- Enam busana ISI Padangpanjang bersumber ide Jam Gadang dipagelarkan 25 Juni 2024
- Lorong bata jadi potongan melengkung, atap gonjong jadi sudut runcing, jam jadi sulaman
- Songket Silungkang motif pucuak rabuang dipadukan katun, tenun sarung, dan kawasaki
- Naskah punya judul karya yang berubah dan kesimpulan yang tercetak dua kali
Daftar Isi
- Di depan batu informasi Bukittinggi, sebuah menara dibongkar menjadi empat bagian
- Delapan belas sketsa di layar ponsel, dan hanya enam yang lolos ke meja potong
- Tiga busana rekreasi yang menyembunyikan lorong bata di garis potongannya
- Dua busana pesta yang bisa dibongkar pasang, dan satu kebaya pengantin bermenara
- Judul yang berubah di halaman berikutnya dan kesimpulan yang diketik dua kali
Malam 25 Juni 2024, seorang model melangkah ke catwalk gedung pertunjukan Hoeridjah Adam, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Di bahunya ada sudut yang runcing. Di dadanya, sebuah lengkungan yang membelah kebaya putih. Di punggungnya, selembar organza bersulam benang emas berbentuk menara. Penonton yang pernah ke Bukittinggi akan mengenali bentuk itu tanpa diberi tahu. Jam Gadang malam itu tidak berdiri di pusat kota, melainkan berjalan di atas panggung.
Busana pengantin itu adalah puncak dari enam karya yang dilaporkan Riska Fitriani, Fadri Rahmat, dan Mirda Aryadi dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang dalam artikel Busana Kontemporer Terinspirasi dari Jam Gadang, terbit di STYLE: Journal of Fashion Design volume 5 nomor 1, tahun 2025. Enam busana itu terdiri dari tiga busana siap pakai, dua busana siap pakai mewah, dan satu haute couture, semuanya berukuran L standar wanita dewasa.
Untuk sampai ke catwalk itu, ceritanya harus dimundurkan ke pagar sebuah menara di Bukittinggi. Di luar pagar itu ada batu informasi, dan dari batu itulah sebagian besar bahan cerita busana ini diambil. Pengkarya berdiri di sana, mengamati, dan memutuskan bagian mana dari menara yang layak dibawa pulang ke meja pola.
Di depan batu informasi Bukittinggi, sebuah menara dibongkar menjadi empat bagian
Menara itu, menurut naskah, memuncak pada jam berdiameter 80 sentimeter. Gadang berarti besar dalam bahasa Minangkabau. Batu informasi di depannya mencatat puncak menara sudah tiga kali berubah: kubah kerucut berhias patung ayam jago pada masa Belanda, bangunan segi empat beratap Jepang pada masa pendudukan, lalu atap bagonjong Minangkabau setelah kemerdekaan. Angka empat pada jamnya ditulis IIII, bukan IV.
Di bawah menara ada dua lorong berbahan bata. Bentuk menara yang bertingkat dan puncaknya yang menyerupai gonjong rumah gadang, tulis para pengkarya, menjadi alasan mereka memilih menara ini sebagai sumber ide. Sesudah pengamatan itu, menara dipecah menjadi dua kelompok bahan: jam, jendela, dan ornamen dijadikan motif hiasan, sementara lorong dan gonjong dijadikan potongan busana.
Keputusan berikutnya menyangkut kain. Pengkarya memilih songket Silungkang dari Sawahlunto sebagai wastra pendamping katun, tenun sarung, dan bahan lain. “Pengkarya menggunakan songket Silungkang karena ingin melestarikan kain wastra dari Sumatera Barat yang dikombinasikan dengan bahan katun, tenun sarung, dan bahan lainnya,” tulis Riska Fitriani, Fadri Rahmat, dan Mirda Aryadi dalam naskahnya. Motif songket yang disebut adalah pucuak rabuang.
Payung temanya diambil dari Trend Forecasting 2021–2022 bertajuk The New Beginning, pada subtema Spirituality. Subtema ini, menurut naskah, menggambarkan kesadaran menjaga lingkungan alam dan akar budaya, dengan warna dominan cokelat oker, warna kayu, terakota, serta krem dan abu-abu. Warna itulah yang kemudian menguasai hampir seluruh koleksi: cokelat dan krem, dengan putih hanya pada busana pengantin.
