- Pada skala itu, nilai tengah imam 6 dan nilai tengah guru 8.
- Keluhan ini lebih jarang dilaporkan imam, 16,0 persen, dibanding guru, 31,3 persen.
- Sebanyak 93,3 persen imam berkemih sambil duduk, sedangkan pada guru 69,9 persen.
- Pekerjaan sebagai imam atau guru tidak lagi berpengaruh setelah penyesuaian.
Daftar Isi
Rasa ingin buang air kecil yang datang mendadak dan sulit ditunda, kerap disertai bolak-balik ke toilet dan terbangun pada malam hari, dalam bahasa kedokteran disebut kandung kemih terlalu aktif. Di Distrik Karasu, Turki, sekelompok dokter urologi ingin tahu siapa yang lebih berat dirundung keluhan itu: imam yang memimpin salat lima kali sehari dan biasa berkemih sebelum wudu, atau guru laki-laki yang menunggu jeda pelajaran untuk ke toilet.
Pertanyaan itu dijawab Anil Erdik, Haci Ibrahim Cimen, Kemal Demirhan, dan Deniz Gul dalam artikel Comparison of overactive bladder symptoms and toileting behaviors between imams and male teachers: a cross-sectional study, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keempatnya dokter dari bagian urologi Karasu State Hospital, Sakarya University, Gerede State Hospital, dan Sakarya Training and Research Hospital. Mereka membandingkan 75 imam dan 83 guru laki-laki yang bekerja di Karasu, Provinsi Sakarya.
Hasilnya membalik dugaan awal mereka sendiri. Semula para penulis menduga imam akan lebih berat keluhannya, karena tugas keagamaan bisa menyulitkan mereka mencapai toilet tepat waktu. Yang terjadi justru sebaliknya: skor keluhan guru lebih tinggi, dan kebiasaan di toilet kedua kelompok ternyata berbeda tajam.
Overactive bladder: kandung kemih yang tak sabar
Maksudnya, kandung kemih memberi sinyal mendesak sebelum waktunya. Naskah memakai definisi International Continence Society, yakni desakan berkemih yang biasanya disertai seringnya buang air kecil dan nokturia, atau terbangun malam untuk berkemih, dengan atau tanpa mengompol karena desakan, selama tidak ada infeksi saluran kemih atau penyakit lain yang menjelaskannya.
Keluhan ini tidak langka. Menurut naskah, sekitar 10 sampai 20 persen orang dewasa di dunia mengalaminya, kira-kira satu dari sepuluh hingga satu dari lima orang, dan angkanya cenderung naik seiring usia. Dampaknya merembet ke kualitas hidup, tidur, kehidupan sosial, kesejahteraan psikologis, hingga biaya kesehatan di banyak negara.
Penyebabnya pun berlapis. Para penulis menyebut faktor saraf, otot kandung kemih, dan perilaku, termasuk kebiasaan menahan atau menunda berkemih. Riset terdahulu yang mereka rujuk menemukan stres kerja dan kebiasaan menunda ke toilet berkaitan dengan keluhan ini pada perawat, sementara akses toilet yang terbatas dikaitkan dengan desakan dan seringnya berkemih pada guru dan perawat.
Bedanya begini. Hampir semua riset itu mencari pekerjaan yang merugikan kandung kemih, sedangkan Erdik dan rekan mencari kebalikannya, yakni rutinitas kerja atau budaya yang mungkin melindungi. Wudu, bersuci sebelum salat yang kerap didahului buang air kecil, menjadi kandidat yang mereka periksa.
Baca juga Inkontinensia Urine di Bangkok: Paling Terganggu, Paling Tak Tahu
OAB-V8: angka untuk rasa mendesak
Rasa mendesak sulit ditimbang, maka para penulis memakai OAB-V8, kuesioner delapan pertanyaan tentang desakan, frekuensi, terbangun malam, dan mengompol karena desakan. Tiap jawaban bernilai 0 sampai 5, sehingga totalnya 0 sampai 40. Makin tinggi angkanya, makin berat keluhan, dan skor 11 ke atas dianggap kemungkinan kandung kemih terlalu aktif.
