- Harga mahal adalah satu-satunya hambatan yang disebut keluarga SEP rendah.
- Keluarga SEP tinggi sama sekali tidak menyebut promo sebagai pendorong.
- Semua partisipan SEP rendah yang menyebut rutinitas takeaway memulainya saat lockdown dan berniat meneruskannya.
- Para penulis mencatat, dalam sampel mereka, hanya partisipan SEP tinggi yang menyebut takeaway dipakai pada hari-hari berat.
Daftar Isi
Takeaway kurang lebih sama dengan makanan jadi yang dibeli dari gerai atau dipesan lewat aplikasi, lalu dibawa atau diantar untuk disantap di rumah. Di Inggris, kebiasaan sederhana itu ternyata dijalani keluarga dengan cara yang berbeda menurut tebal tipisnya pendapatan. Keluarga berpenghasilan rendah menyebut promo sebagai alasan memesan, sedangkan keluarga berpenghasilan tinggi tidak menyebutnya sama sekali.
Temuan itu ditulis Aleks Saunders, Charlotte Gallagher-Squires, Paul Coleman, dan Rana Conway dalam Understanding the role, barriers, and motivators of takeaway food purchasing and consumption in English families across socioeconomic positions: a secondary qualitative analysis, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Saunders dan Conway bernaung di Research Department of Behavioural Science and Health, University College London, sedangkan Gallagher-Squires dan Coleman di Centre for Food Policy, University of London, City St George’s.
Takeaway: makanan jadi yang dibawa pulang
Maksudnya, takeaway tidak punya satu bentuk baku. Para penulis sengaja memperlakukannya sebagai sesuatu yang maknanya dibentuk oleh pemakainya, sehingga yang disebut takeaway oleh satu keluarga bisa berbeda dengan keluarga lain. Bagi seorang partisipan, takeaway berarti makan malam dari restoran Cina, dan bagi partisipan lain cukup kopi dari drive-thru pada hari Rabu.
Naskah menaruh takeaway di dalam sektor yang disebut out-of-home, yaitu makanan dan minuman yang disiapkan di luar rumah, termasuk restoran, kafe, dan gerai takeaway. Sektor ini melonjak selama pandemi. Deliveroo, platform pesan antar asal Inggris, melaporkan kenaikan pesanan 110 persen sepanjang lockdown ketat 2020 sampai semua aturan dicabut pada Juli 2021.
Jumlah gerainya pun besar. Naskah memperkirakan hampir 50.000 usaha fast-food dan takeaway beroperasi di Inggris pada 2024, dan gerai takeaway di wilayah tertinggal jumlahnya lima kali lipat dibanding wilayah makmur. Para penulis mencatat makanan jenis ini sering padat kalori, miskin zat gizi penting, dan dikaitkan dengan kenaikan obesitas.
Socioeconomic position: letak keluarga di tangga sosial ekonomi
Socioeconomic position, disingkat SEP, adalah letak sebuah keluarga dalam susunan sosial ekonomi, yang dalam studi ini disusun dari pekerjaan, kode pos, dan total pendapatan rumah tangga. Bedanya begini, SEP bukan sekadar besar gaji, melainkan gabungan beberapa penanda sekaligus. Para penulis lalu membandingkan dua kelompok, yakni SEP rendah dan SEP tinggi.
Kelompok SEP rendah berisi sepuluh keluarga berpenghasilan £0 sampai £30.000 per tahun, sedangkan SEP tinggi sepuluh keluarga berpenghasilan £37.000 sampai £100.000 atau lebih. Kedua puluh partisipan adalah perempuan yang merawat anak usia TK atau sekolah di Bradford, Brent, serta Folkestone and Hythe, dan mereka diwawancarai pada April sampai Juni 2021 ketika lockdown mulai dilonggarkan.
Susunan etnis kedua kelompok juga tidak sama. Sebanyak 55 persen partisipan adalah White British, tetapi porsinya 80 persen di kelompok SEP tinggi dan hanya 30 persen di kelompok SEP rendah. Kelompok SEP rendah memuat keluarga berlatar Pakistan, Afghanistan, dan Karibia, sementara delapan dari sepuluh partisipan SEP tinggi adalah White British.
Pembagian ini penting karena naskah mencatat jurang kesehatan yang nyata. Orang dewasa di wilayah paling tertinggal di Inggris punya angka obesitas 36 persen, dibanding 22 persen di wilayah paling makmur. Pada anak, obesitas di wilayah tertinggal mencapai 12,9 persen dan 29,2 persen di tahun pertama dan terakhir sekolah dasar, berbanding 6 persen dan 13 persen di wilayah makmur.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Treat: hadiah kecil setelah hari yang berat
Treat berarti hadiah kecil atau suguhan istimewa, sesuatu yang dibeli bukan karena perlu melainkan karena ingin menyenangkan diri atau orang lain. Kedua kelompok sama-sama memandang takeaway sebagai treat. Di keluarga SEP rendah, takeaway dinikmati orang tua dan anak, bahkan dipakai sebagai hadiah ulang tahun ketika kegiatan lain tidak tersedia selama lockdown.
