Hampir Seperlima Anak di Klinik Gigi Istanbul Alami Geraham Rapuh

A A

Ilustrasi kaca mulut dan sonde baja dokter gigi yang memantulkan sebuah gigi geraham [Foto: Dr. Partha Sarathi Sahana (Flickr, Howrah, India)/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • MIH ditemukan pada 295 dari 1.583 anak yang diperiksa di klinik gigi anak Marmara University, atau 18,6 persen.
  • Geraham menunjukkan keterlibatan MIH pada 79,7 persen gigi, jauh di atas gigi seri yang 22,9 persen.
  • Karies atipikal berkaitan dengan peluang ngilu tertinggi, dengan rasio odds 6,44.
  • Penelitian sebelumnya di Turki umumnya melaporkan prevalensi MIH kira-kira 9 persen sampai 14,9 persen.
Daftar Isi
  1. Dari Definisi 2001 ke Taksiran Dunia 15,5 Persen
  2. Bercak Putih-Krem Lebih Sering daripada Kuning-Cokelat
  3. Istanbul 2023: Angka 18,6 Persen dan Batasnya
  4. Geraham Pertama Menanggung Beban Paling Berat
  5. Rasa Ngilu yang Berkumpul pada Lesi Paling Rusak
  6. Mata Rantai yang Masih Menunggu Studi Populasi

Pada 2001, kelainan ini pertama kali didefinisikan. Weerheijm, Jälevik, dan Alaluusua menulis di jurnal Caries Research tentang hipomineralisasi yang mengenai sedikitnya satu geraham pertama tetap, sering kali disertai gigi seri tetap, kondisi yang disebut Molar Incisor Hypomineralization atau MIH. Sejak itu, jumlah penelitian prevalensinya bertambah pesat, mencerminkan kesadaran klinis yang tumbuh dan kemungkinan kejadian yang ikut naik.

Di Türkiye, rantai riset itu kini bertambah satu mata. Berkant Sezer dan rekan dari Departemen Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi, Çanakkale Onsekiz Mart University, bersama peneliti Marmara University di Istanbul, menerbitkan Prevalence, clinical characteristics, and treatment needs of Molar Incisor Hypomineralization (MIH) in Turkish children: a cross-sectional study di jurnal BMC Public Health volume 26 pada 2026. Temuan pokoknya, MIH terdapat pada 295 dari 1.583 anak yang diperiksa, atau 18,6 persen.

Pemeriksaannya berlangsung di klinik kedokteran gigi anak Marmara University, Istanbul, antara Desember 2022 dan Desember 2023, pada dua hari kerja per pekan yang dipilih secara acak. Anak berusia delapan sampai 13 tahun yang datang pada hari-hari itu diperiksa oleh satu dokter gigi anak berpengalaman. Sebanyak 1.680 anak diperiksa, lalu 97 dikeluarkan karena belum semua geraham pertama tetapnya bisa dinilai.

Dari Definisi 2001 ke Taksiran Dunia 15,5 Persen

Seperti dicatat Sezer dan rekan, MIH tampil sebagai cacat mutu email gigi, umumnya berupa bercak berbatas tegas atau opasitas pada geraham pertama tetap dan gigi seri. Warnanya berkisar dari putih atau krem sampai kuning atau cokelat, dan warna yang lebih gelap umumnya menandakan kehilangan mineral yang lebih besar serta email yang lebih berpori. Email yang lemah itu rentan runtuh setelah gigi tumbuh.

Kerusakan email pascaerupsi itu, disingkat PEB, dapat membuat jaringan gigi cepat hilang ketika dipakai mengunyah. Gigi yang terkena MIH juga dikaitkan dengan rasa ngilu, risiko karies atipikal, tambalan atipikal, dan pada kasus berat pencabutan geraham pertama tetap. Menurut paper, rasa ngilu dapat mengganggu kebersihan mulut, kenyamanan makan, dan bahkan menyulitkan pembiusan lokal saat perawatan.

