- Prevalensi darah tinggi 28 persen pada peserta bersekolah 13 tahun atau lebih dan 53 persen pada yang bersekolah 0 sampai 6 tahun.
- Setelah penyesuaian, kelompok 0 sampai 6 tahun memiliki prevalensi hipertensi 22 persen lebih tinggi, kelompok 7 sampai 12 tahun 10 persen.
- Pada perempuan berusia 18 sampai 35 tahun, rasio prevalensi kelompok berpendidikan 0 sampai 6 tahun mencapai 1,84.
- Diabetes, alkohol, dan kurang bergerak menjelaskan kira-kira seperlima hubungan antara pendidikan dan darah tinggi.
Daftar Isi
- Tiga Putaran Survei Mei, dari 2021 sampai 2023
- Hitungan Antonio-Villa: dari 28 Persen ke 53 Persen
- Kan Sun, Meghan Zacher, dan Jejak Serupa di Luar Meksiko
- Usia 18 sampai 35 Tahun, Tempat Hubungannya Paling Kuat
- Sepanjang 2021 sampai 2023, Banyak yang Belum Tahu Dirinya Sakit
- Jejak Addey di Kota Meksiko dan Seperlima yang Terjelaskan
- Batas Survei di Masa Pandemi dan Mata Rantai Berikutnya
Darah tinggi masih menjadi salah satu pendorong utama penyakit dan kematian akibat gangguan jantung dan pembuluh darah di negara berpendapatan rendah dan menengah. Kemajuan pengobatan dan upaya kesehatan masyarakat belum menghapus persoalan lama di Amerika Latin, termasuk Meksiko: banyak orang hidup dengan tekanan darah tinggi tanpa pernah terdiagnosis, atau sudah berobat tetapi tekanannya belum terkendali. Di tengah persoalan itu, sekelompok dokter dan peneliti Meksiko menoleh ke satu faktor sosial yang mereka sebut kunci, yaitu lamanya seseorang bersekolah.
Pertanyaan itu dijawab Neftali Eduardo Antonio-Villa dari Instituto Nacional de Cardiología Ignacio Chávez, Silvia Palomo-Piñón dari Grupo de Expertos en Hipertensión Arterial México (GREHTA), dan rekan yang tergabung dalam Collaborative Group on Arterial Hypertension. Hasilnya terbit dengan judul Educational attainment and arterial hypertension in 160,000 Mexican adults: a pooled subanalysis of three surveys endorsed by the Collaborative Group on Arterial Hypertension di jurnal BMC Public Health pada 2026.
Angka pokoknya mudah diingat. Dibanding orang dewasa yang bersekolah 13 tahun atau lebih, mereka yang bersekolah 0 sampai 6 tahun memiliki prevalensi darah tinggi 22 persen lebih tinggi, sedangkan yang bersekolah 7 sampai 12 tahun 10 persen lebih tinggi. Hubungan itu lebih kuat pada perempuan daripada laki-laki. Para peneliti menyebutnya hubungan terbalik: makin singkat masa sekolah, makin banyak darah tinggi di kelompok itu.
Tiga Putaran Survei Mei, dari 2021 sampai 2023
Datanya berasal dari survei May Measurement Month di Meksiko pada 2021, 2022, dan 2023, kampanye skrining tekanan darah global yang didukung International Society of Hypertension. Orang dewasa berusia 20 tahun ke atas diundang terbuka ke lokasi pemeriksaan di klinik dan pusat medis publik di berbagai negara bagian, lalu diukur tekanan darahnya dengan tensimeter digital yang sama dan diwawancarai dengan kuesioner baku.
Dari 179.284 peserta yang datanya diselaraskan, tersisa 166.251 orang untuk analisis utama, terdiri atas 100.110 perempuan dan 66.141 laki-laki dengan rata-rata usia 47 tahun. Survei 2021 menyumbang bagian terbesar, yakni 43 persen, disusul 2023 dengan 34 persen dan 2022 dengan 24 persen. Sebagian besar peserta direkrut di pusat layanan kesehatan primer, terutama dari Wilayah Metropolitan dan negara bagian di utara.
