yang didiagnosis. Dalam data mereka, angka hipertensi bergerak turun dari satu pembacaan ke pembacaan berikutnya: 17,2 persen pada pembacaan pertama, 11,8 persen pada pembacaan kedua, dan 6,9 persen pada diagnosis akhir.

Angka hipertensi menyusut setelah tiga kali pembacaanNormal 78,4% ke 84,0%; Meningkat 4,4% ke 9,1%; Hipertensi 17,2% ke 6,9%; Hipertensi derajat 1 12,3% ke 5,6%; Hipertensi derajat 2 4,9% ke 1,3%.Angka hipertensi menyusut setelah tiga kalipembacaanPersen pelajar menurut status tekanan darah (normal,meningkat, hipertensi), 856 pelajar usia 11-14 tahun diDamanhur, MesirPembacaan pertamaDiagnosis setelah 3 pembacaan0%20%40%60%80%100%Normal78,4%84,0%Meningkat4,4%9,1%Hipertensi6,9%17,2%Hipertensi derajat 15,6%12,3%Hipertensi derajat 21,3%4,9%Pembacaan kedua: normal 80,8%; meningkat 7,4%; hipertensi 11,8%
Sumber: Ehab Elrewany dan rekan, Prevalence and predictors of pediatric high blood pressure: an Egyptian school-based survey, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Golongan tekanan darah meningkat justru bergerak ke arah sebaliknya, dari 4,4 persen menjadi 9,1 persen, sedangkan golongan normal naik dari 78,4 persen menjadi 84 persen. Hipertensi derajat dua, golongan paling berat dalam klasifikasi itu, menyusut dari 4,9 persen pada pembacaan pertama menjadi 1,3 persen sesudah tiga pembacaan, atau 11 anak. Seluruh pelajar dengan hipertensi derajat dua langsung dirujuk untuk konsultasi medis.

Para penulis menyebut kepatuhan pada teknik tiga pembacaan terpisah sangat membantu untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. Teknik itu, tulis mereka, menghindari hipertensi jas putih dan menyingkirkan pengaruh lain seperti aktivitas anak, suasana hatinya, serta keadaan sekitar saat diukur. Meski pengukuran dilakukan pada tiga hari berturut-turut, “prevalensi hipertensi turun kira-kira 60 persen, dari 17,2 persen pada pembacaan pertama menjadi 11,8 persen pada pembacaan kedua dan mencapai 6,9 persen pada pembacaan ketiga,” tulis Elrewany dan rekan, dalam terjemahan.

Baca juga Kunjungan Hipertensi Naik pada Hari Bursa Saham China Turun

Lebih Banyak pada Siswi, Rata-rata Usianya Sedikit Lebih Tinggi

Dari ciri sosial dan demografi yang diperiksa, hanya usia dan jenis kelamin yang berhubungan bermakna dengan status tekanan darah. Rata-rata usia pelajar bertekanan darah normal 13,27 tahun, sedangkan kelompok bertekanan darah meningkat 13,49 tahun dan kelompok hipertensi 13,46 tahun. Perbedaan ketiganya bermakna secara statistik, sementara tingkat kelas di sekolah tidak menunjukkan hubungan bermakna.

Perbedaan menurut jenis kelamin lebih mencolok. Di antara 430 siswi, 12,6 persen bertekanan darah meningkat dan 10 persen mengalami hipertensi, sementara di antara 426 siswa angkanya 5,6 persen dan 3,8 persen. Pendidikan ayah maupun pendidikan ibu, sebaliknya, tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan tekanan darah anak.

Siswi juga lebih sering kelebihan berat badan dalam data ini. Obesitas tercatat pada 15,3 persen siswi dibanding 11,7 persen siswa, kelebihan berat badan pada 15,8 persen dibanding 10,1 persen, dan obesitas perut pada 40,5 persen dibanding 27,9 persen. Para penulis menyebut lebih tingginya hipertensi pada anak perempuan sejalan dengan lebih tingginya hipertensi pada perempuan dewasa dibanding laki-laki di Mesir, sebagaimana tercantum dalam laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2023.

