Remaja Bradford Habiskan Tiga Jam Lebih Sehari di Media Sosial

A A

Ilustrasi dua tangan memegang ponsel dengan layar menyala warna-warni di ruangan gelap [Foto: Pexels]

  • Nilai tengah pemakaian media sosial siswa 12 sampai 15 tahun di Bradford 3,36 jam sehari dalam minggu sekolah biasa.
  • Siswa berusia 12 tahun rata-rata menghabiskan dua jam 38 menit sehari, padahal mendaftar akun dilarang di bawah 13 tahun.
  • Tiap jam media sosial berkaitan dengan skor gejala cemas dan depresi 1,21 persen lebih tinggi.
  • Bila hubungannya sebab-akibat, batas tiga jam sehari setara sekitar 13 siswa lebih sedikit di sekolah 1.000 murid.
Daftar Isi
  1. Dari Data 2003 sampai Survei Bradford 2023
  2. Tiga Jam Dua Puluh Menit Sehari pada 2023–2024
  3. Temuan Tim Pickavance di Antara Kelompok Siswa
  4. Pengalaman Siswa Bradford di Layar Sepanjang 2023–2024
  5. Hitungan Pickavance: Satu Jam dan 1,21 Persen
  6. Bukti Sebab-Akibat yang Belum Meyakinkan
  7. Batas Survei 2023–2024 dan Rantai Riset Berikutnya

Sejak pergantian milenium, masalah kesehatan jiwa remaja terus bertambah. Data layanan kesehatan primer di Inggris Raya mencatat kecemasan pada anak perempuan berusia 10 sampai 16 tahun naik 4,6 kali pada 2018 dibanding 2003, sedangkan pada anak laki-laki naik 3,5 kali. Survei berulang di Norwegia menemukan gejala depresi di atas ambang pada remaja 13 sampai 19 tahun naik 60 persen pada perempuan dan 80 persen pada laki-laki antara 2007 dan 2018.

Pada kurun yang sama, remaja makin lama berada di media sosial. Pertanyaan tentang seberapa lama, dan seberapa besar kaitannya dengan kesehatan jiwa, dijawab ulang oleh John Pickavance dan rekan dari Bradford Institute for Health Research, Bradford Teaching Hospitals NHS Foundation Trust, Inggris. Laporan mereka, Adolescent social media use and its association with mental health: a cross-sectional study in Bradford, England, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Dari Data 2003 sampai Survei Bradford 2023

Tim menempatkan penelitiannya di ujung rantai riset yang panjang. Survei Ofcom yang mereka kutip mencatat delapan dari sepuluh anak Inggris berusia 8 sampai 17 tahun memakai media sosial, begitu pula separuh anak berusia 3 sampai 12 tahun. Di Amerika Serikat, survei Monitoring the Future yang disusun Miech dan rekan mencatat remaja 13 sampai 16 tahun rata-rata 3,5 jam sehari di platform itu pada 2021.

Masalahnya, menurut tim, bukti yang ada sudah menua. Studi pengamatan yang menunjukkan pengguna berat media sosial cenderung berkesehatan jiwa lebih buruk memakai data berumur lebih dari lima tahun, saat lanskap media sosial masih sangat berbeda. Studi kuasi-eksperimen dan eksperimen, termasuk karya Braghieri dan rekan serta Allcott dan rekan, terbatas pada orang dewasa yang memakai platform sebelum pergantian dekade.

Di sisi kebijakan, langkah pemerintah bergerak lebih cepat. Pada 2025 Australia memberlakukan larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, dan pemerintah Denmark serta Prancis sedang menyiapkan aturan serupa. Inggris sudah melarang anak di bawah 13 tahun mendaftar akun dan pada 2025 memperketat aturan konten lewat Online Safety Act, sembari menimbang jatah waktu harian dan jam malam bagi remaja di bawah 16 tahun.

Data baru diambil dari program Born in Bradford: Age of Wonder pada September 2023 sampai Juli 2024. Dari 36 sekolah menengah yang dihubungi, 25 bersedia ikut, dan 8.466 siswa berusia 12 sampai 15 tahun masuk analisis. Sebanyak 52,4 persen perempuan, 47,5 persen beretnis Asia atau Asia Britania yang sebagian besar keturunan Pakistan, dan 40,1 persen berkulit putih.

