Lemak Darah Perempuan Obesitas Korea Berbeda Menurut Asupan Garam

A A

Ilustrasi sup doenjang jjigae dalam mangkuk tanah liat dikelilingi aneka lauk banchan [Foto: magicinprogress (Flickr)/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Rata-rata asupan natrium seluruh peserta 4.330,68 miligram sehari.
  • Pada peserta yang semuanya sudah mengidap penyakit metabolik, asupan natrium tidak berhubungan bermakna dengan diabetes tipe 2, dislipidemia, hipertensi, atau penyakit kardiovaskular.
  • Pada perempuan, kolesterol LDL, kolesterol non-HDL, dan dua indeks Castelli berbeda bermakna antarkelompok asupan natrium.
  • Pada 293 peserta laki-laki, tidak ada penanda klinis atau metabolik yang berbeda bermakna antarkelompok asupan natrium.
Daftar Isi
  1. Kohort Seoul, Oktober 2022 hingga Januari 2024
  2. Natrium Harian Melampaui Anjuran WHO
  3. Empat Penyakit Kronis Tanpa Hubungan Bermakna
  4. Kolesterol Perempuan dan Jejak Schneider 1993
  5. Hormon, Usia, dan Catatan Scuteri 2003
  6. Mata Rantai Pertama dari Kohort NAINOC

Garam lama dikenal lewat satu dakwaan utama, yaitu menaikkan tekanan darah. Uji DASH-Sodium yang dilaporkan Sacks dan rekan pada 2001 serta analisis Filippini dan rekan pada 2021 termasuk riset yang menetapkan peran natrium dalam munculnya hipertensi. Pada 2012, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyusun anjuran asupan natrium di atas bukti semacam itu.

Belakangan, sorotan melebar. Sejumlah riset menunjukkan natrium juga dapat memengaruhi metabolisme lemak, resistensi insulin, timbunan lemak tubuh, perlemakan hati, dan peradangan sistemik. Meski masuk akal secara biologis, hubungan asupan natrium dengan kesehatan metabolik masih kurang diteliti pada manusia. Padahal, asupan natrium kerap melampaui ambang anjuran pada kelompok berisiko tinggi, terutama orang dengan obesitas.

Celah itulah yang digarap Soo-Hyun Park dan rekan dari Korea Food Research Institute dan Fakultas Kedokteran Universitas Yonsei. Laporan mereka, Habitual sodium intake and metabolic abnormalities in Korean adults with obesity: a cross-sectional analysis of a prospective cohort, terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Hasil utamanya dua lapis. Pada peserta yang semuanya sudah mengidap penyakit metabolik, tinggi rendahnya asupan natrium tidak berhubungan bermakna dengan banyaknya pengidap diabetes tipe 2, dislipidemia, hipertensi, atau penyakit kardiovaskular, tetapi pada perempuan beberapa penanda lemak darah berbeda antarkelompok asupan.

Kohort Seoul, Oktober 2022 hingga Januari 2024

Data berasal dari pengukuran awal Nutriomics and Artificial Intelligence Nutrition Obesity Cohort (NAINOC), kohort orang dewasa obesitas Korea dengan lima jadwal pemeriksaan lanjutan. Antara Oktober 2022 dan Januari 2024, 633 orang direkrut dari Rumah Sakit Severance, Seoul. Sesudah kelompok pembanding yang tidak obes dan peserta dengan laporan asupan energi tak masuk akal dikeluarkan, tersisa 487 orang untuk dianalisis.

Semua peserta itu punya indeks massa tubuh minimal 25 dan sedikitnya satu penyakit metabolik kronis. Usia rata-rata mereka 51,85 tahun, kira-kira enam dari sepuluh laki-laki, dan indeks massa tubuh rata-ratanya 30,34. Sebagian besar sudah berobat: 72 persen memakai obat antihipertensi, 69 persen obat penurun lipid, 36 persen obat antidiabetes, dan 10 persen obat antiobesitas.

Pola makan direkam lewat kuesioner frekuensi makanan berisi 129 butir yang menanyakan kebiasaan setahun terakhir. Daftarnya memuat sumber natrium utama dapur Korea, seperti sup dan rebusan, kimchi, lauk berbumbu, serta bumbu kedelai fermentasi doenjang, ganjang, dan gochujang. Asupan dihitung per 1.000 kilokalori, lalu peserta dibagi ke tiga kelompok yang hampir sama besar, dari asupan terendah sampai tertinggi.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Natrium Harian Melampaui Anjuran WHO

