- Sebanyak 65,4 persen dari 327 responden survei daring di Kurdistan Irak masuk kategori gaya hidup tidak sehat.
- Pada kelompok 19 sampai 24 tahun, 77,8 persen masuk kategori tidak sehat.
- Responden 31 tahun ke atas punya rasio peluang 7,54 kali untuk bergaya hidup sedang atau sehat.
- Sebanyak 74,6 persen responden melaporkan tidur sesudah pukul 24.00.
Daftar Isi
Pada 23 September 2024, sebuah kuesioner daring mulai beredar di Kurdistan Irak. Tautannya disebar lewat media sosial, jaringan akademik, dan kelompok warga, dalam bahasa Kurdi dan Arab. Sampai 20 Oktober 2024, sebanyak 327 orang dewasa dari kota dan desa di wilayah itu mengisinya.
Hasilnya kini tercatat. Sebanyak 65,4 persen responden masuk kategori gaya hidup tidak sehat. Hanya 14,1 persen yang masuk kategori sehat, sedangkan 20,5 persen berada di tengah, pada kategori sedang. Dengan kata lain, kira-kira dua dari tiga pengisi kuesioner tergolong tidak sehat.
Survei itu dikerjakan Kochr Ali Mahmood dari Fakultas Kedokteran Universitas Koya, Kurdistan Irak. Laporannya berjudul Lifestyle and dietary habits among adults in the Kurdistan Region of Iraq: a cross-sectional study of behavioral associations. Naskah itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Mahmood mengerjakannya seorang diri, dari menyusun kuesioner sampai menganalisis data.
Skor gaya hidupnya disusun dari 12 kebiasaan makan dan tidur. Merokok, nargile, dan aktivitas fisik sengaja tidak dimasukkan ke skor itu. Skor di bawah 60 persen dihitung tidak sehat, 60 sampai 79 persen sedang, dan 80 persen ke atas sehat.
Sebagian besar pengisi masih muda. Sebanyak 63,3 persen berusia 19 sampai 24 tahun, dan 14,4 persen berusia 25 sampai 30 tahun. Perempuan mencapai 60,2 persen, 71,3 persen belum menikah, dan 52,6 persen berstatus pelajar atau mahasiswa. Yang bekerja tercatat 23,9 persen.
Pagi Hari: Sarapan dan Jam Makan
Hari dimulai dengan sarapan. Sebanyak 69,4 persen responden melaporkan kebiasaan sarapan, sedangkan 30,6 persen menjawab tidak.
Jam makan sesudahnya tidak selalu tetap. Hanya 50,2 persen yang melaporkan waktu makan teratur. Hampir separuh, 49,8 persen, menjawab jam makannya tidak teratur. Buah dan sayur masih hadir di meja banyak responden. Sebanyak 73,1 persen melaporkan makan buah, sedangkan 26,9 persen tidak. Untuk sayur, angkanya 64,8 persen, dan 35,2 persen sisanya menjawab tidak makan sayur.
Baca juga Makanan Bawa Pulang Terkait Tubuh yang Tiga Bulan Lebih Tua
Siang Hingga Sore: Nasi, Teh Manis, dan Minuman Ringan
Nasi adalah menu yang paling sering tercatat. Sebanyak 92,4 persen responden makan nasi dua kali atau lebih dalam sepekan. Hanya 7,6 persen yang makan nasi sekali atau kurang per pekan.
Gula ikut masuk lewat gelas teh. Sebanyak 46,5 persen responden menambahkan gula ke teh mereka. Kebiasaan rutin makan manisan dilaporkan 42,8 persen responden. Keduanya tercatat sebagai butir terpisah di kuesioner. Minuman ringan dikonsumsi 54,7 persen responden. Minuman energi dilaporkan 36,7 persen responden. Makanan kaleng dikonsumsi 30,3 persen responden, dan 69,7 persen sisanya tidak.
Mahmood membaca kebiasaan makan itu sebagai campuran yang baik dan yang kurang baik. Banyak responden sarapan serta makan buah dan sayur. Pada saat yang sama, minuman ringan, manisan, dan minuman energi juga banyak dikonsumsi oleh responden yang sama. Menurut paper itu, pola campuran tersebut sejalan dengan peralihan gizi di negara berkembang dan negara dalam masa transisi. Di sana, kebiasaan makan tradisional berjalan berdampingan dengan makanan padat energi dan makanan olahan yang makin banyak dikonsumsi.
Lewat Tengah Malam
Jam tidur kebanyakan responden jatuh larut. Sebanyak 74,6 persen melaporkan tidur sesudah pukul 24.00. Hanya 26,0 persen yang melaporkan tidur sebelum pukul 22.00. Bangun pagi dicatat sebagai butir tersendiri, dan 82,3 persen responden melaporkan bangun pagi-pagi sekali. Paper mencatat bahwa jam tidur dan bangun pagi ditanyakan sebagai butir terpisah di kuesioner. Keduanya tidak diperlakukan sebagai pilihan yang saling meniadakan. Karena itu, kedua butir dianalisis sendiri-sendiri, sesuai susunan kuesionernya.
Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Di luar jam makan dan tidur, rokok juga tercatat. Sebanyak 14,4 persen responden merokok. Nargile atau pipa air dipakai 12,8 persen responden. Mahmood menyebut penggunaan tembakau sebagai persoalan gaya hidup yang penting dalam survei ini.
