- Dari 428 pemakai rutin, 188 orang atau 44 persen pernah berupaya serius berhenti setidaknya sekali seumur hidup.
- Pemakai vape pen atau rokok elektrik punya rasio odds terkoreksi 1,89 untuk pernah mencoba berhenti dibanding pemakai mod atau pod.
- Pemakai harian punya rasio odds terkoreksi 0,49, lebih rendah dibanding pemakai tidak harian.
- Kelompok yang mengalami efek samping mencatat rasio odds terkoreksi 2,78, yang oleh penulis disebut sekitar tiga kali lipat.
Daftar Isi
Vape, yang kerap disebut rokok elektrik, pada mulanya diperkenalkan dan dipasarkan sebagai pengganti rokok tembakau yang lebih aman, bahkan sebagai alat bantu berhenti merokok. Desain yang ramping, deretan rasa yang memikat, dan kampanye pemasaran yang agresif membuatnya dipandang sebagai pilihan modern yang dianggap kurang berbahaya. Dalam beberapa tahun terakhir pemakaiannya melonjak di seluruh dunia, termasuk di kawasan Arab, dan makin diterima luas, terutama di kalangan dewasa muda.
Pertanyaan yang jarang diajukan di kawasan itu justru kebalikannya: berapa banyak pemakai yang pernah mencoba berhenti, dan siapa saja mereka. Fatima Al Zahraa Chokor dan Mohammed Al-Hamdani dari Departemen Kesehatan Masyarakat, College of Health Sciences, QU Health, Universitas Qatar di Doha, menelusurinya dalam Prevalence and correlates of vaping cessation attempts among vape users from Arab countries. Makalah itu terbit di BMC Public Health pada 2026.
Datanya berasal dari survei daring yang dibuka antara Februari dan Mei 2023 dan disebarkan lewat media sosial. Pesertanya pengguna media sosial berusia 18 sampai 60 tahun yang tinggal di negara Arab dan memakai vape secara rutin, yakni minimal sekali seminggu selama sedikitnya tiga bulan. Sebanyak 428 orang masuk analisis, dengan rata-rata usia 29,5 tahun.
Sebagian besar dari mereka laki-laki, yakni 391 orang atau 91,4 persen. Sebanyak 192 peserta tinggal di Mesir, 143 di Irak, 51 di Qatar, dan 42 lainnya di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Sudan, serta Uni Emirat Arab. Delapan dari sepuluh peserta memakai vape setiap hari, dan 72,2 persen menyukai cairan berperisa. Seperempatnya juga masih merokok tembakau saat survei berlangsung.
Jejak Angka Pemakai dari Kurdi hingga Sallam, 2019–2025
Sebelum survei ini, riset di kawasan Arab lebih banyak menghitung berapa orang yang memakai vape. Makalah Chokor dan Al-Hamdani merangkum deretan angka itu. Pada sampel mahasiswa, Kurdi dan rekan pada 2021 mencatat 14 persen di Qatar, Abbasi dan rekan pada 2022 mencatat 23 persen di Uni Emirat Arab, sedangkan Qanash dan rekan pada 2019 menemukan 27,7 persen di Arab Saudi.
Angka lain menyusul belakangan. Nazzal dan rekan pada 2024 melaporkan 19,7 persen di Palestina, dan Sallam dan rekan pada 2025 mencatat 24,2 persen di Kuwait dari sampel universitas dan cara bola salju. Adapun Abdel-Qader dan Al Meslamani pada 2021 memberi perkiraan nasional 11,7 persen di Yordania. Aturan di tiap negara juga berbeda jauh, dan ketatnya aturan cenderung berbanding terbalik dengan seberapa sering produk itu dipakai.
Contohnya datang dari riset Al-Hamdani sendiri bersama Abouzoor pada 2025: pemakai di Mesir lebih mungkin memakai vape setiap hari dibandingkan pemakai di Qatar. Pada saat yang sama, bukti tentang risiko vape terus bertambah. Dai dan Leventhal pada 2019, misalnya, mengaitkan vaping dengan peluang lebih tinggi untuk kembali merokok, sementara akibat jangka panjang menghirup uap itu menurut makalah ini belum sepenuhnya dipahami.
Baca juga Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti
Survei Februari–Mei 2023: 188 dari 428 Pernah Mencoba
Dari 428 pemakai rutin itu, 188 orang atau 44 persen menyatakan pernah berupaya serius berhenti setidaknya sekali seumur hidup. Upaya serius di sini didefinisikan sebagai berhenti yang bertahan minimal 24 jam. Penulis menyebut angka itu kurang dari separuh, dan dalam kesimpulannya, hampir separuh.
