- Matotonan sudah dua kali menerima rumah bantuan, 200 unit pada 2008 dan 100 unit lagi pada 2019.
- Warga Matotonan mempertahankan seluruh gubahan awal dan hanya menambah ruang di sisi bangunan.
- Delapan dari sepuluh rumah menambahkan dapur, satu di antaranya berupa dapur darurat.
- Ruang tengah dan area depan tetap menjadi ruang yang paling banyak terhubung, sama seperti desain awal.
- Para penulis hanya mengamati satu dusun dari lima karena keterbatasan waktu dan sumber daya.
Rumah itu belum selesai dibangun, tetapi bahan untuk menambahnya sudah disiapkan pemiliknya. Begitulah yang terjadi pada sebagian rumah bantuan pemerintah di Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Warga setempat menyebutnya rumah sosial. Begitu rumah resmi diserahkan, perubahan langsung dimulai: dapur didirikan, area depan ditambah, kamar tidur baru muncul di salah satu sisi bangunan.
Catatan itu ditulis Eljihadi Alfin, Imam Santosa, G. Prasetyo Adhitama, dan Deny Willy Junaidy dalam artikel Perubahan Konfigurasi Ruang pada Rumah Bantuan Pemerintah di Komunitas Adat Desa Matotonan Kepulauan Mentawai. Artikel tersebut terbit di Jurnal Idealog: Ide dan Dialog Indonesia volume 10 nomor 2 tahun 2025. Keempatnya berasal dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, dan Eljihadi Alfin tercatat sebagai mahasiswa doktoral di fakultas itu.
Matotonan sudah dua kali menerima rumah semacam ini. Sebanyak 200 unit datang pada 2008, lalu 100 unit lagi pada 2019. Bantuan itu bagian dari program rehabilitasi rumah tidak layak huni Kementerian Sosial, yang kini berkembang menjadi Rumah Sejahtera Terpadu. Sasarannya warga kurang mampu di komunitas adat terpencil, dengan tujuan menaikkan taraf hidup lewat rumah yang layak dihuni.
Desa Matotonan
Di desa ini, rumah bantuan tidak menunggu lama untuk berubah. Pedoman rumah sederhana sehat yang dikutip naskah menyebut pemilik biasanya mengubah rumah bantuan dua sampai tiga tahun sesudah dihuni. Matotonan bergerak lebih cepat. “Bahkan beberapa masyarakat sudah menyiapkan bahan untuk melakukan penambahan saat rumah sosial masih dalam tahap pembangunan,” tulis Eljihadi Alfin dan rekan-rekannya.
Ada satu beda lagi. Menurut pedoman yang sama, sebagian besar perubahan pada rumah bantuan hanya menyisakan satu ruangan dari bangunan asal. Warga Matotonan justru mempertahankan seluruh gubahan awalnya. Ruang-ruang dalam desain pemerintah tetap ada. Mereka hanya menambah ruang pada bangunan yang sudah berdiri, atau mendirikan bangunan tambahan di satu atau beberapa sisi rumah.
Ukuran rumah sosial memang kecil. Naskah mengutip keterangan seorang pegawai Dinas Sosial Kabupaten Kepulauan Mentawai, yang dirujuk dari pustaka lain tanpa nama, bahwa ukuran itu dipilih agar biaya dan pajak tidak memberatkan penghuni yang ekonominya rendah. Pemerintah, menurut keterangan tersebut, lebih memilih memberi rumah antara daripada rumah jadi yang harganya lebih mahal.
Para penulis juga mencatat persoalan yang belum selesai di lapangan. Masih ada warga yang enggan menghuni rumah sosial yang dibangunkan untuk mereka. Belum ada evaluasi dan kajian desain secara akademis. Belum ada pula acuan desain khusus bagi rumah sosial komunitas adat, padahal data Kementerian Sosial pada 2021 yang dikutip naskah menyebut sekitar 145 ribu keluarga komunitas adat terpencil masih menjadi sasaran bantuan.
Baca juga Arat Sabulungan Bentuk Etika Ekologis Masyarakat Mentawai
Dusun Kinikdog
Dari lima dusun di Matotonan, pengamatan dipusatkan di satu dusun, Kinikdog, yang ragam rumah sosialnya paling banyak. Di sana berdiri 90 rumah sosial. Sebanyak 48 di antaranya rumah lama yang dibangun pada 2008, dan 42 lainnya rumah baru dari 2019. Sepuluh rumah lama kemudian diukur denahnya, penghuninya diwawancarai, dan hasilnya disandingkan dengan desain awal.
Kesepuluh rumah itu punya nama dan nomor di dalam naskah. Kepala keluarganya tercatat sebagai M. Rasyid, Sarip, Rifawanti, Te Em, Teutumung, Ridwan, Anas Kleius, Jefri, Zulfikas, dan Pariaman. Semuanya hunian tetap, bukan rumah singgah yang jarang ditempati. Semuanya juga dipilih karena bentuknya jelas berbeda dari rumah sosial lain di dusun itu, dan bedanya dapat diukur.
Jumlah ruangnya kini tidak lagi seragam. Enam rumah tercatat memiliki empat ruang. Dua rumah memiliki lima ruang, satu rumah enam ruang, dan satu rumah tujuh ruang. Rumah yang paling banyak bertambah itu mendapat area depan tambahan, beberapa kamar tidur tambahan, dan sebuah dapur. Di rumah lain, tambahannya hanya satu: dapur darurat, atau satu kamar tidur.
Dapur
Dari semua ruang baru, dapur yang paling sering muncul. Delapan dari sepuluh rumah menambahkannya, satu di antaranya berupa dapur darurat. Area depan tambahan ada di lima rumah, begitu pula kamar tidur tambahan. Area tidur tambahan ditemukan di dua rumah. Kamar mandi hanya di satu rumah, sehingga para penulis menyebutnya prioritas terakhir.
