Orang Siberut Mengenal 452 Tumbuhan, Sagu dan Aileleppet Teratas

A A

Ilustrasi sikerei Mentawai bertato memetik tumbuhan di semak hutan Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai [Foto: Andrian salis/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 39 persen dapat dipakai sebagai obat, kira-kira dua dari lima.
  • Kebanyakan keluarga di desa permukiman lebih sering makan nasi daripada sagu pada setiap waktu makan.
  • Aileleppet adalah perdu yang daunnya dipakai untuk demam, bengkak, sakit kepala, dan pegal pinggang.
  • Warga desa permukiman lebih memilih obat farmasi dan baru kembali ke obat tradisional sebagai jalan terakhir.
  • Sebanyak 73 persen merasa sekolah terlalu sedikit mengajarkan guna tumbuhan.
Daftar Isi
  1. Lee dan tim Mentawai mencatat ratusan nama dari mulut warga
  2. Sagu yang disebut hampir semua orang kepada tim Sagari dan Sagulu
  3. Aileleppet, daun penyejuk yang ditemukan Lee di depan uma
  4. Dokter Tahmasebian dan pasien yang tak lagi mendatangi sikerei
  5. Yang dicemaskan para tetua dan didengar Yan Mendrofa
  6. Batas catatan Lee dan beberapa angka yang perlu dibaca ulang

Samantha M. Lee tinggal bersama orang Mentawai dari Januari sampai Desember 2019. Ia menetap di Desa Muntei, Siberut Selatan, dan kerap mengikuti para sikerei serta sikebbu’kat, tetua yang dihormati, ketika mereka mengumpulkan atau meracik obat. Dari kebersamaan itu, peneliti Southern Cross University di Lismore, Australia, tersebut pulang membawa daftar yang panjang: 452 tumbuhan yang dikenali dan dipakai orang Siberut.

Daftar itu ia tulis bersama delapan rekan, yakni J. Doland Nichols, David Lloyd, Susanti Sagari, Filemon Sagulu, Iskandar Z. Siregar, Adisti Permatasari Putri Hartoyo, Rob Henry, dan Nurainas. Naskah mereka berjudul The indigenous uses of plants from Siberut, Mentawai, Indonesia dan terbit di Ethnobotany Research and Applications volume 22 nomor 18 tahun 2021.

Lee tidak bekerja sendirian. Sagari dan Sagulu berasal dari Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai di Muntei, lembaga akar rumput yang mengajarkan pengetahuan budaya dan alam kepada murid di desa-desa permukiman. Para peneliti Mentawai inilah yang menanyai 494 warga di wilayah Sabirut dan Sarereiket, lalu meminta 21 sikerei dan sikebbu’kat menimbang jawabannya.

Lee dan tim Mentawai mencatat ratusan nama dari mulut warga

Yang dihitung Lee dan timnya adalah etnospesies, yaitu tumbuhan yang oleh informan Mentawai dianggap satu jenis tersendiri. Warga menyebut 339 di antaranya secara spontan. Ketika ditanya apakah satu nama punya beberapa macam, mereka menambah 166 varietas lagi. Pisang saja, yang disebut mago’, punya 17 macam. Keladi atau gette’ punya 14, dan rotan 13.

Nurainas bekerja di Herbarium Universitas Andalas di Padang, tempat contoh tumbuhan itu disimpan. Dari 452 nama, baru 225 yang bisa dikenali sampai tingkat marga atau suku, tersebar di 83 suku tumbuhan. Jahe-jahean paling banyak dengan 20 etnospesies, disusul rumput-rumputan 12 dan talas-talasan 11. Sebagian besar diyakini tumbuhan asli Kepulauan Mentawai.

Setiap warga yang ditanyai tim Sagari rata-rata menyebut 21,8 tumbuhan. Laki-laki dan perempuan tidak berbeda. Usia yang membedakan: lelaki berumur di atas 60 tahun menyebut rata-rata 28,1 nama, lebih banyak daripada kelompok lain. Pengetahuan itu juga tidak merata. Dari 339 nama yang muncul, 95 hanya disebut oleh satu orang.

