- Sebanyak 51,0 persen dari 1.423 siswa sekolah menengah Hong Kong tidak sarapan setiap hari.
- Asupan sayur kurang dialami 86,1 persen siswa dan asupan buah kurang 83,8 persen siswa.
- Siswa yang berlebihan di media sosial lebih mungkin melewatkan sarapan, dengan rasio odds terkoreksi 1,668.
- Tidak ada satu pun faktor yang terkait secara bermakna dengan asupan sayur yang kurang.
Daftar Isi
Anjuran makan sayur bagi remaja Hong Kong punya ukuran resmi, yakni tiga porsi sehari, tetapi sebagian besar siswa sekolah menengah di sana tetap berada di bawahnya. Ketika para peneliti mencari faktor yang menyertai kebiasaan kurang makan sayur itu, tidak satu pun faktor yang mereka ukur terkait secara bermakna dalam model analisis mereka.
Temuan itu berasal dari survei terhadap siswa sekolah menengah di wilayah tersebut. Survei yang sama menemukan sejumlah faktor yang terkait dengan dua kebiasaan lain, yaitu melewatkan sarapan dan kurang makan buah. Untuk keduanya, kebiasaan bermain layar, jam tidur, kemampuan memahami informasi kesehatan, usia, dan keadaan ekonomi keluarga ikut terkait.
Penelitian ini ditulis Claire Chenwen Zhong dan rekan dari The Jockey Club School of Public Health and Primary Care, Fakultas Kedokteran The Chinese University of Hong Kong. Judulnya Unhealthy dietary behaviors and associated factors among adolescents: a territory-wide study. Laporannya terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Survei dijalankan pada September sampai November 2024 di 20 sekolah menengah yang tersebar di 11 dari 18 klaster Hong Kong. Pesertanya siswa kelas 1 sampai 4 sekolah menengah, yang umumnya berusia 12 sampai 16 tahun. Dari 1.826 kuesioner yang kembali, 1.423 dianalisis, terdiri atas 802 siswa perempuan dan 621 siswa laki-laki dengan rata-rata usia 13,56 tahun.
Tiga Kebiasaan yang Diukur Lewat Piring Sehari-hari
Ukurannya sederhana dan diambil dari anjuran Hong Kong Centre for Health Protection. Siswa dianggap melewatkan sarapan bila tidak sarapan setiap hari dalam sepekan terakhir. Asupan sayur disebut kurang bila di bawah 1,5 mangkuk, atau tiga porsi, sehari, sedangkan asupan buah kurang bila di bawah dua porsi sehari.
Dengan ukuran itu, 51,0 persen siswa atau 726 orang tidak sarapan setiap hari, kira-kira satu dari dua. Asupan sayur kurang dialami 86,1 persen atau 1.225 siswa, dan asupan buah kurang 83,8 persen atau 1.193 siswa. Hanya 13,9 persen yang makan sayur cukup, dan 16,2 persen yang makan buah cukup.
Setelah angka itu dibobot menurut desain survei, hasilnya hampir sama, yaitu 53,1 persen untuk sarapan, 85,7 persen untuk sayur, dan 84,9 persen untuk buah. Sebanyak 40,3 persen siswa, atau 573 orang, bahkan menjalani ketiga kebiasaan tidak sehat itu sekaligus. Sisanya, 59,7 persen, menjalani satu atau dua di antaranya.
Para peneliti membandingkannya dengan studi di sembilan negara Asia Tenggara yang mencatat 42 persen remaja kurang makan buah dan 26 persen kurang makan sayur. Menurut mereka, angka di atas 80 persen di Hong Kong menunjukkan keadaan yang lebih berat. Studi kualitatif sebelumnya di Hong Kong mengaitkannya dengan rendahnya kesadaran akan anjuran harian dan kurangnya keterampilan memasak.
Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas
Media Sosial dan Jam Tidur di Balik Sarapan yang Terlewat
Untuk sarapan, polanya mulai tampak saat siswa dipilah menurut kebiasaannya. Di antara siswa yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari di media sosial pada hari sekolah, 59,0 persen tidak sarapan setiap hari. Pada siswa yang tidak berlebihan di media sosial, angkanya 42,5 persen. Dalam model regresi terbobot survei yang menghitung seluruh faktor bersama, media sosial tetap terkait: siswa yang berlebihan di media sosial lebih mungkin melewatkan sarapan, dengan rasio odds terkoreksi 1,668.