Tiga Jam Dua Puluh Menit Sehari pada 2023–2024

Angka pokoknya sederhana. Dalam minggu sekolah biasa, nilai tengah pemakaian media sosial para siswa 3,36 jam sehari, atau sekitar tiga jam dua puluh menit, dengan separuh siswa berada di rentang 1,88 sampai 5,44 jam. Menurut tim, nilai tengah itu menyerupai data Inggris dan Amerika Serikat dari 2020 sampai 2021 yang mereka kutip dalam pembahasan.

Semua kelompok remaja di atas dua setengah jam sehariCampuran 3,57 jam; Kulit Putih 3,50 jam; Perempuan 3,43 jam; Kulit Hitam 2,86 jam; Asia 2,79 jam; Laki-laki 2,79 jam; Lainnya 2,61 jam.Semua kelompok remaja di atas dua setengahjam sehariMedian pemakaian media sosial harian (jam) menurut etnisdan jenis kelamin, siswa 12-15 tahun di Bradford0 jam1 jam2 jam3 jam4 jamCampuran3,57 jamKulit Putih3,50 jamPerempuan3,43 jamKulit Hitam2,86 jamAsia2,79 jamLaki-laki2,79 jamLainnya2,61 jamPersentil ke-50 pada Tabel 2; pemakaian hari sekolah dan akhir pekandalam minggu sekolah normal
Sumber: John Pickavance dan rekan, Adolescent social media use and its association with mental health: a cross-sectional study in Bradford, England, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Aplikasi yang paling banyak dipakai adalah Snapchat, oleh 77,2 persen siswa, disusul TikTok dengan 77,1 persen, lalu Instagram. Ketiga platform itu, tulis tim, tumbuh pesat dalam lima tahun terakhir. Temuan bahwa remaja Bradford terutama memakai TikTok, Snapchat, dan Instagram juga sejalan dengan survei remaja Inggris dan Amerika Serikat yang lebih baru, meski survei tersebut tidak menanyakan lamanya pemakaian.

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Pemakaian juga naik seiring usia. Pada siswa berusia 12 tahun, nilai tengahnya 2,64 jam sehari dan 81,3 persen memakai sedikitnya satu dari lima aplikasi terpopuler. Angkanya menjadi 3,00 jam pada usia 13 tahun dan 3,29 jam pada usia 14 tahun. Pada usia 15 tahun, nilai tengahnya 3,38 jam, dengan 93,0 persen siswa memakai sedikitnya satu aplikasi.

Angka usia 12 tahun itu yang paling disorot tim. Mendaftar akun media sosial di Inggris sebenarnya dilarang bagi anak di bawah 13 tahun, tetapi siswa berusia 12 tahun di Bradford rata-rata menghabiskan dua jam 38 menit sehari di sana. “Ini menunjukkan pembatasan usia media sosial yang berlaku saat ini di Inggris tidak berjalan,” tulis Pickavance dan rekan (terjemahan).

Temuan Tim Pickavance di Antara Kelompok Siswa

Siswa perempuan dan siswa berkulit putih melaporkan pemakaian lebih lama. Nilai tengah siswa perempuan 3,43 jam sehari, sedangkan laki-laki 2,79 jam. Menurut etnis, siswa berlatar campuran mencatat 3,57 jam dan siswa berkulit putih 3,50 jam, sementara siswa Asia 2,79 jam, siswa berkulit hitam 2,86 jam, dan kelompok lainnya 2,61 jam. Nilai tengah tidak satu pun kelompok berada di bawah 2,61 jam.

Untuk selisih antara siswa Asia dan siswa berkulit putih, panel anak muda yang terlibat dalam penelitian menawarkan dugaan. Remaja dari keluarga Asia mungkin punya waktu luang lebih sedikit karena praktik keagamaan. Dugaan itu didukung data Dogra dan rekan tentang anak yang lebih muda, yang mencatat 91 persen anak Muslim Asia Selatan di Bradford pergi ke masjid atau madrasah sepulang sekolah setiap hari.