Kegunaan tumbuhan itu dipilah Lee ke dalam enam golongan. Sebanyak 39 persen dapat dipakai sebagai obat, kira-kira dua dari lima. Lalu 30 persen untuk bangunan, 25 persen untuk kayu bakar, 24 persen untuk upacara, 19 persen untuk dimakan, dan 14 persen untuk membuat alat. Sepertiganya masuk lebih dari satu golongan.

Untuk apa tumbuhan itu dipakai orang SiberutObat: Persen etnospesies +39%; Bangunan: Persen etnospesies +30%; Kayu bakar: Persen etnospesies +25%; Upacara: Persen etnospesies +24%; Pangan: Persen etnospesies +19%; Alat: Persen etnospesies +14%.Untuk apa tumbuhan itu dipakai orang SiberutPersen dari tumbuhan berguna yang disebut 494 warga20%40%0Obat39%Bangunan30%Kayu bakar25%Upacara24%Pangan19%Alat14%Sepertiga tumbuhan masuk lebih dari satu kategori.
Sumber: Samantha M. Lee, J. Doland Nichols, David Lloyd, Susanti Sagari, Filemon Sagulu, Iskandar Z. Siregar, Adisti Permatasari Putri Hartoyo, Rob Henry, dan Nurainas, The indigenous uses of plants from Siberut, Mentawai, Indonesia, Ethnobotany Research and Applications, 22(18), 2021. Grafik: Cekricek.id

Sagu yang disebut hampir semua orang kepada tim Sagari dan Sagulu

Satu tumbuhan muncul di keenam golongan sekaligus. Sagu, yang di Sabirut disebut sagai, dicatat tim Sagari dan Sagulu sebagai sumber pangan oleh 96 persen warga yang ditanyai. Keladi disebut 78 persen, pisang 76 persen, kelapa 47 persen, dan durian 21 persen. Dari 64 tumbuhan pangan yang terkumpul, 57 disebut oleh kurang dari seperlima warga.

Rincian pemakaian sagu dalam catatan Lee nyaris tidak menyisakan bagian yang terbuang. Empulurnya makanan pokok manusia dan semua hewan peliharaan. Daunnya menjadi atap dan pembungkus masakan. Kulit batangnya dikeringkan untuk kayu bakar dan obor yang tahan lama. Akar dan tunasnya masuk ke ramuan obat. Sagu juga ikut dirundingkan dalam alat toga, perundingan mas kawin.

Para tetua yang ditemui tim Sagulu memberi sagu nilai lebih tinggi lagi. Sembilan dari sepuluh menyebutnya, dan hampir semuanya menganggap sagu tumbuhan guna yang paling penting. Di bawahnya ada keladi, lalu rotan pelege, kayu katuka untuk bangunan, dan bambu. Untuk bahan bangunan, katuka disebut separuh warga, sedangkan sagu sepertiganya.

Namun Lee melihat hal lain di meja makan. Kebanyakan keluarga di desa permukiman lebih sering makan nasi daripada sagu pada setiap waktu makan. Mengapa begitu belum ia teliti. Ia menduga soal kepraktisan dan terbatasnya jalan ke tanah serta sumber daya milik suku. Lee juga mengingatkan bahwa program masa lalu pernah berupaya mengganti rawa sagu dengan sawah.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Aileleppet, daun penyejuk yang ditemukan Lee di depan uma

Untuk obat, warga menyebut 134 tumbuhan kepada tim Sagari. Lima di antaranya disebut lebih dari seperlima warga. Aileleppet berada di puncak dengan 44 persen, hampir seri dengan kakainau’ yang 43 persen. Sirih, yang dalam bahasa Mentawai bernama talingengeng, disebut 33 persen. Kencur 32 persen. Mumunen 22 persen.

Aileleppet adalah perdu yang daunnya dipakai untuk demam, bengkak, sakit kepala, dan pegal pinggang. Lee mencatat daun itu bisa diparut lalu dioleskan, atau diseduh seperti teh. Tumbuhan ini hadir di hampir semua upacara dan sering ditanam di depan uma yang baru dibangun. Kata maileppet sendiri berarti didinginkan, penanda gunanya untuk penyakit panas.