Lama sekolah dibagi tiga sesuai jenjang di Meksiko: 0 sampai 6 tahun untuk tamat sekolah dasar, 7 sampai 12 tahun untuk sekolah menengah, dan 13 tahun atau lebih untuk sarjana ke atas. Sebarannya mirip pada kedua jenis kelamin. Di kalangan perempuan, 29 persen bersekolah 13 tahun atau lebih, 47 persen 7 sampai 12 tahun, dan 24 persen 0 sampai 6 tahun, sementara pada laki-laki angkanya 28, 47, dan 25 persen.
Hitungan Antonio-Villa: dari 28 Persen ke 53 Persen
Secara keseluruhan, 37 persen peserta hidup dengan darah tinggi, dengan laki-laki sedikit lebih banyak, 39 persen, dibanding perempuan, 36 persen. Begitu dipilah menurut lama sekolah, perbedaannya melebar. Di antara peserta yang bersekolah 13 tahun atau lebih, prevalensinya 28 persen, naik menjadi 34 persen pada kelompok 7 sampai 12 tahun, dan mencapai 53 persen pada kelompok 0 sampai 6 tahun, lebih dari separuh.
Pola itu muncul pada perempuan maupun laki-laki. Pada perempuan, angkanya 26 persen untuk yang bersekolah paling lama, 33 persen untuk kelompok tengah, dan 54 persen untuk yang paling singkat. Pada laki-laki, urutannya 31, 36, dan 52 persen. Namun kelompok yang sekolahnya singkat juga lebih tua: rata-rata usia perempuan berpendidikan 0 sampai 6 tahun 56 tahun, sementara yang berpendidikan 13 tahun atau lebih 41 tahun.
Karena itu, perbandingan kemudian disesuaikan dengan usia, tempat dan wilayah perekrutan, serta tahun survei. Sesudah penyesuaian itu, kelompok 0 sampai 6 tahun tetap memiliki rasio prevalensi 1,22, dengan selang kepercayaan 95 persen 1,19 sampai 1,24, dan kelompok 7 sampai 12 tahun 1,10, dengan selang 1,09 sampai 1,12. Hubungan itu lebih kuat pada perempuan daripada laki-laki.
Baca juga Pemakai Ponsel Lama di Iran Lebih Rentan Kena Darah Tinggi
Selisih juga terlihat pada angka tensimeter. Peserta yang bersekolah 0 sampai 6 tahun rata-rata memiliki tekanan sistolik 7,7 mmHg lebih tinggi daripada yang bersekolah 13 tahun atau lebih. Untuk tekanan diastolik, selisihnya hanya 1,0 mmHg. Pada perempuan, selisih sistoliknya 9,2 mmHg, sedangkan pada laki-laki 5,5 mmHg.
Kan Sun, Meghan Zacher, dan Jejak Serupa di Luar Meksiko
Temuan dari Meksiko itu tidak berdiri sendirian. Antonio-Villa dan rekan menyebut Kan Sun dan rekan, yang dalam China Cardiometabolic Disease and Cancer Cohort Study melaporkan bahwa peserta berpendidikan lebih rendah berisiko lebih tinggi didiagnosis hipertensi baru dan kendali tekanan darahnya lebih buruk. Xin Zhang dan rekan, lewat metode randomisasi Mendel, juga menunjukkan pendidikan lebih tinggi berhubungan dengan kemungkinan hipertensi yang lebih rendah.
Di Amerika Serikat, Meghan Zacher memakai Health and Retirement Study tahun 2014 dan 2016. Ia menemukan orang lanjut usia yang bersekolah lebih singkat lebih mungkin mengidap darah tinggi dan tekanan darah tak terkendali dibanding yang lebih terdidik. Zacher juga mencatat bahwa perbedaan karena pendidikan lebih nyata pada tekanan sistolik daripada diastolik, pola yang menurut tim Meksiko sejalan dengan temuan mereka sendiri.
Selisih beberapa mmHg itu, menurut para penulis, bukan perkara kecil. “Meski selisih tekanan sistolik di antara kategori pendidikan kami berkisar sekitar 5 sampai 9 mmHg, pergeseran semacam itu dapat berujung pada perbedaan besar risiko stroke dan penyakit koroner di tingkat populasi,” tulis Antonio-Villa, Palomo-Piñón, dan rekan (terjemahan dari naskah berbahasa Inggris). Mereka merujuk Turner dan rekan, yang lewat studi randomisasi Mendel pada populasi Meksiko melaporkan bahwa tiap kenaikan 10 mmHg tekanan sistolik yang diperkirakan secara genetik berhubungan dengan risiko kematian kardiovaskular 73 persen lebih tinggi.
