- Suhu menunjukkan kaitan paling kuat dengan alergi anak di Chongqing, jauh di atas polutan udara yang diukur satu per satu.
- Kenaikan suhu terkait dengan 84.640 kasus rinitis alergi, atau 18,5 persen dari seluruh kasus penyakit itu.
- Pada dermatitis atopik, suhu hangat dikaitkan dengan 58.270 kasus yang lebih sedikit, atau berkurang 20,4 persen.
- NO2 terkait dengan 25.277 kasus dermatitis atopik, sumbangan polutan tunggal terbesar dalam penelitian ini.
Daftar Isi
Rong Sun, Bo Pan, dan Jia Liang menghimpun catatan yang tidak kecil: 1.516.996 kunjungan anak ke Rumah Sakit Anak Universitas Kedokteran Chongqing, Tiongkok. Kunjungan itu terbagi atas tiga penyakit alergi, yakni 456.807 untuk rinitis alergi, 775.181 untuk asma, dan 285.008 untuk dermatitis atopik. Dari tumpukan itu, Sun dan rekan bertanya mana yang lebih kuat berkaitan dengan alergi anak, cuaca atau polusi udara.
Laporan itu ditulis Rong Sun dari Pusat Manajemen Kesehatan, Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Kedokteran Chongqing, bersama Linlin Nie, Xinye Tang, Bo Pan, Jia Liang, dan Di Hu dari Rumah Sakit Anak Universitas Kedokteran Chongqing. Judulnya Relative contributions of climate factors and air pollution to childhood allergic diseases in Chongqing, China, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Menurut Sun dan timnya, suhu menunjukkan kaitan paling kuat dengan ketiga penyakit, jauh di atas polutan udara mana pun bila diukur satu per satu. Namun arah kaitannya tidak sama: hari yang lebih hangat seiring dengan lebih banyak kunjungan rinitis alergi dan asma, tetapi lebih sedikit kunjungan dermatitis atopik.
Satu Rumah Sakit untuk Seluruh Chongqing
Di Hu, penulis korespondensi, bekerja di Bagian Telinga Hidung Tenggorok rumah sakit anak tersebut. Menurut laporan Hu dan rekan, rumah sakit itu satu-satunya rumah sakit anak tersier khusus di seluruh wilayah Chongqing, sehingga anak dari kota, pinggiran, dan desa berobat ke sana. Chongqing sendiri kota berpenduduk lebih dari 30 juta jiwa.
Sun dan rekan menggambarkan Chongqing sebagai kota di Cekungan Sichuan yang dikepung pegunungan setinggi 1.000 sampai 2.000 meter. Bentuk mangkuk alami itu, tulis mereka, menahan sirkulasi udara dan memerangkap polutan, terutama di musim dingin. Musim panasnya lembap dan panas, sedangkan kelembapan relatif sepanjang tahun rata-rata 78,8 persen.
Rentang waktu yang dipakai Rong Sun mencakup 2014 sampai 2019 serta 2023 sampai 2024, total 2.922 hari. Tahun 2020 sampai 2022 sengaja dibuang karena pandemi COVID-19 mengganggu perilaku mencari layanan kesehatan di Tiongkok. Rata-rata hariannya, Sun mencatat 191,8 kunjungan asma, 108,5 kunjungan rinitis alergi, dan 74,2 kunjungan dermatitis atopik.
Selain catatan rumah sakit yang dikumpulkan Rong Sun, Bo Pan, dan Jia Liang, tim memakai data cuaca dan mutu udara dari jaringan stasiun Biro Meteorologi Chongqing dan Biro Ekologi dan Lingkungan Chongqing. Selama masa penelitian, suhu rata-rata 18,6 derajat Celsius, dengan titik terendah 0,3 derajat dan tertinggi 35,5 derajat. Kadar PM2.5 rata-rata 42,1 mikrogram per meter kubik, NO2 40,1, dan ozon 44,2.