Pada skala itu, nilai tengah imam 6 dan nilai tengah guru 8. Selisihnya tampak kecil, tetapi secara statistik bermakna. Dengan kata lain, guru laki-laki di Karasu umumnya melaporkan desakan, frekuensi, dan gangguan malam yang sedikit lebih berat daripada imam di distrik yang sama.
Gambarannya berubah bila memakai garis batas. Imam dengan skor 11 ke atas berjumlah 12 orang atau 16,0 persen, sedangkan guru 18 orang atau 21,7 persen. Selisih ini tidak bermakna secara statistik, sehingga proporsi orang yang masuk kategori kemungkinan kandung kemih terlalu aktif tidak bisa dikatakan berbeda antara kedua profesi.
Dua kelompok itu juga mirip di banyak hal lain. Usia tengah guru 39 tahun dan imam 38 tahun, penyakit penyerta dan obat rutin tidak berbeda, dan keduanya sama-sama minum sekitar 2 liter air sehari. Teh atau kopi sedikit lebih banyak di kalangan guru, 4 cangkir berbanding 3, tetapi bedanya tidak bermakna.
Karena itu, para penulis menilai jumlah cairan dan minuman berkafein kemungkinan besar bukan penjelas perbedaan skor. Perhatian mereka lalu beralih ke hal yang lebih sehari-hari, yaitu kapan, bagaimana, dan dalam suasana kerja seperti apa kedua kelompok itu pergi ke toilet.
Pre-emptive voiding: berkemih sebelum diminta
Maksudnya, berkemih sebelum kandung kemih benar-benar mendesak. Pada imam, kebiasaan itu menempel pada jadwal ibadah, sebab imam memimpin salat lima kali sehari dan banyak yang berkemih sebagai bagian dari persiapan. Sebanyak 61,3 persen imam mengaku berwudu sebelum setiap salat, dan 54,7 persen, lebih dari separuh, berkemih tepat sebelum wudu.
Pola guru dibentuk oleh jam kerja. Sebanyak 68,6 persen guru ke toilet sebelum berangkat kerja, 56,5 persen memakai jeda antarpelajaran, dan 28,9 persen ke toilet di sekolah sebelum pulang. Para penulis membaca angka-angka ini sebagai tanda bahwa kesempatan guru ke toilet setidaknya sebagian diatur oleh jadwal sekolah.
Dari sini mudah tergoda menyimpulkan bahwa sering berkemih lebih awal adalah resep sehat. Para penulis justru mengingatkan bahwa pelatihan kandung kemih yang baku untuk keluhan ini bertujuan memperpanjang jarak antarberkemih secara bertahap dan menambah daya tampung, bukan mendorong orang sering berkemih lebih dulu.
“Buang air kecil pencegahan yang terkait ritual dalam studi ini tidak boleh ditafsirkan setara dengan pelatihan kandung kemih berbasis pedoman, melainkan sebagai pola perilaku potong lintang yang ditemukan dalam konteks pekerjaan dan budaya tertentu,” tulis Erdik, Cimen, Demirhan, dan Gul dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka menambahkan, data mereka belum bisa memastikan apakah pola itu menguntungkan, netral, atau malah merugikan.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Post-void dribbling: tetes yang tersisa
Istilah ini menggambarkan tetesan urine yang masih keluar sesudah selesai berkemih. Keluhan ini lebih jarang dilaporkan imam, 16,0 persen, dibanding guru, 31,3 persen. Artinya kira-kira satu dari enam imam berbanding hampir satu dari tiga guru, dan selisih itu bermakna secara statistik.
Dua kebiasaan lain berjalan seiring. Sebanyak 93,3 persen imam berkemih sambil duduk, sedangkan pada guru 69,9 persen. Lalu 60 persen imam memakai cara khusus untuk mencegah tetesan di akhir berkemih, jauh di atas guru yang hanya 14,5 persen. Para penulis membaca ini sebagai kesadaran dan kendali berkemih yang disengaja, kemungkinan bersumber dari kewajiban agama.
