- Dari 355 buruh migran Myanmar di Distrik Mueang, Chiang Rai, 176 orang pergi berobat dalam enam bulan terakhir.
- Umur 36 tahun ke atas, belanja di atas 3.000 baht sebulan, dan kerja lebih dari 8 jam sehari menaikkan peluang berobat.
- Asuransi kesehatan hanya berhubungan marginal, p = 0,054; dari 342 buruh berdokumen hanya 251 yang berasuransi.
- Sakit berat paling sering gangguan otot dan tulang (23,4 persen) dan cedera (18,8 persen); yang sakit parah tidak diwawancarai.
Daftar Isi
Pintu-pintu rumah di sepuluh permukiman buruh Myanmar di Distrik Mueang, Chiang Rai, diketuk satu per satu antara Mei dan Juni 2024. Dari tiap rumah dipilih satu orang, diajak duduk terpisah dari yang lain, lalu diwawancarai dalam bahasa Myanmar. Ketika 355 wawancara selesai dihitung, hasilnya membelah nyaris rata: 176 orang pernah pergi berobat dalam enam bulan terakhir, 179 orang tidak.
Hitungan itu ditulis Zaw Min, Phitsanuruk Kanthawee, Pamornsri Inchon, Sirinan Suwannaporn, Mahalul Azam, dan Surasak Thanaisawanyangkoon dalam Factors shaping health-seeking behavior among Myanmar migrant workers in Chiang Rai, Thailand, artikel berbahasa Inggris di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 554, tahun 2026. Empat penulis pertama bekerja di School of Health Science, Mae Fah Luang University; Azam dari Universitas Negeri Semarang, dan Thanaisawanyangkoon dari Health System Research Institute di Nonthaburi.
Titik masuk kerja lapangan itu adalah pusat bantuan buruh migran di Api Square, Distrik Mueang. Koordinator pusat itu menghubungkan peneliti utama dengan para pemimpin komunitas di sepuluh permukiman, dan jadwal kunjungan diatur mengikuti waktu luang warga. Semua peserta berusia 18 sampai 60 tahun dan sudah tinggal di Chiang Rai sedikitnya enam bulan sebelum diwawancarai.
Sepuluh Permukiman
Sepuluh nama itu tercatat di naskah: Doi Sa Ken, Rai Boon Rod di kawasan Singha Park, Api Square, Haui Pla Kang, Den Ha, San Khong, Koh Loy, Ta Lard Mae Kron, Ta Lard Pa Ko, dan Thai Samut. Penduduk sepuluh permukiman ditaksir 910 orang oleh pusat bantuan migran, dan sampel dibagi sebanding: Rai Boon Rod terbesar dengan 78 orang, Den Ha dan San Khong terkecil dengan 12 orang masing-masing.
Semua yang diwawancarai masuk ke Thailand lewat jalur darat yang sama, dari Tachileik di Myanmar menyeberang ke Chiang Rai. Asalnya beragam. Hampir empat dari sepuluh, tepatnya 38,9 persen, datang dari wilayah Mandalay, disusul Magway 19,4 persen dan Negara Bagian Shan 13,0 persen. Yangon menyumbang 7,0 persen, Bago 6,8 persen, dan Naypyitaw 4,5 persen; Kachin hanya 0,3 persen.
Di Chiang Rai, buruh Myanmar bukan minoritas kecil di antara pekerja asing. Per 16 Januari 2024, Kantor Ketenagakerjaan Provinsi Chiang Rai mencatat 13.860 orang asing diizinkan bekerja lewat resolusi kabinet periode Juli 2022 sampai Oktober 2023, dan 13.243 di antaranya warga Myanmar. Angka 13.243 itu pula yang dipakai para penulis sebagai populasi dasar untuk menghitung besar sampel.
Punggung dan Luka
Pekerjaan mereka kebanyakan pekerjaan fisik. Dari 355 orang, 104 bekerja di konstruksi, 189 buruh kasar, 52 penjaga toko, dan 10 pembantu rumah tangga. Sebanyak 151 orang, atau 42,5 persen, mengaku sakit ringan dalam enam bulan terakhir, sakit yang bisa diatasi sendiri dengan beristirahat, ke apotek, atau cuti pendek. Yang sakit berat sampai perlu tenaga medis 64 orang, 18,0 persen.
Di antara 64 orang yang sakit berat itu, diagnosis paling sering adalah gangguan otot dan tulang, 15 orang atau 23,4 persen, termasuk nyeri punggung dan spondilosis menurut naskah. Kecelakaan dan cedera menyusul dengan 12 orang, 18,8 persen. Penyakit pernapasan, saraf, pencernaan, saluran kemih, dan gigi masing-masing lima orang, 7,8 persen. Jantung dan pembuluh darah serta gangguan endokrin masing-masing empat orang.
