Sedikit Warga Tepi Barat Utara Tahu Kurang Gerak Berisiko Stroke

A A

Pemandangan pusat kota Nablus, Tepi Barat, dengan gedung bertingkat dan deretan taksi kuning [Foto: أمين (Amin)/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 86,0 persen peserta akan langsung menelepon layanan gawat darurat bila curiga ada yang terkena stroke.
  • Hilang bicara mendadak paling dikenali sebagai gejala stroke, sedangkan sakit kepala dengan leher kaku hanya disebut 46,2 persen.
  • Diabetes melitus hanya dikenali 42,9 persen peserta dan kurang aktivitas fisik cuma 8,5 persen sebagai faktor risiko.
  • Kelompok tanpa pendidikan formal, hanya 62 orang, justru berpeluang lebih tinggi berpengetahuan baik; para penulis meminta temuan ini ditafsirkan hati-hati.
Daftar Isi
  1. Kata Stroke Sudah Akrab, Tindakan Daruratnya Pun Dikenal
  2. Gejala yang Tampak Lebih Mudah Dikenali daripada yang Samar
  3. Darah Tinggi Diingat, Diabetes dan Kurang Bergerak Terlewat
  4. Lumpuh Teringat, Belajar Ulang Terlupakan
  5. Temuan Tak Terduga soal Jenjang Pendidikan
  6. Pernah Kena Stroke Tidak Otomatis Lebih Paham
  7. Batas Survei dan Saran Para Penulis

Dari dua belas butir yang disodorkan kepada 597 warga Tepi Barat utara sebagai calon faktor risiko stroke, kurang aktivitas fisik paling jarang dikenali. Hanya 8,5 persen peserta yang menyebutnya. Diabetes melitus pun hanya dikenali 42,9 persen. Sementara itu, 94,5 persen peserta menganggap stroke keadaan darurat medis.

Temuan itu ditulis Loai M. Zabin dan rekan dari Fakultas Keperawatan Arab American University di Ramallah dan Al Zaytona University di Salfit, bersama rekan dari Fakultas Kedokteran Arab American University di Jenin. Makalah mereka berjudul Public knowledge and awareness of stroke in the northern West Bank, Palestine: a cross-sectional study dan dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026.

Survei ini melibatkan 597 warga Palestina berusia 16 tahun ke atas di tiga kegubernuran, yakni Nablus, Jenin, dan Tulkarem, pada April hingga Agustus 2025. Mereka ditemui di kampus, pusat belanja, dan restoran, lalu menjawab kuesioner berbahasa Arab secara tatap muka. Menurut para penulis, ini kajian menyeluruh pertama tentang pengetahuan publik soal stroke di wilayah itu.

Kata Stroke Sudah Akrab, Tindakan Daruratnya Pun Dikenal

Sebelum masuk ke soal gejala, gambaran dasarnya perlu dilihat lebih dulu. Sebanyak 92,0 persen peserta pernah mendengar tentang stroke, dan 94,5 persen menganggapnya keadaan darurat medis. Hampir semua, tepatnya 93,3 persen, benar menyebut otak sebagai organ yang terutama terdampak, dan 79,7 persen percaya stroke bisa dicegah. Pengalaman langsung pun dekat: 60,0 persen mengenal seseorang yang pernah terkena stroke, dan 8,7 persen pernah mengalaminya sendiri.

Peserta juga ditanya apa yang akan dilakukan bila mereka curiga ada orang yang terkena stroke. Dari 592 peserta yang menjawab, 86,0 persen akan langsung menelepon layanan gawat darurat. Sisanya memilih langkah lain. Sebanyak 7,6 persen akan menelepon dokter bila tidak ada perbaikan dalam 30 menit, 3,4 persen menelepon kerabat atau tetangga, dan 3,0 persen memberi pasien air lalu menyuruhnya beristirahat.