Rantai bukti dari Amerika Latin juga panjang. Santos Alves dan rekan, memakai data 59.402 peserta Survei Kesehatan Nasional Brasil 2013, melaporkan pendidikan lebih rendah berhubungan dengan prevalensi hipertensi lebih tinggi pada semua kelompok gender dan ras. Di Kolombia, Hessel dan rekan mendapati lansia berpendidikan menengah atau lebih tinggi memiliki kemungkinan tekanan darah tinggi hingga 37 persen lebih kecil dibanding yang tidak bersekolah formal. Studi di Peru dan proyek SALURBAL di 230 kota Amerika Latin juga mencatat arah serupa, meski pada SALURBAL hubungan di kalangan laki-laki kurang konsisten.
Usia 18 sampai 35 Tahun, Tempat Hubungannya Paling Kuat
Hubungan antara lama sekolah dan darah tinggi ternyata tidak sama kuat di semua kelompok. Pada perempuan berusia 18 sampai 35 tahun, mereka yang bersekolah 0 sampai 6 tahun memiliki rasio prevalensi 1,84 dibanding yang bersekolah 13 tahun atau lebih. Angka itu turun menjadi 1,51 pada usia 36 sampai 49 tahun, 1,26 pada usia 50 sampai 64 tahun, dan 1,19 pada usia di atas 65 tahun.
Pada laki-laki, polanya serupa meski lebih landai. Rasio prevalensi kelompok 0 sampai 6 tahun adalah 1,55 pada usia 18 sampai 35 tahun, lalu 1,21, 1,12, dan 1,12 pada kelompok usia berikutnya. Para peneliti menulis bahwa pengaruh pendidikan 0 sampai 6 tahun paling kuat pada usia muda dan mengecil seiring bertambahnya usia, pada kedua jenis kelamin.
Wilayah juga membuat perbedaan. Hubungan itu lebih kuat pada peserta berpendidikan 0 sampai 6 tahun yang direkrut di Wilayah Metropolitan dan negara bagian utara, dengan rasio prevalensi 1,30 dan 1,31 pada perempuan, serta 1,10 dan 1,15 pada laki-laki. Menurut tahun survei, variasi hanya tampak pada perempuan: rasio kelompok 0 sampai 6 tahun mencapai 1,38 pada 2021, dibanding 1,19 pada 2022 dan 1,25 pada 2023.
Baca juga Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi
Sepanjang 2021 sampai 2023, Banyak yang Belum Tahu Dirinya Sakit
Survei ini juga memilah penderita darah tinggi ke dalam empat kelompok: belum terdiagnosis, sudah terdiagnosis tetapi belum berobat, berobat tetapi belum terkendali, dan berobat serta terkendali. Di kalangan laki-laki penderita darah tinggi, 25 persen belum terdiagnosis, dibanding 19 persen pada perempuan. Yang tekanan darahnya sudah terkendali hanya 23 persen pada laki-laki dan 30 persen pada perempuan.
Pola yang berbeda muncul di sini. Di antara penderita, yang belum terdiagnosis justru lebih sering ditemukan pada kelompok berpendidikan paling tinggi: 22 persen pada perempuan bersekolah 13 tahun atau lebih, dibanding 15 persen pada yang bersekolah 0 sampai 6 tahun. Pada laki-laki, angkanya 29 persen berbanding 21 persen. Tekanan darah terkendali sedikit lebih banyak pada kelompok berpendidikan terendah.
Setelah penyesuaian, hanya perempuan berpendidikan 0 sampai 6 tahun yang memiliki prevalensi hipertensi belum terdiagnosis lebih rendah dibanding yang sudah pernah terdiagnosis, dengan rasio prevalensi 0,92. Sementara itu, laki-laki dan perempuan berpendidikan 7 sampai 12 tahun memiliki prevalensi hipertensi tak terkendali yang lebih tinggi dibanding yang terkendali, dengan rasio 1,04 dan 1,06. Para peneliti menegaskan, data potong lintang mereka tidak dapat memastikan penjelasan apa pun untuk pola tersebut.
