- Sebanyak 96 persen mahasiswa di Noakhali meminta saran dokter sebelum minum antibiotik.
- Sebanyak 31 persen mahasiswa tidak menuntaskan antibiotik pada pemakaian terakhir.
- Seperempat mahasiswa percaya antibiotik membunuh virus dan 46 persen menganggapnya berguna untuk flu dan batuk.
- Peserta hanya pengguna antibiotik dalam 90 hari terakhir, sehingga hasilnya mungkin tidak mencerminkan mahasiswa sehat.
Daftar Isi
Pada Juni 2025, tim pengumpul data mulai mendatangi sembilan kampus di Distrik Noakhali, Bangladesh. Mereka membawa kuesioner berisi 30 pertanyaan tentang antibiotik, dalam bahasa Inggris dan Bangla. Sampai Juli 2025, sebanyak 573 mahasiswa menuntaskannya. Hampir sepertiga dari mereka mengaku tidak menghabiskan antibiotik pada pemakaian terakhir.
Survei itu dilaporkan Nikkon Sarker dan rekan dari Departemen Mikrobiologi, Noakhali Science and Technology University. Makalah mereka berjudul Factors driving antibiotic use and antimicrobial resistance among college-going students in Bangladesh: a cross-sectional study, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Penelitian ini berjalan tanpa pendanaan.
Hasilnya tidak hitam putih. Sebagian besar mahasiswa tahu antibiotik membunuh bakteri, dan hampir semuanya bertanya ke dokter sebelum minum obat. Namun, keyakinan keliru dan kebiasaan berhenti minum obat lebih awal masih tercatat. Usia, jenis kelamin, jenjang, jurusan, dan pendapatan keluarga berkaitan dengan skor mereka.
Makalah itu membuka dengan catatan waktu yang lebih panjang. Pada 2010, bakteri kebal banyak obat ditemukan pada 6,5 persen infeksi klinis di Bangladesh. Pada 2018, angkanya naik menjadi 11 sampai 14 persen. Mahasiswa dipilih karena berada di masa mulai memutuskan sendiri soal berobat.
Juni–Juli 2025: Sembilan Kampus di Noakhali
Sembilan kampus negeri dan swasta dipilih karena mudah dijangkau dan mendapat izin pengelola. Di tiap kampus, mahasiswa diambil secara acak dari daftar kelas resmi. Tiap wawancara tatap muka berlangsung 20 sampai 30 menit, dipandu petugas lapangan yang dilatih pakar kesehatan masyarakat dan ahli mikrobiologi Noakhali Science and Technology University.
Yang disebut mahasiswa di sini mencakup jenjang kelas 11 dan 12 setara SMA, sarjana, hingga pascasarjana. Syaratnya satu yang penting. Peserta harus pernah memakai antibiotik untuk diri sendiri atau keluarga dalam 90 hari terakhir, sehat, dan bersedia ikut.
Mayoritas peserta berusia muda. Kelompok usia 18 sampai 23 tahun mencakup 78 persen, disusul 24 sampai 29 tahun sebanyak 17 persen. Laki-laki 52 persen dan perempuan 48 persen. Sembilan dari sepuluh peserta belum menikah.
Sebanyak 59 persen sedang kuliah jenjang sarjana dan 34 persen di jenjang menengah atas. Pascasarjana hanya 36 orang atau 6,3 persen. Dua pertiga peserta, tepatnya 67 persen, berlatar jurusan sains. Sisanya dari jurusan niaga 20 persen dan seni 13 persen.
Soal ekonomi, 61 persen berasal dari keluarga berpendapatan rendah, di bawah 30.000 taka sebulan. Sebanyak 25 persen berpenghasilan menengah, antara 30.000 dan 50.000 taka. Sisanya, 14 persen, berasal dari keluarga berpendapatan di atas 50.000 taka sebulan.
Sebelum Wawancara: Apa yang Mereka Ketahui
Pertanyaan pertama menguji pengetahuan dasar. Sebanyak 90 persen mahasiswa menjawab benar bahwa antibiotik membunuh bakteri. Sebanyak 77 persen setuju antibiotik efektif mengobati infeksi. Di butir berikutnya muncul celah. Seperempat mahasiswa, 25 persen, percaya antibiotik juga membunuh virus.
