- Analisis UK Biobank mencakup 497.280 peserta di Inggris, Skotlandia, dan Wales dengan median pemantauan 13,7 tahun.
- Kesadahan air pada atau di atas 200 mg/L berhubungan dengan hazard kematian kanker 11 persen lebih tinggi.
- Hubungan terbalik dengan kematian kardiovaskular tampak samar dan tidak bertahan setelah koreksi uji berganda.
- Para peneliti menegaskan temuan mereka tidak boleh ditafsirkan sebagai penetapan kausalitas.
Daftar Isi
Pedoman mutu air minum Badan Kesehatan Dunia (WHO) memandang kesadahan air, yakni kadar kalsium dan magnesium yang larut di dalamnya, bukan persoalan kesehatan pada tingkat yang lazim ditemukan di air minum, dan belum ada nilai pedoman yang ditetapkan untuknya, meski kesadahan dapat memengaruhi diterima atau tidaknya air itu oleh peminumnya. Namun, ketika air keran hampir setengah juta orang dewasa di Britania ditelusuri bersama catatan kematian mereka selama lebih dari satu dekade, air yang berkapur itu tidak tampak sepenuhnya netral, setidaknya terhadap kematian akibat kanker.
Temuan itu dilaporkan Chuan-Guo Guo dan rekan dari Departemen Gastroenterologi, Rumah Sakit Persahabatan Beijing, Capital Medical University, Tiongkok, dalam artikel berjudul Water hardness and all-cause and cause-specific mortality: evidence from a prospective cohort study, yang terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Tim beranggotakan tujuh peneliti itu ingin mengukur hubungan kadar kalsium karbonat, kalsium, dan magnesium dalam air rumah tangga dengan kematian semua sebab maupun karena penyakit tertentu, sesuatu yang menurut mereka belum pernah dikaji secara menyeluruh.
Bahannya datang dari UK Biobank, yang merekrut peserta berusia 39 hingga 70 tahun pada 2006 sampai 2010 di 22 pusat penilaian di Inggris, Skotlandia, dan Wales, dan analisis ini mencakup 497.280 orang dengan usia median 58 tahun. Data kesadahan dari perusahaan air minum besar dipasangkan dengan kode pos rumah tiap peserta saat direkrut, lalu kematian mereka dipantau dengan median 13,7 tahun hingga batas data 30 November 2022.
Air yang Diukur dengan Banyak Penggaris
Kesadahan dalam studi ini tidak dibaca dengan satu penggaris saja, melainkan beberapa sekaligus. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) membagi air menjadi lunak pada 0 sampai 60 mg/L kalsium karbonat, agak sadah pada 60 sampai 120, sadah pada 120 sampai 180, dan sangat sadah di atas 180 mg/L, sementara garis WHO dipakai untuk memisahkan air di bawah 200 mg/L dan 200 mg/L ke atas.
Kedua penggaris itu masih ditambah cara ketiga dan keempat, yakni membagi kadar kalsium karbonat ke dalam empat kuartil dan memperlakukannya sebagai angka yang berkelanjutan. Di rumah para peserta, kadarnya membentang jauh, dengan median kalsium karbonat 84,0 mg/L dan rentang antarkuartil 46,0 hingga 267,0 mg/L, median kalsium 42,0 mg/L, serta median magnesium 4,0 mg/L.
Menurut garis WHO, sebanyak 305.944 peserta tinggal di wilayah dengan kesadahan di bawah 200 mg/L, sedangkan 186.465 lainnya menerima air dengan kesadahan 200 mg/L atau lebih, yang median kalsium karbonatnya mencapai 277,0 mg/L. Sebagian besar peserta adalah perempuan, 54,6 persen, berkulit putih, 94,1 persen, dan tinggal di kawasan perkotaan, 85,3 persen.
Selama masa pemantauan, tercatat 39.541 kematian semua sebab, yang dalam studi ini berarti seluruh sebab di luar kecelakaan, atau 8,0 persen dari seluruh peserta. Kanker menjadi penyebab terbanyak dengan 19.899 kematian, atau 4,0 persen, terutama kanker paru dan kanker kolorektal, disusul penyakit kardiovaskular dengan 8.707 kematian, penyakit pernapasan dengan 3.084 kematian, dan gangguan saraf dengan 2.669 kematian, yang terbesar di antaranya penyakit alzheimer dengan 827 kematian.