Namun, mereka berhati-hati soal posisi duduk. Naskah mengakui belum ada studi yang langsung mengaitkan posisi berkemih dengan kerja otot kandung kemih atau pengosongan yang tuntas. Dugaan bahwa duduk membantu otot dasar panggul laki-laki lebih rileks, sehingga tetesan berkurang, mereka sebut sebatas gagasan untuk diuji, bukan temuan.
Stres kerja: beban yang ikut ke ruang kelas
Bedanya begini. Guru di Karasu melaporkan stres kerja lebih tinggi, dengan nilai tengah 16 berbanding 14 pada imam. Menariknya, guru juga lebih puas pada pekerjaannya, 16 berbanding 15. Kedua perbedaan itu bermakna secara statistik, sehingga rasa puas dan rasa tertekan tercatat berdampingan pada kelompok yang sama.
Ketika usia, pekerjaan, kepuasan kerja, dan stres kerja ditimbang bersamaan, hanya stres kerja yang tetap berkaitan dengan skor keluhan 11 ke atas. Setiap kenaikan satu poin skor stres disertai peluang relatif sekitar 1,13 kali untuk masuk kategori itu. Pekerjaan sebagai imam atau guru tidak lagi berpengaruh setelah penyesuaian.
Maksudnya, perbedaan antarkelompok tampaknya lebih banyak digerakkan faktor psikososial daripada profesinya sendiri. Para penulis mengaitkannya dengan pengaruh stres pada sistem saraf pusat, yang dapat menekan sinyal berkemih normal dan memicu desakan serta seringnya buang air kecil, ciri yang lazim pada kandung kemih terlalu aktif.
Dari situ lahir satu saran yang praktis. Menurut naskah, perubahan tempat kerja seperti akses toilet yang lebih mudah dan strategi pengelolaan stres mungkin bermanfaat untuk meredakan keluhan ini pada profesi yang menuntut banyak, termasuk pendidik. Para penulis juga mendorong kebijakan kesehatan kerja yang memudahkan akses ke toilet.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Cross-sectional: potret pada satu waktu
Istilah ini, potong lintang dalam bahasa Indonesia, menandai batas terbesar temuan tersebut. Karena hanya memotret satu waktu, studi ini tidak bisa menunjukkan mana yang lebih dulu, kebiasaan berkemih atau keluhannya, dan hubungan yang terlihat bisa saja terbalik arah. Semua data berasal dari pengakuan responden, tanpa catatan harian berkemih, pengukuran sisa urine, atau pemeriksaan urodinamik.
Pesertanya pun terbatas pada laki-laki di satu distrik, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi perempuan, termasuk guru perempuan. Kecemasan, depresi, kualitas tidur, berat badan, faktor prostat, dan aktivitas fisik tidak diukur, padahal semuanya bisa memengaruhi keluhan berkemih sekaligus stres kerja.
Pembaca yang teliti juga akan menemukan dua hal kecil di naskah. Di bagian hasil, 61,3 persen adalah imam yang berwudu sebelum setiap salat dan 54,7 persen yang berkemih tepat sebelum wudu, tetapi di bagian pembahasan angka 61,3 persen ditulis sebagai imam yang berkemih sebelum wudu. Nomor keputusan etiknya tertulis E-523,247 di satu bagian dan E-523247 di bagian lain.
Ada pula soal penekanan. Abstrak dan kesimpulan menonjolkan keluhan imam yang lebih ringan, padahal proporsi skor 11 ke atas tidak berbeda bermakna dan profesi tidak lagi berpengaruh setelah stres kerja ikut ditimbang. Para penulis sendiri meminta hasil yang tidak bermakna dibaca hati-hati, karena besar sampel tidak dihitung lebih dulu dan banyak perbandingan dilakukan sekaligus.
Pada akhirnya, kandung kemih terlalu aktif tetap berarti desakan yang datang sebelum waktunya, bukan sekadar sering ke toilet. Di Karasu, imam yang berkemih sebelum wudu melaporkan desakan sedikit lebih ringan daripada guru yang menunggu jeda pelajaran, tetapi yang paling kuat menyertai keluhan itu adalah stres kerja, bukan profesinya.















