- Pada 2018, 17,0 persen pengusaha berada di atas ambang itu.
- Pengusaha yang punya bawahan langsung naik 0,595 poin pada 2020.
- Pengusaha tanpa jaminan pensiun naik 0,428 poin pada 2020.
- Di provinsi berpembatasan tinggi, kenaikan masih bertahan pada 2022 di angka 0,391 poin.
Daftar Isi
Pada 2018, pengusaha dan pekerja di China sama murungnya. Skor depresi rata-rata pengusaha tercatat 5,21, sementara kelompok pembandingnya 5,19. Dua tahun kemudian, setelah pandemi COVID-19 datang, jarak itu melebar dan untuk pertama kalinya bermakna secara statistik.
Catatan itu disusun Wen Zou dari Business School, Shaoguan University, China. Hasilnya terbit dengan judul The COVID-19 pandemic and entrepreneurs’ depression: quasi-experimental evidence from China di BMC Public Health, sebagai naskah terbitan awal, tahun 2026. Zou menulis naskah ini seorang diri, dan seluruh analisisnya bersandar pada data survei yang terbuka untuk umum.
Bahannya berasal dari China Family Panel Studies, survei rumah tangga nasional yang digelar Peking University di 25 wilayah setingkat provinsi. Zou memakai empat gelombangnya, yakni 2016, 2018, 2020, dan 2022, lalu membandingkan 2.040 pengusaha dengan 9.132 bukan pengusaha yang cirinya dibuat semirip mungkin.
Yang disebut pengusaha di sini adalah pemilik perusahaan swasta, pengelola usaha perorangan di bidang industri atau dagang, dan orang yang bekerja sendiri. Petani tidak dihitung. Depresi diukur dengan delapan pertanyaan tentang perasaan sepekan terakhir, dengan skor dari 0 sampai 24.
2016 sampai 2018: dua kelompok berjalan beriringan
Sebelum pandemi, kedua kelompok nyaris tidak berbeda. Pada 2016, skor pengusaha 4,71 dan bukan pengusaha 4,66. Pada 2018, angkanya 5,21 dan 5,19. Pada dua gelombang itu, selisihnya tidak bermakna secara statistik. Artinya, sebelum virus datang, menjadi pengusaha tidak membuat seseorang lebih murung daripada pekerja dengan ciri serupa.
Skor kedua kelompok memang sama-sama naik dari 2016 ke 2018. Zou mencatat tren naik itu berlanjut sampai 2022 pada pengusaha maupun pekerja. Karena itu, yang ia ukur bukan sekadar naiknya skor, melainkan apakah pengusaha naik lebih tajam daripada pembandingnya.
Latar keadaan itu juga dicatat dalam naskah. Zou merujuk laporan Organisasi Kesehatan Dunia tentang kenaikan 25 persen prevalensi cemas dan depresi di seluruh dunia selama pandemi. Pengusaha, tulisnya, berada di titik yang langsung terpapar, karena nasib usaha mereka terikat pada kestabilan ekonomi dan akses pasar.
2020: tahun jarak itu terbuka
Pada 2020, skor pengusaha naik menjadi 5,53, sedangkan bukan pengusaha 5,25. Selisih ini bermakna secara statistik. Setelah usia, pendidikan, status kawin, kesehatan, aset rumah tangga, dan ciri lain diperhitungkan, kenaikan khusus pada pengusaha ditaksir 0,356 poin dibanding 2018.
Angka itu tampak kecil di skala 0 sampai 24. Zou karena itu memeriksa siapa yang melewati ambang klinis, yakni skor 9 ke atas. Pada 2018, 17,0 persen pengusaha berada di atas ambang itu. Pada 2020, porsinya menjadi 21,9 persen.
Kenaikannya 4,9 poin persen, atau sekitar 29,0 persen secara relatif. Zou menyebut lonjakan ini sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang mendesak bagi kelompok yang penting bagi ekonomi. Pergeseran rata-rata yang kecil, menurutnya, bisa mendorong banyak orang melewati batas klinis.
Kenaikan itu juga tidak merata di sepanjang sebaran skor. Pada pengusaha di posisi tengah, kenaikannya 0,351 poin. Pada pengusaha yang skornya sudah tinggi, yakni persentil ke-75 dan ke-90, kenaikannya 0,415 dan 0,444. Yang sudah rawan terkena paling berat.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
2020 dari dekat: siapa yang paling tertekan
Zou lalu memecah pengusaha ke dalam kelompok. Pengusaha muda di bawah 35 tahun mencatat kenaikan 0,595 poin pada 2020. Kelompok usia 35 sampai 49 tahun naik 0,247 poin, tetapi tidak bermakna. Kelompok 50 tahun ke atas naik 0,486 poin, bermakna secara lemah.
Status kawin juga membelah hasilnya. Pengusaha yang menikah atau hidup bersama pasangan naik 0,428 poin pada 2020. Pengusaha tanpa pasangan tidak menunjukkan perubahan bermakna. Zou mengaitkan hal ini dengan kaburnya batas usaha dan rumah selama karantina wilayah, sekolah tutup, dan kerja dari rumah.
Struktur usaha memberi beda paling tajam. Pengusaha yang punya bawahan langsung naik 0,595 poin pada 2020. Pengusaha tanpa karyawan justru mencatat minus 0,034, tidak bermakna. Zou menghubungkannya dengan beban tetap seperti gaji, sewa, dan kewajiban kepatuhan yang tetap jalan saat pendapatan turun.
Ia menuliskannya dengan tegas. “Pengusaha pemberi kerja, yang menanggung biaya tetap dan tanggung jawab atas karyawan, memikul beban terberat dari tekanan psikologis terkait pandemi, sementara pengusaha tanpa karyawan relatif tangguh,” tulis Zou dalam naskah berbahasa Inggris. Ia menyarankan bantuan keuangan bagi kelompok ini disertai dukungan kesehatan jiwa.
