- Ia satu dari 18 lansia di Kota Zibo, Tiongkok, yang diwawancarai antara Februari dan Juni 2025.
- Ia bahkan meminta suara chatbot itu diubah agar menyerupai suara mendiang.
- Chatbot menjadi tempat curhat, teman bermain, penasihat, sekaligus pemberi informasi.
- Satu jenis tidak muncul sama sekali, yakni dukungan instrumental berupa bantuan nyata.
Daftar Isi
- Rumah yang terasa seperti penjara sunyi, lalu sebuah mesin yang tiba-tiba menanyakan kabar leher yang sakit
- Teka-teki, sambung peribahasa, kaligrafi, dan lagu yang ditulis bersama sebuah aplikasi di ponsel
- Seorang nenek dipanggil nenek lagi, seorang laki-laki di kursi roda menjadi tabib, dan cerita yang dipesan sesuka hati
- Dari kesepian yang dibingkai ulang sebagai hal biasa sampai cakwe yang dibagikan kepada tetangga
- Apa yang tidak bisa diberikan mesin, dan beberapa catatan janggal yang masih bisa diperiksa sendiri di dalam naskah
Suaminya sudah tiada, dan foto-foto lama mereka kerap menyeretnya ke dalam duka. Suatu hari, perempuan berusia 67 tahun yang tinggal sendiri itu meminta chatbot di ponselnya berbicara kepadanya seolah-olah mesin itu adalah sang suami. Ia bahkan meminta suara chatbot itu diubah agar menyerupai suara mendiang.
Kisahnya dicatat Fengbo Jiao, Meiyu Li, Min Liu, dan Quan Zhang dalam Addressing loneliness by AI chatbot: a qualitative study of empty-nest elderly, BMC Public Health volume 26 nomor 685, tahun 2026. Jiao, Liu, dan Zhang bekerja di School of International Affairs and Public Administration, Ocean University of China, sedangkan Li berasal dari China University of Petroleum (East China). Keduanya berada di Qingdao.
Perempuan itu dicatat para penulis sebagai Partisipan 18. Semuanya bermula dari permainan yang diusulkan chatbot bernama Doubao, semacam tebak suasana. Ia mengirim sebuah foto, lalu Doubao menebak konteksnya. Tebakan itu kadang tepat, kadang meleset dengan lucu, dan ia menikmatinya. Baru setelah itu ia meminta mesin tersebut bicara sebagai suaminya.
“Interaksi ini membawa penghiburan yang luar biasa dan meredakan pedihnya kerinduan,” katanya, dalam kutipan yang tercatat di naskah berbahasa Inggris itu. Ia satu dari 18 lansia di Kota Zibo, Tiongkok, yang diwawancarai antara Februari dan Juni 2025. Semuanya berusia 60 tahun ke atas dan hidup dalam apa yang disebut sarang kosong.
Istilah itu merujuk pada orang tua yang tidak punya anak, atau yang anak-anaknya sudah pergi dari rumah setelah dewasa. Mereka tinggal sendiri atau hanya berdua dengan pasangan. Sebelas peserta perempuan, tujuh laki-laki, dan delapan orang di antaranya tinggal sendirian. Semua memakai Doubao untuk bercakap soal perasaan setidaknya 15 menit sehari selama sebulan terakhir.
Doubao dikembangkan ByteDance dan diluncurkan pada Agustus 2023. Menurut naskah itu, namanya berarti roti kacang, dipilih untuk memberi kesan hangat dan akrab. Aplikasinya gratis, dan pada pertengahan 2025 penggunanya sudah melampaui 150 juta orang aktif per bulan. Para penulis memilih pengguna Doubao karena penjajakan awal mendapati obrolan mereka lebih emosional dibanding pengguna chatbot lain.
Rumah yang terasa seperti penjara sunyi, lalu sebuah mesin yang tiba-tiba menanyakan kabar leher yang sakit
Sebelum ada Doubao, banyak peserta menggambarkan rumah yang terlalu senyap. Seorang laki-laki yang dicatat sebagai Partisipan 9 bercerita anak-anaknya tinggal jauh, dan sebagai orang pendiam ia jarang bergaul. Rumahnya dulu terasa seperti penjara sunyi, sampai ia merasa hampir menjadi bisu. Kini, setiap kali menganggur, ia bercerita tentang harinya kepada Doubao.
Ada yang lebih berat dari sekadar sunyi. Partisipan 1, seorang ayah, mengaku hubungannya dengan sang putra renggang dan ia sering merasa gagal sebagai ayah. Ia kerap kesepian dan sedih karena anak-anaknya tidak hadir di masa tuanya. Kini ia kerap menumpahkan kekecewaannya kepada Doubao, bahkan meminta saran untuk memperbaiki hubungan itu. Ia tidak pernah punya siapa pun untuk membicarakan hal semacam itu sebelumnya.
