Rumah Bolon Jadi Gaun, Atap Segitiganya Naik ke Bahu

A A

Rumah Bolon beratap menjulang dengan rombongan berbusana adat di halamannya. [Foto: Pratechno/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Siluet dan kerah besar gaun dirancang menyerupai atap Rumah Bolon yang menjulang.
  • Panel rumbai putih di bagian depan mewakili tirai rumah tradisional Batak Toba.
  • Tiga sketsa alternatif dibuat, satu dipilih dan diwujudkan sebagai ready to wear deluxe.
  • Daftar bahan dan makna warna disebut berbeda antara abstrak dan kesimpulan naskah.
Daftar Isi
  1. Gaya yang dipilih menuntut bentuk besar dan warna berani
  2. Atap naik ke bahu, tirai turun jadi rumbai di dada
  3. Bukan adibusana, bukan pula pakaian pasar biasa
  4. Yang tidak diceritakan naskah ini tentang gaunnya sendiri
  5. Busana sebagai cara menyimpan bangunan yang tak dibawa pindah

Rumah adat biasanya dipindahkan ke panggung mode lewat kainnya: tenun, ulos, songket, sesuatu yang memang sudah berupa lembaran. Perancang muda ini memilih jalan yang lebih berisiko, yaitu memindahkan bangunannya. Yang diambil bukan kain yang dipakai orang Batak Toba, melainkan atap, dinding, dan tirai Rumah Bolon, lalu dipaksa tinggal di atas satu tubuh manusia.

Gaun itu diberi judul Arsitektur Jiwa Batak dan dilaporkan Afifa Azzahra Lubis bersama pembimbingnya, Dini Yanuarmi, dari Program Studi Desain Mode Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Padangpanjang, dalam artikel Eksotika Dramatis Rumah Bolon: Perpaduan Budaya dan Gaya dalam Busana Kontemporer di Style: Journal of Fashion Design, Volume 5 Nomor 1 tahun 2025. Judul itu dipilih perancangnya sendiri, dan gaya yang dipakainya disebut exotic dramatic.

Gaya yang dipilih menuntut bentuk besar dan warna berani

Gaya yang dijadikan pijakan bernama exotic dramatic, yang dalam naskah dijelaskan sebagai estetika bergaris tegas, berbentuk megah, berornamen mencolok, dan bermain siluet sampai memberi kesan teatrikal. Ciri penerapannya disebut satu per satu: volume besar, bahu tegas, garis desain yang kuat, serta warna kontras seperti merah, hitam, emas, dan putih. Bahannya pun dipilih yang tebal, berkilau, atau bertekstur, supaya kesan megah itu tidak runtuh saat kain jatuh di badan.

Kebetulan yang dimanfaatkan perancang adalah kemiripan daftar itu dengan Rumah Bolon. Rumah adat Batak Toba tersebut memang berdiri di atas struktur kokoh, beratap menjulang berbentuk segitiga melengkung, dan berhias ukiran gorga di hampir seluruh permukaannya. Warna khasnya juga sudah persis dengan palet yang dituntut gaya itu, yakni merah, hitam, dan putih. Bangunan dan gaya bertemu tanpa perlu dipaksa terlalu jauh.

Rumah dipindahkan ke badanRumah dipindahkan ke badanRumah dipindahkan ke badanUnsur Rumah Bolon dan wujudnya pada gaunPada rumahPada gaunSegitiga tinggiKerah besarAtapUkiran dindingMotif lenganGorgaPenutup mukaRumbai putihTiraiKeberanianWarna utamaMerahKemuliaanSulaman emasEmas
Sumber: Afifa Azzahra Lubis dan Dini Yanuarmi, Eksotika Dramatis Rumah Bolon: Perpaduan Budaya dan Gaya dalam Busana Kontemporer, Style: Journal of Fashion Design, 5(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Makna warnanya ikut dibawa. Dalam naskah, merah disebut melambangkan keberanian dan kehidupan, hitam melambangkan kekuatan dan perlindungan, dan putih melambangkan kesucian serta kejujuran. Ukiran gorga yang bersifat geometris dan figuratif disebut berfungsi sebagai simbol perlindungan sekaligus penolak energi negatif. Unsur emas, yang dalam budaya Batak melambangkan kemuliaan dan kejayaan, dipakai sebagai alasan memilih sulam emas sebagai teknik hias utama.

