Kematian Terkait Polusi di Khorramabad Turun Lebih dari Separuh

A A

Ilustrasi pemandangan Kota Khorramabad, Iran, dengan jembatan di atas Sungai Khorramrud dan permukiman lereng [Foto: ninara (Flickr)/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Dari 2014 ke 2016, rata-rata tahunan PM2,5 di Khorramabad turun dari 37,03 menjadi 29,9 mikrogram per meter kubik.
  • Rata-rata tahunan kembali menurun sejak 2020 hingga 16,9 mikrogram per meter kubik pada 2023, terendah dalam sepuluh tahun.
  • Taksiran kematian dini yang dapat diatribusikan pada PM2,5 tertinggi pada 2015, yakni 662, dan terendah pada 2023, yakni 288.
  • Total kerugian ekonomi selama 2014 sampai 2023 mencapai 349.058.213,90 dolar Amerika, rata-rata 34.905.821,39 dolar per tahun.
Daftar Isi
  1. Pagi yang Sibuk dan Tengah Malam yang Pekat
  2. Jumat Libur dan Minggu Bekerja, Bedanya Tidak Bermakna
  3. Agustus Berdebu, April Lengang karena Nowruz
  4. Dari 37,03 ke 16,9 dalam Satu Dasawarsa
  5. Taksiran Kematian Menyusut dari 662 ke 288
  6. Rata-rata Kerugian 34,9 Juta Dolar Setahun dan Batas Hitungannya

Bulan Agustus yang berdebu dan libur Tahun Baru Persia di bulan April jarang dibicarakan dalam satu napas, tetapi di Khorramabad keduanya menandai dua ujung catatan udara kota itu. Pada Agustus, rata-rata debu halus PM2,5 di kota di barat Iran ini mencapai 36,76 mikrogram per meter kubik. April, bulan libur Nowruz yang lamanya hampir 20 hari, mencatat 24,9.

Perbandingan serupa muncul ketika rentang waktunya diperlebar menjadi sepuluh tahun. Pada 2015, para peneliti menaksir 662 kematian dini di kota itu yang dapat diatribusikan pada PM2,5 di atas 10 mikrogram per meter kubik, sedangkan pada 2023 jumlahnya 288, turun lebih dari 50 persen. Kerugian ekonominya bergerak dari sekitar 43,9 juta dolar Amerika menjadi 19,1 juta dolar.

Angka-angka itu berasal dari penelitian Reza Fouladi-Fard dari Pusat Riset Polutan Lingkungan, Universitas Ilmu Kedokteran Qom, dan rekan dari Universitas Ilmu Kedokteran Lorestan serta Universitas Ilmu Kedokteran Shiraz. Laporan berjudul Long-term trends, health impacts, and economic costs of PM2.5 in Khorramabad, Iran (2014–2023) itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Para peneliti memakai data per jam dari tiga stasiun pemantau kualitas udara di Khorramabad sepanjang 2014 sampai 2023. Taksiran kematian dihitung dengan model AirQ+ buatan WHO, sedangkan kerugian ekonomi dihitung dari produktivitas yang hilang karena kematian dini, memakai produk domestik bruto per kapita Iran sebesar 5.376 dolar Amerika.

Khorramabad, ibu kota Kabupaten Khorramabad di tengah Provinsi Lorestan, berada di ketinggian 1.147 meter di atas permukaan laut dan dihuni lebih dari 500.000 orang menurut sensus 2016. Sumber utama polusi udaranya adalah badai debu, ditambah emisi industri petrokimia dan lalu lintas jalan. Menurut para penulis, belum pernah ada kajian PM2,5 jangka panjang di kota ini sebelumnya.

Pagi yang Sibuk dan Tengah Malam yang Pekat

Dua puncak harian PM2,5 di KhorramabadPukul 06.00 27,72; Pukul 10.00 33,48; Pukul 17.00 25,31; Tengah malam 34,37.Dua puncak harian PM2,5 di KhorramabadRata-rata per jam, mikrogram per meter kubik010203040Pukul 06.0027,72Pukul 10.0033,48Pukul 17.0025,31Tengah malam34,37Data per jam tiga stasiun di Khorramabad, 2014-2023
Sumber: Reza Fouladi-Fard dan rekan, Long-term trends, health impacts, and economic costs of PM2.5 in Khorramabad, Iran (2014–2023), BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dalam sehari, kadar PM2,5 di Khorramabad naik dan turun dua kali. Lembah pertama terjadi pukul 06.00 dengan rata-rata 27,72 mikrogram per meter kubik, lalu angkanya naik seiring dimulainya aktivitas harian hingga mencapai puncak pertama pukul 10.00, yakni 33,48. Para peneliti mengaitkan puncak pagi itu dengan aktivitas manusia pada jam sibuk, terutama lalu lintas dan perjalanan.

