- Sembilan dari sepuluh warga Asia Selatan yang ditanya tidak punya dokter keluarga langganan di Hong Kong.
- Sebanyak 190 dari 604 orang, atau 31,5 persen, melaporkan gejala depresi dan kecemasan.
- Kesulitan mendapat janji temu yang cukup cepat dilaporkan 36,3 persen kelompok bergejala dan 18,8 persen kelompok tanpa gejala.
- Cemas tak sanggup membayar bila sakit mendadak atau kecelakaan dilaporkan 80,0 persen kelompok bergejala dan 65,7 persen kelompok lainnya.
Daftar Isi
Orang yang sedang murung dan cemas mudah dibayangkan sebagai orang yang paling jauh dari dokter. Di kalangan warga Asia Selatan di Hong Kong, bayangan itu meleset di satu tempat dan tepat di tempat lain. Mereka yang bergejala depresi dan kecemasan tidak lebih jarang punya dokter langganan daripada yang tidak bergejala, sebab hampir semuanya memang tidak punya. Bedanya baru muncul sesudah itu, yaitu ketika harus menelepon klinik, menunggu giliran, dan memikirkan tagihan.
Pola itu dicatat Zhaoyi Zhu, Gary Ka-Ki Chung, Danna Camille Vargas, dan enam belas rekan mereka dalam Healthcare Access Barriers by Mental Health Status among South Asian Adults in Hong Kong: An Exploratory Cross-Sectional Study, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan belum bernomor volume. Kesembilan belas penulis itu bekerja di JC School of Public Health and Primary Care, The Chinese University of Hong Kong. Mereka menanyai 604 warga dewasa keturunan Pakistan, Nepal, India, dan Asia Selatan lain yang tinggal di Hong Kong.
Kelompok ini bukan kelompok kecil yang diam di tempat. Menurut data sensus yang dikutip para penulis, jumlah warga Asia Selatan di Hong Kong naik 55,6 persen dalam sepuluh tahun, dari 65.521 orang pada 2011 menjadi 101.696 orang pada 2021. Mereka kira-kira sepertiga dari seluruh etnis minoritas di kota itu, di luar pekerja rumah tangga asing.
Pertumbuhan itu berlangsung di dalam sistem yang tidak sepenuhnya rata. Sistem kesehatan Hong Kong, tulis para penulis, bertujuan memberi akses setara bagi semua penduduk, tetapi tujuan itu kurang berlaku pada layanan rawat jalan karena pangsa swasta di sana lebih besar. Bagi warga Asia Selatan, layanan primer menjadi sulit dijangkau karena kendala bahasa, waktu tunggu yang panjang, dan keterbatasan uang.
Dokter langganan yang hampir tak dimiliki siapa pun
Yang dimaksud dokter langganan di sini adalah dokter keluarga yang biasanya didatangi lebih dulu ketika seseorang sakit atau butuh nasihat kesehatan. Sembilan dari sepuluh warga Asia Selatan yang ditanya tidak punya dokter keluarga langganan di Hong Kong. Angkanya 90,1 persen, sehingga yang punya hanya 9,9 persen. Para penulis sengaja menanyakan dokter keluarga, bukan sekadar klinik pemerintah, karena di Hong Kong dokter keluarga swasta biasanya memberi layanan yang lebih berkesinambungan dan lebih personal.
Persoalannya, angka setinggi itu nyaris tidak menyisakan ruang untuk berbeda. Di antara yang bergejala depresi dan kecemasan, 87,4 persen tidak punya dokter keluarga. Di antara yang tidak bergejala, 91,3 persen. Selisih itu tidak bermakna secara statistik, dan tetap tidak bermakna sesudah usia, pendidikan, pendapatan, kondisi kesehatan, serta keadaan sosial ikut diperhitungkan. Tidak satu pun faktor lain yang diperiksa ternyata bisa meramalkan siapa yang punya dokter langganan dan siapa yang tidak.
Karena itu, para penulis membaca hambatan ini sebagai urusan sistem, bukan urusan suasana hati. Sebuah studi tahun 2011 yang mereka kutip mendapati hanya sekitar sepertiga penduduk Hong Kong secara umum punya dokter keluarga tetap, dan studi di Amerika Serikat menemukan pola serupa.
Dari dua pembanding itu mereka menarik satu bacaan. “Bukti yang konsisten ini menunjukkan bahwa hambatan kemudahan menjangkau layanan, yang diukur lewat ketiadaan sumber layanan tetap, mungkin merupakan persoalan struktural yang merata di bawah sistem layanan primer yang relatif lemah, alih-alih didorong oleh status kesehatan mental perorangan,” tulis Zhu, Chung, dan rekan-rekannya, dengan Prof. Dong Dong sebagai penulis korespondensi, dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Siapa yang murung dan cemas
Sebanyak 190 dari 604 orang, atau 31,5 persen, melaporkan gejala depresi dan kecemasan. Itu kira-kira tiga dari setiap sepuluh orang. Para penulis menyebut angka itu sejalan dengan riset lain tentang warga Asia Selatan di Hong Kong, yang melaporkan depresi pada 9 sampai 47 persen dan kecemasan pada 20 sampai 50 persen. Rata-rata usia mereka yang ditanya 42,9 tahun, dan 81,5 persen di antaranya perempuan.