Aktivitas fisik rutin tidak dimiliki sebagian besar responden. Sebanyak 65,4 persen melaporkan tidak melakukan aktivitas fisik rutin. Aktivitas ringan dilaporkan 16,8 persen, aktivitas sedang 7,6 persen, dan aktivitas berat 10,1 persen. Dari sisi berat badan, 52,6 persen responden berada pada berat normal dan 5,5 persen kurus. Sebanyak 32,1 persen kelebihan berat badan, 7,3 persen obesitas kelas I, dan 2,4 persen obesitas kelas II. Semua angka itu dilaporkan sendiri oleh responden.
Soal kesehatan, 78,3 persen responden menilai kesehatannya baik. Penyakit kronis dilaporkan 7,0 persen, sedangkan riwayat penyakit kronis dalam keluarga dilaporkan 55,4 persen. Sebanyak 58,4 persen mengaku aktif memperhatikan status kesehatannya.
Dari Usia 19 Tahun ke Usia 31 Tahun ke Atas
Hubungan usia dengan tingkat gaya hidup bermakna secara statistik. Pada kelompok 19 sampai 24 tahun, 77,8 persen masuk kategori tidak sehat. Hanya 7,2 persen dari kelompok itu yang masuk kategori sehat, sedangkan 15,0 persen berada di kategori sedang.
Satu kelompok usia di atasnya, gambarannya bergeser. Pada kelompok 25 sampai 30 tahun, kategori tidak sehat turun menjadi 53,2 persen. Kategori sehat naik menjadi 17,0 persen, sedangkan kategori sedang mencapai 29,8 persen. Pada kelompok 31 tahun ke atas, kategori tidak sehat tinggal 38,4 persen. Kategori sehat mencapai 31,5 persen, proporsi tertinggi di antara semua kelompok usia.
Status pernikahan dan pekerjaan juga berhubungan pada tahap analisis awal. Sebanyak 52,1 persen responden menikah masuk kategori sedang atau sehat, dibanding 27,5 persen responden lajang. Pada yang bekerja atau berstatus lainnya, angkanya 44,6 persen, dibanding 25,6 persen pada pelajar. Pada tahap yang sama, jenis kelamin, indeks massa tubuh, status ekonomi, penilaian kesehatan diri, dan penyakit kronis tidak berhubungan secara bermakna dengan tingkat gaya hidup. Status ekonomi di sini adalah penilaian responden sendiri atas keuangan rumah tangganya.
Sesudah Semua Faktor Ditimbang Bersama
Tahap berikutnya menimbang delapan faktor sekaligus. Hasilnya, hanya usia dan penilaian kesehatan diri yang berhubungan dengan gaya hidup. Jenis kelamin, indeks massa tubuh, status menikah, pekerjaan, ekonomi, dan penyakit kronis tidak bermakna sesudah penyesuaian.
Dibanding kelompok 19 sampai 24 tahun, responden 25 sampai 30 tahun punya rasio peluang 3,74 kali untuk bergaya hidup sedang atau sehat. Untuk kelompok 31 tahun ke atas, rasio peluangnya 7,54 kali dibanding kelompok termuda.
Responden yang menilai kesehatannya baik juga lebih mungkin berada di kategori sedang atau sehat. Rasio peluangnya 2,76 kali dibanding responden yang menilai kesehatannya buruk atau cukup. Mahmood menulis bahwa arah hubungan ini belum bisa ditentukan. “Namun, desain potong lintang tidak menetapkan arah hubungan ini, dan karena status kesehatan maupun perilaku gaya hidup sama-sama dilaporkan sendiri, bias pelaporan tidak dapat disingkirkan,” tulisnya, dalam terjemahan. Ia menulisnya di bagian pembahasan.
Untuk temuan usia, ia memberi tafsir sendiri. “Temuan ini menunjukkan bahwa orang dewasa yang lebih muda mungkin sangat rentan terhadap pola gaya hidup yang tidak menguntungkan, dan menegaskan pentingnya intervensi pencegahan sejak dini serta strategi pendidikan kesehatan sesuai usia,” tulis Mahmood dalam terjemahan.
Baca juga Label Jantung Berdebar di Kaleng Minuman Energi Tekan Niat Beli
Batas Catatan Survei Ini
Paper itu menyebut keterbatasannya sendiri. Responden dijaring lewat tautan daring secara sukarela, bukan dipilih acak dari populasi. Cara ini cenderung menjaring orang muda dan pengguna internet, serta kurang menjangkau warga lebih tua dan kelompok yang kurang beruntung secara sosial.
Karena itu, hasilnya tidak dianggap mewakili seluruh orang dewasa di Kurdistan Irak. Semua jawaban juga dilaporkan sendiri, sehingga bisa terpengaruh ingatan dan keinginan memberi jawaban yang dianggap baik. Desain survei sesaat juga tidak bisa menunjukkan sebab-akibat. Rentang perkiraan untuk kelompok 31 tahun ke atas juga lebar. Paper menyebut ketepatan besaran hubungan untuk kelompok itu terbatas. Penyakit kronis hanya dilaporkan 7,0 persen responden, sehingga kemampuan mendeteksi hubungannya juga terbatas.
Mahmood menyarankan promosi kesehatan yang sesuai budaya, terutama bagi orang dewasa muda. Sasarannya pencegahan dan penghentian rokok serta nargile, aktivitas fisik rutin, kebiasaan makan yang lebih sehat, dan tidur yang lebih baik. Lembaga pendidikan dan platform digital disebut sebagai saluran yang relevan.
Ia juga meminta studi lanjutan berbasis populasi dan jangka panjang. Menurut paper itu, studi semacam itu diperlukan untuk memastikan temuan dari 327 pengisi kuesioner ini dan melihat pola gaya hidup di seluruh penduduk Kurdistan Irak.