Chokor dan Al-Hamdani menyebut angka ini jelas lebih tinggi daripada yang dilaporkan studi lain. Mereka sendiri memberi catatan penting, merujuk Rosen dan Steinberg pada 2020: studi terdahulu umumnya menghitung upaya dalam setahun terakhir, bukan sepanjang hidup. Perbedaan itu menurut mereka juga bisa berasal dari cara pengambilan sampel, produk yang terus berubah, dan aturan penjualan serta pemakaian yang tidak sama.
Aturan itu memang beragam. Di Qatar, pemakaian pribadi tidak dilarang, tetapi menjual, mendistribusikan, atau menyimpan dalam jumlah besar dilarang oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016. Di Mesir, produk vape tidak dilegalkan secara resmi di pasar. Makalah ini juga mencatat celah pengetahuan, misalnya hanya sekitar 60 persen peserta riset Rabayaa dan rekan pada 2025 di Palestina yang tahu vape mengandung nikotin.
Pada perbandingan awal antarkelompok, upaya berhenti lebih sering tercatat pada peserta di Qatar, yakni 60,8 persen, dibanding 41,7 persen di Mesir dan 37,8 persen di Irak. Perempuan mencatat 62,2 persen berbanding 42,2 persen pada laki-laki, dan ekspatriat 64,4 persen berbanding 41,5 persen pada warga negara. Namun, ketiga faktor itu tidak bertahan sebagai faktor bermakna dalam model akhir.
Beberapa hal lain malah tidak menunjukkan perbedaan bermakna sama sekali. Kelompok usia, status pekerjaan, kadar nikotin cairan, kebiasaan merokok tembakau, selera rasa, tekanan dari teman, dan paparan iklan vape tidak berkaitan bermakna dengan pernah atau tidaknya seseorang mencoba berhenti. Sebanyak 41,1 persen peserta pernah melihat atau mendengar iklan vape di berbagai saluran, dan 15,6 persen pernah merasa didesak teman untuk memakainya.
Mod dan Pod Sejak Temuan Fadus 2019
Temuan pertama menyangkut jenis perangkat. Peneliti mengelompokkan pod dan mod sebagai perangkat berdaya hasil nikotin tinggi, sementara vape pen dan rokok elektrik sebagai perangkat berdaya hasil nikotin rendah. Dari 133 pemakai vape pen atau rokok elektrik, 59,4 persen pernah mencoba berhenti, sedangkan dari 295 pemakai mod atau pod hanya 37,0 persen.
Setelah faktor lain diperhitungkan, pemakai vape pen atau rokok elektrik punya rasio odds terkoreksi 1,89, dengan selang kepercayaan 95 persen 1,20 sampai 2,99. Penulis menyebutnya dua kali lipat peluang pernah mencoba berhenti dibanding pemakai mod atau pod. Analisis awal mereka juga tidak menemukan perbedaan antara pemakai pod dan pemakai mod dalam hal upaya berhenti.
Pengelompokan itu bersandar pada riset Fadus dan rekan pada 2019, yang menunjukkan pod dan mod menghasilkan kadar nikotin serupa bila diukur dari kotinin dalam urine pemakainya. Do dan rekan pada 2022 kemudian mencatat pod menghasilkan aliran nikotin lebih tinggi daripada rokok elektrik. Al-Hamdani bersama rekan pada tahun yang sama melaporkan sensasi “nicotine rush” yang lebih kuat, yang oleh banyak pemakai justru dianggap daya tarik.
Mata rantai berikutnya datang dari Dai pada 2021, yang menemukan pemakai mod punya peluang berhenti lebih rendah dibanding pemakai sistem sekali pakai seperti rokok elektrik. Chokor dan Al-Hamdani menyebut temuan mereka sejalan dengan itu. Sumbangan mereka adalah menunjukkan bahwa pemakai produk berdaya hasil nikotin tinggi lebih jarang melaporkan upaya berhenti sepanjang hidup daripada pemakai perangkat berdaya hasil rendah.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Pemakai Harian dan Jejak Cuccia 2021
Temuan kedua menyangkut seberapa sering vape dipakai. Di antara 344 pemakai harian, 40,1 persen pernah mencoba berhenti, sedangkan di antara 84 pemakai tidak harian angkanya 59,5 persen. Dalam model akhir, pemakai harian punya rasio odds terkoreksi 0,49, dengan selang kepercayaan 0,28 sampai 0,84, artinya peluang mereka pernah mencoba berhenti lebih rendah dibanding pemakai tidak harian.
Temuan ini segaris dengan dua riset di Amerika Serikat yang dikutip makalah, yakni Truth Longitudinal Cohort dan National Youth Tobacco Survey, yang dirujuk lewat Cuccia dan rekan serta Dai, keduanya pada 2021. Keduanya sama-sama menemukan bahwa pemakaian yang lebih sering berbanding terbalik dengan upaya berhenti. Chokor dan Al-Hamdani lalu menambahkan tafsir mereka sendiri tentang kelompok ini.