Atap naik ke bahu, tirai turun jadi rumbai di dada

Terjemahannya bagian demi bagian. Siluet gaun dan kerah besarnya dirancang menyerupai atap Rumah Bolon yang menjulang, sehingga kesan megah dan dramatis datang dari bentuk, bukan dari hiasan yang ditempelkan belakangan. Lengan balon bermotif gorga membawa nuansa eksotis. Panel rumbai putih di bagian depan mewakili tirai rumah tradisional yang menutupi muka bangunan. Sulaman emas melambangkan atap sebagai simbol perlindungan dan status, sementara ikat kepala bermotif segitiga khas Batak menutup keseluruhan tampilan dari ujung yang paling tinggi.

Baca juga Rumoh Aceh Jadi Enam Busana Unisex di Padang Panjang

Dua teknik hias jadi tulang punggung. Rumbai, yang dalam naskah disebut ruffle, dibuat dengan mengerutkan atau mengumpulkan kain sehingga menghasilkan efek bergelombang dan bervolume; fungsinya menambah dimensi pada siluet dan menciptakan titik pandang. Sulam emas memakai benang emas atau benang berwarna emas untuk membentuk motif di permukaan kain, dan naskah menyebut penerapannya menuntut ketelitian serta keterampilan tinggi sehingga hasilnya dianggap bernilai artistik. Dalam budaya Indonesia, teknik ini memang lama dipakai pada busana adat, busana upacara, dan busana pesta sebagai penanda kemewahan.

Bukan adibusana, bukan pula pakaian pasar biasa

Kategori yang dituju adalah ready to wear deluxe, yang dalam naskah ditempatkan di antara busana siap pakai dan adibusana. Ciri pembedanya: diproduksi dalam ukuran standar seperti busana siap pakai, tetapi memakai material berkualitas tinggi dan teknik pengerjaan yang lebih rumit. Kategori ini disebut memberi ruang luas bagi penerapan sulam emas dan rumbai secara maksimal tanpa mengorbankan kenyamanan pemakaian, dan menurut rujukan yang dikutip naskah, peminatnya banyak karena menawarkan rancangan yang tidak lekang waktu tanpa memakan waktu produksi selama adibusana.

Cara kerjanya mengikuti teori penciptaan Gustami yang membagi proses ke dalam tiga tahap: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi berisi pengamatan langsung terhadap arsitektur Rumah Bolon, pengamatan busana tradisional Batak Toba, penelaahan tren mode kontemporer, studi pustaka, dan percobaan teknik. Tahap perancangan menghasilkan papan suasana yang memuat warna, tekstur, siluet, dan detail dekoratif, lalu sketsa alternatif, lalu satu desain terpilih yang dianggap paling mewakili gagasannya dan dikembangkan lebih jauh.

Tiga sketsa dibuat, satu yang dijahit1 dari 3 , atau 33,3%.Tiga sketsa dibuat, satu yang dijahitJumlah rancangan alternatif pada tahap perancangan1 sketsa diwujudkan (33,3%)2 sketsa ditinggalkanTotal 3 Desain terpilih dikembangkan dengan bahan satin dan tule serta tekniksulam emas dan rumbai.
Sumber: Afifa Azzahra Lubis dan Dini Yanuarmi, Eksotika Dramatis Rumah Bolon: Perpaduan Budaya dan Gaya dalam Busana Kontemporer, Style: Journal of Fashion Design, 5(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Tahap perwujudan berisi pekerjaan tangan yang biasa: pembuatan pola, pemilihan dan pemotongan bahan, penjahitan konstruksi, penerapan sulam emas, penerapan rumbai, dan penyelesaian akhir berupa pemasangan pelengkap, pengecekan hasil, serta pengepasan. Teknik jahit yang disebut meliputi kampuh terbuka, kampuh tertutup, tusuk jelujur, tusuk sum, kelim, teknik lapisan dalam, dan teknik pres. Seluruh rangkaian itu dinyatakan dikerjakan secara sistematis, dari penggalian gagasan sampai pengepasan terakhir, supaya gaun yang keluar tidak sekadar mewah dipandang tetapi juga layak dipakai dalam ukuran standar.

Yang tidak diceritakan naskah ini tentang gaunnya sendiri

Di sinilah laporan itu melemah. Bagian hasil dan pembahasan, yang mestinya menguraikan gaun yang sudah jadi, justru sebagian besar berisi keterangan umum tentang cara merancang busana mana pun: pola dibuat berdasarkan desain, bahan dipilih sesuai konsep, kain dipotong presisi, bagian-bagiannya dijahit. Kalimat-kalimat itu berlaku untuk gaun ini persis sebagaimana berlaku untuk seragam sekolah, dan tidak menceritakan apa pun yang khas tentang benda yang sedang dilaporkan.