Baca juga Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi

Gejala yang Tampak Lebih Mudah Dikenali daripada yang Samar

Hilang bicara paling banyak dikenaliHilang bicara 82,6%; Lemah otot satu sisi 77,2%; Pusing atau vertigo 67,2%; Sulit atau hilang melihat 60,3%; Sakit kepala, leher kaku 46,2%; Demam 22,3%; Sakit perut 11,7%; Batuk 9,7%.Hilang bicara paling banyak dikenaliPersen peserta yang menyebut butir itu gejala stroke; empatbutir teratas berupa gejala mendadak, n=597 (Tabel 3)0%25%50%75%100%Hilang bicara82,6%Lemah otot satu sisi77,2%Pusing atau vertigo67,2%Sulit atau hilang melihat60,3%Sakit kepala, leher kaku46,2%Demam22,3%Sakit perut11,7%Batuk9,7%Jingga: miskonsepsi, bukan gejala stroke (bertanda bintang di Tabel 3)
Sumber: Loai M. Zabin dan rekan, Public knowledge and awareness of stroke in the northern West Bank, Palestine: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Persoalannya mulai terlihat ketika peserta diminta memilih gejala dari delapan butir, lima di antaranya benar dan tiga pengecoh. Hilang kemampuan bicara secara mendadak paling banyak dikenali, yakni oleh 82,6 persen peserta. Lemah otot di satu sisi tubuh secara mendadak menyusul dengan 77,2 persen, lalu pusing atau vertigo mendadak dengan 67,2 persen.

Dua gejala lain tertinggal di belakang. Kesulitan atau hilangnya penglihatan secara mendadak dikenali 60,3 persen peserta. Sakit kepala yang disertai leher kaku malah hanya disebut 46,2 persen, kurang dari separuh. Di sisi lain, pengecoh pun ikut terpilih: 22,3 persen menyebut demam sebagai gejala stroke, 11,7 persen sakit perut, dan 9,7 persen batuk.

Para penulis menduga pola ini berkaitan dengan soal kasat mata. Gangguan bicara dan lemah satu sisi lebih mudah terlihat dan paling sering ditekankan dalam pesan kampanye stroke. Sebaliknya, gangguan penglihatan dan sakit kepala bisa muncul pada banyak kondisi lain, sehingga orang tidak langsung mengaitkannya dengan stroke.

Darah Tinggi Diingat, Diabetes dan Kurang Bergerak Terlewat

Pola yang sama muncul pada faktor risiko. Dari dua belas butir yang disodorkan, sembilan benar dan tiga pengecoh. Hipertensi paling banyak dikenali, oleh 78,7 persen peserta, disusul riwayat stroke sebelumnya 62,8 persen, kolesterol tinggi 59,3 persen, usia lanjut 55,9 persen, kelebihan berat badan 54,3 persen, stres 52,8 persen, dan merokok 52,1 persen. Diabetes melitus hanya dikenali 42,9 persen. Yang paling jarang disebut adalah kurang aktivitas fisik, cuma 8,5 persen. Sementara itu, 12,2 persen keliru mengira cuaca dingin sebagai faktor risiko stroke.

Mengapa diabetes dan kurang bergerak terlewat? Para penulis menduga celah ini berkaitan dengan cara promosi kesehatan di layanan primer Palestina, yang lebih sering mengutamakan hipertensi dan rokok. Konseling diabetes dan ajakan aktif bergerak berjalan tidak konsisten. Ketiadaan kampanye stroke berskala nasional juga membuat faktor risiko yang umum tetapi kurang tampak jarang mendapat perhatian publik.