Anak yang Bergerak Setiap Hari Hampir Semuanya Normal

Kuesioner penelitian ini juga menanyakan seberapa sering anak aktif secara fisik, dan jawabannya terbagi ke dalam tiga kelompok. Sebanyak 59 persen pelajar aktif secara fisik setiap hari, yang dalam kuesioner berarti sedikitnya lima hari seminggu. Lalu 27 persen bergerak dua sampai tiga kali seminggu, dan 14 persen hanya sekali seminggu atau kurang.

Di kelompok yang paling jarang bergerak, 25 persen bertekanan darah meningkat dan 17,5 persen mengalami hipertensi, sehingga hanya 57,5 persen yang bertekanan darah normal. Pada kelompok dua sampai tiga kali seminggu, angkanya 17,3 persen dan 14,7 persen. Di antara anak yang bergerak setiap hari, hanya 1,6 persen yang bertekanan darah meningkat dan 0,8 persen yang hipertensi, sementara 97,6 persen bertekanan darah normal.

Baca juga Atlet Muda Estonia Tetap Bisa Kegemukan meski Rajin Berlatih

Garam Meja, Piring Berisiko, dan Riwayat Keluarga

Kuesioner yang sama menanyakan apakah anak menambahkan garam meja saat makan, dan 40,4 persen menjawab ya. Selain itu, frekuensi makan sepuluh jenis makanan ditanyakan, mulai dari sayur dan buah sampai makanan asin, saus, daging olahan, gorengan, makanan cepat saji, cokelat dan biskuit, minuman ringan, serta jus kalengan. Dari skor itu, 28,9 persen pelajar tergolong berpola makan berisiko tinggi.

Pada anak yang menambahkan garam, 18,5 persen bertekanan darah meningkat dan 15,6 persen mengalami hipertensi. Pada anak yang tidak menambahkan garam, angkanya hanya 2,7 persen dan 1 persen. Pada pola makan berisiko tinggi, 16,6 persen bertekanan darah meningkat dan 15 persen mengalami hipertensi, dibandingkan 6,1 persen dan 3,6 persen pada pola makan berisiko rendah.

Riwayat keluarga ikut terbaca dalam data. Kira-kira seperlima pelajar, tepatnya 20,1 persen, melaporkan ada anggota keluarga dengan hipertensi. Di kelompok ini, hipertensi tercatat pada 12,8 persen anak, dibanding 5,4 persen pada anak tanpa riwayat tersebut. Riwayat keluarga diabetes, penyakit jantung, dan obesitas tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan tekanan darah pelajar.

Lingkar Pinggang Paling Besar pada Kelompok Hipertensi

Ukuran tubuh membentuk urutan yang rapi. Rata-rata lingkar pinggang pelajar dengan hipertensi 87,66 sentimeter, kelompok bertekanan darah meningkat 84,32 sentimeter, dan kelompok normal 75,07 sentimeter. Indeks massa tubuh mengikuti urutan yang sama, yakni 25,92, 24,14, dan 19,78 kilogram per meter persegi, dengan perbedaan yang bermakna secara statistik.

Di antara anak obesitas, 24,1 persen mengalami hipertensi dan 21,6 persen bertekanan darah meningkat. Hipertensi tercatat pada 9,9 persen anak dengan kelebihan berat badan dan 3,4 persen anak berberat normal. Anak dengan obesitas perut, yang ditentukan dari rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dengan batas 0,5, mencatat hipertensi 13,7 persen, dibanding 3,4 persen pada anak tanpa obesitas perut.

Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas

Lima Faktor yang Bertahan dalam Analisis Bersama

Hubungan-hubungan tadi masih diuji satu per satu. Para peneliti kemudian memasukkan faktor yang lolos penyaringan awal ke dalam satu analisis multivariat untuk melihat mana yang tetap bermakna. Hasilnya menyisakan lima butir: aktivitas fisik sekali seminggu atau kurang, aktivitas fisik dua sampai tiga kali seminggu, kebiasaan menambahkan garam meja, kelebihan berat badan, dan obesitas.

Dengan anak yang aktif setiap hari sebagai pembanding, anak yang bergerak sekali seminggu atau kurang mencatat rasio odds yang disesuaikan sebesar 15,679 untuk tekanan darah tinggi, dan anak yang bergerak dua sampai tiga kali seminggu 10,738. Rasio odds yang disesuaikan untuk kebiasaan menambahkan garam meja 5,745. Dengan berat normal sebagai pembanding, angkanya 7,463 untuk obesitas dan 2,735 untuk kelebihan berat badan.