Baca juga Anak Ronneby yang Ibunya Minum Air Tercemar Lebih Sering Asma
Kanker di Ujung Air yang Paling Sadah
Dari semua hubungan yang diuji, yang paling kokoh menurut para peneliti menyangkut kanker. Peserta yang airnya berada pada atau di atas ambang WHO 200 mg/L memiliki hazard kematian akibat kanker 11 persen lebih tinggi, dengan rasio hazard 1,11 dan rentang kepercayaan 95 persen 1,05 hingga 1,17, dibanding mereka yang airnya di bawah ambang itu.
Penggaris USGS memberi gambaran yang hampir serupa, karena peserta di wilayah dengan kesadahan di atas 180 mg/L mencatat rasio hazard kematian kanker 1,12, rentangnya 1,05 hingga 1,19, dibanding wilayah di bawah 60 mg/L. Setiap kenaikan kalsium karbonat sebesar rentang antarkuartil pun berhubungan dengan rasio hazard 1,09, rentangnya 1,03 hingga 1,15, dan ketiga angka itu bertahan setelah koreksi uji berganda yang disebut false discovery rate (FDR).
Bentuk hubungannya pun tidak berbelok-belok, sebab analisis paparan dan respons memperlihatkan tren yang nyaris lurus antara indikator kesadahan dan kematian akibat kanker, sementara analisis kepekaan yang dijalankan dengan cara berbeda menunjukkan tren yang sama. Para peneliti menyebut hubungan positif antara kesadahan air rumah tangga, yang diukur sebagai kalsium karbonat, dan kematian karena kanker sebagai temuan paling kuat dalam studi mereka.
Temuan itu, tulis tim, sejalan dengan riset UK Biobank sebelumnya yang mencatat hubungan kesadahan air rumah tangga dengan berbagai keganasan, termasuk kanker saluran cerna, kanker paru, limfoma non-Hodgkin, mieloma multipel, dan melanoma ganas. Mereka juga merujuk studi eksperimental yang menunjukkan bahwa kadar kalsium tinggi dapat mendorong perbanyakan sel dan menghambat kematian sel terprogram pada jaringan tertentu, sesuatu yang berpotensi mendukung tumbuhnya tumor.
Namun, peta bukti tidak bergerak ke satu arah saja. Studi kasus-kontrol di Taiwan yang dikutip tim justru melaporkan bahwa asupan kalsium dan magnesium dari air minum menurunkan risiko kanker kerongkongan, sementara studi lain mencatat kecenderungan serupa pada kanker lambung, usus besar, dan paru, dan perbedaan itu menurut para peneliti mungkin berasal dari rancangan studi, demografi populasi, faktor pengganggu yang tak terukur, rasio kalsium terhadap magnesium, serta asal mineral yang berlainan.
Baca juga Kanker di Laos Sebagian Besar Tak Pernah Tercatat Rumah Sakit
Jantung Bergerak ke Arah Sebaliknya
Untuk penyakit kardiovaskular, menurut para peneliti, pola hubungannya justru berlawanan dengan kanker. Kenaikan kalsium karbonat sebesar rentang antarkuartil menunjukkan hubungan terbalik yang samar dengan kematian kardiovaskular, dengan rasio hazard 0,92 dan rentang 0,84 hingga 1,00, sementara kenaikan magnesium sebesar rentang antarkuartil berhubungan dengan rasio hazard 0,97, rentangnya 0,94 hingga 0,99.
Kedua angka itu tetap berstatus nominal dan tidak bertahan setelah koreksi uji berganda. Kurva kardiovaskular tampak membentuk huruf U, tetapi uji ketidaklinearannya tidak bermakna, dan hazard terendah teramati pada kadar kalsium karbonat dan kalsium yang sedang, sementara tim menduga hilangnya kebermaknaan itu sebagian datang dari penalti statistik karena banyaknya paparan dan penyakit yang diuji, ditambah keragaman subtipe penyakit kardiovaskular kemungkinan korelasi kalsium dengan magnesium di air keran, serta faktor pengganggu regional yang tersisa.
Meski begitu, mereka menolak membuang sinyal itu begitu saja. “Karena itu, penting untuk tidak sepenuhnya mengabaikan sinyal ini; sinyal ini tetap selaras dengan kumpulan literatur yang ada dan memerlukan replikasi pada kohort independen,” tulis Chuan-Guo Guo dan rekan dalam bagian pembahasan, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris. Dalam pembahasan yang sama, mereka mencatat sebuah meta-analisis terdahulu melaporkan efek perlindungan kesadahan air tinggi terhadap kematian kardiovaskular, sedangkan sebuah studi di Belanda justru mengaitkan kadar kalsium tinggi dalam air minum dengan risiko kematian kardiovaskular yang lebih besar.