Para penulis menghubungkan pola itu dengan jenis kerjanya. Buruh yang bekerja dengan tenaga setiap hari, tulis mereka, lebih sering mengalami masalah otot dan tulang, dan masalah itu menumpuk seiring umur. Perlu dicatat bahwa yang sakit berat dan yang ringan sama-sama masuk hitungan, karena yang diukur adalah tindakan mencari pengobatan karena sakit, bukan jenis penyakitnya; vaksinasi dan skrining tidak dihitung.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Umur, Baht, Jam Kerja
Garis pertama yang membelah 176 dan 179 itu adalah umur. Di kelompok 18 sampai 35 tahun, 85 dari 196 orang pergi berobat, 43,4 persen. Di kelompok 36 tahun ke atas, 91 dari 159 orang, 57,2 persen. Setelah faktor lain diperhitungkan bersama, mereka yang berumur 36 tahun ke atas punya peluang 1,71 kali lebih besar untuk berobat, dengan rentang kepercayaan 1,11 sampai 2,64.
Jenis kelamin tidak membedakan. Dari 198 laki-laki, 93 berobat; dari 157 perempuan, 83 berobat, dan selisihnya tidak bermakna secara statistik. Status perkawinan, agama, etnis, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, kebiasaan merokok, minum alkohol, dan olahraga juga tidak menunjukkan hubungan. Lama tinggal di Thailand, apakah kurang dari sepuluh tahun atau lebih dari dua puluh tahun, sama saja.
Garis kedua ditarik oleh uang, tetapi bukan oleh pendapatan. Orang berpenghasilan di atas 9.000 baht sebulan tidak lebih sering berobat daripada yang di bawahnya. Yang membedakan justru pengeluaran: mereka yang membelanjakan lebih dari 3.000 baht sebulan berobat pada tingkat 58,7 persen, sedangkan yang berbelanja 3.000 baht atau kurang hanya 42,5 persen. Peluangnya 1,96 kali lebih besar setelah penyesuaian.
Cara menerima upah ikut berbicara pada analisis awal. Buruh berupah harian punya rasio odds 0,62 dibanding buruh berupah bulanan, yang ditulis naskah sebagai peluang 40 persen lebih rendah untuk berobat. Namun hubungan itu tidak bertahan ketika semua faktor dihitung bersama.
Naskah menjelaskan bahwa kelompok berbelanja besar umumnya juga berpenghasilan di atas 9.000 baht. Mereka lebih memilih fasilitas swasta karena mudah dan cepat, sehingga tidak kehilangan upah akibat antre lama di rumah sakit umum. Ongkos tambahannya bisa mereka tanggung.
Garis ketiga adalah jam kerja, dan arahnya berlawanan dengan dugaan. Dari 88 orang yang bekerja lebih dari delapan jam sehari, 52 berobat, 59,1 persen. Dari 267 orang yang bekerja delapan jam atau kurang, hanya 124 orang, 46,4 persen. Setelah penyesuaian, pekerja berjam panjang punya peluang berobat 1,79 kali lebih besar, dengan rentang 1,07 sampai 2,97.
Naskah mengakui temuan itu bertolak belakang dengan sejumlah studi lain yang dikutipnya, yang menemukan jam kerja panjang justru menjadi penghalang karena pekerja tidak sempat ke fasilitas kesehatan. Tafsir yang ditawarkan: jam kerja panjang berkaitan dengan gaya hidup yang kurang sehat dan tidur yang kurang, sehingga pekerja lebih sering sakit.
Data merokok, alkohol, dan olahraga yang dikumpulkan tidak berhubungan dengan berobat. Karena itu tafsir tersebut belum teruji di sampel ini sendiri. Yang tercatat hanya arah hubungannya, bukan jalannya.
Baca juga Kebun Pala Banda Naira dan Buruh yang Belum Tercatat
Kartu Asuransi
Garis keempat paling samar. Dari 251 orang berasuransi, 133 berobat, 53 persen; dari 104 orang tanpa asuransi, 43 orang, 41,3 persen. Pada analisis awal hubungannya bermakna dengan rasio odds 1,59. Pada model akhir angkanya 1,60, tetapi rentang kepercayaannya 0,99 sampai 2,58 dan nilai p 0,054, tepat di luar ambang 0,05 yang dipakai naskah.
Para penulis tetap membacanya sebagai sinyal. “Cakupan asuransi kesehatan menunjukkan hubungan yang marginal tetapi bermakna dengan pemanfaatan layanan kesehatan,” tulis Zaw Min, Phitsanuruk Kanthawee, dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Batas kebermaknaan yang nyaris terlewat, menurut mereka, mungkin mencerminkan ukuran sampel yang terbatas atau ketidakpatuhan majikan dan pekerja membayar iuran.