Sore hari menghadirkan sisi sebaliknya. Pukul 17.00 tercatat rata-rata terendah sepanjang hari, 25,31, yang membentuk lembah kedua. Puncak kedua datang pada tengah malam, dengan 34,37, rata-rata tertinggi dalam sehari. Jam-jam di sekitar tengah malam, pukul 22.00 sampai 02.00, tidak berbeda bermakna satu sama lain, sedangkan jam lainnya berbeda bermakna dibanding rentang itu.

Para penulis menempatkan naik-turun harian ini sebagai konteks. Tujuan utama studi mereka adalah menilai dampak kesehatan dan ekonomi paparan PM2,5 jangka panjang. Namun, menurut mereka, variasi jam-jaman ikut membentuk pola paparan penduduk, dan pola paparan itulah yang pada gilirannya memengaruhi taksiran dampak kesehatan maupun ekonominya.

Jumat Libur dan Minggu Bekerja, Bedanya Tidak Bermakna

Bila jam-jam dalam sehari tampak berbeda tajam, hari-hari dalam sepekan justru nyaris seragam. Kadar PM2,5 tidak berbeda bermakna secara statistik antarhari. Angka terendah tercatat pada Jumat, 30,65 mikrogram per meter kubik, sedangkan angka tertinggi tercatat pada Minggu, 32,12.

Para penulis mengingatkan bahwa di Iran pekan kerja dimulai pada Sabtu dan berakhir pada Kamis, dengan Kamis sebagai hari kerja yang lebih pendek, sedangkan Jumat adalah hari libur penuh. Dalam laporan mereka, Jumat dengan kadar terendah disebut sebagai akhir pekan, sedangkan Minggu dengan kadar tertinggi disebut sebagai awal pekan.

Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok

Agustus Berdebu, April Lengang karena Nowruz

Perbedaan yang lebih jelas muncul antarbulan. Rata-rata bulanan tertinggi tercatat pada Agustus, 36,76 mikrogram per meter kubik, dan terendah pada April, 24,9. Rata-rata konsentrasi pada musim hangat dan musim dingin juga berbeda bermakna secara statistik. Seperti pola jam-jaman dan harian, gambaran bulanan ini disusun dari data per jam selama 2014 sampai 2023.

Untuk musim hangat, para peneliti menunjuk badai debu Timur Tengah yang lebih sering terjadi pada periode itu. Tingginya kadar pada Agustus, tulis mereka, mengisyaratkan kuatnya pengaruh debu lintas batas dari kawasan kering Timur Tengah. Di sisi lain, rendahnya kadar pada April kemungkinan berkaitan dengan libur Nowruz, ketika aktivitas manusia jauh berkurang karena hampir 20 hari libur.

Pola Khorramabad sejalan dengan studi Faridi dan rekan di Tehran, yang mendapati kadar PM2,5 pada musim panas dan musim dingin lebih tinggi daripada bulan lain, serta studi Barzegar dan rekan di Tabriz yang mencatat kadar terendah pada April. Bedanya, di Khorramabad inversi suhu tidak tampak berdampak negatif yang berarti, yang dikaitkan para penulis dengan kondisi lalu lintas yang berbeda dari Tehran.

Puncak bulanan Khorramabad juga lebih rendah dibanding dua studi tersebut. Faridi dan rekan melaporkan konsentrasi 38,43 mikrogram per meter kubik, sedangkan Barzegar dan rekan melaporkan 42,5. Pada kasus Tabriz, libur Nowruz juga disebut sebagai faktor utama turunnya kadar partikel pada April.

Dari 37,03 ke 16,9 dalam Satu Dasawarsa

Dalam hitungan tahunan, ceritanya terbagi tiga babak. Dari 2014 ke 2016, rata-rata tahunan turun dari 37,03 menjadi 29,9 mikrogram per meter kubik. Dari 2017 sampai 2019 angkanya relatif stabil di sekitar 34, lalu sejak 2020 kembali menurun, dari 27,54 menjadi 16,9 pada 2023, angka terendah dalam sepuluh tahun itu.

