Ekonomi Digital Kota Tiongkok Sejalan dengan Rasa Sehat Warganya

A A

Ilustrasi penumpang menempelkan kode QR di ponsel ke pemindai gerbang tiket Metro Wuhan, Tiongkok [Foto: Painjet/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Setiap kenaikan 1 persen indeks ekonomi digital kota berkaitan dengan naiknya skor kesehatan yang dinilai sendiri sekitar 0,255 persen.
  • Koefisien di kota kawasan tengah tercatat 0,438 dan di kawasan barat 0,369, keduanya signifikan pada taraf 5 persen.
  • Pada kelompok yang berolahraga, koefisien ekonomi digital mencapai 0,375 dan signifikan pada taraf 1 persen.
  • Tingkat penggunaan internet kelompok paruh baya hanya 55,84 persen, jauh di bawah kelompok muda yang 90,15 persen.
Daftar Isi
  1. Dari 1981 sampai Akhir 2024
  2. Tiga Putaran Survei, 2016 hingga 2020
  3. Rentang yang Sama, Dua Jalur Batin
  4. Sebulan Sekali Berolahraga
  5. Usia 16 Tahun hingga 60 Tahun ke Atas
  6. Sesudah 2020, Masa yang Belum Tercakup

Pada 2016, China Family Panel Studies kembali menjalankan putaran surveinya. Survei panel keluarga itu digelar Pusat Survei Ilmu Sosial Tiongkok di Universitas Peking setiap dua tahun sejak 2010. Salah satu pertanyaannya pendek: bagaimana Anda menilai kesehatan Anda? Jawabannya berjenjang lima, dari buruk sampai prima.

Jawaban dari putaran 2016, 2018, dan 2020 itu kemudian diolah Xuhan Yang dari Fakultas Pendidikan Jasmani Universitas Henan dan Wenhao Ling dari Departemen Filsafat dan Administrasi Publik universitas yang sama. Hasilnya terbit sebagai makalah From digital growth to health benefits: assessing the impact of digital economy development on residents’ health in China di jurnal BMC Public Health pada 2026.

Keduanya menyusun indeks perkembangan ekonomi digital untuk tiap kota, lalu memadankannya dengan 3.164 pengamatan warga. Temuannya, perkembangan ekonomi digital kota berhubungan positif dan signifikan dengan penilaian kesehatan warganya. Hubungan itu bertahan setelah serangkaian uji ketahanan.

Besarnya hubungan itu terukur dalam angka. Setiap kenaikan 1 persen indeks ekonomi digital kota berkaitan dengan naiknya skor kesehatan yang dinilai sendiri sekitar 0,255 persen. Kenaikan indeks sebesar satu simpangan baku, yakni 0,981, sepadan dengan naiknya skor kesehatan sekitar 0,25 satuan.

“Ekonomi digital bukan hanya mesin baru pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dapat menjadi kekuatan penting untuk memperbaiki kesehatan penduduk,” tulis Yang dan Ling dalam simpulan mereka. Kalimat itu diterjemahkan dari bahasa Inggris. Kedua peneliti juga menguji ulang hasilnya, antara lain dengan variabel instrumen, pencocokan skor kecenderungan, ukuran kesehatan pengganti, dan model regresi lain.

Dari 1981 sampai Akhir 2024

Makalah itu dibuka dengan deretan catatan lama. Usia harapan hidup rata-rata di Tiongkok naik dari 67,77 tahun pada 1981 menjadi 79 tahun pada 2024. Namun, menurut Yang dan Ling, sistem kesehatan masyarakat negeri itu masih menghadapi persoalan struktural.

Persoalan itu meliputi sebaran sumber daya medis yang timpang dan akses layanan kesehatan yang belum memadai. Kesenjangan antarwilayah dan antarkelompok juga masih bertahan. Strategi Tiongkok Sehat lalu didorong untuk membangun layanan kesehatan masyarakat yang lebih adil dan efisien.

Pada 2015, Perserikatan Bangsa-Bangsa memasukkan jaminan hidup sehat dan kesejahteraan bagi semua usia ke dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pada 2022, ekonomi digital Tiongkok mencapai sekitar 7,5 triliun dolar AS. Angka itu setara 18,1 persen dari total ekonomi digital dunia, menurut buku putih yang dikutip makalah.