Sebagian besar peserta berdokumen resmi, 342 dari 355, dan 335 orang bekerja di bawah skema resolusi kabinet yang dikenal sebagai kartu merah muda. Namun dari 342 orang berdokumen itu hanya 251 yang berasuransi. Naskah menyebut tiga sebab: iuran jaminan sosial tidak dibayar majikan dan pekerja, pekerja sering berganti kerja, dan skema asuransi kesehatan migran hanya berlaku di rumah sakit tempat pekerja pertama kali mendaftar.
Yang tidak masuk hitungan asuransi juga penting: keluarga. Naskah menyebut cakupan yang ada sering tidak mencakup anggota keluarga pekerja, sehingga rumah tangga tetap rentan. Di Chiang Rai dan provinsi perbatasan utara lain, tulis para penulis, pilihan seperti M-Fund yang tersedia di Provinsi Tak masih langka, dan banyak migran membayar dari kantong sendiri atau memakai perawatan informal.
Jarak yang Diam
Hal-hal yang biasanya diduga menghambat ternyata diam. Hambatan bahasa dilaporkan 170 orang, hampir separuh, tetapi yang mengalaminya berobat pada tingkat yang sama dengan yang tidak. Waktu tempuh ke pusat kesehatan terdekat lebih dari sepuluh menit, ongkos transportasi lebih dari sepuluh baht, antrean lebih dari 30 menit, dan biaya kunjungan di atas 300 baht, semuanya tidak membedakan siapa yang berobat.
Sumber pengetahuan kesehatan sempat menonjol pada analisis awal. Dua puluh orang yang mendapat informasi dari tenaga kesehatan berobat pada tingkat 65 persen, dengan peluang 3,12 kali lebih besar dibanding 59 orang yang tidak tahu dari mana informasinya. Mayoritas, 258 orang, mengandalkan internet dan media sosial. Pada model akhir, faktor ini pun gugur bersama jenis upah.
Para penulis menuliskan sendiri batas temuannya. Rancangan potong lintang tidak bisa menyimpulkan sebab-akibat; jawaban yang mengandalkan ingatan enam bulan bisa meleset; satu distrik tidak mewakili wilayah lain. Yang paling menentukan, orang dengan penyakit akut atau kronis berat, seperti stroke atau gangguan pendengaran, sengaja tidak diwawancarai, sehingga mereka yang paling membutuhkan layanan justru tidak terwakili.
“Akibatnya, hasil ini terutama mencerminkan pola yang berkaitan dengan risiko kesehatan kerja, bukan kesetaraan kesehatan secara keseluruhan,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Pengecualian itu berarti angka 176 dari 355 yang berobat bukan potret semua buruh Myanmar di Mueang, melainkan potret mereka yang cukup sehat untuk membuka pintu dan menjawab pertanyaan selama satu wawancara.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Angka yang Tidak Cocok
Beberapa angka di naskah bisa diperiksa pembaca. Abstrak menyebut empat variabel berhubungan dengan berobat pada model akhir, tetapi bagian hasil menyebut tiga yang bermakna dan satu, asuransi, yang hanya marginal. Bagian metode menulis enam variabel dengan nilai p 0,05 atau kurang dimasukkan ke model multivariabel, lalu pada paragraf berikutnya menulis 35 variabel yang disesuaikan dalam model yang sama.
Di Tabel 3, baris pendapatan bulanan memakai cara hitung persen yang berbeda dari baris lain. Kelompok berpenghasilan 9.000 baht atau kurang ditulis 90 orang berobat, 51,1 persen, dan 95 tidak berobat, 53,1 persen; dua angka itu tidak berjumlah seratus, tampaknya dihitung terhadap kolom, bukan terhadap kelompok.
Bagian diskusi juga menyebut mayoritas kelompok berbelanja besar memilih fasilitas swasta, padahal tabel mencatat hanya 13 orang yang memilih rumah sakit swasta saat sakit berat. Naskah juga menulis peluang 40 persen lebih rendah untuk rasio odds 0,62, yang bila dihitung adalah 38 persen.
Kerja lapangan itu berakhir di sepuluh permukiman yang sama tempat ia dimulai, dengan koordinator Api Square dan para pemimpin komunitas yang disebut dalam ucapan terima kasih di akhir naskah. Sepuluh permukiman itu tetap sepuluh titik di satu distrik, bukan seluruh provinsi.
Pintu-pintu yang diketuk antara Mei dan Juni 2024 kini punya angka. Separuh yang membukanya pernah pergi berobat, dan yang lebih sering pergi adalah yang lebih tua, yang berbelanja lebih, dan yang bekerja lebih lama. Semuanya di provinsi yang skema asuransinya berhenti di rumah sakit tempat pertama kali mendaftar.