Baca juga Pekerja Sif Malam Tak Teratur Lebih Sering Terkena Alergi Hidung
Kasus yang Terkait Suhu dalam Hitungan Sun
Sun dan rekan menghitung berapa kasus yang terkait dengan kenaikan suhu selebar rentang antarkuartil, yakni 13,0 derajat Celsius. Pada rinitis alergi, angkanya 84.640 kasus, atau 18,5 persen dari seluruh kasus rinitis alergi. Bila dibagi per tahun, Sun mencatat rata-rata 9.404 kasus.
Untuk asma, tabel Sun dan rekan mencatat 58.058 kasus terkait suhu, setara 7,5 persen dari seluruh kasus asma. Sebaliknya, pada dermatitis atopik suhu dikaitkan dengan 58.270 kasus yang lebih sedikit, atau berkurang 20,4 persen. Tim Sun menyebut perbedaan arah ini sebagai pola kerentanan lingkungan yang secara mendasar berbeda antara alergi saluran napas dan alergi kulit.
Rong Sun juga membandingkan kekuatan pengaruh antarfaktor dengan koefisien terstandar. Suhu memberi angka 0,405 untuk rinitis alergi, 0,108 untuk asma, dan minus 0,286 untuk dermatitis atopik. Efek polutan udara terkuat di ketiga penyakit, yakni NO2 pada dermatitis atopik, berada di angka 0,253, masih di bawah suhu pada rinitis alergi.
Rong Sun, Linlin Nie, dan Bo Pan, yang menurut pembagian kerja dalam laporan mengerjakan analisis statistik, juga menarik kurva hubungan suhu dengan risiko tiap penyakit. Untuk rinitis alergi, kurvanya berbentuk huruf J. Di bawah 15 derajat Celsius risikonya mendekati garis dasar, lalu naik tajam di atas 20 derajat, sampai risiko relatif 1,25 pada suhu 30 derajat.
Asma menunjukkan pola lain dalam catatan Sun. Kurvanya berbentuk huruf U, dengan risiko terendah pada suhu sedang 15 sampai 20 derajat dan risiko yang naik di kedua ujung, dingin maupun panas. Pada suhu 32 derajat, risiko relatif asma yang dicatat Sun dan rekan sebesar 1,10.
Dermatitis atopik, alergi pada kulit, justru bergerak terbalik. Nie dan rekan mendapati risikonya terus menurun ketika suhu naik, hingga risiko relatif 0,75 pada suhu 30 derajat. Titik suhu dengan risiko terendah pun berbeda jauh menurut tim Sun: sekitar 10 derajat untuk rinitis alergi, sekitar 18 derajat untuk asma, dan sekitar 28 derajat untuk dermatitis atopik.
Kesimpulan tim Rong Sun di bagian akhir laporan merangkum gambaran itu. “Suhu menunjukkan kaitan jangka pendek yang jauh lebih besar dibandingkan polutan udara secara tunggal, dengan efek yang arahnya berbeda menurut penyakit,” tulis mereka dalam kesimpulan, yang di sini diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Baca juga Anak Ronneby yang Ibunya Minum Air Tercemar Lebih Sering Asma
NO2 dan Kulit Anak di Musim Dingin
Polusi udara tetap muncul dalam catatan Sun, terutama pada kulit. Risiko dermatitis atopik naik seiring kadar NO2, sampai risiko relatif 1,20 pada kadar 80 mikrogram per meter kubik. Untuk asma, kaitan dengan NO2 jauh lebih kecil, dengan risiko relatif 1,06. Sun dan rekan menghitung 25.277 kasus dermatitis atopik terkait NO2, atau 8,9 persen dari seluruh bebannya. Menurut tim, itulah sumbangan polutan tunggal terbesar di antara semua pasangan penyakit dan polutan.
Linlin Nie dan rekan juga memecah hasil itu menurut musim. Kaitan NO2 dengan dermatitis atopik tetap positif di keempat musim, dengan koefisien 0,245 di musim semi, 0,228 di musim panas, 0,267 di musim gugur, dan paling kuat 0,354 di musim dingin.
Musim dingin di Chongqing memang musim udara kotor menurut catatan Sun. Rata-rata PM2.5 di musim dingin 62,3 mikrogram per meter kubik dan di musim panas 28,4, sedangkan NO2 di musim dingin 48,7 dan di musim panas 32,4. Tim mengaitkan puncak musim dingin dengan emisi pemanas dan inversi atmosfer, sementara ozon justru memuncak di musim panas.