Tidak ada ukuran yang dilaporkan, tidak ada jumlah jam pengerjaan, tidak ada jumlah motif gorga yang disulam, dan tidak ada catatan tentang kesulitan teknis yang muncul di meja jahit. Pembaca mendapat gambar hasil akhir dan penjelasan filosofis, tetapi tidak mendapat angka yang bisa dibandingkan dengan karya sejenis. Pengepasan disebut dilakukan untuk memastikan kualitas estetika dan kekuatan karakternya, tetapi hasil pengepasan itu sendiri tidak diuraikan sama sekali, termasuk apakah ada bagian yang harus diubah sesudahnya.

Busana sebagai cara menyimpan bangunan yang tak dibawa pindah

Alasan yang dikemukakan naskah untuk seluruh kerja ini bersifat pelestarian. Busana ditempatkan bukan sekadar sebagai penutup tubuh, melainkan sebagai media yang menyampaikan pesan budaya, status sosial, dan ekspresi pribadi. Dengan mengangkat nilai Batak Toba ke dalam bentuk kontemporer, perancangnya berharap karya itu menjadi sarana pelestarian budaya dalam estetika masa kini, bukan sekadar pakaian pesta yang bagus difoto.

Pilihan gaya exotic dramatic juga dianggap tepat justru karena kemampuannya memuat simbol. Naskah menyebut gaya ini relevan dikembangkan dalam desain berbasis inspirasi budaya karena sanggup menerjemahkan nilai tradisi ke bentuk visual modern, sehingga menjadi medium ekspresi yang efektif untuk mengangkat identitas budaya ke ranah mode masa kini tanpa harus menyalin busana adatnya mentah-mentah.

Baca juga Enam Adegan Adu Kerbau Dijadikan Motif Bordir

Beberapa keterangan juga tidak sejalan antarbagian. Daftar bahan pada abstrak dan bagian metode tertulis satin, tule, dan satin lagi, sementara kesimpulan menyebut satin, tule sugar, dan satin lurex. Abstrak menyebut motif batik hadir di lengan dan pinggang sebagai penegas akar budaya, tetapi batik sama sekali tidak muncul lagi di bagian hasil maupun kesimpulan.

Makna warnanya pun disebut dua kali dengan bunyi berbeda. Pada abstrak, hitam dinyatakan melambangkan kekuatan spiritual dan putih melambangkan kemurnian; pada badan naskah, hitam melambangkan kekuatan dan perlindungan, sementara putih melambangkan kesucian dan kejujuran. Judul subbab kedua pada bagian metode tertulis tahap perencanaan, padahal teori yang dirujuk menyebutnya tahap perancangan.

Ada pula soal asal bangunan. Rumah Bolon dalam naskah ini konsisten disebut sebagai rumah adat Batak Toba, tetapi salah satu rujukan yang dipakai membahas Rumah Bolon Purba sebagai jejak tradisi Batak Simalungun. Naskah tidak menjelaskan hubungan keduanya, sehingga pembaca dibiarkan mengira Rumah Bolon hanya satu jenis milik satu kelompok, padahal judul rujukan itu sendiri menyebut kelompok yang berbeda di provinsi yang sama.

Baca juga Adat Simalungun yang Masuk ke Ibadah GKPS

Yang tersisa dari laporan ini adalah satu gaun merah, hitam, dan putih dengan kerah setinggi atap, rumbai putih di dada, sulaman emas di badannya, dan ikat kepala bersegitiga di ujung atas. Ia dinyatakan berhasil menghadirkan karakter megah dan eksotis. Seberapa jauh keberhasilan itu diukur, dan dengan alat ukur apa, adalah pertanyaan yang naskah ini serahkan kepada mata pembacanya.

Bagikan

Baca Juga

Naskah Turang dan Larangan Kawin Semarga di Karo
Ragam Mode Fashion Para Pemain Drama Korea yang Bisa Jadi Inspirasimu
Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Rumpun Bahasa Lamaholot di Lembata, Empat dari Tujuh Menurun
Sembilan Hari Suku Boti, dari Hari Api sampai Hari Istirahat
Sulapa Eppa, Empat Nilai Bugis yang Pindah ke Arena Baru