Pada akhir 2024, Tiongkok tercatat memiliki 418 juta pengguna layanan medis internet dan 3.340 rumah sakit internet. Pengguna layanan diagnosis dan pengobatan daring per tahun sudah melampaui 100 juta orang. Dari latar itulah kedua peneliti bertanya apakah ekonomi digital membawa manfaat kesehatan yang luas.

Baca juga Lansia Sarang Kosong di Tiongkok Mengusir Sepi Lewat Chatbot AI

Tiga Putaran Survei, 2016 hingga 2020

Data tiga putaran itu membentuk 3.164 pengamatan yang sah. Rata-rata skor kesehatan yang dinilai sendiri adalah 3,225 pada skala satu sampai lima. Artinya, menurut makalah, kesehatan responden secara umum berada di antara sedang dan baik.

Indeks ekonomi digital kota punya rata-rata 0,968, dengan nilai terendah minus 1,338 dan tertinggi 4,007. Rentang itu, tulis Yang dan Ling, menunjukkan kesenjangan perkembangan ekonomi digital yang nyata antarkota. Indeks disusun dari tiga dimensi: infrastruktur digital, industri digital, dan keuangan digital.

Kekuatan hubungan itu tidak sama di semua wilayah. Koefisien di kota kawasan tengah tercatat 0,438 dan di kawasan barat 0,369, keduanya signifikan pada taraf 5 persen. Di kawasan timur angkanya 0,246 tanpa tanda signifikan.

Pola serupa muncul antara desa dan kota. Pada warga perdesaan koefisiennya 0,292 dan signifikan, sedangkan pada warga perkotaan 0,230 tanpa tanda signifikan. Makalah menyimpulkan hubungan positif itu lebih menonjol di kawasan tengah, kawasan barat, dan perdesaan.

Hubungan lebih kuat di kawasan tengah, barat, dan desaKawasan timur 0,246; Kawasan tengah 0,438; Kawasan barat 0,369; Perkotaan 0,230; Perdesaan 0,292.Hubungan lebih kuat di kawasan tengah, barat,dan desaKoefisien ekonomi digital terhadap kesehatan yang dinilaisendiri, menurut wilayah0,00,10,20,30,40,5Kawasan timur0,246Kawasan tengah0,438Kawasan barat0,369Perkotaan0,230Perdesaan0,292Jingga: signifikan pada taraf 5 persen. Kawasan timur dan perkotaantidak bertanda signifikan.
Sumber: Xuhan Yang dan Wenhao Ling, From digital growth to health benefits: assessing the impact of digital economy development on residents’ health in China, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang dan Ling menduga pola itu bersumber dari strategi digital nasional seperti East-West Compute Transfer Project. Proyek itu mempercepat pemusatan sumber daya digital di kawasan tengah dan barat. Di kawasan timur, infrastruktur digital sudah relatif matang, sementara banjir informasi dan persaingan yang ketat mungkin ikut mengikis manfaat kesehatannya.

Variabel lain dalam model bergerak sesuai dugaan umum. Usia berhubungan negatif dengan kesehatan, sejalan dengan pola menurunnya kesehatan sepanjang hidup. Dukungan sosial dan status sosial yang dinilai sendiri berhubungan positif, yang menurut makalah menegaskan peran modal sosial seseorang.

Satu hasil berjalan ke arah sebaliknya. Koefisien tingkat pembangunan ekonomi dan struktur industri kota bernilai negatif dan signifikan pada sebagian besar model. Yang dan Ling menduga angka itu mencerminkan sisa “biaya kesehatan” dari pola pertumbuhan lama, seperti lingkungan dan tekanan.

Rentang yang Sama, Dua Jalur Batin

Pada rentang survei yang sama, kedua peneliti menelusuri dua jalur kejiwaan. Jalur pertama adalah kesejahteraan subjektif, diukur dari pertanyaan seberapa bahagia responden merasa. Jalur kedua adalah kecenderungan depresi, diukur dengan skala CES-D yang skornya berkisar 20 sampai 80.