Tidur terkait ke arah sebaliknya. Siswa yang tidur sedikitnya delapan jam semalam lebih kecil kemungkinannya melewatkan sarapan, dengan rasio odds terkoreksi 0,579. Pada perbandingan langsung, 58,6 persen siswa yang tidurnya kurang tidak sarapan setiap hari, sementara pada siswa yang tidurnya cukup angkanya 41,5 persen.
Yang membuatnya rumit, waktu layar tidak hanya satu jenis. Lebih dari dua jam sehari untuk video dialami 58,2 persen siswa, untuk gim elektronik 52,0 persen, dan untuk media sosial 51,4 persen. Dalam model untuk sarapan, hanya media sosial yang tetap terkait secara bermakna; gim dan video tidak.
Para peneliti menawarkan penjelasan tentang cara waktu layar menyentuh piring makan. “Waktu layar dapat memengaruhi kebiasaan makan secara negatif dengan mengurangi aktivitas fisik, meningkatkan paparan terhadap pemasaran makanan tidak sehat, dan menggantikan makan dengan camilan tidak sehat,” tulis Zhong dan rekan dalam bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Temuan ini, menurut mereka, sejalan dengan studi potong lintang di Swedia yang mendapati remaja dengan waktu layar tinggi 1,5 kali lebih mungkin melewatkan sarapan.
Baca juga Warga Asia Selatan di Hong Kong Nyaris Tak Punya Dokter Langganan
Ketangguhan Mental dan Kecakapan Memahami Informasi Kesehatan
Dua faktor lain berasal dari dalam diri siswa. Yang pertama ketangguhan mental, diukur dengan skala 18 butir yang mencakup enam dimensi, antara lain tantangan, kendali emosi, kendali hidup, dan komitmen. Siswa dengan ketangguhan mental tinggi lebih kecil kemungkinannya melewatkan sarapan, dengan rasio odds terkoreksi 0,692. Yang kedua literasi kesehatan, yakni kecakapan mengakses, memahami, menilai, dan menerapkan informasi kesehatan untuk keputusan sehari-hari. Instrumennya berisi 44 butir dalam delapan dimensi. Siswa dengan literasi kesehatan tinggi lebih kecil kemungkinannya melewatkan sarapan, dengan rasio odds terkoreksi 0,659.
Menurut para peneliti, mekanismenya mungkin terletak pada kemampuan memahami informasi kesehatan yang lebih baik, yang memudahkan remaja mengambil langkah kesehatan secara proaktif. Mereka juga mencatat literasi kesehatan orang tua berkaitan erat dengan literasi remaja, sehingga orang tua dapat membentuk kebiasaan makan keluarga yang lebih sehat, sebab pola makan remaja di rumah dipengaruhi aturan orang tua. Studi di Iran yang mereka kutip mendapati siswi berliterasi kesehatan lebih tinggi bersikap dan berperilaku lebih positif terhadap sarapan.
Tak Satu Faktor Terukur Terkait dengan Kurang Sayur
Pada perbandingan langsung, asupan sayur sempat tampak berbeda menurut aktivitas fisik dan literasi kesehatan. Di antara siswa yang cukup bergerak, 20,7 persen makan sayur cukup, sementara pada yang kurang bergerak angkanya 12,9 persen. Begitu pula literasi kesehatan, dengan 16,7 persen siswa berliterasi tinggi makan sayur cukup, dibanding 11,3 persen pada yang berliterasi rendah. Namun ketika seluruh faktor dihitung bersama dalam model terbobot survei, tidak ada satu pun faktor yang terkait secara bermakna dengan asupan sayur yang kurang.
Untuk tingginya angka kurang sayur dan buah secara umum, para peneliti mengutip studi kualitatif Hong Kong yang menyebut remaja jarang terlibat menyiapkan makanan dan kurang terampil memasak. Menurut mereka, hal itu dapat mengurangi perjumpaan remaja dengan sayur dan menambah ketergantungan pada makanan luar yang tidak sehat ketika orang tua tidak memasak.