Baca juga Batu Ginjal Akrab di Telinga Anak Muda Palestina, Pemicunya Tidak

Lumpuh Teringat, Belajar Ulang Terlupakan

Pada pertanyaan tentang akibat stroke, peserta paling banyak mengenali lumpuh pada satu sisi tubuh, yakni 76,2 persen. Hilang kemampuan bicara disebut 73,5 persen, dan hilang kemampuan berjalan 69,7 persen. Akibat lain lebih jarang disebut. Hilang penglihatan disebut 51,9 persen peserta, hilang pendengaran 45,7 persen, dan perlunya belajar ulang keterampilan hanya 41,5 persen. Di antara butir pengecoh, perubahan warna kulit dipilih 15,1 persen, patah tulang 7,5 persen, rambut rontok 7,2 persen, dan nafsu makan bertambah 6,2 persen.

Hasil ini berbeda dengan temuan di Uni Emirat Arab yang dikutip para penulis, tempat gangguan kognitif dan memori termasuk akibat stroke yang paling dikenali. Menurut mereka, kelumpuhan lebih mudah diamati, sedangkan gangguan berpikir dan kebutuhan belajar ulang tidak segera tampak. “Dengan demikian, masyarakat Palestina tampak lebih peka terhadap akibat fisik daripada akibat kognitif,” tulis Zabin dan rekan dalam terjemahan bebas.

Temuan Tak Terduga soal Jenjang Pendidikan

Para penulis menyebut temuan berikut tak terduga. Ketika peserta dikelompokkan menurut pendidikan, kelompok tanpa pendidikan formal mencatat porsi berpengetahuan baik paling tinggi. Untuk gejala, angkanya 83,9 persen, sedangkan lulusan sekolah menengah atas 53,2 persen. Untuk faktor risiko, 67,7 persen berbanding 36,7 persen, dan untuk akibat stroke 62,9 persen berbanding 35,4 persen.

Kelompok tanpa pendidikan formal paling banyak berpengetahuan baikSekolah menengah atas: Pengetahuan gejala baik 53,2, Pengetahuan faktor risiko baik 36,7; Sarjana: Pengetahuan gejala baik 58,7, Pengetahuan faktor risiko baik 41,3; Pendidikan tinggi (S2/S3): Pengetahuan gejala baik 66,7, Pengetahuan faktor risiko baik 38,1; Tanpa pendidikan formal: Pengetahuan gejala baik 83,9, Pengetahuan faktor risiko baik 67,7; Jenjang lain: Pengetahuan gejala baik 73,2, Pengetahuan faktor risiko baik 45,1.Kelompok tanpa pendidikan formal palingbanyak berpengetahuan baikPersen peserta berpengetahuan baik menurut jenjangpendidikan, n=597 (Tabel 6)Pengetahuan gejala baikPengetahuan faktor risiko baik025507510053,236,7Sekolahmenengahatas58,741,3Sarjana66,738,1Pendidikantinggi(S2/S3)83,967,7Tanpapendidikanformal73,245,1JenjanglainTanpa pendidikan formal n=62; penulis minta dibaca hati-hati
Sumber: Loai M. Zabin dan rekan, Public knowledge and awareness of stroke in the northern West Bank, Palestine: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pola itu bertahan setelah usia, jenis kelamin, masalah kesehatan, gaya hidup, pemeriksaan berkala, dan riwayat stroke diperhitungkan bersama. Dibanding lulusan sekolah menengah atas, kelompok tanpa pendidikan formal punya peluang lebih tinggi untuk berpengetahuan baik, dengan rasio odds 4,67 untuk gejala, 3,65 untuk faktor risiko, 3,71 untuk akibat, dan 5,23 untuk pengetahuan total.

Kelompok berpendidikan jenjang lain juga mencatat peluang lebih tinggi untuk mengenali gejala, dengan rasio odds 2,37. Sebaliknya, peserta yang merasa hidupnya penuh tekanan, yaitu 68,0 persen dari seluruh peserta, punya peluang lebih rendah untuk berpengetahuan baik tentang gejala, dengan rasio odds 0,66. Usia, jenis kelamin, masalah kesehatan, dan pemeriksaan berkala tidak lagi bermakna setelah penyesuaian.