Hasilnya mengarah ke dua sisi. Koefisien ekonomi digital terhadap rasa bahagia tercatat 0,054 dan signifikan pada taraf 5 persen. Terhadap kecenderungan depresi, koefisiennya minus 0,356 dan signifikan pada taraf 1 persen. Skor depresi yang makin tinggi berarti kecenderungan yang makin berat.

Yang dan Ling membaca keduanya sebagai jalur yang menghubungkan ekonomi digital dengan kesehatan warga. Mereka juga mencatat hubungan dengan kecenderungan depresi tampak lebih menonjol. Kemungkinan alasannya, intervensi alat kesehatan digital yang tepat waktu mungkin lebih cepat terlihat dalam meredanya emosi negatif.

Peningkatan rasa bahagia, sebaliknya, bergantung pada proses jangka panjang seperti membangun makna hidup. Karena itu, menurut makalah, hasil kesehatannya lebih bersifat kumulatif. Kedua jalur dinilai saling terkait meski merupakan dua dimensi kejiwaan yang relatif terpisah.

Uji lain memakai ukuran kesehatan objektif. Ekonomi digital berhubungan negatif dengan penyakit kronis dalam enam bulan terakhir, dengan koefisien minus 0,135. Untuk rasa tidak enak badan dalam dua pekan terakhir, koefisiennya minus 0,191, dan keduanya signifikan pada taraf 5 persen.

Baca juga Depresi Pengusaha China Melonjak pada 2020, Reda di 2022

Sebulan Sekali Berolahraga

Responden yang ikut olahraga, kebugaran, atau kegiatan rekreasi minimal sebulan sekali dalam 12 bulan terakhir dicatat sebagai peserta aktivitas fisik. Yang tidak pernah ikut sama sekali dicatat bukan peserta. Kelompok peserta berisi 1.669 pengamatan, sedangkan bukan peserta 1.495 pengamatan.

Interaksi ekonomi digital dengan aktivitas fisik menghasilkan koefisien 0,054, signifikan pada taraf 5 persen. Artinya, menurut makalah, ikut berolahraga memperkuat hubungan positif ekonomi digital dengan kesehatan. Pada kelompok yang berolahraga, koefisien ekonomi digital mencapai 0,375 dan signifikan pada taraf 1 persen.

Pada kelompok yang tidak berolahraga, koefisiennya 0,236 tanpa tanda signifikan. Yang dan Ling menulis bahwa “mungkin ada sinergi kesehatan tertentu antara aktivitas fisik dan lingkungan digital”, juga dalam terjemahan. Menurut mereka, olahraga melatih kemampuan mengatur diri sendiri.

Kemampuan itu terbagi tiga. Olahraga membantu orang menetapkan tujuan kesehatan yang jelas, memantau data seperti detak jantung, dan bertahan pada kebiasaan. Ketiganya dinilai memudahkan orang memilih, memakai, dan terus memakai alat kesehatan digital. Dengan cara itu, sumber daya kesehatan digital lebih mudah berubah menjadi hasil kesehatan yang nyata bagi tiap orang.

Usia 16 Tahun hingga 60 Tahun ke Atas

Sampel juga dipecah menurut usia dengan mengikuti pembagian WHO. Kelompok muda berusia 16 sampai 44 tahun, paruh baya 45 sampai 59 tahun, dan lansia 60 tahun ke atas. Pada kelompok muda, koefisiennya 0,334 dan signifikan pada taraf 0,1 persen.

Pada lansia, koefisien 0,766 hanya signifikan secara marginal pada taraf 10 persen, dari 262 pengamatan. Makalah menyebutnya kecenderungan positif yang potensial bagi kesehatan kelompok itu. Pada paruh baya, yang berisi 1.087 pengamatan, koefisiennya minus 0,003 dan tidak signifikan secara statistik.