Di dua rumah, dapur tidak berdiri sendiri. Naskah mencatat sebuah area belakang yang memuat tempat tidur tambahan sekaligus dapur. Jadi bagian belakang rumah itu dipakai untuk memasak dan untuk tidur. Di rumah-rumah lain, dapur menjadi ruang tersendiri, dan pada gambar denah para penulis menandainya dengan warna yang berbeda dari bangunan asal.
Mengapa dapur dan area depan? Para penulis menyebut tiga dorongan: penghuni yang bertambah, kebutuhan khusus akan ruang dapur, dan kebutuhan khusus akan area depan yang besar. “Kebutuhan akan ruang khusus pada rumah sosial erat kaitannya dengan nilai tradisi dan budaya,” tulis mereka. Naskah tidak merinci tradisi apa yang berlangsung di dapur atau di area depan itu.
Dari situ mereka menimbang faktor yang bekerja di balik perubahan. Faktor sosial dan budaya disebut memengaruhi susunan ruang. Faktor ekonomi dan teknologi menjadi pendukung, yang menentukan wujud tambahan, kerapiannya, jenis bahan yang dipakai, dan efisiensi pembangunannya. Faktor politik, menurut para penulis, tidak tampak pada perubahan rumah sosial di dusun ini.
Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu
Ruang Tengah
Masuk ke dalam rumah, ada yang tidak bergeser. Para penulis menghitung berapa ruang lain yang bisa dicapai langsung dari tiap ruang. Pada desain awal, angka tertingginya dua. Sesudah rumah ditambah, angkanya menjadi tiga di sembilan rumah dan empat di satu rumah. Artinya, tulis mereka, satu ruang di rumah sosial kini dapat memiliki akses ke tiga ruang lain.
Ruang yang memegang akses terbanyak itu tetap sama. Di tujuh rumah ia adalah ruang tengah, di empat rumah area depan, dan satu rumah mencatat keduanya dengan angka yang setara. Pada desain awal pun dua ruang itulah yang paling banyak terhubung. Dapur, kamar tambahan, dan kamar mandi datang belakangan, tetapi tidak menggeser kedudukan dua ruang lama itu.
Hitungan lain memberi hasil serupa. Ruang yang letaknya paling di tengah susunan rumah adalah ruang tengah pada enam rumah dan area depan pada empat rumah, tidak berubah dari desain awal. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa kedua ruang itu paling sering diakses dan paling sering dipakai dalam kegiatan sehari-hari penghuni.
Kamar Tidur
Lebih ke dalam lagi ada kamar tidur. Pada desain awal, kamar tidur adalah ruang terdalam, yang paling jauh dicapai dari luar. Sesudah rumah ditambah, sembilan dari sepuluh rumah masih menaruh tempat tidur di titik terdalam itu, entah kamar tidur utama, kamar tambahan, atau area tidur tambahan. Satu rumah berbeda: ruang terdalamnya kamar mandi.
Dapur ikut masuk ke kedalaman yang sama. Di lima rumah, dapur dan kamar tidur tercatat sama dalamnya. Desain awal tidak mengenal keadaan itu, sebab susunan ruangnya lurus, satu ruang sesudah ruang lain. Kini di sembilan rumah ada dua ruang yang sejajar kedalamannya, dan di satu rumah ada tiga ruang sekaligus.
Angka kedalamannya sendiri hampir tidak bergerak. Tujuh rumah mencatat kedalaman tertinggi tiga, sama dengan desain awal. Tiga rumah mencatat empat, hanya selisih satu. Para penulis menilai angka itu tidak jauh berbeda dari desain awal: ruang bertambah, tetapi bagian paling dalam rumah tidak menjadi jauh lebih dalam daripada semula.
Di tepi susunan rumah, para penulis menemukan dua macam ruang. Area luar rumah berada di pinggir pada enam rumah, area tidur juga pada enam rumah, dapur pada dua rumah, dan kamar mandi pada satu rumah. Wataknya berlainan. Area luar ramai dilalui karena menjadi jalan utama penghuni masuk ke rumah. Area tidur sepi, sebagian besar hanya dipakai untuk beristirahat pada malam hari.
Baca juga Limah Menanam Padi, Rumah Betang Ensaid Panjang Bertahan
Sepuluh Rumah
Gambaran ini punya batas. Para penulis hanya mengamati satu dusun dari lima karena keterbatasan waktu dan sumber daya. Sepuluh rumah itu pun sengaja dipilih karena perubahannya paling jelas, sehingga belum tentu mewakili 300 rumah sosial di Matotonan. Rumah yang dibangun pada 2019 tidak ikut diukur. Para penulis sendiri menyebut pekerjaan mereka sebagai penelitian awal di ranah desain.
Pembaca yang membuka naskahnya akan menemukan beberapa hal yang tidak seragam. Abstrak menyebut penelusuran atas seluruh rumah sosial di desa dengan dua kriteria pemilihan, sedangkan uraian di dalam menyebut satu dusun dan tiga kriteria. Kesimpulan menulis kedalaman ruang naik dari tiga menjadi empat, padahal tabelnya menunjukkan tujuh dari sepuluh rumah tetap di angka tiga.
Kembali ke rumah yang belum selesai itu, dengan bahan tambahan yang sudah disiapkan pemiliknya. Dari sepuluh rumah di Kinikdog terlihat ke mana bahan semacam itu biasanya pergi: paling sering menjadi dapur, lalu area depan dan kamar tidur. Bangunan pemberian pemerintah tetap berdiri utuh di tengahnya, dengan ruang tengah dan area depan yang masih menjadi pusat rumah.















