Dokter Gigi Chennai Mengaku Kurangi Antibiotik Usai Pelatihan

A A

Ilustrasi kursi dokter gigi dan peralatan di ruang praktik klinik gigi di Howrah, India [Foto: AuliRaha/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebelum pelatihan, 50,0 persen peserta memilih membuka akses gigi sambil meresepkan amoksisilin untuk nyeri pulpitis.
  • Sesudah pelatihan, seratus persen peserta memilih jawaban tanpa antibiotik.
  • Skor rata-rata kuis naik dari 6,53 menjadi 15,9, dengan selisih rata-rata 9,4.
  • Tiga belas dari 16 dokter gigi yang diwawancarai melaporkan berhenti total memberi antibiotik setelah cabut gigi.
Daftar Isi
  1. Sebelum Pelatihan, Amoksisilin Jadi Pilihan untuk Gigi yang Nyeri
  2. Kebiasaan yang Ditanam Sejak Bangku Kuliah dan Ketakutan Kehilangan Pasien
  3. Empat Puluh Menit di Depan Laptop, Lalu Skor yang Melompat
  4. Enam Minggu Kemudian, Resep yang Tak Lagi Ditulis di Klinik
  5. Konsultan yang Datang Membawa Resep Sendiri dan Apotek di Ujung Jalan

Pasien dalam soal kuis itu menahan nyeri pulpitis ireversibel dan harus bertahan dua hari sampai janji dengan dokter spesialis saluran akar. Soal itu dikerjakan 32 dokter gigi di laptop masing-masing, di sebuah aula konferensi di Chennai, India, pada Januari 2024. Separuh dari mereka memilih jawaban yang sama: buka akses gigi, tambal sementara, beri amoksisilin dan obat pereda nyeri.

Kuis itu bagian dari uji coba yang disusun Aarthi Bhuvaraghan dan rekan dari Sree Balaji Dental College and Hospital, Bharath Institute of Higher Education and Research, Chennai, serta School of Dentistry, University of Leeds, Inggris. Hasilnya terbit dengan judul Reducing inappropriate antibiotic prescribing behaviour among dental practitioners in a south Indian City through an educational intervention– a mixed methods feasibility study di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Yang diuji adalah paket edukasi untuk dokter gigi praktik umum. Isinya tiga: panduan antibiotik satu halaman bergambar untuk diletakkan di samping kursi praktik, modul pelatihan berbentuk slide, dan lembar informasi pasien. Paket itu dikembangkan para penulis bersama pemangku kepentingan dari India. Indian Dental Association membantu mencari peserta. Modulnya membahas resistensi antimikroba, cara meresepkan sesuai pedoman global, komunikasi dengan pasien, dan pencatatan resep. Lembar pasiennya menegaskan bahwa penyakit gigi disembuhkan dengan tindakan gigi, bukan antibiotik.

Sebelum Pelatihan, Amoksisilin Jadi Pilihan untuk Gigi yang Nyeri

Sebelum pelatihan, 50,0 persen peserta memilih membuka akses gigi sambil meresepkan amoksisilin 500 mg tiga kali sehari. Sebanyak 15,6 persen memilih amoksisilin, analgesik, lalu kontrol, tanpa tindakan. Hanya 34,4 persen yang memilih membuka akses, menambal, memberi analgesik, dan memanggil pasien untuk perawatan saluran akar tanpa antibiotik. Sesudah pelatihan, angka itu berbalik penuh. Seratus persen peserta memilih jawaban tanpa antibiotik. Pilihan amoksisilin, baik dengan maupun tanpa tindakan, turun ke nol. Pilihan metronidazol 400 mg tidak dipilih siapa pun, sebelum maupun sesudah.