Napas, Rokok, dan Sinyal yang Masih Samar
Paru-paru memberi cerita yang lain lagi, karena peserta di kuartil tertinggi kalsium karbonat, dengan kadar 267 hingga 460 mg/L, mencatat rasio hazard kematian akibat penyakit pernapasan 1,27, rentangnya 1,05 hingga 1,53, dibanding kuartil terendah yang berkadar 5 hingga 46 mg/L. Seperti hubungan kardiovaskular, temuan ini tidak bertahan setelah koreksi uji berganda, sehingga oleh tim diperlakukan sebagai bahan untuk menyusun hipotesis, bukan kesimpulan.
Untuk kematian semua sebab, gambarannya lebih tipis lagi. Kesadahan 200 mg/L ke atas menurut garis WHO berhubungan dengan sedikit kenaikan, rasio hazard 1,05 dan rentang 1,01 hingga 1,09, kategori USGS di atas 180 mg/L menunjukkan kenaikan di garis batas dengan rasio hazard 1,04 dan rentang 1,00 hingga 1,09, sedangkan kenaikan kalsium karbonat sebesar rentang antarkuartil memberi rasio hazard 1,04, rentangnya 0,99 hingga 1,08, dan tak satu pun bertahan setelah koreksi.
Satu-satunya interaksi yang lolos koreksi justru datang dari rokok, karena hubungan kalsium karbonat dengan kematian semua sebab berbeda menurut status merokok, dengan nilai P 0,004 dan nilai P setelah koreksi FDR 0,036, dan kadar kalsium karbonat yang lebih tinggi berhubungan dengan kenaikan kematian di kalangan perokok. Interaksi dengan usia dan jenis kelamin tidak bermakna, begitu pula interaksi kesadahan dengan skor risiko genetik untuk kanker kolorektal, penyakit kardiovaskular, penyakit jantung iskemik, stroke, dan alzheimer.
Tim menawarkan tiga kemungkinan jalur biologis, mulai dari stres oksidatif akibat merokok yang dapat berinteraksi dengan sinyal kalsium, gangguan keseimbangan kalsium sel oleh nikotin dan komponen asap rokok, hingga perubahan metabolisme kalsium lewat gangguan fungsi endokrin, seperti kadar vitamin D yang lebih rendah. Namun, mereka menegaskan bahwa temuan interaksi tunggal itu bersifat eksploratif, perlu ditafsirkan dengan hati-hati sambil menunggu replikasi independen, dan dugaan kerentanan perokok masih memerlukan validasi eksperimental.
Baca juga Mikroplastik di Air Minum Khorramabad Melonjak Saat Musim Hujan
Satu Kali Ukur untuk Belasan Tahun
Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan. Kesadahan air ditetapkan dari pengukuran air keran berdasarkan kode pos hanya pada awal studi, sesuatu yang oleh tim disebut keterbatasan utama untuk masa pemantauan hampir 13,7 tahun. Pembatasan analisis pada peserta yang sudah menetap sedikitnya lima tahun memang meredam kesalahan itu, tetapi pengukuran tersebut tetap tidak dapat menangkap perubahan di dalam rumah, seperti pemasangan pelunak atau penyaring air maupun beralihnya keluarga ke air kemasan.
Kebiasaan mengolah air itu, catat tim, mungkin tidak acak karena bisa berkaitan dengan status sosial ekonomi, perilaku sadar kesehatan, dan risiko kematian, sehingga arah biasnya tidak dapat dipastikan. Faktor pengganggu sisa juga tidak bisa sepenuhnya disingkirkan, asupan kalsium dan magnesium dari makanan tidak terukur, dan dominasi peserta berkulit putih membatasi keberlakuan temuan bagi wilayah atau populasi lain.
Karena rancangannya observasional, para peneliti menulis bahwa “temuan kami tidak boleh ditafsirkan sebagai penetapan kausalitas.” Meski demikian, dalam simpulan abstraknya mereka menyatakan bahwa “temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara kesadahan air dan kematian akibat kanker layak diteliti lebih lanjut dan mungkin patut dipertimbangkan dalam peninjauan pedoman mutu air minum di masa mendatang.” Tim juga menulis bahwa temuan mereka menegaskan mutu air sebagai faktor penentu kesehatan masyarakat yang dapat diubah.
Studi berikutnya, saran tim, perlu memadukan data jumlah air minum tiap orang, kebiasaan rumah tangga memakai pelunak dan penyaring, asupan kalsium dan magnesium dari makanan, serta penanda mineral dalam darah. Menurut tim, riset lanjutan juga diperlukan untuk mengungkap mekanisme biologis di balik hubungan kesadahan air dengan kematian, terutama kematian akibat kanker.