Gejala itu tidak tersebar rata. Warga keturunan Pakistan mengisi 71,1 persen kelompok bergejala, padahal hanya 47,6 persen di kelompok tanpa gejala. Ibu rumah tangga mencapai 67,4 persen berbanding 55,6 persen, dan mereka yang bersekolah hanya sampai tingkat dasar 33,7 persen berbanding 20,8 persen.
Pendapatan rumah tangga kedua kelompok serupa. Yang berbeda adalah cara mereka menempatkan diri: pada tangga status sosial bernilai nol sampai sembilan, kelompok bergejala menaruh dirinya di 5,74, kelompok lainnya di 6,19. Pengetahuan mereka untuk memahami informasi kesehatan, yang diukur para penulis sebagai literasi kesehatan, juga lebih rendah.
Tubuh dan lingkungan mereka pun berbeda. Penyakit kronis disandang 40,0 persen kelompok bergejala dan 26,3 persen kelompok tanpa gejala. Yang menilai kesehatannya hanya cukup mencapai 43,7 persen berbanding 20,0 persen. Pengalaman diskriminasi sehari-hari dilaporkan 74,2 persen berbanding 61,6 persen, sedangkan daya lenting dan dukungan sosial mereka lebih rendah. Para penulis menduga peran ibu rumah tangga dapat menumbuhkan keterasingan sosial pada perempuan Asia Selatan, karena harapan budaya kerap membatasi kegiatan di luar rumah dan pekerjaan berupah.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Bagaimana gejala itu bertemu telepon dan ruang tunggu
Sesudah soal dokter langganan, barulah kedua kelompok berpisah jalan. Para peserta ditanya apakah dalam dua belas bulan terakhir mereka pernah terlambat berobat, dan karena apa. Kesulitan mendapat janji temu yang cukup cepat dilaporkan 36,3 persen kelompok bergejala dan 18,8 persen kelompok tanpa gejala. Menunggu terlalu lama di tempat praktik dilaporkan 30,0 persen berbanding 19,6 persen. Telepon yang tidak tersambung 21,1 persen berbanding 11,1 persen, dan sulit berkomunikasi karena tidak ada juru bahasa 14,2 persen berbanding 6,5 persen.
Tidak semua hambatan ikut melebar. Klinik yang tutup ketika mereka bisa datang hanya dilaporkan 4,2 persen dan 2,4 persen, sedangkan ketiadaan kendaraan 1,1 persen dan 0,7 persen, dan keduanya tidak berbeda bermakna. Yang melebar adalah hambatan yang menuntut tenaga untuk mengurus: menelepon, membuat janji, bertahan di antrean, mencari orang yang bisa menerjemahkan. Sesudah faktor lain diperhitungkan, kelompok bergejala tetap melaporkan hambatan semacam ini 1,45 kali lebih banyak.
Yang membuatnya rumit, penjelasan para penulis berjalan di dua lapis sekaligus. Di lapis sistem, layanan kesehatan jiwa di Hong Kong sangat kekurangan, dan waktu tunggu layanan psikiatri pemerintah untuk kasus yang stabil bisa melampaui 20 bulan. Di lapis perorangan, gejala seperti hilangnya rasa senang dan kelelahan dapat menurunkan keyakinan seseorang pada kemampuannya sendiri. Akibatnya, kesanggupan menempuh urusan administrasi layanan kesehatan yang memang sudah berbelit ikut melemah.
Ada pula faktor di luar suasana hati yang ikut bekerja. Mereka yang mengalami diskriminasi sehari-hari melaporkan hambatan ketersediaan 1,27 kali lebih banyak. Rumah tangga berpendapatan di atas 30.000 dolar Hong Kong sebulan melaporkan jauh lebih sedikit daripada rumah tangga tanpa pendapatan. Bagi etnis minoritas, tulis para penulis, jurang antara kebutuhan yang tinggi dan kapasitas yang terbatas itu diperparah oleh kurangnya juru bahasa serta promosi kesehatan yang tidak sesuai budaya.
Bagaimana gejala itu bertemu tagihan
Selisih paling lebar muncul pada uang. Dari seluruh peserta, 70,2 persen sangat cemas atau agak cemas tidak sanggup membayar tagihan bila jatuh sakit atau kecelakaan, dan 62,4 persen mencemaskan biaya berobat biasa. Cemas tak sanggup membayar bila sakit mendadak atau kecelakaan dilaporkan 80,0 persen kelompok bergejala dan 65,7 persen kelompok lainnya. Untuk biaya berobat biasa, angkanya 72,6 persen berbanding 57,7 persen. Bila semua hambatan dijumlah, kelompok bergejala rata-rata membawa 3,56 hambatan dan kelompok lainnya 2,78.