Panel yang sama juga menduga ada perbedaan kebiasaan sosial soal kepemilikan telepon genggam remaja, yang memengaruhi akses ke aplikasi media sosial. Dalam sampel ini, 98,7 persen siswa berkulit putih memiliki telepon genggam, sedangkan pada siswa Asia angkanya 81,2 persen. Tim menyebut selisih pemakaian itu bisa muncul karena berbagai alasan, dan dua dugaan tadi berasal dari panel.

Pengalaman Siswa Bradford di Layar Sepanjang 2023–2024

Media sosial tidak hanya dicatat sebagai ancaman. Pengalaman baik yang paling sering disebut adalah terhubung dengan teman, oleh 77,0 persen siswa, disusul menonton konten yang menyenangkan oleh 67,7 persen, dan mempelajari hal baru oleh 53,7 persen. Bagi tim, luasnya pemakaian ini mencerminkan beragam fungsi bermanfaat media sosial dalam kehidupan remaja di bawah 16 tahun.

Pengalaman buruk tetap tercatat. Sebanyak 16,0 persen siswa pernah menjadi sasaran unggahan yang tidak menyenangkan, 10,6 persen menjumpai konten kekerasan, dan 9,4 persen menjumpai konten seksual eksplisit. Meski begitu, mayoritas siswa, yakni 56,6 persen, melaporkan tidak mengalami satu pun pengalaman negatif.

Baca juga Kecanduan Ponsel Mahasiswa Bangladesh, 54 Persen Berisiko Tinggi

Hitungan Pickavance: Satu Jam dan 1,21 Persen

Untuk kesehatan jiwa, tim memakai kuesioner gejala cemas dan depresi RCADS-25 yang diisi 5.399 siswa kelas 8 dan 10. Sebanyak 10,7 persen di antaranya memiliki skor yang mencapai ambang klinis. Setelah usia, jenis kelamin, etnis, hak makan siang gratis, kebutuhan pendidikan khusus, tingkat kemiskinan wilayah, dan musim pengisian survei diperhitungkan, tiap jam media sosial berkaitan dengan skor 1,21 persen lebih tinggi.

Arah temuan ini sejalan dengan empat meta-analisis sebelumnya, yakni karya McCrae dan rekan pada 2017, Ivie dan rekan pada 2020, Liu dan rekan pada 2022, serta Fassi dan rekan pada 2024. Bukti gabungan itu menunjukkan pemakaian lebih banyak berkaitan dengan lebih banyak masalah kesehatan jiwa. Namun, tim juga mencatat sebagian kecil studi, termasuk tinjauan Valkenburg dan rekan, menemukan sebaliknya atau tidak menemukan kaitan.

Sumbangan baru tim adalah menerjemahkan kaitan itu ke bahasa kebijakan. Dalam skenario bila hubungannya memang sebab-akibat, batas tiga jam sehari diperkirakan menurunkan prevalensi gejala klinis dari 10,70 menjadi 9,45 persen, atau turun 1,25 poin persen. Di sekolah menengah dengan 1.000 murid, itu setara sekitar 13 siswa lebih sedikit. Batas tiga jam juga akan mengurangi pemakaian lebih dari separuh remaja 12 sampai 15 tahun.

Makin ketat batas harian, makin sedikit kasus dalam perkiraanBatas 5 jam: Perubahan kasus -5; Batas 4 jam: Perubahan kasus -8; Batas 3 jam: Perubahan kasus -13; Batas 2 jam: Perubahan kasus -17; Batas 1 jam: Perubahan kasus -25.Makin ketat batas harian, makin sedikit kasusdalam perkiraanPerkiraan perubahan jumlah kasus gejala cemas dan depresidi sekolah menengah 1.000 murid, bila hubungannyasebab-akibat-30-20-100Batas 5 jam-5Batas 4 jam-8Batas 3 jam-13Batas 2 jam-17Batas 1 jam-25Kasus = skor RCADS-25 70 ke atas; prevalensi teramati tanpa batas10,70 persen
Sumber: John Pickavance dan rekan, Adolescent social media use and its association with mental health: a cross-sectional study in Bradford, England, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tim menghitung pula batas lain. Batas lima jam memberi prevalensi 10,20 persen, atau lima kasus lebih sedikit per sekolah, dan batas empat jam 9,93 persen atau delapan kasus lebih sedikit. Batas dua jam memberi 8,99 persen atau 17 kasus lebih sedikit. Batas paling ketat, satu jam sehari, memberi 8,45 persen atau 25 kasus lebih sedikit.