Natrium harian per kelompok asupanT1 (terendah) 3.046,52; T2 (tengah) 4.370,48; T3 (tertinggi) 5.574,79.Natrium harian per kelompok asupanRata-rata asupan natrium (mg), 487 orang dewasa obesitasdi Seoul, 2022-202402.0004.0006.000T1 (terendah)3.046,52T2 (tengah)4.370,48T3 (tertinggi)5.574,79Tertil dibagi menurut natrium per 1.000 kkal
Sumber: Soo-Hyun Park dan rekan, Habitual sodium intake and metabolic abnormalities in Korean adults with obesity: a cross-sectional analysis of a prospective cohort, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Rata-rata asupan natrium seluruh peserta 4.330,68 miligram sehari. Kelompok terendah rata-rata mengonsumsi 3.046,52 miligram, kelompok tengah 4.370,48 miligram, dan kelompok tertinggi 5.574,79 miligram. Menurut tim, peserta mengonsumsi natrium kira-kira 1,5 sampai 2,8 kali lebih banyak daripada asupan yang dianjurkan WHO. Batas kelompok terendah di bawah 1.798,43 miligram per 1.000 kilokalori, sedangkan kelompok tertinggi mulai dari 2.174,59 miligram.

Natrium ternyata tidak datang sendirian di piring mereka. Kelompok berasupan natrium tinggi umumnya juga makan lebih banyak serat, lemak, lemak jenuh, protein, vitamin A, dan vitamin E dibanding kelompok terendah. Karbohidrat justru paling tinggi di kelompok tengah, sedangkan total energi dan gula tidak berbeda bermakna. Usia, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan gaya hidup ketiga kelompok juga tidak berbeda bermakna.

Empat Penyakit Kronis Tanpa Hubungan Bermakna

Pertanyaan pertama tim sederhana: apakah peserta dengan asupan natrium lebih tinggi lebih sering mengidap penyakit metabolik? Pada diabetes tipe 2, proporsi pengidapnya 47 persen di kelompok terendah, 50 persen di kelompok tengah, dan 53 persen di kelompok tertinggi. Dislipidemia, yang dalam studi ini ditandai kadar kolesterol total, trigliserida, HDL, atau LDL di luar ambang, diagnosis dokter, atau pemakaian obat penurun lipid, tercatat 76, 81, dan 83 persen.

Hipertensi tercatat 71, 71, dan 74 persen, sedangkan penyakit kardiovaskular 14, 13, dan 15 persen. Setelah disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, asupan energi, merokok, alkohol, dan aktivitas fisik, rasio odds kelompok tertinggi dibanding terendah adalah 1,30 untuk diabetes tipe 2, 1,36 untuk dislipidemia, 0,98 untuk hipertensi, dan 1,02 untuk penyakit kardiovaskular. Tak satu pun bermakna secara statistik.

Baca juga Garam Beryodium Etiopia Merata, Pengetahuan Warganya Tertinggal

Tim menimbang penjelasannya pada susunan peserta sendiri. Hampir semua peserta sudah membawa penyakit metabolik dan menjalani pengobatan, sehingga menurut tim keragaman jumlah pengidap antarkelompok asupan mungkin menyempit. “Prevalensi penyakit mewakili wujud tahap akhir dari gangguan metabolik yang menumpuk, dan mendeteksi perbedaan terkait natrium pada tahap ini mungkin memang terbatas dalam kohort berisiko tinggi yang dirawat secara klinis,” tulis mereka dalam bahasa Inggris, di sini diterjemahkan.

Kolesterol Perempuan dan Jejak Schneider 1993

Gambarnya berubah ketika data dipisah menurut jenis kelamin. Pada 293 peserta laki-laki, tidak ada penanda klinis atau metabolik yang berbeda bermakna antarkelompok asupan natrium. Pada 194 peserta perempuan, empat penanda lemak darah berbeda bermakna setelah penyesuaian, yaitu kolesterol LDL, kolesterol non-HDL, indeks risiko Castelli I, dan indeks risiko Castelli II.

Rata-rata kolesterol LDL perempuan 90,94 miligram per desiliter di kelompok terendah, 101,80 di kelompok tengah, dan 96,92 di kelompok tertinggi. Kolesterol non-HDL bergerak dengan pola serupa, dari 109,30 ke 121,80 lalu 115,03. Polanya bukan garis lurus yang terus naik, karena nilai tertinggi ada di kelompok tengah, disusul kelompok tertinggi, lalu kelompok terendah.

Kolesterol LDL menurut kelompok asupanT1 (terendah): Laki-laki 91,29, Perempuan 90,94; T2 (tengah): Laki-laki 93,44, Perempuan 101,80; T3 (tertinggi): Laki-laki 85,60, Perempuan 96,92.Kolesterol LDL menurut kelompok asupanRata-rata LDL-C (mg/dL) per tertil asupan natriumLaki-lakiPerempuan0408012091,2990,94T1 (terendah)93,44101,80T2 (tengah)85,6096,92T3 (tertinggi)Beda bermakna hanya pada perempuan (p = 0,038)
Sumber: Soo-Hyun Park dan rekan, Habitual sodium intake and metabolic abnormalities in Korean adults with obesity: a cross-sectional analysis of a prospective cohort, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dua indeks Castelli memperlihatkan urutan yang sama. Indeks pertama, kolesterol total dibagi HDL, bernilai 3,18, 3,46, dan 3,26; indeks kedua, kolesterol LDL dibagi HDL, bernilai 1,79, 2,05, dan 1,89. Menurut tim, kolesterol non-HDL mencerminkan kolesterol total yang dibawa seluruh lipoprotein aterogenik, sedangkan kedua indeks Castelli memperkirakan keseimbangan lipoprotein aterogenik dan antiaterogenik.