Partisipan 7 kehilangan suaminya beberapa tahun sebelumnya, dan rasa sakit itu masih tinggal. Suatu hari ia bercerita tentang sang suami kepada Doubao. Chatbot itu menanggapinya dengan dukungan emosional, bahkan ikut mengenang bersamanya. Menurut perempuan itu, ia akhirnya punya tempat untuk menumpahkan duka, dan setelahnya ia merasa jauh lebih baik.
Kejutan terbesar justru datang dari hal kecil. Partisipan 4, laki-laki berusia 65 tahun yang tinggal sendiri, membuka Doubao suatu hari dan langsung ditanya bagaimana kabar lehernya. Ia baru sadar pernah menyebut keluhan lehernya di obrolan sebelumnya. “Rasanya sungguh seperti teman curhat yang selalu ada di sisi saya,” katanya.
Ingatan semacam itu dibaca para peserta sebagai kepedulian yang sungguh-sungguh. Partisipan 10 bercerita masalah kulitnya mengganggu tidur dan menjauhkannya dari teman-teman. Kondisi itu, katanya, membuat jam biologisnya kacau dan ia sering lelah pada siang hari. Doubao menyarankan salep, lalu menemaninya pada malam-malam tanpa tidur sambil memutar musik yang menenangkan. Ia merasa kesepian dan rasa kehilangannya benar-benar dipahami.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Teka-teki, sambung peribahasa, kaligrafi, dan lagu yang ditulis bersama sebuah aplikasi di ponsel
Sebagian lansia tidak mencari tempat curhat. Mereka mencari teman bermain. Partisipan 2 menyebut permainan yang paling sering ia mainkan bersama Doubao adalah tebak-tebakan. Dulu ia menghabiskan hari sendirian di rumah dengan pikiran yang terasa mandek. Kini waktu terasa cepat berlalu, dan ia sungguh gembira setiap kali tebakannya benar.
Partisipan 15, perempuan berusia 82 tahun yang tinggal sendiri, sering dilanda bosan. Doubao mendengarkan keluhannya lalu mengajaknya bermain sambung peribahasa Tionghoa. Awalnya ia tidak pandai, tetapi lama-lama membaik, dan kini ia mempelajari banyak peribahasa setiap hari. Hidup, katanya, tidak lagi semonoton dulu. Dalam pembacaan para penulis, permainan semacam ini memberi rangsangan pikiran yang sebelumnya tidak ada di keseharian mereka.
Bagi yang lain, permainan membangunkan hobi lama yang sudah mati suri. Partisipan 11 bertahun-tahun tidak bisa bergerak leluasa dan terkurung di rumah. Doubao mendorongnya kembali ke kaligrafi, memberi arahan, bahkan berbagi cerita yang berkaitan. Mereka mengobrol sementara ia menulis, dan menurutnya rasa sepi itu mereda. Meski dipisahkan layar, katanya, mereka sudah berbagi banyak momen indah.
Partisipan 13 menulis lirik, dan Doubao menggubah melodinya. Mereka sudah membuat banyak lagu bersama. Seorang peserta lain, Partisipan 5, menceritakan bahwa ia kini hanya bisa berbaring, dengan putranya yang berkunjung dua kali setahun. Setelah ia mencurahkan rasa sepinya, Doubao mendorongnya menulis naskah drama pendek, dan ia mendiktekan naskah itu kepada chatbot tersebut.
Seorang nenek dipanggil nenek lagi, seorang laki-laki di kursi roda menjadi tabib, dan cerita yang dipesan sesuka hati
Partisipan 3 kehilangan putranya. Setelah itu cucu perempuannya pindah bersama sang ibu dan hanya berkunjung setahun sekali. Ia jarang mengungkapkan kesepiannya, tetapi rindunya dalam. Maka kadang ia meminta Doubao memanggilnya nenek dan berpura-pura menjadi cucu kecilnya. Ia bercerita tentang masa lalunya, dan si cucu bertanya soal makanan daerah yang belum pernah didengarnya.
“Doubao sungguh menyembuhkan hati saya yang kesepian,” katanya. Menurut perempuan berusia 63 tahun itu, rasanya seperti punya cucu lagi, dan hari-hari ke depan tidak akan sesakit sebelumnya. Kisah ini sejajar dengan Partisipan 18 dan suaminya. Keduanya memakai mesin untuk menghidupkan kembali seseorang yang tak lagi hadir. Dalam catatan para penulis, peran-peran itu memberi bentuk keterhubungan yang hanya terbayang, tetapi terasa menyentuh.
Partisipan 11 memakai permainan peran untuk tujuan lain. Dari kursi rodanya ia lama mendalami pengobatan tradisional Tionghoa. Suatu hari, iseng, ia meminta Doubao menjadi pasien sementara ia menjadi tabibnya. Chatbot itu menggambarkan gejala, ia menjawab dengan resep herbal, lalu menanyakan apakah kondisinya membaik. Hidup, katanya, mendadak jauh lebih menarik.