Kuis pulpitis: setelah pelatihan, semua memilih tanpa antibiotikAmoksisilin, analgesik, kontrol: Sebelum pelatihan 15,6%, Sesudah pelatihan 0,0%; Buka akses, tambal, analgesik, panggil RCT: Sebelum pelatihan 34,4%, Sesudah pelatihan 100,0%; Buka akses, tambal, amoksisilin, analgesik, panggil RCT: Sebelum pelatihan 50,0%, Sesudah pelatihan 0,0%; Metronidazol, kontrol RCT: Sebelum pelatihan 0,0%, Sesudah pelatihan 0,0%.Kuis pulpitis: setelah pelatihan, semuamemilih tanpa antibiotikPersen peserta per pilihan jawaban, nyeri pulpitisireversibel 2 hari sampai janji endodontisSebelum pelatihanSesudah pelatihan0%25%50%75%100%15,6%0,0%Amoksisilin,analgesik,kontrol34,4%100,0%Buka akses,tambal,analgesik,panggil RCT50,0%0,0%Buka akses,tambal,amoksisilin,analgesik,panggil RCT0,0%0,0%Metronidazol,kontrol RCTAmoksisilin 500 mg dan metronidazol 400 mg tiga kali sehari; RCT =perawatan saluran akar
Sumber: Aarthi Bhuvaraghan dan rekan, Reducing inappropriate antibiotic prescribing behaviour among dental practitioners in a south Indian City through an educational intervention– a mixed methods feasibility study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Soal kedua menanyakan pasien mana yang akan diberi antibiotik untuk pencabutan gigi premolar yang tak bisa dipertahankan. Sebelum pelatihan, 28,1 persen peserta memilih memberi antibiotik untuk pasien diabetes yang terkendali. Untuk pasien periodontitis kronis, angkanya 34,4 persen. Untuk pasien berpacu jantung, 40,6 persen. Sesudah pelatihan, pilihan untuk pasien diabetes terkendali turun ke 0,0 persen dan untuk periodontitis kronis ke 3,1 persen. Pasien berpacu jantung masih dipilih 34,4 persen peserta. Jawaban tidak satu pun pasien naik dari 18,8 persen menjadi 62,5 persen.

Baca juga Antibiotik Mengiringi Satu dari Tujuh Anak Italia sejak Bayi

Kebiasaan yang Ditanam Sejak Bangku Kuliah dan Ketakutan Kehilangan Pasien

Mundur sedikit. Para dokter gigi itu menceritakan kebiasaan lama mereka dalam wawancara enam minggu setelah pelatihan. Antibiotik diberikan untuk prosedur gigi rutin karena takut komplikasi, dan kadang untuk menutupi keterampilan atau sterilisasi yang kurang memadai. Seorang dokter gigi perempuan mengaku dulu selalu takut pasiennya tak sembuh bila ia tak meresepkan antibiotik. Seorang praktisi senior menjelaskan bahwa nyeri dianggap tanda infeksi, sehingga analgesik dan antibiotik diberikan bersama agar aman. Semua peserta wawancara memberi antibiotik pencegahan untuk pencabutan rutin, termasuk gigi yang sudah goyang.

Pasien anak pun mendapat antibiotik setelah pencabutan gigi susu dan perawatan saraf gigi susu. Jenis antibiotik dan lama pemberiannya sangat beragam. Resep berisi lebih dari satu antibiotik jamak ditemui. Semasa pendidikan, mereka selalu disarankan meresepkan antibiotik secara rutin untuk sejumlah kondisi gigi. Seorang dokter gigi perempuan mengingat masa pendidikannya, ketika lembar resep berisi amoksisilin, aseklofenak, parasetamol, dan obat lambung disiapkan untuk semua pasien cabut gigi. Semua peserta wawancara sepakat resistensi antimikroba tidak diajarkan dalam pendidikan profesi mereka.

Ada pula soal pasien. Para dokter gigi percaya pasien tak akan memercayai mereka bila tidak diberi obat, lalu pindah ke dokter lain. Seorang dokter gigi laki-laki menyebut pelatihan itu pembuka mata, karena selama ini mereka sama sekali tidak tahu tentang resistensi antimikroba.