Hampir separuh mahasiswa, 46 persen, menganggap antibiotik berguna untuk flu dan batuk. Para penulis mencatat temuan ini sejalan dengan data dari Bangladesh dan negara berpendapatan rendah dan menengah lain. Di sana, keyakinan semacam itu berujung pada pemakaian antibiotik yang tidak rasional.
Nama obat juga membingungkan. Sebanyak 70 persen tahu parasetamol bukan antibiotik. Untuk metronidazol, hanya 50 persen yang mengenalinya sebagai antibiotik, 42 persen tidak tahu, dan 8 persen menjawab bukan. Menurut para penulis, metronidazol di Bangladesh kerap diminum sendiri saat diare.
Baca juga Antibiotik Mengiringi Satu dari Tujuh Anak Italia sejak Bayi
Istilah resistansi pun belum dipahami penuh. Sebanyak 64 persen pernah mendengar istilah resistansi antibiotik. Namun, 44 persen menjawab tidak tahu saat ditanya apakah resistansi berarti antibiotik tak lagi ampuh. Sebanyak 61 persen mengaitkannya dengan pemakaian berlebihan.
Para peneliti memasukkan sepuluh butir pengetahuan ke dalam skor. Hasilnya, 30,71 persen atau 176 mahasiswa berpengetahuan baik. Sebanyak 44,33 persen atau 254 orang berpengetahuan sedang, dan 24,96 persen atau 143 orang berpengetahuan buruk.
Saat Resep Ditulis: Sikap terhadap Antibiotik
Bagian sikap dibuka dengan soal resep. Sebanyak 96 persen setuju antibiotik tidak boleh diminum tanpa resep dokter. Sebanyak 91 persen mendukung larangan pemakaian antibiotik tanpa resep. Sebanyak 24 persen setuju tidak puas bila dokter tidak meresepkan antibiotik, sedangkan 57 persen tidak setuju.
Butir sikap lain juga dicatat. Sebanyak 61 persen menolak memakai ulang sisa antibiotik untuk sakit berikutnya. Sebanyak 68 persen setuju penyalahgunaan antibiotik bisa memicu resistansi. Sebanyak 63 persen tidak setuju minum antibiotik untuk sakit ringan maupun berat apa saja. Dalam skor enam butir sikap, separuh mahasiswa, 50 persen atau 285 orang, bersikap positif. Sebanyak 43 persen atau 249 orang ragu-ragu. Hanya 7 persen atau 39 orang yang bersikap negatif.
Ketika Obat Belum Habis
Bagian praktik memuat kabar baik lebih dulu. Sebanyak 96 persen mahasiswa meminta saran dokter sebelum minum antibiotik. Hanya 12 persen yang lebih suka membeli antibiotik langsung di apotek tanpa ke dokter. Kelompok kecil itu tetap disorot para penulis.
Nikkon Sarker dan rekan menulis, dalam terjemahan, bahwa porsi 12 persen ini “merupakan celah kritis dalam pengendalian penggunaan antimikroba”. Menurut mereka, jalur ini melewati pengawasan klinis dan menaikkan risiko salah pilih obat serta salah takaran.
Masalah berikutnya muncul setelah obat dibeli. Sebanyak 31 persen mahasiswa tidak menuntaskan antibiotik pada pemakaian terakhir. Saat ditanya apakah tetap menghabiskan dosis walau sudah merasa baikan, 21 persen menjawab tidak.
Kebiasaan kecil lain ikut tercatat. Sebanyak 26 persen tidak memeriksa tanggal kedaluwarsa sebelum minum antibiotik. Dari lima butir praktik, 76 persen atau 437 mahasiswa digolongkan berpraktik baik, sedangkan 24 persen atau 136 orang tergolong menyalahgunakan antibiotik.