Jenis sektor ikut menentukan. Pengusaha di sektor yang menuntut tatap muka, seperti ritel, perhotelan, transportasi, jasa perorangan, manufaktur, dan konstruksi, naik 0,372 poin pada 2020. Di sektor yang bisa dikerjakan jarak jauh, seperti teknologi informasi, keuangan, riset, dan pendidikan, kenaikannya tidak bermakna.
Ketatnya kebijakan provinsi juga tercatat. Zou membagi provinsi ke dalam tiga kelompok berdasarkan indeks pembatasan Oxford COVID-19 Government Response Tracker untuk 2020. Di provinsi berpembatasan tinggi, kenaikannya 0,435 poin. Di provinsi berpembatasan sedang, 0,663 poin. Di provinsi berpembatasan rendah, tidak ada kenaikan bermakna.
Jaminan sosial menjadi temuan berikutnya. Pengusaha tanpa jaminan pensiun naik 0,428 poin pada 2020. Pengusaha yang punya jaminan pensiun naik 0,256 poin, tetapi tidak bermakna. “Akses jaminan sosial, bukan sekadar status sebagai pengusaha, tampaknya menjadi mekanisme kunci di balik kesenjangan yang teramati,” tulis Zou.
2022: sebagian reda, sebagian tertinggal
Dua tahun kemudian, gambarannya berubah. Pada 2022, skor pengusaha 5,71 dan bukan pengusaha 5,50. Selisih ini tidak lagi bermakna. Taksiran kenaikan khusus pada pengusaha turun menjadi 0,193 poin dan juga tidak bermakna secara statistik. Skor kedua kelompok tetap lebih tinggi daripada 2018, tetapi jarak di antara keduanya menyempit.
Zou membaca pola itu sebagai tekanan jangka pendek. “Selisih yang merugikan ini mengecil dan menjadi tidak bermakna secara statistik pada 2022, yang menunjukkan tekanan psikologis jangka pendek, bukan luka yang menetap,” tulisnya. Ia mengaitkan pemulihan itu dengan daya lenting yang lazim dimiliki pengusaha.
Penurunan itu tidak muncul karena pengusaha yang paling tertekan keluar dari survei. Zou mencatat pengusaha yang berhenti ikut survei tidak memiliki skor depresi yang lebih tinggi. Pada 2018, skor mereka 5,24, sedangkan yang bertahan sampai 2022 mencatat 5,18. Selisih keduanya tidak bermakna secara statistik.
Namun, tidak semua kelompok pulih bersamaan. Di provinsi berpembatasan tinggi, kenaikan masih bertahan pada 2022 di angka 0,391 poin. Di provinsi berpembatasan sedang, lonjakannya lebih besar pada 2020 tetapi pudar pada 2022. Zou menduga pembatasan ketat bisa memperpanjang tekanan psikologis.
Jenis gejalanya pun berbeda nasib. Gejala negatif, seperti rasa tertekan, takut, dan tidur gelisah, naik 0,224 poin pada 2020 dan masih tersisa 0,164 poin pada 2022. Anhedonia, yakni hilangnya rasa senang, naik 0,131 poin pada 2020 lalu hampir habis menjadi 0,029 poin.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Sampai naskah terbit: batas data dan angka yang perlu dicocokkan
Zou mengakui sejumlah keterbatasan. Lima jalur yang ia uji, yakni pendapatan, kepuasan pendapatan, kepuasan kerja, keyakinan akan masa depan, dan jaringan sosial, tidak satu pun terbukti menjadi perantara. Data survei juga tidak memuat umur usaha, kinerja usaha, atau alasan seseorang menjadi pengusaha.
Pencocokan kelompok hanya bisa memakai ciri yang terukur. Kepribadian dan keberanian mengambil risiko tidak tercatat dalam data. “Meski begitu, pembaca sebaiknya menafsirkan taksiran ini dengan hati-hati,” tulis Zou. Ia juga menyebut temuan ini belum tentu berlaku di negara dengan sistem dukungan sosial yang berbeda.
Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa sendiri. Tabel 2 menulis selisih skor 2020 sebagai minus 0,274, padahal skor pengusaha 5,53 lebih tinggi daripada 5,25. Semua angka di kolom selisih tabel itu bertanda minus, sehingga arah selisihnya terbaca terbalik. Bila dihitung dari dua skor itu, selisihnya plus 0,28.
Naskah menyebut pencocokan dilakukan satu banding satu, tetapi hasil akhirnya 2.040 pengusaha dan 9.132 bukan pengusaha. Tabel 1 juga mencatat 6.212 observasi pengusaha dan 27.649 bukan pengusaha. Perbandingan dua kelompok itu jauh dari satu banding satu. Pembaca bisa menghitung sendiri bahwa 9.132 lebih dari empat kali 2.040.
Penomoran bagian juga melompat, misalnya dari 4.1 langsung ke 4.3. Naskah ini ditulis seorang diri, tetapi pernyataan konflik kepentingannya berbunyi “The authors declare” dalam bentuk jamak. Hal-hal ini tidak mengubah arah temuan, tetapi patut dicocokkan pada versi akhir.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Gelombang survei terakhir yang dipakai adalah 2022. Pada titik itu, selisih rata-rata pengusaha dan pekerja di China sudah tidak bermakna. Di provinsi berpembatasan tinggi, kenaikannya masih tercatat 0,391 poin. Taksiran untuk seluruh pengusaha sudah turun ke 0,193 poin.