Tumbuhan lain membawa cerita masing-masing dalam tabel Lee. Bunga kakainau’ sering dikenakan sikerei ketika berjalan di hutan, berjaga-jaga bila obat diperlukan jauh dari rumpunnya. Bau daun kencur dipakai untuk mengejutkan pasien yang mengigau supaya sadar kembali. Daun mumunen dikenakan sebagai tanda seorang perempuan sedang hamil.

Dari seluruh daftar, Lee dan para tetua menyaring 31 tumbuhan obat terpenting, untuk penyakit jasmani maupun rohani. Sepuluh di antaranya jahe-jahean. Mereka menambahkan 32 tumbuhan guna lain, sehingga terkumpul 63 tumbuhan yang dianggap paling berarti. Di antara para tetua, aileleppet tetap teratas: dua dari tiga menyebutnya.

Para sikerei yang diajak bicara tim Sagulu setuju bahwa urutan itu mencerminkan tumbuhan yang menonjol. Mereka memberi catatan. Tumbuhan yang mudah dipanen, banyak tumbuh, dan ada di pekarangan uma cenderung naik peringkat. Aileleppet, kakainau’, dan sirih memang mudah ditemukan di kebun sekeliling uma. Sebagian tumbuhan lain mungkin turun peringkat karena sedang tidak berbunga atau berbuah.

Catatan tumbuhan dari Siberut SelatanCatatan tumbuhan dari Siberut SelatanCatatan tumbuhan dari Siberut SelatanWilayah Sabirut dan Sarereiket, Kepulauan Mentawai452tumbuhandicatat selama2019134untuk obatdisebut warga63paling penting31 obat, 32 gunalain98%wargamenilai ilmu inipentingJalan risetnya494 warga ditanya21 tetua menimbang63 tumbuhan dipilih
Sumber: Samantha M. Lee, J. Doland Nichols, David Lloyd, Susanti Sagari, Filemon Sagulu, Iskandar Z. Siregar, Adisti Permatasari Putri Hartoyo, Rob Henry, dan Nurainas, The indigenous uses of plants from Siberut, Mentawai, Indonesia, Ethnobotany Research and Applications, 22(18), 2021. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak

Dokter Tahmasebian dan pasien yang tak lagi mendatangi sikerei

Selama setahun di Siberut, Lee menangkap satu gejala. Warga desa permukiman lebih memilih obat farmasi dan baru kembali ke obat tradisional sebagai jalan terakhir. Kekhawatiran serupa ia dengar dari S. Tahmasebian, dokter di Puskesmas Madobag. Menurut dokter itu, warga tidak lagi memakai obat dari tumbuhan dan datang ke puskesmas mengharapkan kesembuhan yang cepat.

“Ada begitu banyak ramuan dan daun di hutan yang bisa menjaga orang Mentawai tetap sehat, tetapi mereka tidak memakainya. Mereka tidak meminta bantuan sikerei, tetapi datang ke puskesmas mengharapkan obat farmasi. Itu tidak berkelanjutan, juga tidak sehat,” kata Tahmasebian di Muarasiberut pada Mei 2019. Ucapannya dimuat dalam bahasa Inggris.

Lee menghitung selisih biayanya. Satu paket antibiotik di apotek setempat, tanpa perlu ke dokter, berharga Rp8.000 sampai Rp20.000. Obat sikerei beserta upacaranya bisa menelan Rp400.000 ke atas, setelah jasa, ongkos jalan, hewan kurban, dan aneka pemberian dihitung. Dahulu suku membayarnya dengan babi, ayam, dan buah. Warga permukiman kini bergantung pada uang.

Di komunitas uma, Lee melihat arah sebaliknya. Warga lebih sering memakai obat tradisional dan baru mencari obat farmasi bila terpaksa. Ia tidak membacanya sebagai kesetiaan semata. Pilihan itu sebagian lahir dari sedikitnya uang tunai dan jauhnya layanan kesehatan. Bila turis menawarkan obat sakit kepala, nyeri sendi, atau diare, warga uma kerap menerimanya dengan senang.