Baca juga Monumen Bundo Kanduang Sijunjung dan Empat Warnanya
Delapan belas sketsa di layar ponsel, dan hanya enam yang lolos ke meja potong
Sketsa dibuat dua kali. Mula-mula proporsi tubuh dan rancangan digambar manual dengan pensil di atas kertas, lalu dipindahkan ke bentuk digital memakai aplikasi ibispaint di telepon genggam. Dari 18 desain alternatif yang dihasilkan, dipilih enam desain terbaik. Enam inilah yang kemudian dipecah polanya dalam skala 1:4, dibesarkan ke skala 1:1, digunting, dan dijahit.
Pembagian tekniknya ditentukan sejak awal. Busana siap pakai memakai lekapan kain dan benang. Busana siap pakai mewah memakai lekapan kain, benang, dan manik. Haute couture memakai lekapan manik. Kampuh terbuka dipakai pada busana siap pakai dan siap pakai mewah, kampuh balik pada haute couture agar sisi busana kuat dan rapi, dan kampuh sarung khusus untuk sisi kemeja.
Sulaman jam dibuat dengan lima macam tusuk: tusuk balik, tusuk feston, tusuk rantai terbuka, tusuk melekat benang, dan tusuk lurus. Payet hanya masuk ke busana pesta dan busana pengantin. Foto proses menyulam dan memayet dalam naskah dikreditkan kepada Rahmi Sasmita, sedangkan foto enam busana jadi dikreditkan kepada Silvia Yuniar, keduanya bertahun 2024.
Tiga busana rekreasi yang menyembunyikan lorong bata di garis potongannya
Karya pertama berjudul Moment in time. Busana kasual ini terdiri dari empat bagian: manset dalaman katun toyobo, lapisan luar dari tenun sarung dan songket Silungkang berlengan belah, rok dalam bertingkat berpola persegi dengan mata ayam dan tali menyilang, serta atasan rok selutut yang runcing di depan. Runcing itu dari atap menara. Garis princess melengkung di dada, dihias lekapan kain, dari lorongnya.
Tenun sarung bermotif kotak-kotak muncul berulang di koleksi ini, dan alasannya dijelaskan dengan kalimat yang sama pada tiga karya. “Pemilihan tenun sarung dengan motif kotak-kotak bertujuan memberi kesan batu bata pada bagian bawah jam gadang,” tulis Riska Fitriani, Fadri Rahmat, dan Mirda Aryadi. Kotak-kotak pada kain, dengan begitu, adalah bata pada kaki menara.
Karya kedua, Wakt, tidak memakai songket sama sekali. Kemejanya asimetris dengan potongan melengkung di samping, lengan balon dua lapis, dijahit dengan kampuh sisi yang tidak terlihat. Di atasnya ada fase sepinggang berkerah tegak dan berkancing depan. Rok spannya dipotong di lutut, disambung flounce cokelat, lalu dihias lekapan sulaman jam berukuran berbeda-beda sehingga membentuk gradasi.
Di antara sulaman jam itu dijalin benang macrame cokelat. Benang ini bukan sekadar hiasan bagi pengkarya. “Penggunaan benang macrame memberikan makna tentang perjalanan yang berliku tentang sejarah perjalanan berdirinya jam gadang,” tulis Riska Fitriani, Fadri Rahmat, dan Mirda Aryadi saat menguraikan karya kelima, yang memakai benang serupa. Sejarah tiga kali ganti atap itu, dengan demikian, dipintal menjadi benang berkelok.
Karya ketiga, In time, adalah satu-satunya yang bercelana. Kemeja putihnya polos. Blazer di atasnya berkerah rebah terbuka sampai dada, asimetris, dengan sudut yang meniru runcing atap menara, dan diikat pinggang agar berkesan ramping. Celananya dipotong di tengah: bagian dalam dari dril krem, bagian samping dari songket Silungkang, dan panel sampingnya dihias sulaman jam. Aksesorinya kacamata hitam dan sepatu hak tinggi.
