Cekricek.id — Cerita rakyat biasanya diperlakukan sebagai bahan bacaan: sesuatu yang diceritakan ulang di kelas, dicetak dalam buku bergambar untuk anak, atau dipakai guru sebagai kendaraan pesan moral. Perlakuan itu punya batas yang jarang disadari, sebab begitu tidak ada lagi orang yang membacanya, ceritanya berhenti di situ dan tidak punya tubuh lain untuk ditempati. Sekelompok perancang mode di Bandung mencoba jalan yang berbeda terhadap satu cerita yang barangkali paling dikenal di Sumatra Barat. Alih-alih menceritakannya kembali dengan kata-kata, mereka memotongnya menjadi enam adegan, menyederhanakan tiap adegan sampai tinggal garis dan bidang, lalu memindahkannya ke atas kain dengan jarum, benang, dan mesin bordir.
Ceritanya adalah kisah yang melahirkan nama Minangkabau. Kerajaan Majapahit meminta pengakuan atas kekuasaannya terhadap Kerajaan Pagaruyung; untuk menghindari peperangan, kedua pihak sepakat menggantinya dengan pertandingan adu kerbau. Pihak Jawa membawa seekor kerbau besar bertanduk panjang dengan perawakan ganas, sedangkan orang Minang membawa seekor anak kerbau yang sengaja dibiarkan lapar dan haus menyusu, dengan besi runcing dan tajam dipasang pada tanduk serta mulutnya. Begitu keduanya dilepas, anak kerbau itu langsung menuju kerbau besar untuk mencari susu karena mengiranya induk, dan besi di mulutnya menyeruduk serta merobek perut lawannya sampai kerbau besar itu mati. Kemenangan jatuh ke tangan orang Minang.
Pemindahan cerita itu ke atas kain dikerjakan Zulfa Fadhilah Elfi Rahma, Annisa Fitra, dan Wuri Handayani dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung. Prosesnya mereka catat dalam artikel Cerita Rakyat “Asal Usul Nama Minangkabau” sebagai Inspirasi Penciptaan Motif Bordir, yang terbit di STYLE: Journal of Fashion Design Volume 5 Nomor 2 tahun 2026, halaman 16 sampai 33. Metode yang mereka pakai adalah tiga tahap penciptaan seni kriya yang dirumuskan S. P. Gustami — eksplorasi, perancangan, dan perwujudan — sebuah kerangka yang lazim dipakai pada penelitian berbasis praktik karena menyambungkan urusan konsep, rupa, dan teknik dalam satu urutan kerja yang bisa ditelusuri orang lain di kemudian hari.
Daftar Isi
Yang Tidak Bisa Dikerjakan Penceritaan Ulang

Alasan memilih jalan ini disebut terbuka di bagian pendahuluan. Kajian fesyen berbasis budaya di Indonesia, tulis ketiganya, masih banyak berkutat pada motif dan kain yang sudah dikenal luas — tenun, batik, kain adat tertentu — sementara sumber budaya lain seperti cerita rakyat beserta simbolisme khasnya belum sepenuhnya digarap. Di sisi lain mereka menunjuk dua keadaan yang saling menguatkan: minat generasi muda terhadap cerita rakyat menurun karena hiburan digital, dan Indonesia termasuk kelompok negara dengan tingkat literasi rendah yang salah satu penyebabnya adalah kurangnya minat membaca. Cerita yang tidak dibaca, dalam bacaan mereka, masih mungkin dilihat — asalkan lebih dulu dipindahkan ke benda yang memang dipakai orang setiap hari dan tidak menuntut siapa pun untuk duduk membacanya.