Baca juga Arat Sabulungan Bentuk Etika Ekologis Masyarakat Mentawai

Yang dicemaskan para tetua dan didengar Yan Mendrofa

Hampir semua warga yang ditanyai tim Sagari, 98 persen, menilai pengetahuan tumbuhan penting bagi masa depan Mentawai. Bila pengetahuan itu hilang, 38 persen membayangkan hidup menjadi sulit dan 18 persen membayangkan kemiskinan. Ada pula 19 persen, kira-kira satu dari lima, yang yakin tidak akan terjadi apa-apa.

Sebab terkikisnya pengetahuan itu juga ditanyakan tim Sagulu. Dua pertiga warga menunjuk makin jarangnya pertemuan anak muda dengan sikebbu’kat. Sebanyak 73 persen merasa sekolah terlalu sedikit mengajarkan guna tumbuhan. Meski begitu, 74 persen percaya hutan tidak akan pernah kosong, sebab arat sabulungan menjaga hutan dan membuat jenis penting ditanam kembali.

Di antara para tetua, sembilan dari sepuluh mengaku pernah menurunkan ilmunya. Kepada tim Sagulu mereka menjelaskan bahwa pengetahuan itu diajarkan langsung dengan tangan, saat kesempatan atau kebutuhan datang. Banyak yang hanya mengajar bila diminta. Lee sendiri mengamati makin sedikit anak muda yang menempuh jalan menjadi sikerei, padahal tiap sikerei punya ramuan dan cara yang berlainan.

Yan Mendrofa, Ketua Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai yang ikut meneliti, menyampaikan kesannya di Matotonan pada Mei 2019. “Saya tahu hutan kami penting, tetapi saya tidak menyadari betapa banyak tumbuhan penting, terutama obat, yang ada di bagian hutan sekecil itu. Kalau orang-orang kami yang tinggal di desa mengetahui hal ini, kami tidak akan begitu mudah melepas tanah kami,” ujar Mendrofa, dalam ucapan yang dimuat berbahasa Inggris.

Batas catatan Lee dan beberapa angka yang perlu dibaca ulang

Lee dan rekan-rekannya mengakui 63 tumbuhan itu hanya bagian kecil dari flora Siberut. Catatan mereka berasal dari empat wilayah desa di Siberut Selatan, dengan warga yang ikut karena bersedia, sehingga tidak mewakili seluruh Mentawai. Contoh tumbuhan di Herbarium Universitas Andalas masih menunggu dikatalogkan ketika naskah terbit. Pengamatan soal tanah adat dan kerusakan hutan, tulis mereka, masih perlu diteliti lebih lanjut.

Beberapa angka dalam naskah Lee tidak saling cocok. Jumlah tumbuhan yang disebut para tetua ditulis 127 di satu bagian dan 147 di bagian lain. Naskah menyebut 80 persen warga mencemaskan perginya anak muda dari Mentawai, tetapi rentang kepercayaan yang menyertainya 47 sampai 56 persen. Persentase bentuk tumbuh 31 tumbuhan obat pun hanya berjumlah 98.

Lee menutup naskahnya dengan satu pengamatan: semua jenis tumbuhan yang ia jumpai selama di Siberut punya guna bagi orang Mentawai. Setahun ia berjalan di belakang para sikerei yang memetik daun dan meracik obat di sekitar Muntei. Yang ia bawa pulang adalah 452 nama, dengan sagu dan aileleppet di urutan teratas, serta kecemasan para tetua tentang siapa yang kelak mengingatnya.

Bagikan

Baca Juga

Ritual Andingingi, Cara Orang Kajang Mendinginkan Bumi dan Hutan
Dayak Bakumpai Punya Cara Adat Menyudahi Sengketa Lahan Tambang
Pa’a Loka, Cara Orang Lio di Ende Meminta Mata Air Tak Kering
Suku Tidung Hidup dari 60 Tumbuhan, Kayu Ulin Kian Sulit Dicari
Rumah Bantuan di Matotonan Mentawai Langsung Ditambahi Dapur
Petani Samin di Blora Mengusir Tikus lewat Ritual Adat Lamporan