Taksiran dunia datang dari tinjauan sistematis dan meta-analisis Ammar dan rekan yang terbit belakangan ini. Tinjauan itu mencakup 135 studi dari 53 negara dan menaksir prevalensi MIH dunia sebesar 15,5 persen, dengan rentang keyakinan 14,4 sampai 16,6 persen. Angka per studinya sendiri sangat lebar, dari 0,6 persen hingga 46,6 persen, tergantung rancangan, kriteria diagnosis, dan cara pengambilan sampel.

Baca juga Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi

Di dalam negeri, penelitian sebelumnya di Türkiye umumnya melaporkan prevalensi MIH kira-kira 9 persen sampai 14,9 persen. Salah satu yang dirujuk tim Sezer adalah studi Kılınç dan rekan di Izmir, yang mencatat angka 11,5 persen. Menurut Sezer dan rekan, penelitian berbasis klinik yang sekaligus memadukan ciri lesi, rasa ngilu, dan kebutuhan perawatan dalam satu kerangka analisis masih jarang di negara itu.

Bercak Putih-Krem Lebih Sering daripada Kuning-Cokelat

Ciri lesi yang dicatat Sezer dan rekan disajikan pada Tabel 1. Sebagian besar gigi yang diperiksa, 2.059 gigi atau 58,2 persen, tidak memiliki cacat. Opasitas berbatas putih atau krem tercatat pada 387 gigi atau 10,9 persen, lebih sering daripada opasitas kuning atau cokelat pada 320 gigi atau 9,0 persen. Karies atipikal muncul pada 503 gigi atau 14,2 persen.

Status klinis gigi yang diperiksa di klinik IstanbulTanpa cacat 58,2%; Karies atipikal 14,2%; Opasitas putih/krem 10,9%; Opasitas kuning/cokelat 9,0%; Restorasi atipikal 3,7%; Kerusakan email (PEB) 2,3%; Hilang karena MIH 1,7%.Status klinis gigi yang diperiksa di klinikIstanbulPersentase gigi yang diperiksa menurut status klinis, Tabel 10%20%40%60%Tanpa cacat58,2%Karies atipikal14,2%Opasitas putih/krem10,9%Opasitas kuning/cokelat9,0%Restorasi atipikal3,7%Kerusakan email (PEB)2,3%Hilang karena MIH1,7%Klinik gigi anak Marmara University, Istanbul, 2022-2023
Sumber: Berkant Sezer dan rekan, Prevalence, clinical characteristics, and treatment needs of Molar Incisor Hypomineralization (MIH) in Turkish children: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pola bercak putih yang lebih dominan itu, menurut Sezer dan rekan, sejalan dengan temuan di Irak dan Lebanon, tempat opasitas putih atau krem juga mendominasi bentuk yang lebih merusak. Hasil ini juga selaras dengan data lebih awal dari Yunani dan Jerman yang melaporkan opasitas berbatas sebagai wujud MIH paling umum.

Bentuk yang lebih berat lebih jarang. Kerusakan email pascaerupsi tercatat pada 80 gigi atau 2,3 persen, restorasi atipikal pada 131 gigi atau 3,7 persen, dan 60 gigi atau 1,7 persen hilang karena MIH. Sezer dan rekan menilai PEB dan restorasi atipikal itu lebih rendah daripada laporan sejumlah studi internasional, tetapi angka karies atipikal 14,2 persen menunjukkan kerusakan struktur tetap relevan secara klinis.

Sebagai pembanding, tim Sezer merujuk Guerra dan rekan di Brasil, yang melaporkan keterlibatan tonjol gigi dan kebutuhan perawatan saluran akar pada kira-kira seperempat anak yang terkena. Afzal dan rekan di Norwegia menemukan karies sampai lapisan dentin pada hingga 30,8 persen anak dengan MIH berat. Menurut Sezer, perbedaan itu bisa mencerminkan cara keparahan diungkapkan, latar studi, sebaran usia, dan kebiasaan mencari perawatan.

Istanbul 2023: Angka 18,6 Persen dan Batasnya

Angka 18,6 persen dari Istanbul, dengan rentang keyakinan 16,6 sampai 20,5 persen, lebih tinggi daripada sebagian besar taksiran nasional sebelumnya. Sezer dan rekan menyebut perbedaan itu sebagian dapat dijelaskan oleh rancangan berbasis klinik. Anak yang mencari perawatan gigi, tulis mereka, lebih mungkin datang dengan kebutuhan perawatan dan cacat yang tampak secara klinis dibandingkan anak pada umumnya.