Sebaran datanya ikut bergeser. Pada 2014 sampai 2017, data paling sering berada di kisaran 20 mikrogram per meter kubik, pada 2018 sampai 2020 di kisaran 30, dan pada 2021 sampai 2023 di kisaran 10 hingga 15. Tahun 2014 berbeda bermakna secara statistik dibanding semua tahun lain yang diteliti.

Para penulis menyebut beberapa kemungkinan di balik turunnya kadar setelah 2020, yakni penguncian wilayah selama pandemi COVID-19, perubahan aturan lalu lintas setempat, atau meningkatnya kesadaran publik tentang kesehatan dan lingkungan. Menurut mereka, tren menurun ini penting bagi pembuatan kebijakan lingkungan dan menandakan kemungkinan berhasilnya intervensi lokal.

Ukuran WHO memberi gambaran lain atas tahun-tahun yang sama. Hari dengan rata-rata harian di bawah ambang pedoman WHO, yakni kurang dari 15 mikrogram per meter kubik, paling banyak tercatat pada 2022: 149 hari, atau 40 persen dari setahun. Pengelompokan ini memakai kategori rata-rata 24 jam dalam Pedoman Kualitas Udara WHO, mulai dari di bawah pedoman WHO, yakni kurang dari 15, hingga di atas Target Antara-1, yakni lebih dari 75 mikrogram per meter kubik.

Hari yang melewati pedoman WHO tetapi masih di bawah Target Antara-4, yakni 15 sampai 25 mikrogram per meter kubik, berkisar dari sekitar 25 hari (6 persen) hingga 166 hari (46 persen), terbanyak pada 2021. Hari antara Target Antara-4 dan Target Antara-3 berkisar 33 hingga 135 hari, terbanyak pada 2020, sedangkan hari antara Target Antara-3 dan Target Antara-2 paling banyak terjadi pada 2014, yaitu 81 hari.

Menurut para penulis, kadar harian masih sering melewati pedoman WHO, terutama pada tahun-tahun awal studi. “Temuan kami menunjukkan bahwa, meskipun konsentrasi tahunan PM2,5 telah menurun tajam sejak 2020, yang kemungkinan mencerminkan gabungan intervensi kebijakan, perubahan perilaku, dan faktor lingkungan yang lebih luas, kadarnya masih sering melampaui Pedoman Kualitas Udara WHO terbaru,” tulis Reza Fouladi-Fard dan rekan dalam simpulan, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Baca juga Mikroplastik di Air Minum Khorramabad Melonjak Saat Musim Hujan

Taksiran Kematian Menyusut dari 662 ke 288

Taksiran kematian bergerak searah dengan kadar polusinya. Dengan model AirQ+, para peneliti menaksir kematian dini yang dapat diatribusikan pada PM2,5 di Khorramabad, yaitu jumlah kematian yang dapat dikaitkan dengan paparan PM2,5 tahunan yang melampaui konsentrasi acuan 10 mikrogram per meter kubik. Jumlah tertinggi tercatat pada 2015, yakni 662 kematian, dan terendah pada 2023, yakni 288, penurunan lebih dari 50 persen sepanjang masa studi.

Taksiran kematian karena PM2,5Jumlah total: 2015 662, 2023 288; Semua sebab alami (usia 30 tahun ke atas): 2015 588, 2023 246; Penyakit kardiovaskular: 2015 60, 2023 35; Kanker paru: 2015 10, 2023 5; PPOK: 2015 4, 2023 2.Taksiran kematian karena PM2,5Dapat diatribusikan pada PM2,5 di atas 10 mikrogram/m3201520232004006000Jumlah total662288Semua sebab alami (usia 30 tahun ke atas)588246Penyakit kardiovaskular6035Kanker paru105PPOK42Tabel 1, taksiran model AirQ WHO, Khorramabad
Sumber: Reza Fouladi-Fard dan rekan, Long-term trends, health impacts, and economic costs of PM2.5 in Khorramabad, Iran (2014–2023), BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tabel paper merinci jumlah itu ke dalam empat kolom. Pada 2015 tercatat 588 kematian dari semua sebab alami pada orang dewasa usia 30 tahun ke atas, 60 dari penyakit kardiovaskular, 10 dari kanker paru, dan 4 dari penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK. Pada 2023 angkanya berturut-turut 246, 35, 5, dan 2.