Tahap eksplorasi mereka mulai dari ikonografi, bukan dari alur. Yang digali adalah bentuk-bentuk yang bisa dilihat mata: bentuk tanduk kerbau, dinamika gerak pada adegan adu kerbau, serta ikon budaya Minangkabau lain yang melekat pada narasi itu. Dari penggalian tersebut ditarik tujuh sumber ide yang masing-masing distilisasi — raja Majapahit, prajurit Majapahit, raja Pagaruyung, prajurit Pagaruyung, kerbau besar milik Majapahit, kerbau kecil milik Pagaruyung, dan rumah gadang. Stilisasi di sini berarti mengubah bentuk asli sumbernya menjadi bentuk baru yang dekoratif tanpa menghilangkan ciri yang membuatnya masih bisa dikenali, dan hasilnya dipadukan dengan aksen berupa garis serta titik supaya tampak lebih dinamis, lalu dikelompokkan kembali menurut bentuk motif yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Baca juga Dua Puluh Cerita Rakyat Maluku Menunggu Jadi Bahan Ajar
Warnanya dikunci sejak awal, dan hanya satu: perak dengan garis luar hitam. Pilihan itu diambil dari palet songket Minangkabau yang lazim memakai perak, merah, hitam, kuning, dan emas — warna-warna yang sejak lama dipakai untuk menandai kemewahan. Perancangannya dikerjakan sepenuhnya secara digital dengan aplikasi Ibis Paint, mencakup penyusunan sketsa, pemilihan komposisi, pengaturan irama visual, sampai penyesuaian skala motif, sebab bordir punya batas teknis yang tidak dimiliki gambar di layar dan bentuk yang terlalu halus akan hilang begitu diterjemahkan menjadi tusukan benang. Tiap motif dibuat dalam dua versi, desain alternatif dan desain terpilih, sehingga ada satu tahap penyaringan sebelum bentuknya dikunci dan masuk ke tahap perwujudan.
Cerita yang Dipotong Menjadi Enam
Enam motif itu mengikuti urutan cerita dari awal sampai selesai. Motif pertama menggambarkan raja Majapahit yang tengah memprovokasi prajuritnya untuk bergerak merebut kekuasaan atas wilayah Sumatra Barat. Motif kedua menggambarkan raja Pagaruyung dan prajurit Majapahit yang berjabat tangan, tanda kesepakatan mengganti peperangan dengan adu kerbau supaya tidak ada pertumpahan darah. Motif ketiga menampilkan dua prajurit yang menuntun anak kerbau dengan besi runcing sudah terpasang di mulutnya, siap bertarung, dan motif keempat menampilkan dua prajurit Majapahit yang menuntun seekor kerbau besar berperawakan sangar dengan tanduk yang besar. Empat motif pertama, dengan kata lain, seluruhnya berisi persiapan — perintah, kesepakatan, dan dua rombongan yang berjalan menuju arena dari arah yang berlawanan.
Motif kelima adalah puncaknya: anak kerbau Pagaruyung menyusup mencari susu pada kerbau besar milik Majapahit, dan besi runcing di mulutnya menusuk-nusuk perut lawannya. Motif keenam menutup rangkaian dengan kerbau Majapahit yang tergeletak tidak berdaya, anak kerbau Pagaruyung berdiri di sebelahnya, dan raja Pagaruyung bersorak gembira atas kemenangan itu. Keenam desain terpilih kemudian dikerjakan dengan teknik bordir manual yang menggabungkan mesin bordir dan keahlian tangan, dengan kesesuaian bentuk, skala, serta kerapian sebagai hal yang paling dijaga, lalu diterapkan pada busana bergaya deluxe yang ditampilkan di Jogja Fashion Parade pada 2026. Di titik itulah motifnya berhenti menjadi gambar di layar dan mulai bergerak mengikuti tubuh orang yang memakainya.
Yang menarik dari pilihan enam adegan itu justru terletak pada apa yang tidak dimasukkan. Tidak ada motif untuk keadaan anak kerbau yang sengaja dibiarkan lapar sebelum pertarungan, tidak ada motif untuk akibat politik dari kemenangan itu, dan tidak ada satu pun motif untuk nama Minangkabau yang konon lahir dari peristiwa tersebut — padahal nama itulah yang membuat ceritanya diingat sampai sekarang. Yang dipilih adalah rantai tindakan yang seluruhnya bisa dilihat: memerintah, berjabat tangan, menuntun, menuntun, menyeruduk, tergeletak. Justru karena setiap mata rantainya berupa gerakan, urutan itu masih bisa diikuti orang yang belum pernah sekali pun mendengar ceritanya, meski tentu saja tanpa nama dan tanpa alasan di baliknya.
