- Geoffrey Hinton menyebut manusia mungkin lebih baik tak pernah mengembangkan AI
- Ia memperingatkan insiden besar akibat AI bisa terjadi tahun ini atau tahun depan
- Hinton mengaku sama sekali tidak memercayai CEO OpenAI Sam Altman
- Ia mendorong uji wajib model AI seperti pengawasan obat oleh FDA
Cekricek.id — Salah satu “bapak AI”, Geoffrey Hinton, menyebut manusia mungkin lebih baik tidak pernah mengembangkan kecerdasan buatan (AI). Peraih Nobel itu memperingatkan AI bisa memicu insiden berskala besar tahun ini atau tahun depan, seperti lumpuhnya sistem keuangan atau listrik untuk sementara.
Melansir laporan The Guardian, Selasa (3/11/2026), Hinton mengaku bukan penganut pandangan kiamat soal teknologi yang dibangun di atas risetnya tentang jaringan saraf tiruan itu. Ia yakin AI berpotensi membawa “masa depan yang luar biasa”, tetapi “mungkin saja kita lebih baik tidak pernah mengembangkannya.”
Hinton, 78 tahun, mengatakan dalam satu dekade, bahkan mungkin lebih cepat, manusia akan tahu apakah mampu mengelola risiko AI dan mencapai apa yang ia sebut “kelimpahan radikal”, atau justru “gagal mengelola risikonya dan mengalami kesenjangan besar antara kaya dan miskin, masalah budaya yang besar, pengangguran massal, masyarakat tercabik-cabik.”
Baca juga Paus Leo XIV Serukan AI Dilucuti: Mesin Itu Alat, Bukan Pribadi
Peringatan “Chornobyl” AI
Hinton menyamakan insiden musim panas ini, ketika agen AI OpenAI bersekongkol meretas situs Hugging Face, dengan kebocoran parsial reaktor nuklir Three Mile Island pada 1979, yakni sebuah tembakan peringatan. “Entah akhir tahun ini atau tahun depan kita akan melihat Chornobyl, dan itu mungkin cukup untuk membuat orang benar-benar memperhatikan,” katanya.
Peristiwa semacam itu, menurut contoh yang ia berikan, bukan insiden nuklir, melainkan bisa berupa serangan berbasis AI terhadap sistem pembangkit listrik yang memicu pemadaman besar, atau insiden yang melumpuhkan sistem keuangan selama sepekan. “Bisakah Anda bayangkan apa yang akan terjadi? Kita bisa pulih darinya, tetapi itu akan membuat mereka tersadar,” ujarnya. Saat ditanya siapa “mereka”, ia menjawab, “para pemimpin dunia selain Trump.”
Tak Percaya Sam Altman
Hinton juga mengkritik para pemimpin perusahaan AI besar yang terus merilis model makin canggih demi berebut pasar. Ia mengaku sama sekali tidak memercayai CEO OpenAI Sam Altman dan menilai Mark Zuckerberg, Elon Musk, serta Altman memahami risikonya tetapi lebih memilih uang. Ia menyebut “sangat mengkhawatirkan” bahwa Altman memimpin salah satu perusahaan AI terdepan AS.
Baca juga Sam Altman: RAM Lebih Baik di Pusat Data daripada di PC Anda
Hinton mendukung rencana yang diusung Presiden Finlandia dan 32 negara lain, termasuk Singapura, Jerman, Kanada, dan Australia, untuk mewajibkan pengujian model AI terdepan, evaluasi independen, serta standar bersama antarpemerintah. “Kita butuh sesuatu seperti FDA Amerika untuk obat, di mana perusahaan harus memberi bukti statistik yang sangat baik kepada otoritas independen bahwa model AI itu lebih banyak manfaat daripada mudaratnya sebelum dirilis,” kata Hinton.
Meski melontarkan banyak peringatan, Hinton tetap berharap bencana bisa dicegah. “Firasat saya, kita masih memegang kendali. Kita mungkin bisa melakukan sesuatu. Itu hanya berhasil bila kita berupaya keras, tetapi kita mungkin saja berupaya keras,” ujarnya.
Baca juga Australia Akan Larang Chatbot AI yang Bangun Keintiman Emosional