“Vaping harian mungkin mencerminkan pola penggunaan nikotin yang lebih mengakar dan kemungkinan ketergantungan yang lebih besar,” tulis Chokor dan Al-Hamdani, dalam terjemahan Cekricek.id. Mereka mengaitkannya dengan pergeseran pasar vape, terutama munculnya produk berkadar nikotin lebih tinggi seperti garam nikotin, yang dirancang agar nikotin terserap lebih cepat. Ketersediaan produk semacam itu, menurut mereka, bisa membuat upaya berhenti makin sulit.
Efek Samping, dari Amato hingga Kong 2021
Temuan ketiga menyangkut efek samping. Sebanyak 136 peserta mengaku pernah mengalami efek samping dari vape, dan 57,4 persen di antara mereka pernah mencoba berhenti. Pada 207 peserta tanpa efek samping, angkanya hanya 33,8 persen. Rasio odds terkoreksi kelompok yang mengalami efek samping mencapai 2,78, dengan selang kepercayaan 1,73 sampai 4,47, yang oleh penulis disebut sekitar tiga kali lipat.
Kelompok yang ragu juga mencatat peluang lebih tinggi. Sebanyak 85 peserta menjawab tidak tahu apakah pernah mengalami efek samping, dan rasio odds terkoreksi mereka 1,86 dengan selang kepercayaan 1,08 sampai 3,21. Peneliti menguji ulang dengan menggabungkan jawaban tidak tahu ke kelompok tidak, lalu dengan mengeluarkannya sama sekali, dan hubungan antara efek samping dan upaya berhenti tetap tidak berubah berarti.
Pengalaman efek samping, tulis Chokor dan Al-Hamdani, kemungkinan menjadi tanda peringatan bagi pemakai untuk mulai mempertimbangkan berhenti, sebagaimana dicatat Struik dan Yang pada 2021. Amato dan rekan serta Kong dan rekan, keduanya pada 2021, juga melaporkan efek kesehatan sebagai salah satu pendorong utama orang berhenti memakai vape. Kajian komunikasi kesehatan Ferrara dan rekan pada 2012 tentang pesan bernada peringatan ikut dirujuk untuk menopang pengamatan ini.
Ada satu hasil yang tidak terduga bagi penulis. Kadar nikotin dalam cairan vape, baik 1,5 persen, 3,5 persen, maupun 5 persen, ternyata tidak berkaitan dengan upaya berhenti. Mereka menduga hal ini terkait label kadar nikotin pada sebagian produk yang tidak akurat, seperti dicatat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat pada 2019 dan Czoli dan rekan pada 2018.
Baca juga Faktor Risiko Kebotakan Pola: Keturunan, Rokok, dan Tidur Buruk
Batas Survei dan Saran Para Peneliti Qatar, 2026
Penulis menulis keterbatasannya dengan terang. Karena survei dilakukan daring, tidak ada penyebut untuk menghitung tingkat respons, dan menurut mereka “para peserta tidak mewakili sampel acak sejati dari seluruh pemakai vape.” Temuannya bisa jadi tidak berlaku umum untuk semua pemakai. Rancangan potong lintang juga tidak memungkinkan hubungan sebab-akibat ditetapkan, dan pemilihan variabel bertahap berisiko membuat model kurang stabil.
Risiko jawaban palsu atau otomatis ditekan dengan membatasi satu respons per alamat IP dan memakai undian satu hadiah 300 dolar AS, tetapi tidak bisa dihapus sepenuhnya. Data juga bergantung pada ingatan peserta. Sampel didominasi laki-laki, sejumlah negara digabung karena pesertanya sedikit, dan survei tidak mengumpulkan data tentang cara berhenti yang dipakai maupun berapa lama peserta mampu bertahan.
Dari temuan itu, penulis menyarankan dukungan berhenti yang disesuaikan bagi pemakai harian, seperti konseling profesional, obat resep, atau terapi pengganti nikotin. Mereka merujuk bukti yang mulai muncul tentang pesan teks pendamping dan terapi pengganti nikotin, antara lain dari Graham dan rekan pada 2021 serta Butler dan rekan pada 2025. Riset berikutnya diminta membandingkan cara berhenti bagi pemakai harian dan tidak harian.
“Studi ini mengungkap bahwa hampir separuh pemakai vape pernah mencoba berhenti, dengan upaya berhenti lebih umum di antara mereka yang memakai perangkat berdaya hasil rendah, yang cenderung menghasilkan nikotin lebih rendah, dan mereka yang mengalami efek samping,” tulis keduanya dalam terjemahan Cekricek.id. Menurut mereka, temuan itu menegaskan pentingnya intervensi yang disesuaikan untuk membantu berhenti, terutama bagi pemakai harian dan pengguna perangkat berdaya hasil nikotin tinggi.