Baca juga Rumah Bolon Jadi Gaun, Atap Segitiganya Naik ke Bahu
Dua busana pesta yang bisa dibongkar pasang, dan satu kebaya pengantin bermenara
Clock Flow, karya keempat, adalah busana pesta pertama. Warnanya bertingkat: cokelat tua, cokelat muda, krem. Bagian dalamnya tanpa lengan dari kain kawasaki cokelat yang jatuh dan mengilap, berkerah sanghai. Di luarnya ada outer tanpa lengan dengan sisi melengkung meniru lorong, dan di bagian bawahnya sambungan kain persegi panjang bersulam jam dan jendela yang dikaitkan dengan kancing jepret sehingga bisa dilepas.
Lapisan terluar Clock Flow adalah blazer crop dari songket Silungkang. Lengannya diberi flounce tenun sarung yang mengembang, kerah dan tengah lengannya dipayet, punggungnya dipotong melengkung mengikuti lorong, dan pinggangnya diikat obi. Seluruhnya dijahit dengan teknik butik dan dilapisi furing penuh. Ini busana pertama dalam koleksi yang memakai tiga jenis lekapan sekaligus: kain, benang, dan manik.
Karya kelima memakai katun stretch yang melar mengikuti badan. Blusnya berkerah tegak dan berlengan balon, dengan manset runcing di tengah yang diambil dari atap menara. Rok spannya berbiron di samping depan, dan di atasnya dilekapkan lapisan asimetris: kiri songket Silungkang, kanan kain polos bersulam jam dengan tusuk feston dan benang macrame. Di punggungnya ada lubang mata ayam bertali.
Lalu Elektik elegansi, busana pengantin haute couture, yang berjalan di catwalk pada pembuka cerita ini. Kebayanya putih dari tile bermotif, mengembang di bawah, dipayet. Roknya songket pucuak rabuang berfuring, dililitkan dan diikat di pinggang. Fase di dadanya dibelah melengkung di tengah, ujungnya berpayet juntai. Bahu runcingnya dijahit ke kerah, jumbai lengannya dipasang terpisah dengan pengait.
Slayer di punggungnya dua lapis, kawasaki dan organza, dikaitkan di bahu agar bisa dilepas. Pada organza itulah menara Jam Gadang disulam dengan benang emas, dan pinggirnya dipayet. Untuk kepala, naskah menawarkan dua pilihan: tangkuluak tanduak atau suntiang, yang keduanya disebut sebagai penanda gadih Minang. Dengan busana ini, kata pengkarya, menara dipindahkan ke tubuh dalam bentuk potongan sekaligus motif.
Judul yang berubah di halaman berikutnya dan kesimpulan yang diketik dua kali
Naskah ini laporan penciptaan, bukan penelitian penerimaan. Tidak ada penilaian penonton, juri, atau pemakai yang dilaporkan, dan seluruh busana hanya dibuat dalam satu ukuran, sehingga pembaca tidak bisa menakar bagaimana rancangan itu diterima di luar panggung 25 Juni 2024. Uraian sejarah menaranya pun bersandar pada batu informasi dan satu kutipan Marzuki.
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca sendiri di naskah. Karya kelima diberi judul Modern toucht pada kepala keterangan, tetapi disebut Moment toucht pada paragraf analisis di bawahnya. Karya yang sama digolongkan busana siap pakai mewah, kategori yang oleh pendahuluan disebut untuk busana pesta, namun analisisnya menyebutnya busana kasual. Kesimpulan naskah tercetak dua kali, hampir kata per kata.
Bahan karya ketiga tercatat sebagai katun dril dan songket Silungkang di kepala keterangan, sementara analisisnya menambahkan katun linen dan menyebut kemejanya dari tenun linen. Pendahuluan menyatakan haute couture hanya memakai lekapan manik, tetapi keterangan karya keenam mencantumkan payet dan sulam benang, dan slayernya disulam benang emas. Abstrak menyebut bordir, badan naskah menyebut sulam.
Baca juga Bunyi Rumah Potong Hewan Padangpanjang Jadi Karya Dua Bagian
Model itu sampai di ujung catwalk, berputar, dan slayer organzanya mengembang. Menara bersulam benang emas di punggungnya terangkat sebentar, lalu jatuh lagi. Di Bukittinggi, menara yang asli tetap berdiri dengan atap yang sudah tiga kali berganti dan angka empat yang tetap ditulis IIII. Yang berjalan pulang dari Padangpanjang malam itu adalah versinya yang bisa dilipat, dikaitkan, dan dilepas dari bahu.