Empat Puluh Menit di Depan Laptop, Lalu Skor yang Melompat

Pelatihannya berlangsung 40 menit sampai satu jam. Peserta membaca materi dan mengerjakan kuis di laptop masing-masing, menirukan kursus pengembangan profesi berkelanjutan secara daring. Tidak ada insentif uang, hanya sertifikat partisipasi dari Indian Dental Association. Ke-32 peserta terdiri atas 14 laki-laki dan 18 perempuan, berusia 25 sampai 60 tahun. Pengalaman praktik mereka berkisar 1 sampai 37 tahun. Lima belas berpraktik di pinggiran Chennai yang umumnya lebih miskin, tujuh belas di kawasan kota.

Skor rata-rata kuis naik dari 6,53 menjadi 15,9, dengan selisih rata-rata 9,4. Kenaikan itu bermakna secara statistik, walau penelitian ini tidak dirancang untuk mengukur efektivitas. Tidak ada beda bermakna menurut pengalaman klinis, jenis kelamin, atau tempat praktik. Satu kelompok melompat lebih jauh. Dokter gigi yang hanya bergelar dasar mencatat kenaikan rata-rata 11,36, lebih besar secara bermakna daripada 9,0 pada mereka yang punya kualifikasi tambahan. Skor awal kedua kelompok tidak berbeda bermakna.

Hanya kualifikasi tambahan yang bermakna pada kenaikan skorJenis kelamin: Koefisien B 0,719; Tempat praktik: Koefisien B -1,925; Kualifikasi tambahan: Koefisien B -2,375; Pengalaman klinis: Koefisien B 0,741; Skor awal (baseline): Koefisien B -0,211.Hanya kualifikasi tambahan yang bermaknapada kenaikan skorKoefisien B model regresi linear multivariat untuk selisihskor sebelum dan sesudah pelatihan-3-2-110Jenis kelamin0,719Tempat praktik-1,925Kualifikasi tambahan-2,375Pengalaman klinis0,741Skor awal (baseline)-0,211Sig.: kualifikasi tambahan 0,030; tempat praktik 0,056; skor awal0,103; pengalaman klinis 0,301; jenis kelamin 0,509
Sumber: Aarthi Bhuvaraghan dan rekan, Reducing inappropriate antibiotic prescribing behaviour among dental practitioners in a south Indian City through an educational intervention– a mixed methods feasibility study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis mengingatkan bahwa kenaikan skor dalam rancangan sebelum dan sesudah perlu dibaca hati-hati. Angkanya bisa dipengaruhi efek mengerjakan tes yang sama dua kali dan kecenderungan orang mengubah perilaku saat diamati.

Baca juga Warga China yang Beli Obat Sendiri Lebih Sering Sakit Lambung

Enam Minggu Kemudian, Resep yang Tak Lagi Ditulis di Klinik

Enam belas peserta diwawancarai di klinik masing-masing enam minggu setelah pelatihan. Tiga belas di antaranya melaporkan berhenti total memberi antibiotik setelah cabut gigi. Dua membatasinya pada pencabutan traumatik, satu memperpendek jumlah hari pemberian. Antibiotik tidak lagi dilaporkan diresepkan untuk periodontitis, pembersihan karang gigi dalam, pembedahan gusi dan jaringan lunak, serta pasien anak. Seorang dokter gigi perempuan bercerita kini melakukan drainase lebih dulu bila pasien datang dengan abses. Banyak yang beralih dari antibiotik kombinasi ke antibiotik lini pertama.

Sebagai gantinya, mereka menjadwalkan kontrol, menelepon pasien, atau memberikan nomor pribadi. Sepuluh dari 16 peserta mulai mencatat resep, paling sering di berkas kasus pasien. Panduan satu halaman dinilai ringkas dan mudah dirujuk, dan seorang peserta meminta panduan itu dibagikan gratis ke semua klinik.