Seorang partisipan SEP rendah, yang dicatat sebagai Partisipan 1, menyebut takeaway sebagai hal yang dinikmati anak-anaknya dan, untuk saat itu, satu-satunya yang benar-benar bisa ia berikan, sebab mereka tidak tertarik pada pakaian. Di keluarga SEP tinggi, treat lebih jarang dibicarakan. Bagi sebagian dari mereka, takeaway dipakai untuk meredakan perasaan setelah hari yang sulit.
Temuan terakhir itu hanya muncul di satu sisi. Para penulis mencatat, dalam sampel mereka, hanya partisipan SEP tinggi yang menyebut takeaway dipakai pada hari-hari berat. Padahal, menurut naskah, kelelahan orang tua dan tekanan emosional meningkat selama pandemi, terutama pada keluarga berpenghasilan rendah.
Tema kedua adalah break from cooking, atau rehat dari dapur. Bagi sebagian keluarga SEP rendah, rehat itu terasa penting ketika anak-anak terus berada di rumah, lalu tidak lagi sepenting itu setelah sekolah dibuka. Partisipan 1 juga memakai takeaway saat Ramadan, karena dapurnya kecil sementara menu yang disiapkan untuk menjamu tamu banyak.
Keluarga SEP tinggi memakai rehat itu untuk alasan lain. Mereka merasa terbebas dari keharusan memutuskan menu setiap hari dan menghemat waktu. Seorang partisipan yang dicatat sebagai Partisipan 14 mengaku sudah jenuh memasak, dan takeaway melepaskannya sejenak dari peran sebagai penyedia makan utama keluarga.
Routine: jadwal takeaway setiap Jumat malam
Routine di sini berarti kebiasaan yang berulang pada waktu yang sama, biasanya sekali seminggu. Keluarga SEP tinggi paling banyak membicarakannya, umumnya memesan pada Jumat atau Sabtu malam, kadang dengan menu yang nyaris tetap, seperti fish and chips di tengah pekan dan pizza di akhir pekan. Bagi Partisipan 15, akhir pekan bertepatan dengan habisnya stok makanan di rumah.
Di keluarga SEP rendah, tema ini lebih jarang muncul, tetapi polanya patut dicatat. Semua partisipan SEP rendah yang menyebut rutinitas takeaway memulainya saat lockdown dan berniat meneruskannya. Partisipan 1 memilih hari Jumat karena esoknya tidak ada sekolah, dan Partisipan 5 menyebut frekuensinya sekali seminggu.
Para penulis membaca pola ini dengan hati-hati. Takeaway memberi struktur mingguan bagi keluarga ketika struktur lain, seperti sekolah dan tempat kerja, hilang selama pandemi. Namun, bila kebiasaan itu menetap, pergeseran permanen ke konsumsi takeaway rutin bisa berdampak buruk pada angka kelebihan berat badan dan obesitas.
Dua tema hanya muncul di kelompok SEP tinggi. Yang pertama mencoba masakan baru, misalnya Partisipan 11 yang menjadwalkannya sebulan sekali di buku agenda dan ingin mengenalkan anaknya yang berusia 13 tahun pada rasa yang berbeda. Partisipan lain memakai layanan pesan antar untuk mengenalkan sushi dan masakan Cina. Yang kedua acara sosial, ketika takeaway dipesan karena pasangan sedang di rumah.
Para penulis tidak menelan tema itu mentah-mentah. Mereka menduga cerita soal mencoba masakan baru bisa menjadi semacam pembenaran, agar kebiasaan memesan takeaway terdengar mendidik. Mereka juga menduga pilihan yang lebih sehat seperti sushi mungkin terlalu mahal atau sulit dijangkau keluarga SEP rendah, dan biaya layanan aplikasi pesan antar bisa membatasi mereka pada gerai lokal.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Promotional offers: promo yang menentukan pilihan
Harga mahal adalah satu-satunya hambatan yang disebut keluarga SEP rendah. Partisipan 3 mengaku keadaan keuangannya berubah sehingga ia mengurangi takeaway, karena uang yang sama bisa dipakai belanja kecil untuk beberapa kali makan. Partisipan 1 menghitung, untuk lima orang, satu kali makan di sebuah restoran ayam tetap menelan £40 sampai £50 meski ada potongan 25 persen, sementara tempat lain cukup £25.
Harga juga menjadi hambatan bagi keluarga SEP tinggi, tetapi dengan timbangan berbeda. Partisipan 17 lebih memilih memasak ketimbang mengeluarkan banyak uang, dan menurut para penulis harga baru terasa mengganjal ketika memasak dianggap tidak terlalu merepotkan. Hanya kelompok ini yang menyebut pengalaman buruk, seperti makanan yang mengecewakan atau pesanan yang tidak pernah datang padahal sudah dibayar.
