Rokok Kalahkan Belanja Gizi, Pakar UGM: Anak Rentan Stunting

A A

Ilustrasi tangan pria menjepit sebatang rokok berfilter. [Foto: Pexels]

  • Belanja rokok keluarga miskin kerap melampaui belanja telur, susu, dan daging.
  • Pakar UGM: ibu sering tak punya daya tawar mengatur anggaran keluarga.
  • Larangan jual rokok ke pembeli di bawah 21 tahun belum menyentuh warung kecil.

Cekricek.id — Pengeluaran untuk rokok di banyak rumah tangga miskin kerap melampaui belanja pangan bergizi seperti telur, susu, dan daging. Pakar Promosi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dra Yayi Suryo Prabandari MSi PhD, mengingatkan pergeseran prioritas belanja itu berdampak langsung pada risiko stunting anak.

Menurut keterangan UGM, gambaran itu tecermin dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik. Yayi menyoroti posisi ibu yang sering tidak berdaya menentukan alokasi anggaran keluarga.

“Jelas memberikan dampak besar pada pemenuhan gizi keluarga. Sayangnya, di tingkat rumah tangga, tidak semua ibu memiliki daya tawar untuk mengatur alokasi anggaran belanja jika suami menjadi satu-satunya pencari nafkah,” kata Yayi, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis UGM, Senin (2/11/2026).

Ia menyebut kebiasaan merokok paling tinggi ditemukan pada kelompok masyarakat miskin dan sangat miskin. Bagi mereka, rokok kerap menjadi pelarian di tengah tekanan ekonomi, meski harus mengorbankan gizi anak.

Baca juga: Enam Negara Cepat Menurunkan Stunting, Anak Miskin Tertinggal

Tokoh Lokal Jadi Kunci Edukasi

Yayi menilai imbauan tenaga kesehatan saja tidak cukup untuk memutus kebiasaan merokok. Pendekatan pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan lurah, RT/RW, hingga tokoh agama dinilai lebih efektif.

“Pesan edukasi mengenai pentingnya masa depan dan gizi anak harus disampaikan oleh pihak yang dipercaya masyarakat. Kami dari bidang promosi kesehatan dapat memfasilitasi materi edukasinya, namun tokoh masyarakatlah yang menjadi penggeraknya di lapangan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti lemahnya regulasi. Kenaikan cukai kerap memicu perokok beralih ke merek lebih murah atau rokok ilegal, sementara larangan menjual rokok kepada pembeli di bawah 21 tahun baru berjalan di ritel modern dan belum menyentuh warung kecil.

Baca juga: Cukai Minuman Manis Ditunda Lagi, Ekonom UGM Soroti Lobi Industri

“Kami terus mendorong lahirnya gerakan desa atau rumah bebas asap rokok. Di beberapa daerah seperti di DIY, beberapa pengelola warung bahkan sudah berani membuat kesepakatan untuk menolak menjual rokok kepada anak-anak,” tambah Yayi.

Ia mengimbau para kepala keluarga yang masih merokok untuk mulai memprioritaskan kesehatan dan masa depan anak.

“Sayangilah anak dan istri. Langkah paling minimal yang bisa dilakukan adalah tidak merokok di dalam rumah. Pikirkanlah untuk memberikan makanan yang terbaik bagi keluarga, dan pelan-pelan sisihkan anggaran hobi merokok itu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak kita,” pungkasnya.

Baca juga: Ramai Downgrade Lifestyle, Pakar IPB: Kelas Menengah Tertekan

Bagikan

Baca Juga

Murid SD Portugal Sering Cuci Tangan, Tak Selalu Saat Masuk Kelas
Kematian Ibu di Pakistan Tinggi Seiring Persalinan oleh Kerabat
Siswa Afghanistan Paling Kesepian di Tiga Negara Asia Selatan
Warga Tokha Buang Obat dan Produk Perawatan Kedaluwarsa ke Sampah
Asap Rokok Lebih Terkait Asma Anak Perempuan dan di Bawah 9 Tahun
Hampir Sepertiga Mahasiswa Bangladesh Tak Habiskan Antibiotik