- Dari 578 menu restoran besar Inggris yang terkena target gula, hanya 36 persen yang lolos.
- Target kalori dipenuhi 61 persen menu dan target garam 58 persen menu.
- Hanya 43 persen menu memenuhi semua target yang berlaku untuknya, kurang dari separuh.
- Subway tertinggi dengan 76 persen menu memenuhi semua target, sedangkan Papa John's terendah dengan 8 persen.
Daftar Isi
Target gula paling jarang dipenuhi menu restoran besar Inggris. Dari 578 menu yang terkena target gula, hanya 36 persen yang lolos. Target kalori dan garam bernasib lebih baik, masing-masing 61 dan 58 persen.
Angka itu berasal dari 3.099 menu milik 21 jaringan restoran dengan penjualan tertinggi di Inggris, diambil dari situs resmi tiap restoran pada Februari dan Maret 2024, khusus Subway pada Mei 2024. Awalnya 5.435 menu terkumpul. Sebanyak 955 minuman dikeluarkan, begitu pula 453 menu ganda, 103 menu tanpa keterangan gizi, dan 825 pizza dengan pinggiran di luar pilihan bawaan.
Penelitian ini ditulis Alice O’Hagan dan rekan dari Nuffield Department of Primary Care Health Sciences, University of Oxford. Judulnya Adherence to voluntary UK sugar, salt, and calorie reduction targets in the highest-grossing restaurant chains: A cross-sectional study. Laporannya terbit di jurnal PLOS Medicine volume 23 nomor 5 tahun 2026.
Yang diuji adalah target sukarela pemerintah Inggris untuk menurunkan gula, garam, dan kalori, dengan tanggung jawab memenuhinya diserahkan kepada tiap perusahaan. Target gula semestinya tercapai pada 2020, garam pada 2024, dan kalori pada 2025, mundur dari 2024 karena pandemi Covid-19. Menurut para peneliti, bukti tentang cara perusahaan makanan menanggapi program ini masih terbatas.
Gula Paling Tertinggal
Cara menilainya lugas. Kandungan gula, garam, dan kalori tiap menu dicocokkan dengan nilai target untuk kategorinya. Menu dianggap lolos bila kandungannya sama dengan atau di bawah nilai target itu.
Hasilnya, 1.300 dari 2.148 menu memenuhi target kalori, atau 61 persen. Untuk garam, 1.348 dari 2.344 menu lolos, atau 58 persen. Untuk gula, hanya 207 dari 578 menu, atau 36 persen.
Satu menu bisa terkena lebih dari satu target, dan dari 2.951 menu yang punya target, hanya 1.271 atau 43 persen yang memenuhi semua target yang berlaku untuknya. Tidak satu pun restoran mencatat seluruh menunya lolos target gula. Empat merek bahkan berada di angka nol persen untuk gula, yaitu Burger King, KFC, Nando’s, dan Vintage Inns.
Baca juga Makanan Bawa Pulang Terkait Tubuh yang Tiga Bulan Lebih Tua
Salad dan Sarapan
Menu dibagi ke dalam 12 subkategori, dari pizza, burger, dan ayam sampai saus, dan enam di antaranya punya lebih dari separuh menu yang memenuhi semua target yang berlaku. Salad paling tinggi, 96 persen atau 44 dari 46 menu. Namun salad hanya terkena target kalori, sehingga angka 96 persen itu sekaligus angka kepatuhan kalorinya.
Menu sarapan berada di urutan kedua dengan 66 persen, atau 125 dari 190 menu, padahal terkena ketiga jenis target sekaligus. Kepatuhan gulanya 74 persen, atau 56 dari 76 menu. Kepatuhan garamnya 82 persen, atau 126 dari 154 menu, tertinggi di antara semua subkategori.
Satu subkategori bisa tampil berbeda pada jenis target yang lain. Menu anak, misalnya, 95 persen lolos target kalori. Untuk target garam, angkanya hanya 62 persen.
Makanan Penutup Terbawah
Makanan penutup berada di dasar, dengan hanya 22 persen menunya memenuhi semua target yang berlaku, terendah di antara 12 subkategori. Kalori dan gulanya per 100 gram juga tertinggi, rata-rata 409 kilokalori dan 34,2 gram gula. Per porsi, gula menu penutup pun tertinggi, rata-rata 26,2 gram.
Isi Satu Porsi
Rata-rata seluruh menu per 100 gram adalah 277 kilokalori, 1,1 gram garam, dan 9,5 gram gula. Per porsi, rata-ratanya 450 kilokalori, 2,0 gram garam, dan 10,9 gram gula. Untuk garam per 100 gram, saus tertinggi dengan rata-rata 2,2 gram.
Per porsi, kalori tertinggi ada pada subkategori hidangan utama lain, rata-rata 756 kilokalori. Subkategori ini juga berbagi posisi garam tertinggi dengan pizza, sama-sama 3,4 gram per porsi.
Antarrestoran, menu Prezzo mencatat kalori dan garam per porsi tertinggi, yakni 644 kilokalori dan 3,7 gram, sedangkan gula per porsi tertinggi ada di Harvester, 17,2 gram. Per 100 gram, peringkatnya lain lagi. Caffé Nero tertinggi kalorinya dengan 368 kilokalori, Prezzo garamnya dengan 1,8 gram, dan Costa gulanya dengan 22,0 gram.