Buah Makin Jarang Seiring Bertambahnya Usia
Untuk buah, sejumlah faktor kembali terkait, termasuk usia. Asupan buah kurang dialami 79,8 persen siswa di bawah 13 tahun, naik menjadi 86,4 persen pada usia 13 sampai 14 tahun, dan 87,2 persen pada usia di atas 14 tahun. Dalam model, kedua kelompok yang lebih tua lebih mungkin kurang makan buah dibanding siswa di bawah 13 tahun, dengan rasio odds terkoreksi 1,497 dan 1,486.
Keadaan ekonomi keluarga terkait ke arah sebaliknya. Asupan buah kurang dialami 89,8 persen siswa berstatus sosial ekonomi rendah, 86,7 persen siswa berstatus menengah, dan 76,9 persen siswa berstatus tinggi. Dalam model, siswa berstatus sosial ekonomi tinggi lebih kecil kemungkinannya kurang makan buah dibanding siswa berstatus rendah, dengan rasio odds terkoreksi 0,371.
Gim elektronik muncul di sini, bukan pada sarapan. Siswa yang bermain gim lebih dari dua jam sehari lebih mungkin kurang makan buah, dengan rasio odds terkoreksi 1,435, sedangkan literasi kesehatan tinggi kembali terkait dengan kemungkinan yang lebih kecil, dengan rasio odds 0,674. Para peneliti menyebut pola gim ini mungkin mencerminkan gaya hidup yang condong pada duduk lama dan makan tidak sehat.
Untuk usia, paper mengutip survei nasional Inggris yang mendapati konsumsi buah turun terus sejak usia tujuh tahun, kemungkinan karena anak makin bebas memilih makanan dan dukungan orang tua berkurang. Untuk keadaan ekonomi, studi di 28 negara dikutip menunjukkan remaja dari keluarga mampu makan lebih banyak buah, kemungkinan karena buah segar lebih terjangkau bagi mereka.
Baca juga Makanan Bawa Pulang Terkait Tubuh yang Tiga Bulan Lebih Tua
Di Mana Penjelasan Ini Berhenti
Ada satu hal yang tidak muncul. Dalam model regresi terbobot survei, tidak ditemukan perbedaan antara siswa laki-laki dan perempuan untuk ketiga kebiasaan makan itu, berbeda dengan sejumlah riset terdahulu. Para peneliti menduga perbedaan itu berkaitan dengan cara analisis, dan meminta temuan dari sampel yang tidak mewakili ditafsirkan dengan hati-hati.
Batas lain diakui sendiri oleh penulisnya. Karena survei dilakukan pada satu titik waktu, hubungan yang ditemukan tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat, dan studi lanjutan jangka panjang diperlukan. Semua data dilaporkan sendiri oleh siswa, sehingga bisa terpengaruh ingatan, salah paham pertanyaan, atau keinginan menjawab yang dianggap baik. Untuk menekannya, kuesioner diberi petunjuk dan contoh yang jelas, dan kerahasiaan jawaban ditegaskan.
Hasilnya juga mungkin tidak sepenuhnya mewakili seluruh Hong Kong, terutama distrik yang tidak ikut serta. Kebiasaan makan orang tua, ketersediaan makanan di rumah, kebijakan gizi sekolah, dan pengaruh teman sebaya tidak diukur sama sekali. Untuk mengurangi salah taksir porsi, kuesioner dilengkapi gambar skema ukuran porsi buah dan sayur.
“Kebiasaan makan tidak sehat tersebar luas di kalangan remaja Hong Kong dan berkaitan dengan faktor perilaku, psikologis, dan sosiodemografis yang dapat diubah,” tulis para peneliti dalam simpulan mereka. Mereka menyarankan pendidikan gizi di sekolah diperkuat, literasi kesehatan ditingkatkan terutama pada kelompok sosial ekonomi rendah, dan aturan tentang penggunaan media layar serta iklan digital makanan tidak sehat, khususnya di media sosial, dipertimbangkan.