Pada paruh baya, hubungan tidak signifikanMuda (16-44 tahun): Koefisien 0,334; Paruh baya (45-59 tahun): Koefisien -0,003; Lansia (60 tahun ke atas): Koefisien 0,766.Pada paruh baya, hubungan tidak signifikanKoefisien ekonomi digital terhadap kesehatan yang dinilaisendiri, menurut kelompok usia-0,20,20,40,60,80Muda (16-44 tahun)0,334Paruh baya (45-59 tahun)-0,003Lansia (60 tahun ke atas)0,766Muda signifikan pada taraf 0,1 persen; lansia marginal pada taraf 10persen; paruh baya tidak signifikan.
Sumber: Xuhan Yang dan Wenhao Ling, From digital growth to health benefits: assessing the impact of digital economy development on residents’ health in China, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kelompok paruh baya punya catatan sendiri. Tingkat penggunaan internet kelompok paruh baya hanya 55,84 persen, jauh di bawah kelompok muda yang 90,15 persen. Sebanyak 62,46 persen dari mereka bekerja di bidang yang berkaitan dengan pertanian, dan sebagian besar menanggung orang tua, yakni 54,49 persen.

Yang dan Ling menyebut kelompok ini generasi sandwich yang memikul beban karier dan keluarga sekaligus. Mereka mungkin menghadapi “kemiskinan waktu” yang lebih berat. Kaum muda disebut penduduk asli digital, sedangkan lansia mungkin terdorong kebutuhan kesehatan yang kuat untuk belajar memakai alat digital.

Pembagian lain memakai pendapatan, pendidikan, dan status sosial. Makalah mencatat hubungan positif itu lebih menonjol pada kelompok berpendapatan rendah, berpendidikan rendah, dan berstatus sosial rendah. Pada kelompok berstatus sosial rendah, koefisiennya 0,279 dan signifikan pada taraf 1 persen, sedangkan pada kelompok berstatus tinggi 0,138.

Baca juga Kenangan Pelajaran Olahraga di Sekolah Terbawa sampai Dewasa

Sesudah 2020, Masa yang Belum Tercakup

Yang dan Ling mengakui sejumlah keterbatasan. Periode sampel tidak mencakup masa sesudah pandemi, ketika telemedisin dan pemantauan kesehatan digital menyebar cepat. Indeks mereka juga belum memasukkan layanan kesehatan digital, tata kelola digital, dan penerapan kecerdasan buatan.

Variabel jalur kejiwaan diukur dari sumber yang sama dan sebagian besar pada waktu yang sama dengan ukuran kesehatan. Karena itu, penjelasan jalur kejiwaan dalam makalah terutama berupa bukti hubungan. Kesimpulannya pun berakar pada konteks kelembagaan dan budaya Tiongkok.

Dari temuan itu, keduanya menyarankan penguatan infrastruktur kesehatan digital, termasuk berbagi rekam medis elektronik antarwilayah. Mereka juga mengusulkan sistem dukungan kesehatan jiwa digital berlapis. Satu gagasan lain adalah sistem poin aktivitas fisik, yang dapat mengurangi porsi biaya asuransi kesehatan yang ditanggung sendiri.

Saran terakhir menyangkut pemerataan. Investasi infrastruktur kesehatan digital di kawasan tengah dan barat perlu ditambah. Kawasan timur yang sumber dayanya lebih baik didorong berbagi teknologi dan data. Kelompok rentan perlu didukung lewat subsidi perangkat, penyesuaian ramah usia, dan pelatihan literasi digital.

Data terakhir dalam makalah berasal dari putaran survei 2020. Menurut kedua peneliti, penelitian lanjutan dapat memakai data tahun-tahun sesudah pandemi untuk menguji apakah hubungan itu tetap bertahan.

Bagikan

Baca Juga

Hampir Separuh Pengguna Vape di Negara Arab Pernah Coba Berhenti
OJK: Kripto Syariah Tak Cukup Label, Akun Kripto 23,48 Juta
Kadin: UMKM Gratis Jadi Anggota, Revisi UU Kadin Didorong
Rumah Jauh dari Titik Kumpul Sampah di Mbale Lebih Banyak Diare
OJK Rilis Pedoman Ijarah, Sewa Rumah Bisa Berujung Milik
Proyeksi: Harga Minimum Alkohol Naik, Kematian Skotlandia Turun