Kaitan itu melemah ketika kondisi kesehatan dan keadaan sosial dimasukkan ke dalam hitungan, tetapi tidak hilang. Peluang kelompok bergejala berada di tingkat kecemasan biaya yang lebih tinggi turun dari 2,02 kali menjadi 1,63 kali. Para penulis membaca penurunan itu sebagai tanda bahwa sebagian jurang biaya dijelaskan oleh tubuh yang sakit. Orang yang menilai kesehatannya hanya cukup lebih cemas soal biaya daripada yang menilainya sangat prima, dan menurut para penulis mereka boleh jadi memang membayar lebih banyak dari kantong sendiri.
Sebagian lagi dijelaskan oleh rasa percaya. Peserta yang menyatakan tidak seorang pun dari mayoritas Tionghoa bisa dipercaya jauh lebih cemas soal biaya daripada yang menyatakan banyak yang bisa dipercaya. Para penulis menafsirkannya sebagai keterasingan sosial, yang kerap berakar pada pengalaman diskriminasi dan memperberat kecemasan keuangan.
Persoalannya, angka soal rasa percaya itu perlu dibaca hati-hati, sebab kelompok yang sama sekali tidak percaya hanya 17 orang dan rentang ketidakpastiannya sangat lebar. Ibu rumah tangga, sebaliknya, justru kurang cemas soal biaya dibanding mereka yang bekerja. Adapun yang dilindungi asuransi kesehatan hanya 31,8 persen dari seluruh peserta.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Layanan yang sudah ada dan yang diusulkan
Para penulis mencatat beberapa upaya yang sudah berjalan di tingkat komunitas. South Asian Health Support Programme milik United Christian Nethersole Community Health Service mengadakan lokakarya dalam banyak bahasa, pemeriksaan dini, dan rujukan ke pusat kesehatan jiwa komunitas. Ethnic Minority Well-being Centre milik The Zubin Foundation menyediakan konseling gratis oleh tenaga profesional Asia Selatan, dalam bahasa dan budaya yang sesuai. Konseling selama delapan sampai dua belas minggu itu, menurut uji yang mereka kutip, meredakan gejala depresi, kecemasan, dan stres.
“Meski layanan-layanan ini menandai kemajuan penting, skalanya masih terbatas,” tulis mereka. Usulan yang menyusul bergerak ke arah yang sama dengan temuan. Untuk biaya, layanan kesehatan jarak jauh multibahasa yang gratis atau bersubsidi. Untuk ketersediaan, juru bahasa medis terakreditasi dan kader kesehatan dari kalangan etnis minoritas yang membantu orang menempuh sistem. Untuk dokter langganan, penguatan sistem dokter keluarga agar setiap penduduk punya sumber layanan tetap, dengan layanan kesehatan jiwa ditanamkan ke dalam layanan primer.
Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur
Di mana penjelasan ini berhenti
Semua kaitan tadi dipotret pada satu waktu, sehingga para penulis sendiri menyatakan tidak bisa menarik kesimpulan sebab-akibat. Jawaban peserta bersandar pada ingatan dan pengakuan sendiri. Lagi pula, yang diukur hanya tiga sisi akses, sehingga pertanyaan apakah layanan itu diterima dan sesuai bagi mereka belum tersentuh.
Siapa yang ditanya juga membatasi jangkauan temuan. Peserta dijaring lewat tim layanan sosial etnis minoritas dan ikut secara sukarela, tanpa catatan berapa orang yang menolak. Hasilnya, warga keturunan Pakistan mencapai 55,0 persen peserta, padahal porsinya dalam sensus 2021 hanya 23,6 persen. Warga keturunan India 13,6 persen berbanding 41,8 persen, dan perempuan 81,5 persen berbanding 51,8 persen. Para penulis meminta perbedaan itu ditimbang sebelum temuan mereka dikenakan pada seluruh warga Asia Selatan di kota itu.
Angka yang patut dicocokkan pembaca
Beberapa hal kecil di naskah tidak seragam. Ringkasan menyebut survei berlangsung sampai Maret 2025, sedangkan bagian lain menyebut April 2025. Pada tabel hambatan, 239 orang tanpa gejala yang mencemaskan biaya berobat biasa ditulis 57,0 persen, padahal 239 dari 414 adalah 57,7 persen, angka yang juga dipakai di uraian. Pembahasan menyebut kelompok bergejala hampir dua kali lebih mungkin mencemaskan biaya, sementara angka sesudah semua faktor diperhitungkan adalah 1,63 kali.
Maka bayangan di awal tadi perlu dipecah dua. Murung dan cemas tidak menjauhkan warga Asia Selatan di Hong Kong dari dokter langganan, karena dokter langganan itu sejak awal hampir tidak ada bagi siapa pun di antara mereka. Yang dilakukan gejala itu, sejauh bisa dibaca dari jawaban 604 orang ini, adalah menebalkan hambatan berikutnya. Telepon lebih sering tidak tersambung, janji lebih sulit didapat, antrean terasa lebih panjang, dan tagihan lebih menakutkan.