Karena itu, tim Sezer menulis bahwa “temuan ini mungkin lebih mencerminkan beban klinis MIH daripada frekuensinya di tingkat populasi,” dalam terjemahan Cekricek.id dari naskah berbahasa Inggris. Dalam abstraknya, mereka merangkum bahwa MIH mengenai hampir satu dari lima sampai enam anak dalam populasi pasien klinik ini. Rentang usia delapan sampai 13 tahun juga diminta diperhitungkan saat membaca angka itu.

Anak yang terkena MIH rata-rata berusia 9,50 tahun. Dari 295 anak itu, 136 atau 46,1 persen laki-laki dan 159 atau 53,9 persen perempuan, dan prevalensinya tidak berbeda bermakna antara kedua jenis kelamin. Pada tingkat gigi, keterlibatan MIH juga tidak berbeda bermakna antara rahang atas dan bawah, yakni 43,4 dan 40,2 persen, maupun antara sisi kiri dan kanan, 37,4 dan 38,3 persen.

Geraham Pertama Menanggung Beban Paling Berat

Di antara gigi yang dinilai, geraham pertama tetap paling banyak terkena. Gigi bernomor 46 menunjukkan perubahan terkait MIH pada 82,4 persen kasus, disusul gigi 36 sebesar 79,7 persen, gigi 16 sebesar 78,6 persen, dan gigi 26 sebesar 78,0 persen. Gigi yang paling jarang terkena adalah gigi 22, hanya 7,9 persen, dan karies atipikal adalah temuan tersering pada geraham.

Pada anak yang terkena MIH, geraham menunjukkan keterlibatan MIH pada 79,7 persen gigi, jauh di atas gigi seri yang 22,9 persen, dan perbedaan ini bermakna. Proporsi geraham dengan cacat yang menutupi dua pertiga permukaan mahkota atau lebih berkisar 36,1 sampai 50,0 persen. Sebaliknya, 84,1 sampai 92,1 persen gigi seri lateral tergolong tanpa cacat, dan cacat seri umumnya kurang dari sepertiga permukaan.

Menurut indeks kebutuhan perawatan MIH-TNI yang diperkenalkan Steffen dan rekan, sebanyak 59,2 persen gigi masuk TNI 0 atau tanpa cacat. Di antara gigi yang terkena, TNI 1, yakni MIH tanpa rasa ngilu dan tanpa cacat struktur, merupakan porsi terbesar dengan 32,2 persen. Porsi berikutnya jauh lebih kecil, yakni TNI 2 sebesar 4,6 persen, TNI 3 sebesar 0,8 persen, dan TNI 4 sebesar 3,3 persen.

Baca juga Kehilangan Separuh Gigi, Risiko Gangguan Kognitif Lansia Naik

Rasa Ngilu yang Berkumpul pada Lesi Paling Rusak

Rasa ngilu diuji dengan semburan udara standar selama satu detik dan dinilai memakai skala sensitivitas udara dingin Schiff. Hasilnya, ngilu tercatat pada 4,1 persen dari seluruh gigi yang diperiksa dan 17,6 persen dari gigi yang terkena MIH, atau hampir satu dari enam lesi. Literatur sebelumnya yang dirujuk Sezer melaporkan angka beragam, dari 5,6 persen sampai lebih dari 25 persen.

Ngilu terutama terkumpul di geraham, dengan proporsi tertinggi pada geraham rahang bawah yang mencapai hingga 24 persen, sedangkan pada gigi seri angkanya paling tinggi 0,7 persen. Dalam analisis regresi, opasitas berbatas berkaitan dengan peluang ngilu kira-kira dua kali lipat, dengan rasio odds 2,13. Kerusakan email PEB memiliki rasio odds 4,94, dan karies atipikal tertinggi di antara jenis lesi dengan rasio odds 6,44.

Restorasi atipikal, dengan rasio odds 1,91, tidak berkaitan bermakna dengan ngilu setelah faktor lain diperhitungkan. Usia dan jenis kelamin juga tidak berkaitan bermakna. Geraham memiliki peluang ngilu lebih tinggi daripada gigi seri, dengan rasio odds 14,44, tetapi Sezer dan rekan meminta angka itu dibaca dalam konteks sebaran lesi, karena lesi yang lebih berat memang lebih sering ditemukan pada geraham.