Selama sepuluh tahun, jumlah totalnya mencapai 5.268 kematian. Kolom semua sebab alami mencatat 4.637, penyakit kardiovaskular 513, kanker paru 85, dan PPOK 33. Penurunannya tidak selalu lurus: tahun 2021 mencatat 331, lalu angkanya naik menjadi 449 pada 2022 sebelum turun ke 288 pada 2023.

Para penulis menyebut tren menurun ini sejalan dengan berkurangnya kadar PM2,5, terutama pada tahun-tahun terakhir, dan menandakan dampak positif dari membaiknya kualitas udara. Meski begitu, menurut mereka beban kesehatannya tetap besar, dan temuan ini sejalan dengan hasil kajian serupa di kota Iran lain seperti Karaj dan Tehran.

Rata-rata Kerugian 34,9 Juta Dolar Setahun dan Batas Hitungannya

Di sisi uang, kematian dini itu diterjemahkan menjadi produktivitas yang hilang. Total kerugian ekonomi selama 2014 sampai 2023 mencapai 349.058.213,90 dolar Amerika, dengan rata-rata 34.905.821,39 dolar per tahun. Puncaknya terjadi pada 2015, sekitar 43,9 juta dolar, dan titik terendahnya pada 2023, sekitar 19,1 juta dolar.

Rata-rata tahunan per penyebab kematian menunjukkan kolom semua sebab alami sebesar 30.736.946,77 dolar, penyakit kardiovaskular 3.386.696,54 dolar, kanker paru 563.433,36 dolar, dan PPOK 218.744,72 dolar. Menurut para penulis, naik-turun biaya itu berhubungan langsung dengan naik-turun angka kematian terkait polusi pada tahun-tahun yang sama.

Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen

Para penulis menilai angka Khorramabad sejalan dengan valuasi kesehatan lingkungan di kota-kota Iran. Kajian AirQ+ di Karaj, misalnya, mendapati kerugian ekonomi tahunan terkait PM2,5 sekitar 44 juta dolar Amerika. Mereka juga mencatat studi yang menunjukkan kenaikan PM2,5 jangka pendek menurunkan produktivitas pekerja, sehingga banyak taksiran lokal mungkin lebih kecil daripada beban ekonomi sebenarnya.

Hitungan ini punya batas cakupan. Biaya yang dihitung hanya berasal dari kematian, dengan konsentrasi acuan 10 mikrogram per meter kubik. Menurut para penulis, memakai acuan yang lebih ketat, seperti pedoman tahunan WHO 2021 sebesar 5 mikrogram per meter kubik, akan menaikkan taksiran manfaat kesehatan dan ekonomi secara berarti, terutama untuk penyakit kardiovaskular.

Untuk penelitian berikutnya, mereka menyarankan agar komposisi kimia PM2,5 dan sumbangan debu lintas batas ikut diperhitungkan, serta titik akhir ekonomi diperluas, misalnya hari kerja yang hilang dan biaya kesakitan. Mereka juga mendorong pemantauan berkelanjutan, kebijakan energi dan transportasi bersih, serta kerja sama regional untuk menekan debu lintas batas.

Menurut para penulis, memenuhi dan menjaga kepatuhan pada pedoman WHO akan membutuhkan investasi jangka panjang, tata kelola yang kuat, serta tindakan terkoordinasi di tingkat lokal, nasional, dan regional. “Mengurangi polusi PM2,5 di Khorramabad adalah keharusan lingkungan sekaligus kesehatan masyarakat, yang menawarkan manfaat sosial dan ekonomi besar,” tulis para penulis.

Bagikan

Baca Juga

Guru Besar UNAIR Desak UU PMI Atur Kesehatan Saat Kepulangan
Air Keran Berkapur di Inggris Berkaitan dengan Kematian Kanker
Hampir Seperlima Anak di Klinik Gigi Istanbul Alami Geraham Rapuh
Kelelahan Kerja Menimpa 84 Persen Dokter Residen di Mesir
Kebiasaan Sehat Anak Asma di Oman Terkait Tempat Tinggalnya
Murid Perempuan di Shiraz Iran Lebih Banyak Kena Kutu Rambut