Para penulis sendiri menyebut temuan tentang pendidikan ini paradoks dan meminta pembaca tidak tergesa menyimpulkan. Kelompok tanpa pendidikan formal hanya berisi 62 orang, atau 10,4 persen peserta. “Temuan ini perlu ditafsirkan dengan hati-hati, karena kemungkinan besar mencerminkan efek subkelompok kecil atau pembelajaran dari pengalaman melalui paparan keluarga,” tulis mereka. Penelitian dengan sampel berbasis populasi, menurut mereka, diperlukan untuk memastikannya.

Pernah Kena Stroke Tidak Otomatis Lebih Paham

Riwayat stroke pribadi memperlihatkan pembalikan arah. Pada perbandingan sederhana, 57,7 persen penyintas berpengetahuan baik tentang akibat stroke, sedangkan di antara yang belum pernah terkena angkanya 40,9 persen. Namun, setelah faktor lain diperhitungkan, riwayat stroke justru terkait dengan peluang lebih rendah, dengan rasio odds 0,49. Para penulis menduga ini efek penekan yang dikenal sebagai paradoks Simpson, kemungkinan besar dipengaruhi pendidikan. “Hal ini juga menegaskan bahwa pengetahuan para penyintas mungkin tidak membaik dengan sendirinya setelah mengalami stroke, terutama bila edukasi pascastroke yang terstruktur tidak tersedia,” tulis Zabin dan rekan.

Baca juga Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi

Semua faktor itu tetap hanya menjelaskan sebagian kecil perbedaan pengetahuan. Kekuatan penjelas model mereka tergolong kecil, dengan nilai Nagelkerke R kuadrat antara 0,050 dan 0,084. Para penulis menyebut akses terhadap informasi kesehatan, kepercayaan pada layanan medis, dan norma masyarakat sebagai faktor lain yang kemungkinan berperan dan belum diukur.

Batas Survei dan Saran Para Penulis

Survei ini memakai sampel kemudahan di tempat umum perkotaan, sehingga hasilnya tidak bisa digeneralisasi ke seluruh warga Palestina. Para penulis mengakui orang muda, berpendidikan, dan tinggal di kota mungkin terlalu banyak terwakili, sedangkan lansia dan warga desa kurang. Desain potong lintang juga tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat. Angka 86,0 persen yang akan menelepon layanan darurat pun perlu dibaca dengan hati-hati. Pertanyaannya memakai kata stroke, bukan skenario gejala, sehingga jawabannya mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan mengenali stroke dari gejalanya.

Karena itu, mereka menyarankan kampanye yang peka budaya untuk menonjolkan diabetes dan kurang aktivitas fisik, meluruskan miskonsepsi, dan memperkenalkan akibat kognitif stroke. Edukasi bisa dimasukkan ke layanan kesehatan primer, kurikulum sekolah, program komunitas, media massa dan media sosial, serta melibatkan tokoh masyarakat setempat.

Dalam kesimpulannya, para penulis mencatat sebagian besar peserta mengenali stroke sebagai keadaan darurat medis dan akan segera memanggil layanan gawat darurat. Celah yang tersisa ada pada gejala yang kurang tampak, faktor risiko seperti diabetes dan kurang aktivitas fisik, serta akibat kognitif stroke.

Bagikan

Baca Juga

Banyak Petugas Kebersihan Rumah Sakit Etiopia Tertusuk Jarum
Tensi Pasien Etiopia yang Sering Makan di Luar Sulit Terkendali
Siswi Uganda yang Tahu Haid Sebelum Mengalaminya Lebih Positif
Banyak Warga Beijing Susah Tidur, Sedikit yang Sampai Didiagnosis
Kematian karena Usia Tua di Jepang Berkaitan dengan Tempat Wafat
Survei di Kurdistan Irak: Anak Muda Paling Jauh dari Hidup Sehat