Mereka menawarkan beberapa kemungkinan. Orang berpendidikan lebih rendah, yang sering membawa beban penyakit penyerta lebih berat, mungkin lebih sering berkunjung ke klinik sehingga lebih sering diperiksa tekanan darahnya. Sebaliknya, orang berpendidikan tinggi bisa jadi lebih muda, lebih aktif secara ekonomi, atau merasa lebih sehat, sehingga lebih jarang mencari pemeriksaan dan baru terjaring lewat skrining seperti ini.
Jejak Addey di Kota Meksiko dan Seperlima yang Terjelaskan
Pertanyaan berikutnya berakar pada penelitian Addey dan rekan, studi prospektif besar di Kota Meksiko yang menemukan hubungan terbalik antara pendidikan dan kematian dini. Dalam studi itu, faktor gaya hidup serta penanda fisiologis seperti lemak tubuh, diabetes, dan tekanan darah tampak menjelaskan hingga empat perlima hubungan tersebut. Belum jelas apakah porsinya sama bila yang diukur adalah darah tinggi, bukan kematian.
Pada perempuan, diabetes menjelaskan porsi terbesar, disusul konsumsi alkohol, kurang bergerak, dan riwayat tekanan darah tinggi saat hamil, yang terakhir hanya pada kelompok berpendidikan 7 sampai 12 tahun. Pada laki-laki, diabetes dan kurang bergerak menjadi perantara utama, sementara alkohol hanya berperan pada kelompok 0 sampai 6 tahun. Diabetes sendiri tercatat pada 27 persen peserta berpendidikan terendah, baik perempuan maupun laki-laki.
Bila semua faktor itu dihitung bersama, porsinya 18,7 persen pada perempuan berpendidikan 7 sampai 12 tahun dan 13,7 persen pada yang berpendidikan 0 sampai 6 tahun. Pada laki-laki, angkanya 19,2 persen dan 18,6 persen. Para penulis merangkumnya sebagai kira-kira seperlima hubungan antara pendidikan dan darah tinggi, dan menekankan bahwa angka itu adalah penguraian statistik, bukan jalur sebab-akibat.
Baca juga Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Porsi itu juga disebut sebagai perkiraan batas bawah yang hati-hati. Sejumlah perantara lain yang mungkin berperan, seperti indeks massa tubuh, lingkar pinggang, mutu makanan, asupan garam, stres, lama tidur, kepatuhan minum obat, dan pemanfaatan layanan kesehatan, tidak ditanyakan dalam survei aslinya. Semua perantara yang dianalisis pun berasal dari pengakuan peserta sendiri, sehingga bisa terpengaruh ingatan.
Batas Survei di Masa Pandemi dan Mata Rantai Berikutnya
Para peneliti mengakui sejumlah batasan lain. Survei May Measurement Month adalah skrining oportunistik di negara bagian terpilih, bukan survei yang mewakili Meksiko secara nasional, sehingga orang yang punya akses ke layanan kesehatan lebih mungkin terjaring. Rancangan potong lintangnya juga membatasi kemampuan menetapkan urutan waktu, dan lama sekolah yang hanya tersedia dalam tiga kategori membuat hubungan bertahap sulit dinilai.
Survei 2021 berlangsung pada fase pascaakut pandemi COVID-19, ketika layanan primer terganggu dan kunjungan skrining pencegahan berkurang. Peserta tahun itu, menurut para penulis, mungkin lebih termotivasi mencari layanan atau membawa beban penyakit jantung dan metabolik lebih besar dibanding peserta 2022 dan 2023. Pendidikan juga bisa mewakili faktor lain seperti pendapatan keluarga dan pekerjaan orang tua yang tidak dapat diukur.
Karena itu, mereka meminta penelitian lanjutan pada survei yang lebih luas dan representatif di Meksiko serta negara Amerika Latin lain, dan studi prospektif untuk menguji apakah memasukkan pendidikan ke dalam skrining benar-benar memperbaiki kendali tekanan darah. Bersama temuan dari Brasil, Kolombia, Peru, dan proyek SALURBAL di delapan negara, menurut mereka, bukti ini menunjukkan perlunya strategi kesehatan masyarakat untuk menjawab ketimpangan darah tinggi yang berkaitan dengan pendidikan di Amerika Latin.