Rasio odds tertinggi ada pada anak yang jarang bergerakAktivitas fisik sekali seminggu atau kurang: Rasio odds disesuaikan 15,679; Aktivitas fisik 2-3 kali seminggu: Rasio odds disesuaikan 10,738; Obesitas: Rasio odds disesuaikan 7,463; Menambahkan garam meja: Rasio odds disesuaikan 5,745; Kelebihan berat badan: Rasio odds disesuaikan 2,735.Rasio odds tertinggi ada pada anak yangjarang bergerakRasio odds yang disesuaikan untuk tekanan darah tinggi,analisis multivariat, 856 pelajar4812160Aktivitas fisik sekali seminggu atau kurang15,679Aktivitas fisik 2-3 kali seminggu10,738Obesitas7,463Menambahkan garam meja5,745Kelebihan berat badan2,735Pembanding: aktif setiap hari; berat badan normal. Semua p<0,05
Sumber: Ehab Elrewany dan rekan, Prevalence and predictors of pediatric high blood pressure: an Egyptian school-based survey, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sebaliknya, beberapa faktor yang tampak kuat saat diuji sendiri tidak lagi bermakna dalam analisis bersama. Jenis kelamin perempuan, usia, pola makan berisiko tinggi, riwayat hipertensi dalam keluarga, dan obesitas perut termasuk di dalamnya. Rasio odds kasar untuk siswi, misalnya, 2,811, tetapi rasio odds yang disesuaikan menjadi 0,925 dengan nilai p 0,794.

Para penulis menawarkan satu penjelasan mengapa obesitas dan kelebihan berat badan konsisten muncul sebagai prediktor, baik dalam penelitian ini maupun penelitian sebelumnya. Menurut mereka, keduanya bersandar pada ukuran tubuh yang diukur langsung, yaitu berat, tinggi, dan lingkar pinggang. Riwayat keluarga, aktivitas fisik, dan kebiasaan makan, sebaliknya, bergantung pada ingatan responden.

Satu Kegubernuran dan Batas Sebuah Potret

Elrewany dan rekan menyatakan desain potong lintang penelitian ini tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat antara faktor risiko dan tekanan darah tinggi. Pengukuran juga dilakukan pada tiga hari berturut-turut, bukan pada tiga kesempatan terpisah seperti dalam pedoman yang mereka ikuti. Data pola makan dan aktivitas fisik pun dilaporkan sendiri oleh anak sehingga bisa terpengaruh bias ingatan.

Cakupannya terbatas pada satu kegubernuran. Agar dapat digeneralisasi ke seluruh Mesir, tulis mereka, penelitian ini perlu diulang di semua kegubernuran. Mereka mengusulkan studi potong lintang nasional di banyak pusat, penyusunan profil tekanan darah normatif khusus anak Mesir, serta studi kohort jangka panjang yang mengikuti anak dari waktu ke waktu untuk memastikan sebab dari faktor-faktor yang ditemukan.

“Skrining terhadap anak sekolah secara gamblang mengungkap tingginya frekuensi tekanan darah tinggi, yakni tekanan darah meningkat dan hipertensi, di kalangan pelajar sekolah persiapan,” tulis Elrewany dan rekan dalam kesimpulan mereka, dalam terjemahan. Mereka menilai penting untuk menerapkan strategi pencegahan yang menekankan kesadaran, skrining, dan deteksi dini tekanan darah meningkat dan hipertensi pada anak.

Bagikan

Baca Juga

Kematian Terkait Polusi di Khorramabad Turun Lebih dari Separuh
Guru Besar UNAIR Desak UU PMI Atur Kesehatan Saat Kepulangan
Air Keran Berkapur di Inggris Berkaitan dengan Kematian Kanker
Hampir Seperlima Anak di Klinik Gigi Istanbul Alami Geraham Rapuh
Ibu Kegemukan dan Anak Kurang Darah Kerap Serumah di Burkina Faso
Kelelahan Kerja Menimpa 84 Persen Dokter Residen di Mesir