Soal pasien ternyata lain dari dugaan. Hampir semua praktisi sepakat pasien tidak pernah meminta antibiotik, hanya obat sakit gigi. Seorang dokter gigi laki-laki bercerita pasien bisa bertanya mengapa diberi empat tablet berbeda, tetapi tak pernah bertanya mengapa tidak diberi antibiotik.

“Dari studi ini, jelas bahwa pasien memiliki pengetahuan yang terbatas tentang apa itu antibiotik, bahkan di lingkungan perkotaan, dan jarang meminta antibiotik,” tulis Aarthi Bhuvaraghan dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Hanya tiga praktisi yang melaporkan sesekali ada pasien meminta antibiotik, dan mereka hampir selalu berpendidikan tinggi atau berlatar medis.

“Karena itu, mendidik dokter gigi sangatlah penting, sebab pasien ternyata menerima apa yang disarankan praktisi kepada mereka,” tulis para penulis. Pelajaran itu menyebar sampai ke rumah. Seorang peserta menyampaikan pesan itu kepada lebih dari 55 sampai 60 kerabat, termasuk lewat grup WhatsApp keluarga.

Konsultan yang Datang Membawa Resep Sendiri dan Apotek di Ujung Jalan

Tidak semua berubah. Dokter gigi masih meresepkan bila kasus dianggap rumit, karena takut salah diagnosis. Beberapa dokter gigi yang lebih senior ragu mengubah kebiasaan yang sudah berakar dan merasa perlu waktu. Sebagian besar dokter gigi menghadapi tantangan dari konsultan, yaitu spesialis yang datang ke klinik untuk tindakan tertentu. Setelah tindakan, mereka kerap menyarankan obat kombinasi dosis tetap dan beberapa antibiotik sekaligus. Menurut seorang peserta, konsultan tidak dibayar lagi bila pasien kembali dengan komplikasi, sehingga mereka ingin semuanya selesai sekali jalan.

Di luar klinik, para praktisi khawatir apotek memberikan antibiotik tanpa resep atau dengan resep lama. Perwakilan perusahaan farmasi membagikan sampel, di sebagian praktik termasuk antibiotik. Dua peserta wawancara memiliki apotek sendiri, dan seorang lagi menyerahkan obat langsung dari praktiknya. Semua praktisi menginginkan pedoman atau instruksi dari badan regulasi kedokteran gigi. Kursus daring dinilai paling layak untuk menjangkau lebih banyak dokter gigi, termasuk yang berpraktik di pedesaan.

Baca juga Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi

Penelitian ini punya batas yang diakui penulisnya. Jumlah resep tidak bisa diukur dari catatan klinik karena pencatatan di layanan gigi primer India buruk, sehingga perubahan perilaku hanya berdasar pengakuan dokter gigi. Masa pengamatan enam minggu terlalu singkat untuk menilai daya tahan perubahan, dan pesertanya sedikit serta berasal dari satu kota. Dokter gigi sektor publik tidak dievaluasi, dan dokter gigi di pedesaan mungkin merespons berbeda. Para penulis mencatat tantangan yang tersisa adalah mendorong pencatatan resep, audit peresepan antibiotik, dan kewajiban pendidikan berkelanjutan.

Di aula Chennai itu, soal nyeri gigi yang sama dijawab dua kali. Pada jawaban kedua, tidak satu pun dari 32 dokter gigi memilih amoksisilin.

Bagikan

Baca Juga

Stunting dan Anemia Cenderung Datang Bersama pada Anak India
Daya Pikir Lansia Tiongkok yang Mulai Mengasuh Cucu Lebih Terjaga
Lebih dari 40 Persen Dokter Gigi Kuwait Pernah Cuti Sakit Otot
Remaja Brasil Rajin Sarapan Lebih Aktif dan Kurang Menatap Layar
Rokok Kalahkan Belanja Gizi, Pakar UGM: Anak Rentan Stunting
Murid SD Portugal Sering Cuci Tangan, Tak Selalu Saat Masuk Kelas