Baca juga Promo Takeaway Memikat Keluarga Inggris Berpenghasilan Rendah
Pizza di Dasar
Ke-21 restoran dibagi menjadi lima jenis, yaitu burger, ayam, pizza, sandwich, dan hidangan utama lain. Pembagiannya mengikuti hidangan utama yang paling banyak ditawarkan tiap restoran.
Kelompok restoran pizza paling rendah kepatuhannya. Hanya 32 persen menunya, atau 310 dari 961, memenuhi semua target yang berlaku. Untuk garam angkanya 49 persen, dan untuk kalori 53 persen.
Kelompok burger justru tertinggi untuk semua target, 59 persen atau 88 dari 149 menu. Untuk garam, kelompok ini mencapai 80 persen. Kepatuhan kalori tertinggi dipegang kelompok ayam, 78 persen atau 97 dari 124 menu.
Untuk gula, kelompok ayam mencatat nol persen dari 23 menu. Kelompok pizza di urutan kedua terbawah, 23 persen dari 65 menu. Kelompok burger tertinggi, 53 persen dari 36 menu, dan 32 di antaranya milik McDonald’s.
Subway dan Papa John’s
Kepatuhan juga berbeda antarmerek. Sembilan dari 21 restoran punya lebih dari separuh menu yang memenuhi semua target. Subway tertinggi dengan 76 persen, sedangkan Papa John’s terendah dengan 8 persen.
Papa John’s juga terbawah di target kalori, 35 persen, dan di target garam, 8 persen. Kepatuhan garam antarrestoran jauh lebih beragam daripada kalori, dari 8 sampai 89 persen, dibanding 35 sampai 89 persen untuk kalori.
Meski begitu, 17 dari 21 restoran punya lebih dari separuh menu yang lolos target kalori, dan 18 dari 21 untuk garam. Restoran dengan menu sejenis pun tidak seragam. Menurut para peneliti, perbedaan itu menunjukkan restoran bisa memperbaiki mutu gizi produknya tanpa mengubah fokus menu.
“Perusahaan semestinya tidak perlu mengubah jenis makanan yang mereka tawarkan untuk memperbaiki mutu gizi menu mereka,” tulis O’Hagan dan rekan dalam bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Menurut mereka, hal itu membuat sektor makanan luar rumah yang lebih sehat lebih mungkin dicapai industri.
Dugaan Soal Gula
Para peneliti menawarkan dua kemungkinan mengapa target gula paling tertinggal. Pertama, tenggat target gula jatuh pada 2020, lebih awal daripada target garam pada 2024 dan target kalori pada 2025. Kepatuhan gula mungkin menurun sesudah tenggat lewat, karena sejak itu target gula tidak pernah direvisi untuk mendorong perusahaan tetap patuh.
Kemungkinan kedua soal cara mengukur. Target gula dihitung per 100 gram, sedangkan target kalori dan garam terutama per porsi. Karena itu, target kalori dan garam bisa didekati dengan mengecilkan porsi, sedangkan target gula hanya lewat perubahan resep.
Laporan kemajuan garam terbaru dari pemerintah mencatat 74 persen produk makanan luar rumah memenuhi target garam, sedangkan studi ini hanya mendapati 58 persen. Menurut peneliti, kemungkinan karena laporan itu memakai nilai target maksimum. Mereka sendiri memakai nilai target rata-rata yang lebih ketat.
Baca juga Garam Beryodium Etiopia Merata, Pengetahuan Warganya Tertinggal
Celah Data
Studi ini punya keterbatasan yang diakui penulisnya, yaitu data penjualan per menu tidak tersedia, sehingga yang dinilai adalah menu yang ditawarkan, bukan menu yang dibeli. Bisa saja menu yang lolos target hanya menyumbang sebagian kecil penjualan. Bila begitu, pengaruhnya pada kesehatan terkait pola makan bisa kecil.
Kelengkapan data juga bergantung pada laporan restoran sendiri. Peneliti menemukan contoh kalori yang dilaporkan terlalu rendah, tetapi tidak sanggup menguji semua menu di laboratorium. Hanya lima restoran yang mencantumkan ukuran porsi untuk seluruh menunya.
Peneliti juga menghitung ulang tanpa 37 menu edisi terbatas dari McDonald’s, Burger King, Pret, dan KFC. Kepatuhan gula, garam, dan semua target tidak berubah. Hanya kepatuhan kalori yang turun satu poin, dari 61 menjadi 60 persen.
Penilaian juga hanya dilakukan pada satu titik waktu, terutama Februari dan Maret 2024. Para peneliti mengakui kepatuhan garam mungkin tampak lebih baik bila data diambil lebih akhir pada 2024, begitu pula kepatuhan kalori bila data diambil lebih akhir pada 2025.
Untuk itu, mereka mengusulkan pelaporan gizi dan ukuran porsi yang baku dari sektor makanan luar rumah, ditambah data penjualan yang bisa diakses. Menurut mereka, aturan wajib mungkin lebih efektif untuk memperbaiki mutu gizi makanan di luar rumah.
Pada awal 2024, kurang dari separuh menu restoran terlaris Inggris memenuhi semua target yang berlaku. Untuk gula, angkanya hanya 36 persen.