Ada satu temuan yang diminta Rong Sun dibaca hati-hati. NO2 tampak berhubungan terbalik dengan rinitis alergi, dengan koefisien minus 0,219. “Hubungan terbalik ini tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti efek perlindungan,” tulis tim (terjemahan). Menurut mereka, pola itu kemungkinan mencerminkan perancu musiman dari alergen musim hangat yang tidak diukur, sebab NO2 paling rendah justru saat rinitis alergi memuncak.
Musim Panas untuk Hidung, Musim Dingin untuk Napas
Pembagian menurut musim membuat beban penyakit dalam catatan Sun terlihat menumpuk pada waktu tertentu. Di musim panas, suhu terkait dengan 18.896 kasus rinitis alergi, setara 22,3 persen beban tahunan penyakit itu. Di musim dingin, NO2 terkait dengan 21.558 kasus asma, atau 11,1 persen beban asma musim dingin.
Musim semi menurut tim Rong Sun menjadi masa perlindungan alami terhadap dermatitis atopik. Pada musim itu, suhu hangat dikaitkan dengan 9.006 kasus dermatitis atopik yang tercegah. Sun dan rekan menilai pola musiman ini memungkinkan pencegahan yang dipusatkan pada musim berbeban tinggi, alih-alih program sepanjang tahun.
Dari angka-angka itu, Di Hu, Rong Sun, dan rekan mengusulkan sistem peringatan suhu dan kesehatan dengan ambang yang berbeda untuk tiap penyakit, dikoordinasikan dengan layanan meteorologi. Pencegahan rinitis alergi, menurut mereka, sebaiknya dipusatkan pada Mei sampai Agustus, sedangkan penanganan asma musim dingin memprioritaskan penurunan NO2 saat periode inversi atmosfer.
Tim Sun juga menulis bahwa “dominasi suhu atas polutan udara menunjukkan bahwa kebijakan lingkungan yang hanya berfokus pada mutu udara bisa melewatkan pendorong utama di wilayah subtropis” (terjemahan). Karena itu Sun dan rekan menyarankan adaptasi iklim dipadukan dengan pengelolaan mutu udara dalam kebijakan kesehatan lingkungan anak.
Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China
Batas yang Diakui Tim Chongqing
Rong Sun dan rekan menyebut sendiri sejumlah batas penelitiannya. Desainnya ekologis dan bergantung pada data stasiun pemantau tetap, sehingga tidak menangkap perbedaan paparan tiap anak, termasuk mutu udara di dalam rumah, perpindahan sehari-hari, dan lingkungan sekolah. Namun menurut Sun, kesalahan paparan semacam itu cenderung membuat taksiran lebih kecil, bukan lebih besar.
Batas kedua menyangkut alergen: tim tidak mengukur langsung kadar serbuk sari maupun spora jamur. “Ini merupakan keterbatasan penting yang memengaruhi penafsiran temuan kami,” tulis mereka (terjemahan). Suhu, menurut tim, bisa menjadi wakil bagi alergen yang tak terukur, sehingga angka 18,5 persen pada rinitis alergi mungkin sebagian berjalan lewat jalur alergen.
Sun dan rekan juga mengingatkan bahwa temuan dari cekungan subtropis Chongqing tidak serta-merta berlaku di semua tempat. Hasilnya paling relevan bagi wilayah dengan iklim muson subtropis, musim hangat lembap yang panjang, dan kelembapan tinggi, sementara penelitian ulang di lingkungan lain masih diperlukan. Studi berikutnya, saran tim, perlu mengukur alergen secara langsung.
Dari 1.516.996 kunjungan yang dihimpun Rong Sun, Bo Pan, dan Jia Liang, gambaran akhirnya terbelah dua. Bagi hidung dan napas anak Chongqing, hari hangat seiring dengan lebih banyak kunjungan. Bagi kulit mereka, suhu yang lebih hangat justru seiring dengan kasus dermatitis atopik yang berkurang 20,4 persen.