Bukti Sebab-Akibat yang Belum Meyakinkan

Di titik ini tim menahan diri. Kaitan yang mereka temukan, tulis mereka, hanya bukti yang belum meyakinkan tentang sebab-akibat karena masih ada faktor yang tidak terukur, seperti dukungan keluarga, jaringan pertemanan, dan hobi. Ada pula kemungkinan arah sebaliknya, seperti yang dibahas Fassi dan rekan pada 2025, yaitu remaja memakai media sosial justru karena kesehatan jiwanya sedang buruk.

Tim juga menegaskan batas tafsir atas kehati-hatian itu sendiri. “Lemahnya bukti ini tidak berarti media sosial tidak berbahaya; melainkan kita belum bisa memastikan ada tidaknya atau besarnya efek rata-rata,” tulis Pickavance dan rekan (terjemahan). Menurut mereka, temuan ini konsisten dengan dugaan bahwa media sosial membawa mudarat lewat perbandingan sosial, konten berbahaya, tergesernya kegiatan lain seperti tidur dan olahraga, serta pelecehan daring, tetapi buktinya paling jauh tidak langsung.

Soal kebijakan, tim mencatat survei di Inggris pada 2024 yang menemukan 72 persen orang dewasa mendukung larangan akun media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Namun, tingginya pemakaian dan pengalaman baik yang dilaporkan menandakan kelompok usia ini umumnya akan menolak larangan total, yang juga bisa berakibat tak terduga. Luasnya pemakaian di usia 12 tahun pun menunjukkan verifikasi usia saat ini belum memadai.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Jalan tengah yang ditawarkan tim adalah tetap mengizinkan akses, tetapi memasang batas waktu harian yang membatasi pemakaian pada kasus yang berlebihan. Pilihan lain, memberi remaja kendali atas pembatasan mereka sendiri, menurut tim mungkin lebih bisa diterima, tetapi belum jelas bagaimana kebijakan semacam itu akan benar-benar mengubah keadaan. Menurut tim, uji kuasi-eksperimen atau eksperimen tetap diperlukan untuk memastikan sebab-akibatnya.

Batas Survei 2023–2024 dan Rantai Riset Berikutnya

Tim mengakui sejumlah keterbatasan. Siswa yang tidak ikut survei mungkin berbeda dalam hal penting, karena tidak ikutnya siswa berkaitan dengan absen sekolah yang juga berkaitan dengan kesehatan jiwa lebih buruk. Pengalaman siswa dengan disabilitas belajar yang tidak bisa mengisi survei juga tidak tertangkap. Lama pemakaian pun tidak membedakan jenis konten atau kegiatan yang dilakukan siswa di layar.

Pemakaian media sosial dalam penelitian ini juga dilaporkan sendiri oleh siswa. Riset Verbeij dan rekan yang dikutip tim menemukan remaja bisa melebih-lebihkan waktu mereka di media sosial hingga 150 sampai 160 persen, meski TikTok tidak termasuk dalam studi itu. Faktor tak terukur dan kemungkinan arah sebaliknya juga membuat perkiraan efek batas waktu tadi bersifat kira-kira dan tidak pasti.

Dalam simpulannya, tim menilai perlu uji eksperimen untuk memastikan manfaat dan mudarat kebijakan pembatasan bagi remaja di bawah 16 tahun, serta data baru yang diambil langsung dari aplikasi dan perangkat. Pembuat kebijakan, tulis mereka, dapat mendukungnya dengan mewajibkan perusahaan media sosial membuka data untuk penelitian.

Bagikan

Baca Juga

Pekerja Rentan Swedia Lebih Berisiko Gangguan Jiwa, Terutama Ibu
Sepertiga Pelajar di Ibu Kota Kamerun Keliru Menilai Berat Badan
Proyeksi: Harga Minimum Alkohol Naik, Kematian Skotlandia Turun
Debu Kasar dan Ozon Terkait Cemas dan Depresi Remaja Sichuan
Pasien HIV RS Jakarta yang Pernah Alami Efek Samping Lebih Patuh
Daya Pikir Lansia Tiongkok yang Mulai Mengasuh Cucu Lebih Terjaga