Untuk soal berhenti di tengah jalan, para penulis mengusulkan pendidikan kepatuhan minum obat. Isinya mengajarkan bahwa “meredanya gejala tidak sama dengan musnahnya bakteri”. Tenaga kesehatan diminta mengulang pesan itu di setiap konsultasi.
Dari mana pengetahuan itu datang juga ditanyakan. Sumber terbanyak adalah dokter penulis resep, 26 persen. Lembaga pendidikan menyusul dengan 16 persen, lalu petugas penjual obat 15,1 persen dan sumber lain seperti keluarga, teman, dan sebaya 15 persen. Media sosial menyumbang 9,6 persen. Surat kabar 6,3 persen dan televisi 6,1 persen. Perusahaan farmasi paling jarang disebut, hanya 5,9 persen dari peserta.
Baca juga Warga China yang Beli Obat Sendiri Lebih Sering Sakit Lambung
Setelah Data Diolah: Siapa Lebih Paham
Para peneliti lalu menguji ciri peserta yang berkaitan dengan skor. Mahasiswa berusia 24 sampai 29 tahun punya peluang lebih rendah berada di tingkat pengetahuan lebih tinggi, dengan rasio odds 0,26 dibanding yang di bawah 18 tahun. Di atas 29 tahun, rasio oddsnya 0,08.
Laki-laki punya peluang pengetahuan lebih tinggi daripada perempuan, dengan rasio odds 1,52. Pada sikap, mahasiswa sains justru punya peluang lebih rendah untuk bersikap positif dibanding mahasiswa seni, dengan rasio odds 0,57. Sebaliknya, mahasiswa lajang punya peluang lebih tinggi untuk bersikap lebih positif dibanding yang menikah, dengan rasio odds 2,87. Mahasiswa pascasarjana mencatat rasio odds 3,08 dibanding jenjang menengah atas.
Untuk praktik, mahasiswa sains punya peluang lebih tinggi untuk berpraktik baik dibanding mahasiswa seni, dengan rasio odds 5,50. Rasio odds mahasiswa niaga 2,36. Mahasiswa sarjana mencatat rasio odds 1,97 dibanding jenjang menengah atas. Usia, jenis kelamin, dan status menikah tidak berkaitan bermakna dengan praktik. Pascasarjana mencatat rasio odds 20,1 untuk praktik baik. Para penulis sendiri meminta angka ini dibaca hati-hati. Jumlah mahasiswa pascasarjana hanya 36 orang, dan rentang kepercayaannya lebar, dari 4,60 sampai 145.
Mahasiswa dari keluarga berpendapatan di bawah 30.000 taka sebulan juga lebih mungkin berpraktik baik, dengan rasio odds 2,42 dibanding keluarga di atas 50.000 taka. Para penulis menegaskan desain potong lintang tidak bisa menyimpulkan sebab di balik hubungan ini.
Baca juga Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Terbit 2026: Batas dan Saran Peneliti
Makalah itu juga mencatat batasnya sendiri. Peserta hanya pengguna antibiotik dalam 90 hari terakhir. Hasilnya mungkin tidak mencerminkan mahasiswa sehat yang jarang memakai antibiotik. Perkiraan pengetahuan dan praktik baik bisa sedikit lebih tinggi dari keadaan seluruh mahasiswa.
Kesimpulan mereka ringkas. Menurut Nikkon Sarker dan rekan, dalam terjemahan, “kesadaran saja tidak menjamin perilaku yang rasional”. Karena itu, kampanye seragam dinilai perlu diganti program yang disesuaikan dengan kelompok mahasiswa.
Mahasiswa nonsains disarankan mendapat penguatan pengetahuan dasar. Mahasiswa sains disarankan mendapat pelatihan pengendalian antibiotik untuk menekan rasa terlalu percaya diri. Mahasiswa yang lebih tua perlu kampanye penyegaran di kampus. Di luar kampus, mereka meminta pengawasan lebih ketat atas penjualan obat di apotek. Modul resistansi antimikroba juga diusulkan masuk kurikulum nasional. Langkah berikutnya adalah riset jangka panjang untuk menguji hasil program tersebut.