Usia anak menyimpan pola tersendiri. Korelasi Spearman pada Tabel 3 menunjukkan hubungan positif yang bermakna antara usia dan restorasi atipikal, dengan koefisien 0,151, serta antara usia dan gigi yang hilang karena MIH, dengan koefisien 0,217. Menurut tim Sezer, keduanya lebih sering teramati seiring bertambahnya usia, sedangkan jenis lesi lain tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan usia.

Dua jenis lesi lebih sering pada anak yang lebih tuaOpasitas putih/krem: Spearman rho -0,037; Opasitas kuning/cokelat: Spearman rho -0,117; Kerusakan email (PEB): Spearman rho 0,006; Restorasi atipikal: Spearman rho 0,151; Karies atipikal: Spearman rho -0,068; Hilang karena MIH: Spearman rho 0,217.Dua jenis lesi lebih sering pada anak yanglebih tuaKoefisien korelasi Spearman antara usia dan tiap jenis lesi,Tabel 3-0,2-0,10,10,20Opasitas putih/krem-0,037Opasitas kuning/cokelat-0,117Kerusakan email (PEB)0,006Restorasi atipikal0,151Karies atipikal-0,068Hilang karena MIH0,217Bermakna hanya pada restorasi atipikal dan hilang karena MIH
Sumber: Berkant Sezer dan rekan, Prevalence, clinical characteristics, and treatment needs of Molar Incisor Hypomineralization (MIH) in Turkish children: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Keluhan Kandung Kemih Imam di Turki Lebih Ringan daripada Guru

Tidak adanya hubungan bermakna antara usia dan PEB, menurut Sezer dan rekan, mungkin sebagian dijelaskan oleh kebiasaan mencari perawatan. Anak bisa saja baru datang ke dokter gigi pada tahap penyakit yang lebih lanjut, bukan pada fase awal seperti PEB. Secara keseluruhan, tulis para peneliti, meski tampilan awal MIH di klinik ini sebagian besar berupa cacat ringan, perkembangan menuju karies merupakan bagian bermakna dari beban penyakitnya.

Mata Rantai yang Masih Menunggu Studi Populasi

Sezer dan rekan mengakui sejumlah keterbatasan. Sampel berasal dari anak yang berkunjung ke klinik gigi anak universitas, bukan populasi anak pada umumnya, sehingga mungkin ada bias seleksi dan prevalensinya tidak dapat langsung diberlakukan untuk semua anak Turki. Anak yang tidak kooperatif dikeluarkan, tidak ada kalibrasi antarpemeriksa, dan rancangan potong lintang tidak memungkinkan perkembangan lesi dinilai dari waktu ke waktu.

Dari sisi klinik, Sezer dan rekan menekankan pentingnya deteksi dini. Mereka menulis bahwa “lesi tahap awal, seperti opasitas berbatas, merupakan jendela penting bagi intervensi pencegahan dan minimal invasif yang bertujuan menjaga keutuhan email.” Pilihan yang mereka sebut meliputi remineralisasi, sealant pelindung, dan teknik infiltrasi resin, yang diharapkan membantu mengurangi perkembangan menuju PEB dan rasa ngilu.

Sezer dan rekan menutup laporannya dengan menyebut perlunya penelitian berbasis populasi dan rancangan longitudinal, untuk melengkapi temuan berbasis klinik ini serta memperjelas faktor penentu dan perjalanan MIH pada anak.

Bagikan

Baca Juga

Kadin Dorong Perdagangan Indonesia-Turki ke 10 Miliar Dolar AS
Kelelahan Kerja Menimpa 84 Persen Dokter Residen di Mesir
Kebiasaan Sehat Anak Asma di Oman Terkait Tempat Tinggalnya
Murid Perempuan di Shiraz Iran Lebih Banyak Kena Kutu Rambut
Lebih dari Separuh Pendonor Darah di Damaskus Mengaku Merokok
Ekonomi Digital Kota Tiongkok Sejalan dengan Rasa Sehat Warganya