Baca juga Kuda Bersayap di Kaki Tabuik Pariaman
Simbol yang Bekerja Lebih Baik daripada Gambar Harfiah
Kesimpulan yang mereka tarik lebih tegas daripada yang biasanya muncul pada kajian sejenis: pendekatan simbolik, tulis mereka, lebih efektif dalam menjembatani tradisi dan modernitas dibandingkan penggambaran literal. Artinya bukan kesetiaan pada rupa asli yang membuat sebuah motif budaya bekerja, melainkan seberapa jauh bentuknya boleh diringkas tanpa kehilangan ciri. Kerbau pada motif kelima bukan potret kerbau; ia sisa bentuk kerbau yang masih cukup untuk dikenali dan sekaligus cukup sederhana untuk diulang sebagai ornamen di sepanjang kain. Mereka juga menyebut detail bordir sebagai elemen utama yang menaikkan persepsi kualitas sekaligus daya tarik visual busananya, dan menempatkan busana hasil rangkaian ini sebagai wadah pendidikan bagi generasi muda — sebuah klaim yang jauh lebih besar daripada urusan rupa.
Klaim itu punya sisi yang belum diuji siapa pun di luar ruang kerja mereka sendiri. Penilaian hasilnya dilakukan oleh perancangnya — keorisinalan berupa keunikan, kerumitan, dan kreativitas, serta kesesuaian motif utama dengan motif pelengkap, semuanya disebut sangat baik — tanpa penilai luar, tanpa pengukuran respons pemakai atau penonton di Jogja Fashion Parade, dan tanpa uji apakah orang yang melihat busananya benar-benar menangkap ceritanya. Artikel ini juga menyebut potensi menaikkan nilai komersial produk dan memperkuat posisi fesyen berbasis budaya Indonesia di pasar global, dua hal yang sama sekali tidak diukur di dalamnya. Yang dibuktikan adalah pemindahan itu bisa dikerjakan, bukan bahwa pemindahan itu sampai.
Ada pula dua ketidakcocokan kecil di dalam artikelnya sendiri. Uraian motif ketiga dibuka dengan menyebut prajurit Majapahit yang membawa kerbau kecil, lalu pada kalimat berikutnya menyebut dua prajurit Pagaruyung yang menuntun kerbau kecil itu; menurut jalan ceritanya yang kedua yang benar, sebab anak kerbau memang milik pihak Minangkabau. Selain itu bagian metode menyebut rumusan Gustami bertahun 2004, sedangkan daftar pustakanya mencantumkan terbitan tahun 2007. Keduanya tampak sebagai keteledoran penyuntingan, bukan perbedaan tafsir — tetapi pada artikel yang seluruh isinya bersandar pada ketepatan urutan adegan dan pada satu rujukan metode saja, selisih semacam itu tetap mengganggu dan seharusnya tersaring sebelum terbit.
Baca juga Matrilineal Minangkabau, Utopia Kesetaraan Perempuan
Yang tersisa adalah pertanyaan yang tidak dijawab artikel ini dan sebenarnya lebih besar daripada enam motif tadi. Kalau sebuah cerita memang bisa hidup lebih lama sebagai bentuk daripada sebagai teks, apa sesungguhnya yang berpindah ketika busana itu dipakai orang yang tidak tahu ceritanya — kisah adu kerbau yang melahirkan sebuah nama, atau sederet garis perak yang kebetulan bagus di atas kain hitam? Enam motif itu sudah membuktikan bahwa jalannya ada; yang belum dibuktikan siapa pun adalah bahwa di ujung jalan itu masih ada yang menunggu untuk membacanya.