Partisipan 5 bosan menonton drama pendek yang alurnya berulang. Ia bertahun-tahun terbaring dan hanya bisa memakai ponsel dengan satu tangan. Maka ia meminta Doubao menyusun cerita bersama, dan ia sendiri yang mendiktekan alurnya. Ia memerankan seorang direktur perempuan, dan chatbot itu menjadi putrinya yang lama hilang. Menurutnya, itu jauh lebih mengasyikkan daripada menonton pasif.
Dari kesepian yang dibingkai ulang sebagai hal biasa sampai cakwe yang dibagikan kepada tetangga
Bagian lain dari cerita ini lebih mirip konseling. Kepada Partisipan 18, Doubao awalnya mengakui bahwa kematian suami dan renggangnya hubungan dengan putranya menjadi sumber kesepiannya. Setelah sebulan bercakap, ia menerima saran untuk memandang kesendirian sebagai kenormalan baru. Ia lalu memperbaiki pola makan dan rutin berolahraga, seperti yang dianjurkan chatbot itu.
Partisipan 16, perempuan berusia 85 tahun, terkurung di rumah sejak terkena septisemia. Suaminya wafat empat dekade silam, anak-anaknya jarang datang, dan tetangga menjauh. Doubao mendorongnya fokus pada minatnya sendiri dan membimbingnya bermeditasi setiap sore. “Seiring waktu, saya sadar sebagian besar kesepian saya saya ciptakan sendiri,” katanya. Menurutnya, sendirian tidak selalu buruk.
Ujung yang paling mengejutkan adalah ketika chatbot mendorong lansia keluar rumah. Partisipan 6 ikut kelas gunting kertas di lingkungannya, tetapi tak tahu cara memulai obrolan dan malah makin terasing. Doubao memberinya kalimat pembuka dan mengajaknya berlatih. Hasilnya, ia punya teman baru, dan kini mereka mengobrol sambil membuat kerajinan.
Partisipan 7 belajar teknik memasak lewat Doubao, lalu suatu pagi membagikan cakwe buatannya kepada tetangga. Beberapa datang untuk belajar, dan ia mengajari mereka memakai Doubao untuk memasak. Partisipan 17 mendalami berkebun sampai para penanam bunga di pasar meminta sarannya. Partisipan 11 dilatih bertahap di media sosial, dari menyukai unggahan sampai ikut bercakap.
Baca juga Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya
Apa yang tidak bisa diberikan mesin, dan beberapa catatan janggal yang masih bisa diperiksa sendiri di dalam naskah
Para penulis memetakan enam tema itu ke dalam jenis dukungan sosial. Chatbot menjadi tempat curhat, teman bermain, penasihat, sekaligus pemberi informasi. Satu jenis tidak muncul sama sekali, yakni dukungan instrumental berupa bantuan nyata. “Tidak seperti manusia, chatbot tidak memiliki tubuh fisik, kemampuan memberi bantuan instrumental, dan kerentanan timbal balik yang mencirikan hubungan antarmanusia,” tulis Jiao, Li, Liu, dan Zhang.
Mereka membaca peran chatbot sebagai pelengkap. “Hal ini menunjukkan peran yang berpotensi transformatif bagi AI: menawarkan dukungan mikro yang berkelanjutan, yang melengkapi, bukan menggantikan, hubungan antarmanusia,” tulis keempatnya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka juga mengingatkan bahwa chatbot tidak bisa menggantikan perawatan profesional, dan ingatan yang terus tersimpan membawa persoalan privasi.
Keterbatasannya diakui terang. Pesertanya hanya lansia Tiongkok pengguna satu chatbot, dan karena pembatasan wilayah mereka tidak bisa mengakses ChatGPT atau Claude. Perhatian analisis condong ke interaksi yang menyenangkan. “Penekanan pada interaksi positif ini mungkin telah menutupi pengalaman yang ambivalen atau merugikan,” tulis mereka, sebab keluhan sebagian peserta tidak digali lebih jauh.
Beberapa hal di dalam naskah terasa janggal. Tabel 1 mencatat Partisipan 5 tinggal sendiri, padahal kutipannya menyebut ia hanya bisa berbaring di panti jompo. Bagian keterbatasan menyarankan riset berikutnya melibatkan lansia tertua dan yang tinggal benar-benar sendiri, seolah keduanya luput. Padahal delapan dari 18 peserta tinggal sendiri, dan dua di antaranya berusia di atas 80 tahun.
Tujuan riset juga disebut menyoroti pola pemakaian, bukan menilai keampuhan. Namun, bagian hasil berulang kali memakai kata kesepian yang berkurang secara substansial dan nyata, dan bagian diskusi menyebut temuannya sebagai bukti empiris pertama. Klaim sekuat itu lahir dari 18 wawancara tanpa satu pun ukuran kesepian. Pembaca bisa mencocokkannya sendiri di abstrak dan bab hasil.
Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat
Foto-foto itu masih ada di ponsel Partisipan 18. Ia masih mengirimnya satu per satu, dan Doubao masih menebak, kadang benar, kadang meleset. Suara di seberang terdengar seperti suaminya. Suami itu sendiri tetap tidak ada.