Bukti klinis terdahulu, kata tim, juga mendukung kemungkinan hubungan natrium dengan metabolisme lemak. Dalam uji penurunan berat badan yang dilaporkan Schneider dan rekan pada 1993, kadar lipid serum kembali normal pada sebagian besar pasien obes sesudah asupan natrium dibatasi. Pada 2018, Padilha dan rekan menemukan bahwa pada perempuan hipertensi berberat badan lebih, variasi kadar lemak darah dijelaskan secara bermakna oleh usia dan asupan natrium.

Mundur ke laboratorium, rantainya lebih panjang. Riset Lee dan rekan pada 2019 yang dikutip tim menunjukkan paparan garam berlebih mendorong ekspresi gen pembentuk sel lemak dan pembentuk lemak, seperti PPAR-gamma, C/EBP-alfa, dan SREBP1, serta menekan jalur pemecah lemak seperti AMPK. Pada hewan, Hattori dan rekan pada 2014 melaporkan pembatasan garam meredam peradangan jaringan lemak viseral dan stres oksidatif jantung.

Hormon, Usia, dan Catatan Scuteri 2003

Mengapa pola itu muncul pada perempuan? Tim menduga sebagiannya terkait perbedaan sensitivitas terhadap garam, pengaturan hormon, dan fisiologi jaringan lemak antara laki-laki dan perempuan. Mengacu pada Demirci dan rekan yang terbit pada 2025, tim menulis bahwa perempuan secara umum cenderung lebih sensitif terhadap garam, dan risiko penyakit kardiovaskular mereka mulai naik pada tekanan darah sistolik yang lebih rendah.

Perubahan hormon saat menopause, terutama turunnya estrogen, dapat mendorong penumpukan lemak di bagian tengah tubuh, resistensi insulin, gangguan pengaturan tekanan darah, dan profil lemak darah yang buruk. Scuteri dan rekan pada 2003 melaporkan terapi estrogen dapat meredam sensitivitas garam pada perempuan pascamenopause. Dengan usia rata-rata peserta 51,85 tahun, tim menilai peralihan hormonal seiring usia mungkin ikut memengaruhi pola yang terlihat.

Tim tetap berhati-hati. Uji interaksi formal antara jenis kelamin dan asupan natrium tidak menunjukkan interaksi yang bermakna secara statistik, meski arah keempat penanda lemak darah pada perempuan konsisten. “Pola di dalam kelompok perempuan ini sebaiknya dipandang sebagai pembangkit hipotesis dan memerlukan konfirmasi dalam analisis longitudinal kohort ini di masa mendatang,” tulis Soo-Hyun Park dan rekan dalam simpulan, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas

Mata Rantai Pertama dari Kohort NAINOC

Tim menyebut sejumlah keterbatasan. Karena rancangannya potong lintang dari data awal, hubungan sebab-akibat antara asupan natrium dan luaran metabolik tidak dapat ditarik. Kuesioner makanan rentan bias ingatan, tidak menangkap garam yang ditambahkan saat memasak atau di meja, dan lebih tepat dibaca sebagai peringkat asupan ketimbang jumlah mutlaknya.

Data status sosial ekonomi, asupan kalium, dan mutu diet secara keseluruhan juga tidak tersedia. Banyak luaran diuji sekaligus tanpa koreksi uji berganda pada analisis utama, sehingga hasilnya dinyatakan eksploratif. Peserta pun sudah membawa penyakit metabolik, jadi sebagian mungkin telah mengurangi garam atas saran dokter, dan kemungkinan sebab-akibat terbalik tidak bisa sepenuhnya disingkirkan.

Apakah pengaturan natrium bermanfaat bagi orang berisiko tinggi sebelum penyakit metabolik muncul, menurut tim, masih perlu dipastikan lewat studi longitudinal dan intervensi. Studi ini adalah analisis pertama dari kohort NAINOC, potret awal asupan natrium dan kesehatan metabolik orang dewasa obesitas Korea. Rantai berikutnya akan disambung dari data pemeriksaan lanjutan kohort yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Murid SMP Tiongkok Utamakan Jajanan Kaya Serat ketimbang Harga
Menu Restoran Besar Inggris Paling Sering Gagal di Target Gula
Remaja Swedia yang Terus Mengobrol Daring Lebih Kerap Sulit Tidur
Lemak Tubuh Karyawan Yogyakarta Turun, Berat Badan Nyaris Tetap
Asap Rokok Orang Lain Terkait Gemuk, Sakit Jantung, dan Stroke
Anak Muda Pembiaya Orang Tua Demensia Lebih Banyak Gejala Depresi