Promotional offers, atau promo, adalah potongan harga dan paket seperti beli satu gratis satu. Di sinilah dua kelompok paling jauh berpisah. Partisipan 1 memberi anak-anaknya pilihan beberapa tempat berdasarkan promo yang tersedia, dan memanfaatkan promo beli satu gratis satu di aplikasi UberEATS yang membuat menu seharga £13 menjadi setengah harga.
Keluarga SEP tinggi sama sekali tidak menyebut promo sebagai pendorong. Dari perbedaan itu, para penulis menyimpulkan bahwa kualitas pengalaman mungkin menjadi pendorong utama bagi keluarga SEP tinggi. Bagi keluarga SEP rendah, yang lebih menentukan adalah fungsi makanan itu sendiri, yakni rasa kenyang dan nilai uang.
“Temuan ini menyoroti kemungkinan adanya celah keleluasaan bagi partisipan SEP rendah di dalam lingkungan pangan: ketika keluarga membeli takeaway, mereka mungkin lebih rentan terhadap promosi berbasis volume dan paket hemat untuk makanan padat energi, demi meredam hambatan harga,” tulis Saunders dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu menggeser persoalan dari selera ke harga.
Pendorong lain dimiliki kedua kelompok, yaitu anggota keluarga lain. Kakek, nenek, bibi, atau paman kerap mengajak anak-anak makan takeaway. Seorang partisipan SEP rendah, Partisipan 8, bahkan mengeluhkan mantan pasangannya yang membawa anak mereka ke restoran sepulang les, di luar keinginannya, sehingga sulit baginya menjadi orang tua yang mendorong pola makan lebih sehat.
Temuan soal promo inilah yang oleh para penulis dikaitkan dengan kebijakan. Pemerintah Inggris berencana membatasi promosi makanan tinggi lemak, garam, dan gula di supermarket, dan para penulis menilai temuan mereka relevan bila pembatasan itu kelak diperluas ke restoran dan gerai takeaway. Mereka juga mengusulkan riset lanjutan tentang promo untuk bahan pangan yang lebih sehat.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Secondary analysis: membaca ulang wawancara lama
Secondary analysis berarti mengolah ulang data yang semula dikumpulkan untuk tujuan lain. Wawancara ini dibuat untuk studi Food in Lockdown yang menelaah hubungan keluarga dengan makanan selama pandemi, sehingga para penulis tidak bisa menggali lebih jauh. Mereka tidak bisa memeriksa apakah promo untuk bahan segar di supermarket akan sama memikatnya, dan tidak bisa menilai kandungan gizi takeaway yang dibeli.
Keterbatasan lain diakui terbuka. Semua partisipan perempuan, sampelnya dipilih dengan kuota oleh peneliti, dan partisipan mungkin melaporkan frekuensi takeaway lebih rendah dari kenyataan karena khawatir dicap buruk. Dengan dua puluh keluarga di tiga wilayah, temuan ini menggambarkan pengalaman mereka, bukan pengalaman seluruh keluarga Inggris.
Ada pula beberapa hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca. Studi induk Food in Lockdown disebut merekrut 62 orang tua, tetapi paragraf berikutnya menulis kumpulan awalnya berjumlah 60. Tema rutinitas disebut tradition di ringkasan, tabel, dan pembahasan, sementara subjudul di bagian hasil memakai kata routine.
Sejumlah nomor rujukan juga tampak meleset. Klaim bahwa lebih dari sepertiga orang dewasa memesan dari takeaway yang belum pernah mereka kunjungi sebelum pandemi dirujuk ke nomor 32, yang di daftar pustaka adalah studi nafsu makan anak. Angka 64 persen orang dewasa yang menganggap makanan sumber kenyamanan dirujuk ke nomor 33, sebuah makalah tentang teknik pengambilan sampel.
Rencana Kesehatan 10 Tahun pemerintah Inggris dirujuk ke nomor 30 di pendahuluan, tetapi ke nomor 27 di pembahasan, padahal nomor 27 adalah studi lain tentang konsumsi takeaway. Pernyataan bahwa krisis biaya hidup memengaruhi belanja pangan dirujuk ke nomor 14, yang ternyata studi tentang prediabetes pada anak dan remaja.
Takeaway, dengan demikian, bukan sekadar makanan jadi yang dibawa pulang. Bagi keluarga dalam studi ini, ia bisa berarti hadiah, jeda dari dapur, jadwal Jumat malam, atau kesempatan mencicipi sushi. Namun, istilah itu punya batas yang ditunjukkan naskah, sebab bagi keluarga berpenghasilan rendah, takeaway yang dipilih kerap kali adalah takeaway yang sedang promo.















